LOGIN
Alena menjatuhkan gelas dari tangannya hingga teh bunga Kasturi terguyur bersamaan dengan pecahan kaca berderai mengotori lantai kamarnya. "Aku tidak sudi menikah dengan orang itu, Ayah! Dia jelas-jelas yang sudah membuat rakyat menderita! Dia yang membuat kerajaan kita krisis seperti sekarang!"
Madrw Antonio, ayah dari Putri ke-5 dan sekaligus Raja di Kerajaan Hutan Romana itu, mendengkus sedih. Perlahan dia mendekati Alena. "Ini bukan keinginan ayah. Tetapi, ini demi menyelamatkan Hutan Romana, putriku. Arthur berjanji akan memerdekakan Romana, apabila kamu bersedia menikahinya." "Ayahanda bisa saja menikahkan Kak Flora. Dia jauh lebih siap untuk menikah, Ayah. Aku masih 19 tahun. Aku bahkan belum mengenyam pendidikan di Asrama Kerajaan Kota. Kenapa aku harus menikah?!" Protes Alena tanpa sengaja memancing air mata Ayahnya. "Kamu melihat sendiri bagaimana Dewa Iblis itu datang mengacaukan Romana, Alena. Dan dia akan berhenti apabila ayah menyerahkan salah satu putri Ayah. Ayah sudah memperlihatkan Kakakmu, tapi Arthur lebih tertarik akan kecantikanmu," Antonio perlahan memeluk Alena, "Ayah juga belum siap kamu menikah, Alena. Usiamu belum cukup umur. Dan Ayah juga sangat menyayangimu. Tapi Ayah tidak bisa apa-apa. Kerajaan kita sudah kalah, dan hanya pernikahan ini yang bisa menyelamatkan kita semua dari segala krisis yang terjadi." Alena mengepalkan tangannya. Dia bahkan tidak kuasa lagi untuk membalas pelukan sang Ayah. Perasaannya mulai diam-diam membalut relung kebencian. Hatinya sangat sakit sehingga seakan terasa panas di dalam sana. Sesak sekali. Dia tidak membenci ayahnya. Tetapi dia membenci Dewa itu. Tempo hari, dia bermain keluar istana, dan melihat betapa mengenaskannya keadaan di luar istana. Banyak rakyat kurus kering dengan pakaian compang camping. Anak-anak hingga orang tua saling berebut makanan. Kabarnya, pasokan makanan untuk rakyat ditahan oleh prajurit Arthur dengan alasan kemenangan perang. Tidak hanya itu, bayi-bayi menangis karena banyak terluka akibat serangan bengis dari para prajurit Arthur. Alena tidak paham, Orang macam apa yang begitu tega terhadap bayi yang bahkan tidak tahu-menahu urusan orang dewasa. Oh tidak. Dia memang bukan manusia. Dia terlahir sebagai Iblis. "Aku pasti akan membalas dendam." Kata Alena dari hatinya. Gadis itu perlahan melepaskan pelukan Ayahnya lalu mengusap air mata yang membasahi wajah Ayahnya. "Apa dengan aku menyetujui lamaran ini si iblis itu mau memberikan kebebasan kepada Romana?" "Dekrit Perjanjian itu sudah Ayah bawa, Nak. Dan itu adalah jaminan bahwa Arthur tidak akan mengingkari janjinya. Dia pasti akan memerdekakan Romana." Alena menunduk sejenak, dia memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk menegarkan dirinya. "Baiklah. Alena setujui lamaran darinya." Antonio memandang Alena begitu dalam. "Apa kau benar-benar setuju. Apa kau membenci Ayah?" Alena menggeleng,"aku tidak pernah membenci Ayah hingga detik ini. Aku memang tidak mau menikah dan belum siap menikah dengan Iblis seperti dia. Dia itu Iblis ayah. Dia mengacaukan banyak kerajaan di dunia. Dia bahkan tidak memiliki empati terhadap Bayi. Dia begitu kejam. Bagaimana mungkin Alena bisa hidup di samping orang yang seperti itu? Alena sangat benci dengannya Ayah. Dia-" Alena memberi jeda. Serasa suaranya menipis karena getaran hatinya memaksa dia untuk menangis. Cepat-cepat Alena menarik napas, dan menghembuskannya mantap untuk menjaga air matanya agar tidak terjatuh di hadapan Antonio. "Tetapi, Alena juga tidak bisa egois Ayah, Alena harus memikirkan kehidupan banyak orang. Dan sejenak Alena sudah berpikir, bahwa Ayah adalah Raja yang harus melakukan cara apapun agar rakyat tetap baik-baik saja. Dan jika, Alena berguna, maka Alena akan