LOGINSelena mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melangkah menuju meja kerjanya. Perlahan, ia meraba saku blazer dan mengeluarkan ponselnya. Ada rasa penasaran yang menggelitik dadanya saat membuka daftar kontak baru.
Di sana, sebuah nomor baru telah tersimpan dengan nama yang singkat namun tegas, Satria. Di bawah nama itu, sebuah pesan singkat yang baru saja masuk beberapa menit lalu berkedip di layar.Satria : Simpan nomorku dengan baik, Calon Istri. Jangan sampai kekasih bodohmu itu melihatnya lebih awal. Selena mendengus pelan, seulas senyum tipis tanpa sadar terukir di sudut bibirnya. Pria itu benar-benar penuh percaya diri. Namun, senyum itu langsung lenyap seketika berganti dengan rasa muak yang teramat sangat ketika sebuah notifikasi lain muncul di layarnya. Itu dari Charlie. Ponsel buaya darat itu rupanya sudah aktif.Charlie: Babe, maaf banget ya baru kabari kamu. Kemarin sampai tadi sore aku ada urusan mendadak dari kantor pusat ke luar kota. Sinyalnya hancur banget di sana, makanya hp-ku mati. Kamu nggak apa-apa, kan? Mobil kamu gimana? Maaf ya nggak bisa bantu. Selena menatap deretan kalimat manis yang penuh kebohongan itu dengan tatapan sedingin es. Luar kota? Sinyal hancur? Padahal beberapa jam yang lalu pria itu sedang asyik berguling di atas ranjang hotel mewah di pusat kota bersama adik tirinya. Menjadikan dirinya bahan lelucon yang menjijikkan. Jemari Selena bergerak cepat di atas layar, mengetik balasan dengan ketenangan yang mematikan.Nggak apa-apa, Charlie. Aku paham kok kalau kamu sibuk. Fokus saja sama urusanmu. "Nikmatilah sisa hari-harimu dengan tenang, Charlie. Karena minggu depan, aku yang akan memastikan karier dan hidupmu hancur berantakan," gumam Selena tajam. *** Sore harinya, Selena pulang ke rumah utama keluarga Pramoedya. Baru saja ia melangkah melewati pintu depan, aura keangkuhan sudah menyambutnya di ruang tengah. Nami sedang duduk santai di sofa sembari mengagumi kuku-kukunya yang baru saja selesai di-manicure. Di sampingnya, bertebaran majalah fesyen kelas atas dan beberapa sketsa gaun malam. Begitu menyadari kehadiran kakak tirinya, Nami langsung menegakkan tubuh, memasang senyum manis yang sarat akan nada mengejek. "Wah, Kak Selena baru pulang kerja?" sapa Nami dengan nada manja yang dibuat-buat. Ia bangkit berdiri, sengaja berjalan melenggang di depan Selena untuk memamerkan gaun rumahannya yang ketat. "Pasti capek ya, tiap hari harus urus perusahaan Papa. Untung deh, minggu depan aku sudah mau diresmikan sama Tuan Muda Satria." Selena menghentikan langkahnya. Ia menatap adik tirinya dengan ekspresi datar, melipat kedua tangannya di dada tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat reaksi Selena yang tenang, Nami justru semakin membusungkan dada, merasa di atas angin. "Kakak tahu kan siapa Satria? Dia itu CEO muda paling sukses, kaya raya, dan tampan luar biasa di kota ini. Nggak sembarang wanita bisa bersanding sama dia. Makanya, Ibu dari kemarin sibuk sekali bantu aku pilih gaun terbaik. Aku harus kelihatan sempurna sebagai calon Nyonya Besar CEO pengusaha otomotif." Nami berjalan mendekat, menatap Selena dengan pandangan meremehkan dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Pesta minggu depan itu bakal dihadiri banyak kolega bisnis penting dan media massa, Kak. Aku saranin sih, Kak Selena ajak Charlie juga ke sana. Ya ... hitung-hitung biar Charlie bisa lihat gimana rasanya berada di lingkungan orang-orang kelas atas. Kasihan kan, kalau manajer bank biasa seperti dia nggak pernah lihat kemewahan yang sesungguhnya?" Mendengar nama Charlie disebut oleh bibir wanita yang baru saja tidur dengannya di hotel beberapa waktu lalu, kilatan amarah sempat melintas di mata Selena. Namun, ia berhasil menguasai diri dengan sangat cepat. Alih-alih mengamuk atau melabrak Nami, Selena justru menyunggingkan senyum simpul yang misterius. Sebuah senyuman yang membuat Nami tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Kenapa Kakak tertawa?" cecar Nami. "Aku turut bahagia atas pertunanganmu. Semoga nanti berjalan lancar." Tepat saat itu, ponsel di dalam saku blazer Selena bergetar. Selena mengeluarkannya dengan santai, sengaja membiarkan layarnya menyala. Di sana, sebuah pesan baru masuk dari kontak bernama Satria.Satria: Aku sedang melewati depan kantormu, tapi asistenmu bilang kamu sudah pulang. Sedang apa di rumah? Memikirkan gaun untuk malam perjamuan kita, Calon Istri? Selena membaca pesan itu dengan tenang. Sudut bibirnya semakin terangkat, membentuk senyuman geli yang tertahan. