Share

BAB 7 : Calon Istri

Author: RatuKuyang
last update publish date: 2026-07-10 17:11:26

Selena mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melangkah menuju meja kerjanya. Perlahan, ia meraba saku blazer dan mengeluarkan ponselnya. Ada rasa penasaran yang menggelitik dadanya saat membuka daftar kontak baru.

Di sana, sebuah nomor baru telah tersimpan dengan nama yang singkat namun tegas, Satria. Di bawah nama itu, sebuah pesan singkat yang baru saja masuk beberapa menit lalu berkedip di layar.

Satria : Simpan nomorku dengan baik, Calon Istri. Jangan sampai kekasih bodohmu itu melihatnya lebih awal.

Selena mendengus pelan, seulas senyum tipis tanpa sadar terukir di sudut bibirnya. Pria itu benar-benar penuh percaya diri. Namun, senyum itu langsung lenyap seketika berganti dengan rasa muak yang teramat sangat ketika sebuah notifikasi lain muncul di layarnya.

Itu dari Charlie. Ponsel buaya darat itu rupanya sudah aktif.

Charlie: Babe, maaf banget ya baru kabari kamu. Kemarin sampai tadi sore aku ada urusan mendadak dari kantor pusat ke luar kota. Sinyalnya hancur banget di sana, makanya hp-ku mati. Kamu nggak apa-apa, kan? Mobil kamu gimana? Maaf ya nggak bisa bantu.

Selena menatap deretan kalimat manis yang penuh kebohongan itu dengan tatapan sedingin es. Luar kota? Sinyal hancur? Padahal beberapa jam yang lalu pria itu sedang asyik berguling di atas ranjang hotel mewah di pusat kota bersama adik tirinya. Menjadikan dirinya bahan lelucon yang menjijikkan.

Jemari Selena bergerak cepat di atas layar, mengetik balasan dengan ketenangan yang mematikan.

Nggak apa-apa, Charlie. Aku paham kok kalau kamu sibuk. Fokus saja sama urusanmu.

"Nikmatilah sisa hari-harimu dengan tenang, Charlie. Karena minggu depan, aku yang akan memastikan karier dan hidupmu hancur berantakan," gumam Selena tajam.

***

Sore harinya, Selena pulang ke rumah utama keluarga Pramoedya. Baru saja ia melangkah melewati pintu depan, aura keangkuhan sudah menyambutnya di ruang tengah.

Nami sedang duduk santai di sofa sembari mengagumi kuku-kukunya yang baru saja selesai di-manicure. Di sampingnya, bertebaran majalah fesyen kelas atas dan beberapa sketsa gaun malam. Begitu menyadari kehadiran kakak tirinya, Nami langsung menegakkan tubuh, memasang senyum manis yang sarat akan nada mengejek.

"Wah, Kak Selena baru pulang kerja?" sapa Nami dengan nada manja yang dibuat-buat. Ia bangkit berdiri, sengaja berjalan melenggang di depan Selena untuk memamerkan gaun rumahannya yang ketat. "Pasti capek ya, tiap hari harus urus perusahaan Papa. Untung deh, minggu depan aku sudah mau diresmikan sama Tuan Muda Satria."

Selena menghentikan langkahnya. Ia menatap adik tirinya dengan ekspresi datar, melipat kedua tangannya di dada tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Melihat reaksi Selena yang tenang, Nami justru semakin membusungkan dada, merasa di atas angin. "Kakak tahu kan siapa Satria? Dia itu CEO muda paling sukses, kaya raya, dan tampan luar biasa di kota ini. Nggak sembarang wanita bisa bersanding sama dia. Makanya, Ibu dari kemarin sibuk sekali bantu aku pilih gaun terbaik. Aku harus kelihatan sempurna sebagai calon Nyonya Besar CEO pengusaha otomotif."

Nami berjalan mendekat, menatap Selena dengan pandangan meremehkan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Pesta minggu depan itu bakal dihadiri banyak kolega bisnis penting dan media massa, Kak. Aku saranin sih, Kak Selena ajak Charlie juga ke sana. Ya ... hitung-hitung biar Charlie bisa lihat gimana rasanya berada di lingkungan orang-orang kelas atas. Kasihan kan, kalau manajer bank biasa seperti dia nggak pernah lihat kemewahan yang sesungguhnya?"

Mendengar nama Charlie disebut oleh bibir wanita yang baru saja tidur dengannya di hotel beberapa waktu lalu, kilatan amarah sempat melintas di mata Selena. Namun, ia berhasil menguasai diri dengan sangat cepat.

Alih-alih mengamuk atau melabrak Nami, Selena justru menyunggingkan senyum simpul yang misterius. Sebuah senyuman yang membuat Nami tiba-tiba merasa tidak nyaman.

"Kenapa Kakak tertawa?" cecar Nami.

