Beranda / Rumah Tangga / Menikahi Calon Suami Adik Tiri / BAB 6 Diantar Pangeran Tampan

Share

BAB 6 Diantar Pangeran Tampan

Penulis: RatuKuyang
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 16:42:03

"Minggu depan adalah malam perjamuan besar di mana pengumuman perjodohanku dan Nami akan diresmikan di hadapan kolega bisnis dan media," Satria memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Selena. "Aku ingin kamu datang ke pesta itu. Kenakan gaun terbaikmu dan rebut posisi Nami tepat di atas panggung. Jika kamu berhasil membuat Nami mundur dengan caramu, maka aku akan memastikan ... kamulah yang akan menjadi wanita sah yang berdiri di sampingku malam itu."

Selena tertegun mendengarnya. Tantangan dari Satria jauh lebih ekstrem dari yang ia bayangkan, namun justru inilah jalan pintas paling sempurna untuk menghancurkan Nami dan Charlie sekaligus dalam satu malam.

"Maksudmu ... kau bersedia menikah denganku? Sekalipun tidak ada cinta diantara kita?"

"Kau yakin kita bisa menikah dengan restu keluarga? Menurutmu ... apakah Nami dan ibu tirimu terima kau menikah denganku?"

"Aku rasa tidak, kemungkinan besar, mereka akan melakukan segala macam cara untuk menggagalkan pernikahan kita. Tapi mereka sudah salah pilih lawan. Kali ini aku tidak akan diam saja. Aku akan memberi mereka pelajaran atas apa yang sudah mereka lakukan padaku selama ini. Aku sudah dewasa, mandiri dan bisa apa saja. Aku tidak akan pernah kalah dari mereka lagi seperti saat masih kecil dulu."

"Wauw. Sepertinya hidupmu benar-benar seperti upik abu versi zaman now."

Sebuah senyum dingin dan percaya diri akhirnya terukir di wajah cantik Selena. "Tantangan diterima, Tuan Satria. Pastikan saja Anda tidak jatuh cinta duluan saat melihat saya memakai gaun malam minggu depan. Sebab, pernikahan kita hanya sementara. Setelah tujuanku tercapai. Kita bisa bercerai dan melanjutkan hidup masing-masing."

Satria kembali menyunggingkan senyum tipisnya, merasa bahwa hidupnya yang monoton setelah ini akan menjadi jauh lebih menarik. "Kita lihat saja nanti, Nona Manajer."

Setelah kesepakatan rahasia di rest area tercapai, Satria melajukan kembali sedan mewah hitamnya menuju gedung perusahaan milik ayah Selena. Di sepanjang sisa perjalanan, keheningan yang intens kembali menyelimuti kabin mobil. Namun, atmosfernya kini telah berubah total, bukan lagi keheningan yang mencekam karena tangisan patah hati, melainkan ketegangan tak kasat mata dari dua orang yang baru saja bersekutu untuk sebuah misi besar. Selena tidak lagi duduk di kabin belakang, melainkan di depan bersama dengan Satria.

"Kenapa kau mau bekerjasama denganku, Tuan? Kau tidak kenal aku. Kita bahkan baru bertemu. Aku juga lancang padamu. Sebenarnya, kau bisa dapatkan siapa saja meski tidak dengan Nami. Harusnya kau tidak membantuku. Jelas-jelas kau tahu kalau aku hanya memanfaatkanmu," tanya Selena yang agak heran dengan tuan muda satu ini. Pria normal sekelas CEO takkan pernah mau terlibat urusan pribadi orang lain. Tapi yang satu ini kayaknya aga lain.

"Karena kau cantik dan punya banyak uang. Bukankah kau sendiri yang bilang? Kau bertalenta dan seorang manajer handal di perusahaan papamu."

"Diluar sana banyak wanita sepertiku."

"Tapi tidak secantik dirimu," sela Satria cepat.