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa. Di depannya, Nami sedang membual dan menyombongkan diri setinggi langit tentang pria yang ia pikir akan menjadi suaminya. Sementara di saat yang sama, pria yang sedang dibicarakan itu justru terus-menerus mengirimkan pesan teks padanya, menyebut dirinya sebagai 'Calon Istri'. Nami yang melihat senyuman misterius kakaknya langsung mengernyitkan alis, merasa tersinggung karena pamerannya seolah tidak mempan. "Kenapa Kakak senyum-senyum begitu? Siapa yang menghubungi Kakak? Charlie?" Selena memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah mengetik balasan singkat untuk Satria. Ia menatap Nami lurus-lurus dengan tatapan sedingin es, namun suaranya terdengar sangat lembut. "Bukan," ucap Selena tenang, melangkah melewati adik tirinya dengan anggun. Sebelum menaiki anak tangga menuju kamarnya, Selena membalikkan badan sedikit. "Oh iya Nami, aku sedang berpikir, betapa cepatnya roda takdir bisa berputar. Nikmati saja masa-masa persiapanmu minggu ini. Pastikan gaun pilihanmu nanti benar-benar tidak terlupakan." Nami tertegun di tempatnya, menatap punggung Selena yang perlahan menghilang di balik lorong lantai dua dengan perasaan kesal sekaligus bingung yang mendalam. "Dasar aneh. Bilang saja iri, tunggu! Kalau bukan Charlie yang berkirim pesan padanya, lalu siapa? Apa dia punya gebetan lain selain Charlie?" gumam Nami ketus, sama sekali tidak menyadari bahwa jerat kehancurannya sedang dikencangkan perlahan oleh kakaknya sendiri. "Kak, apa Kakak selingkuh dari Charlie? Apa Charlie tahu?" teriak Nami.Malam itu, sebuah mobil hitam melaju menuju kawasan permukiman karyawan. Hujan turun cukup deras. Jalanan yang sempit dan gelap membuat perjalanan mereka berlangsung lebih lambat dari perkiraan. Ketika akhirnya tiba di depan rumah Maya, Selena langsung turun. Rumah sederhana itu tampak gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Pintu depannya sedikit terbuka. Selena menatap Satria. "Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres." Satria berdiri di sampingnya. "Jangan masuk sendirian." Keduanya melangkah mendekati pintu. "Permisi, Maya?" Tidak ada jawaban. Selena mendorong pintu perlahan. "Maya?" Ruang tamu tampak berantakan. Beberapa barang berserakan di lantai, sementara sebuah kursi terbalik di dekat meja. Selena segera masuk. "Maya!" Satria mengikuti dari belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar. Di atas meja terdapat sebuah amplop cokelat yang terbuka. Selena segera menghampirinya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah foto lama. Ia mengambil foto tersebut. F
Sementara itu, di dalam kantor PT Arunika Sejahtera, Hendrawan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Wajahnya terlihat sangat tegang. Di hadapannya, Damar duduk sambil memainkan ponsel. "Bagaimana bisa Satria Young berada di sini?" Hendrawan bertanya dengan nada kesal. Damar mengangkat bahu. "Memangnya kenapa?" "Jangan pura-pura tidak mengerti! Dia bukan orang sembarangan. Kalau dia mulai memeriksa perusahaan ini, kita bisa berada dalam masalah besar." Damar meletakkan ponselnya. "Tenanglah. Dia datang untuk mengurus proyek kawasan industri, bukan untuk memeriksa perusahaan kita." "Bagaimana kalau dia menemukan sesuatu?" "Selama dokumen yang kita siapkan terlihat benar, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa." Hendrawan menggeleng. "Kau tidak mengenal Satria Young. Dia sangat teliti dalam urusan bisnis." Damar tertawa kecil. "Kalau begitu, kita harus memastikan dia tidak memiliki waktu untuk memeriksa urusan kita." Hendrawan menatapnya. "Apa maksudmu?" Damar berdiri, lalu ber