gunakan kesempatan ini sebagai bakti Alena terhadap Ayahanda dan juga Kerajaan Romana," lanjut Alena, menuntaskan segala apa yang dirasakan hatinya. Antonio tersenyum penuh luka, dia membelai rambut Alena,"Maafkan Ayah. Dan Terima kasih atas bakti yang sudah Alena berikan. Ayah akan berusaha untuk melindungimu setiap saat. Kirimkan surat menggunakan Merpati Romana di saat kamu butuh bantuan Ayah. Ayah pasti akan siap sedia mendampingimu." "Baik, Ayah." "Kerajaan Romana berhutang budi pada kamu, Nak." ***** "Bagaimana? Sudah dapat info dari Rajey?" tanya sang Dewa. "Arthur Kailash telah menumpahkan darah Romana," jawab Alan, kaki-tangan Dewa Kailash. "Apa maksutmu?" "Maaf, Rajey menghilang setelah berita Tuan meratakan Romana tersebar luas. Hamba tidak mengerti lagi bagaimana penelitian Rajey selanjutnya." "Baiklah. Sampaikan ke keluarga Rajey. Mungkin beberapa hari dia tidak pulang." "Siap, Tuan." Alan lalu mempersiapkan singgasana Tuan-nya itu. Kini, Arthur Kailash dan Alan berada di sebuah Mansion besar Kerajaan Kota seberang Kerajaan Hutan Romana. Arthur Kailash, lalu duduk dengan penuh wibawa ketika Alan sudah selesai menyiapkan singgasana untuknya. Arthur Kailash. Namanya begitu perkasa. Dia dikenal sebagai Dewa Iblis yang sangat tangguh. Sudah ribuan kerajaan dari 11 alam semesta takluk di tangannya. 11 Alam Semesta. Di dunia Nirwana ini, Ada 11 semesta dengan Kerajaan Surgawi sebagai kasta semesta tertingginya. Sebenarnya asal-usul Arthur terlahir dari darah bangsawan. Namun, dia harus terlantar dan berjuang mendapatkan pencapainnya sendiri hanya karena kejamnya peraturan kekuasaan semesta. Hingga saat ini, dirinya membenci siapa yang sudah menciptakan peraturan tersebut sehingga dirinya, dan keluarganya harus terpisahkan dengan penuh penderitaan. "Bagaimana dengan Reinkarnasi ke-11 Putri Raja Surgawi?" Arthur Kailash menatap Alan, sembari bertanya di atas singgasananya itu. "Hamba sudah sampaikan lamaran kepada Antonio tuan. Reinkarnasi Putri ke-11 itu bersedia menikahi Tuan." Arthur tersenyum miring. "Aku sangat ingin melihat apa yang akan Handryc perbuat padaku, ketika aku berhasil membawa jiwa putrinya kembali." "Tuan akan segera mencapai tujuan," kata Alan. "Pelajari sifat perempuan itu. Aku tidak mau dia merepotkanku." "Sudah mendapatkan informasi penting tentangnya, Tuan. Semua sudah hamba pelajari dengan baik." Alis Arthur terangkat sebelah,"Di tempat ini, kau sudah berapa lama?" "Bagaimana tuan?" "Kau seperti penyusup kasta Surgawi. Baru sekali bertemu sudah mempelajari dengan baik." Alan tertawa canggung. "Hamba memang asli penduduk Romana Tuan, dan hamba memiliki rekan di petinggi kerajaan Romana." "Lalu, apa informasi pentingnya?" Alan terlihat ragu-ragu. Arthur berdiri dari tempat duduknya, "katakan saja. Saya sudah terbiasa dengan berita buruk." "Menurut garis waktu, dan titik koordinat dari kesebelas alam semesta. Peramal di Dunia Cincin Angkasa, mengatakan bahwa reinkarnasi Putri ke-11 bukanlah anak pertama yang Tuan inginkan." Tongkat milik Arthur tiba-tiba bergetar dan bergeser dari pangkuan Arthur. Membuat, Alan sedikit ngeri. Tongkat itu adalah senjata andalan milik Arthur. Tongkat itu terbentuk dari tetesan darah Penguasa Petir dari Kerajaan Surgawi, yang dihadiahkan kepada Arthur oleh Raja Bertodo, penguasa matahari di Kerajaan Surgawi. Arthur mendapatkannya sebagai hadiah telah menyeimbangkan badai cahaya meteor yang hampir saja menghancurkan elemen penyeimbang matahari dan petir. Tongkat itu memiliki kesaktian yang luar biasa dan sangat setia serta memahami apapun yang sedang Arthur rasakan. Tongkat itu Arthur beri nama Raff. Ketenaran tongkat tersebut juga sudah diketahui mahkluk hidup di seluruh dunia. Jika diukur dari segi kekuatan, hanya Raja