"K-kau ..." Selena malas berdebat dengan Satria. Ternyata semua laki-laki itu sama saja. Meski belum tahu apa motif dan rencana CEO ini, Selena tidak peduli. Yang penting tujuannya menghancurkannya Nami tercapai.

***

Begitu mobil berhenti tepat di lobi utama gedung perkantoran Pramoedya Corp, Selena menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sejenak, mengubur dalam-dalam sisa rasa sakit hati akibat pengkhianatan Charlie dan Nami. Saat matanya kembali terbuka, sorot matanya sudah berubah menjadi dingin, profesional, dan penuh kendali. Wajah rapuh yang menangis tersedu-sedu di kursi belakang tadi telah lenyap tanpa bekas.

Selena menoleh ke arah Satria yang masih setia di balik kemudi. "Terima kasih atas tumpangannya, Tuan Satria. Sampai jumpa di malam perjamuan minggu depan."

"Berikan ponselmu?" pinta Satria sambil mengulurkan tangan.

"Untuk apa?"

"Sekarang aku bukan calon tunangan Nami, tapi calon suamimu. Masa aku tidak tahu nomermu? Lusa kita akan bertemu lagi. Waktu dan tempat akan aku beritahu nanti."

Meski bingung dengan ucapan Satria, Selena tetap memberikan ponselnya.

Satria hanya mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh arti. "Jangan mengecewakanku, Selena. Sampai jumpa lagi lusa. Dan ingat, rahasiakan pertemuan kita hari ini."

Dengan langkah anggun dan tegap, Selena keluar dari mobil. Ia berjalan memasuki lobi kantor dengan dagu terangkat, menyapa beberapa staf yang berpapasan dengannya dengan senyuman formal yang biasa ia tunjukkan sebagai manajer. Benar-benar bersikap biasa saja, seolah-olah ia baru saja kembali dari pertemuan bisnis biasa, bukan dari tempat tidur tempat kekasihnya berselingkuh.

Di lantai atas, Ayah Selena yang kebetulan baru saja keluar dari ruang rapat langsung menghampiri putri sulungnya begitu melihat Selena berjalan menuju ruang kerjanya.

"Lho, Selena? Kamu sudah kembali?" tanya ayahnya, agak terkejut melihat putrinya pulang begitu cepat. "Bagaimana meeting-nya dengan Lala? Lancar?"

Selena menghentikan langkahnya, memasang ekspresi datar yang tenang demi menutupi fakta bahwa pertemuan itu batal karena ia harus mengurus badai dalam hidupnya. "Lala mendadak ada urusan internal dengan tim kuasanya, Pa. Jadi kami sepakat untuk menjadwal ulang pertemuannya minggu depan. Tapi semua berkas aman di tangan Selena."

Ayahnya mengangguk-angguk paham, lalu melirik ke arah jendela besar lobi yang menghadap ke area parkir depan gedung. Dari sana, mobil sedan mewah hitam milik Satria baru saja bergerak perlahan meninggalkan pelataran.

"Katanya mobil kamu mogok? Tadi itu kamu diantar siapa? Papa lihat dari atas tadi mobilnya mewah sekali. Taksi online premium, ya?" tanya sang ayah dengan polosnya. Beliau sama sekali tidak tahu, bahkan tidak terlintas sedikit pun di pikirannya, bahwa pria yang baru saja mengantarkan putri sulungnya kembali ke perusahaan adalah Satria, calon menantu yang sangat ia agung-agungkan untuk dinikahkan dengan Nami.

Selena melirik sekilas ke arah mobil Satria yang perlahan menghilang di balik gerbang kantor, lalu kembali menatap ayahnya dengan senyuman misterius yang dingin.

"Bukan taksi, Pa," jawab Selena pelan, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan makna tersembunyi. "Itu cuma ... seseorang yang tidak sengaja searah denganku. Seseorang yang akan membantuku meluruskan banyak hal."