"Aku turut bahagia atas pertunanganmu. Semoga nanti berjalan lancar."

Tepat saat itu, ponsel di dalam saku blazer Selena bergetar. Selena mengeluarkannya dengan santai, sengaja membiarkan layarnya menyala. Di sana, sebuah pesan baru masuk dari kontak bernama Satria.

Satria: Aku sedang melewati depan kantormu, tapi asistenmu bilang kamu sudah pulang. Sedang apa di rumah? Memikirkan gaun untuk malam perjamuan kita, Calon Istri?

Selena membaca pesan itu dengan tenang. Sudut bibirnya semakin terangkat, membentuk senyuman geli yang tertahan. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa. Di depannya, Nami sedang membual dan menyombongkan diri setinggi langit tentang pria yang ia pikir akan menjadi suaminya. Sementara di saat yang sama, pria yang sedang dibicarakan itu justru terus-menerus mengirimkan pesan teks padanya, menyebut dirinya sebagai 'Calon Istri'.

Nami yang melihat senyuman misterius kakaknya langsung mengernyitkan alis, merasa tersinggung karena pamerannya seolah tidak mempan. "Kenapa Kakak senyum-senyum begitu? Siapa yang menghubungi Kakak? Charlie?"

Selena memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah mengetik balasan singkat untuk Satria. Ia menatap Nami lurus-lurus dengan tatapan sedingin es, namun suaranya terdengar sangat lembut.

"Bukan," ucap Selena tenang, melangkah melewati adik tirinya dengan anggun. Sebelum menaiki anak tangga menuju kamarnya, Selena membalikkan badan sedikit. "Oh iya Nami, aku sedang berpikir, betapa cepatnya roda takdir bisa berputar. Nikmati saja masa-masa persiapanmu minggu ini. Pastikan gaun pilihanmu nanti benar-benar tidak terlupakan."

Nami tertegun di tempatnya, menatap punggung Selena yang perlahan menghilang di balik lorong lantai dua dengan perasaan kesal sekaligus bingung yang mendalam. "Dasar aneh. Bilang saja iri, tunggu! Kalau bukan Charlie yang berkirim pesan padanya, lalu siapa? Apa dia punya gebetan lain selain Charlie?" gumam Nami ketus, sama sekali tidak menyadari bahwa jerat kehancurannya sedang dikencangkan perlahan oleh kakaknya sendiri.

"Kak, apa Kakak selingkuh dari Charlie? Apa Charlie tahu?" teriak Nami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 41 CEO yang Menyamar

    "Menurutmu, siapa aku, hm?" bisik Satria seraya memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga hembusan napas hangatnya menyapu lembut pipi Selena. Senyum tipisnya kian mengembang, mengikis kesan pimpinan dingin dan tak tersentuh yang baru saja ia tampilkan di depan seluruh dewan direksi."Kau adalah pimpinan perusahaan misterius yang sering dibicarakan orang-orang. Kenapa kau menyamar jadi CEO?"Satria menyeringai senang. "Kenapa ya? Mungkin aku lagi ikut tren 'CEO yang menyamar'.""Kau jangan bikin aku ketawa. Biasanya CEO yang menyamar itu bikin statusnya lebih rendah dari pangkat CEO. Tapi kau malah sebaliknya.""Yang penting judulnya CEO yang menyamar. Jangan bilang kau mulai jatuh cinta padaku karena suamimu ini bukanlah orang sembarangan.""Siapa juga yang jatuh cinta padamu? Jangan samakan aku dengan Nami atau wanita manapun diluar sana. Tujuanku menikah denganmu bukan untuk jatuh cinta padamu. Tapi balas dendam pada keluargaku atas apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu.

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 40 Siapa Satria Sebenarnya

    "Cukup, Nami! Jaga mulutmu yang lancang itu!" bentak salah satu direksi senior seraya menggebrak meja dengan sangat keras. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Nami dan Sang Ayah bergantian. "Pramoedya! Bagaimana bisa kau membiarkan putri tirimu ini meracau liar dan menghina pimpinan tertinggi di depan seluruh jajaran komisaris? Kau tidak becus mendidiknya. Lihatlah putri kandungmu, dia cekatan, terampil, dan sikapnya tenang dalam menghadapi masalah. Tapi bagaimana bisa kau memercayakan proyek perusahaan pada orang yang tidak punya kompeten apa-apa! Jangan biarkan putri tirimu itu meracau lagi. Usir dia keluar dari sini!" Ayah Selena tersentak, raut wajahnya makin kebingungan sekaligus tertekan. "Pak Direktur ... tolong tenang dulu. Saya juga tidak paham, kenapa Tuan Satria menandatangani berkas konsorsium raksasa itu? Bukankah Tuan Satria hanya CEO dari Young Group?" ​"Dasar bodoh!" sela Komisaris Utama dengan nada penuh penghinaan. "Kalian berdua benar-benar buta! Sel