penguasa dari Kerajaan Surgawi saja yang sepadan dengan tongkat tersebut. Sampai-sampai, Alan ngeri terkena serangan mendadak dari tongkat itu, karena sudah pasti suasana hati Arthur akibat informasi darinya menjadi kacau. Tentu saja Raff bisa ikut mengacau jua. "Tenangkan energimu Raff. Jangan mengamuk. Alan tidak dapat bercerita jika kau mengamuk," Arthur mengendalikan tongkatnya yang sedikit bergerak itu, hingga tongkat itu kembali ke pangkuan Arthur, "lanjutkan kata-katamu, Alan." Alan mengangguk,"Hamba mengerti, Tuan tertarik pada putri pertama ketika melihatnya menari di Rumah Bordil Romana, jadi-" "Saya tidak tertarik." Alan berdehem, "ehm. Maksut hamba, hamba mengerti Tuan sempat mengira bahwa Putri pertama adalah reinkarnasi Putri ke-11. Namun, ternyata darah Raja Surgawi berada di keping darah Putri ke-5. Bukan anak permaisuri, tetapi anak selir Raja. Dan, putri ke-5, sangat nakal Tuan. Susah dikendalikan. Kabarnya juga putri ke-5, memiliki beberapa kekuatan sihir yang didapat karena bawaan ras dari Raja Surgawi." "Kau sudah pastikan ramalan itu?" "Sudah tuan. Hamba sudah meleburkan ramalan itu ke dalam kolam kejujuran di Cincin Angkasa, dan hasilnya murni. Tentu saja ramalannya murni." "Seberapa merepotkannya?" "Seperti Asal mulanya.." "Seperti Raja Surgawi?" "Benar sekali, Tuan." Arthur tertawa. Perlahan dia berdiri. Lalu berjalan, meninggalkan Raff dan Alan. Arthur memandang ke arah langit. "Sebenarnya kutukan apa yang sedang kujalani. Hingga aku harus bermusuhan dengan Ayah dan Anak ini. Bedebah!"Pindai mata Alena bergerak kekanan kiri dengan cepat. Memeriksa dengan seksama, sorot mata Arthur yang tampak sangat marah terhadap dirinya. Cerita yang dikatakan oleh Arthur cukup menohok dadanya.Sejak melakukan pelarian ini, Alan telah mengatakan bahwa dia memiliki kekuatan yang ajaib, lahir dari dirinya. Tapi fakta bahwa dirinya adalah seorang Putri Surgawi, anak dari Raja Surgawi baru diketahui hari ini, semenjak Arthur mengungkapkan itu padanya.Apalagi, saat ini Arthur memandangnya penuh dengan emosi dan kebencian. Seolah bagi Arthur, Alena adalah salah satu penyebab penderitaan laki-laki itu.Tapi? Bukankah, tidak hanya Arthur saja yang menderita?"Reinkarnasi? Lalu apa peduliku Arthur? Reinkarnasi atau tidak itu tidak berpengaruh padaku! Kesalahan Kerajaan Surgawi padamu tidak berhubungan denganku! Menjadikanku alat untuk mencapai tujuan balas dendam mu juga seharusnya tidak boleh!" tajam Alena.Tak hanya Arthur yang bisa memajukan langkah. Alena pun bisa. Rasa kuat di hatin
"Rupanya kau di sini penghianat," tedas Arthur, begitu melihat Alan datang dari balik batu.Arthur mengepalkan tangannya erat kala melihat Alan ternyata tidak sendiri. Mantan kaki tangannya itu bersama dengan orang yang seharusnya masih berstatus istri bagi dirinya. Pandang mereka sempat bertemu. Saling menatap satu sama lain. Seolah menghentikan waktu sejenak. Mengikat keduanya dengan rasa yang tidak bisa dijelaskan.Pikiran Dewa Iblis itu teringat sekali lagi akan fakta yang cukup menyakitkan jika diingat. Fakta bahwa Alena telah menghiris luka untuk dirinya."Kebetulan jika bertemu," suara Alena membuka, "barusan, para prajurit mu juga lewat Arthur. Apa, kau sedang memburuku?" kata Alena, suaranya sangat dingin.Tak ada sama sekali rasa lembut di sana.Meskipun, sejujurnya Arthur ingin dengar suara lembut Alena."Kalian cukup bahagia selama ini? Hidup sebagai orang kotor yang bangga dengan tindakan zina?" tuding Arthur, matanya memelotot tajam pada Alena dan Alan bergantian.Alan