Selena masih menatap Satria dengan ekspresi tidak percaya. Pria itu berdiri di sampingnya dengan wajah tenang, seolah-olah kedatangannya di Pulau Arunika merupakan sesuatu yang sangat wajar. Padahal, sejak meninggalkan Maladewa, Selena sama sekali tidak mengetahui bahwa suaminya juga memiliki urusan di tempat yang sama. Lebih mengejutkan lagi, Satria baru saja memanggilnya dengan sebutan Sayang di hadapan orang-orang yang selama ini tidak mengetahui identitas aslinya. "Sayang, kau baik-baik saja?" ulang Satria. Selena menyipitkan mata. "Aku baik-baik saja." "Syukurlah." Satria tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangan kepada Hendrawan. Sementara itu, pria tersebut masih berdiri kaku. Wajahnya tampak kehilangan warna begitu menyadari siapa sosok yang berada di hadapannya. "Tuan Satria Young?" ucapnya dengan suara tertahan. Satria mengangguk singkat. "Senang akhirnya kita bisa bertemu secara langsung." Hendrawan segera mengubah ekspresinya. Ia mencoba tersenyum, meskipun j
Di tempat lain, Satria baru saja tiba di gudang lama PT Arunika Sejahtera. Ia turun dari mobil bersama Kevin dan dua anggota timnya. Bangunan itu terletak agak jauh dari gedung utama. Dindingnya kusam, beberapa bagian atapnya berkarat, dan pintu besinya tampak sudah lama tidak diperbaiki. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Satria. Di depan gudang terdapat sebuah truk besar dengan bak tertutup terpal. "Apakah kendaraan itu yang dilaporkan semalam?" tanyanya. Kevin mengangguk. "Benar, Tuan." Satria memperhatikan nomor kendaraan yang tertera pada bagian belakang truk. "Periksa nomor polisinya." Kevin segera menghubungi timnya. Sementara itu, seorang pria keluar dari dalam gudang. Begitu melihat kedatangan Satria, ia tampak terkejut. "Maaf, Anda siapa?" "Saya dari pihak pengelola proyek kawasan industri. Ada beberapa hal yang perlu kami klarifikasi terkait pengiriman bahan baku." Pria itu terlihat gelisah. "Ini bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang."
Keesokan paginya, Selena kembali mendatangi kantor PT Arunika Sejahtera. Kali ini, ia datang lebih awal dengan pakaian yang lebih sederhana. Ia mengenakan kemeja krem, celana bahan hitam, dan sepatu datar. Setelah tiba, ia langsung menuju bagian administrasi. "Selamat pagi. Saya ingin bertemu dengan Maya." Petugas yang duduk di meja administrasi mengangkat wajah. "Maya yang mana?" "Staf bagian arsip." "Oh, Mbak Maya. Sebentar." Petugas itu mengangkat telepon internal dan berbicara singkat dengan seseorang. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun muncul dari koridor belakang. Rambutnya diikat sederhana. Ia mengenakan kemeja putih dengan kartu identitas yang tergantung di lehernya. "Siapa yang mencari saya?" Selena berdiri. "Saya Selena. Saya ingin berbicara sebentar dengan Anda." Maya mengamati Selena dari ujung kepala hingga kaki. "Apakah kita pernah bertemu?" "Sepertinya belum. Saya sedang mencari pekerjaan di sini." Maya tampak ragu. "K
Selena masih menatap dokumen yang tergeletak di atas meja kamar penginapannya. Sejak kembali dari kantor PT Arunika Sejahtera, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan, terutama mengenai tanda tangan yang tertera pada halaman terakhir dokumen tersebut.Leonard Wijaya. Direktur keuangan Young Group.Pria itu bukan orang sembarangan. Ia telah bekerja bersama keluarga Pramoedya selama hampir dua puluh tahun dan dikenal sebagai salah satu orang yang paling dipercaya oleh mendiang ayahnya. Jika tanda tangan itu asli, berarti seseorang yang memiliki akses terhadap keuangan perusahaan induk mungkin ikut terlibat dalam kehancuran PT Arunika Sejahtera. Namun, bagaimana mungkin?Selena mengambil ponselnya, membuka kontak Rina, lalu mengetik pesan.[Rina, aku ingin kau memeriksa semua transaksi yang berkaitan dengan Leonard Wijaya selama enam bulan terakhir. Jangan menghubunginya secara langsung. Lakukan pemeriksaan melalui jalur internal dan