Ayahnya mengernyit bingung mendengar jawaban ambigu Selena, namun sebelum beliau sempat bertanya lebih jauh, Selena sudah berpamitan untuk masuk ke ruangannya.

Di dalam ruang kerja yang sepi itu, Selena bersandar di balik pintu yang tertutup rapat, meraba ponsel di sakunya. Permainan catur baru saja dimulai, dan bidak pertamanya telah digerakkan bersama sang pewaris utama otomotif.

"Kenapa dia minta bertemu lusa? Memangnya lusa mau ngapain?" gumam Selena.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 52 Pengecut Tanpa Tulang Belakang

    Jawaban yang meluncur dari mulut Charlie terasa bagaikan pisau bermata dua yang menghujam jantungnya sendiri. Penyesalan teramat besar membanjiri benaknya, namun ia sudah terkunci mati dalam permainan yang ia ciptakan sendiri."Bagus," ujar Ayah Nami dingin, meski tidak ada binar kebahagiaan di matanya. Rasa hormat dan kebanggaan pada calon menantunya itu sudah menguap tak berbekas, berganti dengan transaksi paksaan demi menyelamatkan sisa-sisa muka keluarga Pramoedya. "Besok pagi aku akan mengurus semua berkasnya. Jangan coba-coba melarikan diri atau mematikan ponselmu, Charlie. Sekali saja kau menghilang, detik itu juga karirmu kuhancurkan."Ayah Nami memutar tubuhnya, menatap putrinya yang masih terbaring di atas ranjang. "Kau istirahat di sini sampai besok. Ibumu yang akan menemanimu. Dan kau, Charlie ... pulanglah. Siapkan dirimu dan keluargamu untuk pernikahan minggu depan."Charlie tidak menjawab. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau sekadar menoleh pada Nami, ia membalikkan

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 51 Tertekan

    Brak!Suara bentakan yang menggelegar itu membekukan aliran darah Charlie. Pria itu berbalik cepat, dan seketika wajahnya berubah pucat pasi bagai kertas terbakar.Di ambang pintu, Ayah Nami berdiri dengan napas memburu, tangan tuanya mencengkeram erat tongkat kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Ibu tiri Nami menatap Charlie dengan kilat mata yang dipenuhi murka dan dendam yang sanggup membakar hidup-hidup."A-Ayah ... Ibu ..." cicit Charlie gagap. Lidahnya mendadak terasa kelu, lututnya lemas seketika.Rupanya, setelah Nami melesat pergi meninggalkan rumah dengan kondisi mengenaskan, kedua orang tuanya yang cemas langsung menyusul dan mencari keberadaan Nami, hingga akhirnya menemukan mobil putri mereka terparkir di rumah sakit ini. Dan naas bagi Charlie, kalimat biadabnya baru saja terdengar utuh tanpa ada yang terlewat."Bangsat tidak tahu diri!"Buuk!Tanpa memberi kesempatan sedikit pun pada Charlie untuk membela diri, Ayah Nami melangkah maju dan melayangkan pu

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 50 Bertengkar

    Pikiran Charlie makin melayang tak tentu arah. Ketakutannya kian membesar membayangkan reaksi keluarga Pramoedya jika tahu Nami hamil sebelum menikah. Ayah Nami yang temperamental pasti akan menyeretnya ke altar pernikahan tanpa peduli apapun. Padahal, komitmen adalah monster menakutkan yang paling dihindarinya sejak dulu.Brak!Pintu ruang rawat terbuka pelan dari dalam. Suster melangkah keluar membawa nampan berisi perlengkapan infus yang baru diganti."Mas, pasiennya sudah sadar dan mencari Anda," ujar suster itu seraya tersenyum singkat sebelum berlalu menuju perawat jaga.Charlie menelan ludah kasar. Dengan kaki yang terasa seberat timah, ia mendorong pintu kamar rawat VIP itu. Aroma antiseptik yang pekat menyambut hidungnya, bercampur dengan suara detak monoton alat pemantau jantung di samping ranjang.Nami berbaring lemah dengan wajah pucat bagai kapas. Tatapannya layu, namun begitu melihat presensi Charlie yang melangkah mendekat, sebersit kehangatan dan rasa panik terpancar d