Halooo... seluruh pembaca Menikahi Dewa Iblis, terima kasih ya sudah menyempatkan untuk singgah di buku ini. Dan aku mengucapkan sangat banyak terima kasih pada kalian pembaca lama yang masih setia hadir mendukung aku walaupun, aku sulit untuk menempatkan waktu agar bisa rutin update. Maafkan aku ya... :) In real life, aku ada something problem yang gabisa kuceritakan pada kalian. Dan untuk pembaca baru, tolong sukai cerita ini dengan tulus ya. Temani perjalanan Alena dan Arthur sampai akhir mungkin dalam waktu yang cukup lama! But, i'm promise... aku akan memberikan kisah yang indah kedepannya. Dan juga... bagi yang sudah mengikuti alur, aku mungkin akan melakukan beberapa revisi, penyesuaian dan pengubahan gaya penulisan agar cerita ini semakin nyaman dinikmati. Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah menambahkan cerita ini ke pustaka dan membacanya dengan setia. Bukalah setiap bab hingga cerita ini tamat yaa!!! Dan jangan lupa berikan komentarmu apabil
Arthur akhirnya membuka mata. Tapi laki-laki itu diam. Mengitarkan pandang. Dia sadar bahwa sedang berada di ruang periksa di istana. Tak tahu sudah berapa lama dia tertidur. Ini pasti cukup lama. Sampai rasanya, tubuhnya amat lelah.Laki-laki itu, juga merasakan bahwa dirinya sedang amat tidak berdaya. Perlahan, dia bangkit. Menyadari fakta, bahwa sudah melewatkan ribuan waktu untuk menuntaskan tujuannya."Naga Shappire bedebah," rutuknya lemah, namun terdengar penuh dengan amarah. Arthur perlahan-lahan turun dari dipan yang menopang tubuhnya sendiri.Kakinya tertatih. Keluar dari ruang periksa. Yang didapatinya adalah suasana sepi. Ada satu ambisi yang tersisa untuk Arthur saat ini. Laki-laki itu memanggil tongkat Raff.Tongkat itu menuruti perintahnya dengan cermat. Tidak lagi menyerong menolak perintah dari sang tuan. Arthur akan membawa tongkat itu pergi menjauh. Ke tempat yang harus dituju.Sudah ada firasat kuat bagi Arthur. Kali ini, Alena pasti ada di sana. Pikirnya.Arthur
Tidak ada yang kontan menjawab pertanyaan Alena. Alan masih memicing dan mengintai gerombolan pasukan. Apalagi, saat mereka terlihat cukup akan dekat dengan pijakan permbunyian ini, Alan menahan napasnya, mendorong Alena untuk tetap menempel tegap dari balik pohon. Suara berisik dari para pasukan itu berhasil lewat. Mereka semua tak ada yang menyadari ada Alena dan Alan di balik batang pohon. Sudah terfokuskan untuk mengerjakan perintah dari sang Raja. Mereka melakukan pergerakan ini untuk mendapatkan obat di hutan tersebut. "Bagaimana, Alan? Apakah sudah aman kalau muncul?" tanya Alena berbisik. Membuat kepala Alan kontan melipir untuk mengintip lagi. Bola matanya bergerak mengedar ke kanan dan kiri. Telah hilang keberadaan segerombol pasukan itu. Membuat Alan menghembus legah. "Sudah aman, Alena." Laki-laki itu lantas membawa Alena untuk keluar dari persembunyian. "Alan. Kau belum jawab pertanyaanku. Kenapa tiba-tiba pasukan milik Arthur bisa ada di sini? Apa Arthur sedang
Alan berdiam diri di bawah pohon beringin. Menikmati angin yang sepoi-sepoi. Matanya melihat ke satu titik. Orang yang selalu dia lindungi. Alena. Memang, cara mereka terperangkap dalam keadaan yang saling membutuhkan ini cukup tragis. Tetapi, untuk detik ini Alan bersyukur. Ada rasa senang yang entah kapan mulai timbul. Dia mendapati keadaan yang baik. Bersama dengan sang Tuan putri. Yang juga kini telah bertahta di hatinya. Alan berdiri dari duduknya. Melangkah tenang. Mendekati Alena yang sedang duduk pula di seberang pohon beringin yang berdekatan dengan dirinya."Alena. Ayo kita cari buah-buahan," tawar Alan, menampilkan senyumnya yang menawan.Gadis dengan wajah yang amat cantik itu mendongak, memandang Alan dengan saksama, "aku sedang tidak enak badan, bisa tuntun?"Jantung Alan terpacu. Mendengar kata 'tidak enak badan' keluar dari gadis itu, sontak membuat dirinya bergerak cepat untuk merengkuhnya. "Baiklah, biar aku bantu," kata Alan.Gerakan tubuhnya memapah Alena. Meng