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 39 Keangkuhan dan Kesombongan Nami

    "Suami sah, huh ... suami sah apaan?" desis Nami dengan nafas memburu, matanya memerah menahan lautan dengki dan kekecewaan yang membakar dadanya. Dada Nami naik turun secara histeris. Otaknya berputar keras, menolak menerima kenyataan bahwa takdir yang seharusnya menjadi miliknya kini digenggam erat oleh Selena. Di kepalanya, bayangan perselingkuhannya dengan Charlie kembali berkelebat. Dulu, ia sengaja merebut Charlie dari Selena hanya demi membuktikan bahwa ia bisa mengambil apa pun milik kakak tirinya itu. Namun, ia tak pernah menyangka keputusannya bermesraan di kamar hotel justru menjadi bencana terbesar dalam hidupnya. Akibat skandal itu, perjodohannya dengan Satria dibatalkan. Selena mengambil alih posisi pengantin, dan lebih menyakitkan lagi, Satria justru tampak begitu bangga dan bahagia memamerkan Selena sebagai istrinya. Bahkan tak terlihat menyesal membuangnya dan memilih Selena. Rasa iri yang membara membuat Nami gelap mata. Jika ia harus hancur hari ini, ia bertekad

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 38 Tuduhan

    Selena melangkah maju dengan keanggunan mutlak, memecah atmosfir mencekam yang menyelimuti ruang rapat. Dari dalam tas kerjanya, ia mengeluarkan sebuah flashdrive perak berkilau dan menyerahkannya kepada operator IT."Silakan buka dokumen utama yang sebenarnya," pinta Selena dingin namun sarat ketegasan.Dalam hitungan detik, layar proyektor utama berganti menampilkan judul bertinta emas: PROPOSAL STRATEGIS EKSPANSI & PENETRASI PASAR KUARTAL III"Bapak-Bapak Direksi dan Komisaris yang terhormat," ujar Selena seraya memegang pointer. "Draf yang baru saja dipresentasikan oleh Nami adalah berkas lama yang penuh dengan skema defensif, sengaja dibuat untuk menguji mana pihak yang berniat jujur dan mana yang sekadar ingin mencuri hasil kerja orang lain. Sementara ini ... adalah proposal resmi yang sudah diperbaiki secara sempurna."Selena membawakan presentasi itu dengan begitu lugas, tajam, dan percaya diri. Ia memaparkan analisis penetrasi pasar langsung, pembagian keuntungan yang adil na

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 37 Nami terjebak

    Keesokan harinya, ruang rapat utama PT Pramoedya Group dipenuhi ketegangan yang membumbung tinggi. Seluruh jajaran direksi dan komisaris sudah duduk rapi di sekitar meja oval besar. Di ujung meja, sang ayah, pemilik perusahaan, duduk dengan raut wajah tegas namun menyimpan kegelisahan. Nami duduk tidak jauh dari posisi ayah mereka. Wajahnya dipoles riasan sempurna, berbalut busana formal mewah. Senyum tipis penuh kemenangan terus mengembang di bibirnya. Di dalam tasnya, map dokumen biru berisi proposal kerja sama Young Grup, hasil curiannya semalam, sudah siap ia pamerkan. Tanpa Nami tahu bahwa proposal itu sudah direvisi jauh lebih sempurna dibandingkan sebelumnya. "Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat, kita mulai rapatnya," ujar sang Ayah seraya membetulkan posisi miknya. Ia melirik ke arah pintu yang masih tertutup rapat. "Di mana Selena? Mengapa dia belum datang?" Nami langsung memajukan tubuhnya, memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. "Ayah ... maaf sebelumn

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 36 Bantuan Satria

    Napas Selena tercekat di tenggorokan. Ungkapan jujur dan tatapan hangat dari Satria menghancurkan seluruh sisa tembok pertahanan di hatinya. Rasa bersalah yang membakar dadanya kini berbaur dengan haru yang tak terbendung. Betapa bodohnya ia selama ini, mengira Satria hanyalah pria dingin yang hanya mementingkan keuntungan bisnis. Selena bahkan mengira Satria mau bekerjasama dengannya untuk menikah pura-pura juga demi bisnis. Padahal aslinya, pria inilah yang mencoba menyelamatkannya dari sakit hati yang ia rasakan akibat pengkhianatan Charlie dan Nami yang sudah terjadi jauh lebih dulu diketahui Satria ketimbang dirinya sendiri. Tapi Selena malah tidak menghiraukannya. "Satria ..." Selena menunduk pelan, menyerap kehangatan ibu jari Satria yang mengusap lembut bekas air mata di pipinya. "Aku ... aku sungguh tidak tahu harus berkata apa. Maafkan aku yang pernah begitu jahat dan berpikiran buruk tentangmu." Satria menyunggingkan senyum tipis yang teramat tampan, merengkuh jemari Sel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status