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 49 Kabar Mengejutkan

    Wajah Charlie mendadak sepucat kertas. Matanya melotot menatap Nami yang kini memegangi perutnya sambil membeberkan telapak tangan di atas bibir, menahan gejolak mual yang amat sangat.Belum sempat Charlie melontarkan makian atau bantahan atas celetukan pedas rekan kerjanya, tubuh Nami mendadak limbung. Pandangan gadis itu menggelap seketika akibat beban stres, emosi yang memuncak, dan rasa lelah fisik setelah seharian ditindas di rumah keluarga Young.Brukk!Nami ambruk ke lantai marmer kantor tanpa kesadaran. Suasana kantor yang tadinya gaduh oleh makian dan keributan seketika berubah menjadi jeritan kaget dari beberapa karyawan wanita."Nami! Nami, bangun!" pekik Charlie panik setengah mati. Rasa malu yang tadi membakar ubun-ubunnya mendadak berganti menjadi rasa takut luar biasa. Jika terjadi apa-apa pada Nami di ruang publik seperti ini, karier dan reputasinya benar-benar akan tamat malam ini juga.Dengan tangan gemetaran, Charlie mengangkat tubuh Nami yang terkulai lemas ke dala

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 48 Ulah Nami

    Selena memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum penuh cemoohan yang teramat menohok sebelum melangkah pergi meninggalkan kediaman Pramoedya yang dicekat keheningan mencekam.Di dalam rumah, amarah Nami sudah membakar habis sisa akal sehatnya. Merasa dipermalukan habis-habisan di depan orang tuanya, ditambah tatapan kecewa sekaligus murka dari sang ayah, membuat dada Nami terasa mau meledak. Ia tidak bisa tinggal diam. Tanpa memedulikan penampilannya yang masih berantakan, gaun lusuh, riasan luntur, dan tangan kotor bekas berkebun, Nami menyambar kunci mobilnya dan melesat pergi.Tujuannya cuma satu, kantor tempat Charlie bekerja.Charlie, pria yang dulu direbutnya dari Selena dan kini menjadi sandaran sekaligus kekasih gelapnya, harus bertanggung jawab atas penderitaannya malam ini.Brak!Pintu kaca kantor agensi tempat Charlie bekerja terdorong kasar. Nami menerobos masuk seperti angin puting beliung. Beberapa karyawan yang masih lembur di area open-space langsung terlonjak k

  • Menikahi Calon Suami Adik Tiri   BAB 47 Diancam

    Para tamu undangan yang mengerti situasi rumit tersebut segera berdiri, memberikan penghormatan singkat pada Nyonya Young, Satria, dan Selena, lalu melangkah meninggalkan ruang makan dengan tenang. Mereka cukup bijak untuk tidak mencampuri urusan domestik keluarga Young yang kini berurusan dengan drama keluarga Pramoedya.Meski tak sedikit dari mereka tetap menggunjingkan apa yang terjadi pada saat ini. Mereka semua menyayangkan sikap Nami yang kekanak-kanakan dan sangat jelas terlihat punya karakter yang buruk. Padahal keluarga Pramoedya terkenal dengan sikap sopan dan ramah. Tapi Hari ini, Nami telah mencoreng dan memperlihatkan kesan dan citra buruk di mata semua orang. Secara tidak langsung, Nami telah mempermalukan nama besar keluarganya sendiri. "Satria, kau tenangkan saja ibu mertua. Aku akan pergi menemui keluargaku sebelum Nami bikin ilah lebih parah lagi dari ini," ucap Selena izin pamit pulang menyusul Nami. "Kau mau aku temani?" tawar Satria. Selena menggeleng. "Tidak p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status