MasukMalam turun cepat. Hujan baru saja berhenti, menyisakan bau tanah yang lembap menembus jendela kamar Tama. Semua lampu di rumah sudah padam kecuali satu di langit-langit, kuning redup.
Aku menyiapkan baskom air hangat di meja, menggulung lengan baju, lalu menatap tubuhnya yang diam di ranjang.
“Sudah berapa hari kamu belum benar-benar tidur nyenyak, tahu?” bisikku, meski sadar ia tak akan menjawab.
Aku mulai membersihkan tangannya dengan kain hangat. Kulitnya dingin tapi lembut, dan setiap kali aku memeras kain, air menetes ke punggung tanganku sendiri. Suara mesin oksigen di pojok ruangan menandai waktu lebih baik daripada jam.
Sesekali, bayangan cahaya dari lampu di langit-langit menari lembut di wajahnya, menciptakan siluet yang seolah bercerita tanpa suara. Ruangan itu sunyi, tapi terasa penuh harap, seperti waktu berhenti sejenak menunggu sesuatu yang belum pasti.
Aku memeriksa infus, memastikan alirannya stabil, lalu berpindah ke wajahnya. Rambutnya sedikit panjang—aku menyisirnya dengan jari agar tidak menutupi dahi. Untuk sesaat aku berhenti, memperhatikan garis matanya yang tertutup.
“Kalau kamu bisa dengar, tolong jangan marah,” ujarku, pelan sekali. “Aku cuma nggak mau kamu kedinginan.”
Detak di monitor naik dua angka. Aku menatap layar, kemudian wajahnya.
“Lihat? Kamu dengar aku, kan?”
Tentu tidak ada jawaban. Tapi napasnya terasa lebih dalam. Aku menunduk sedikit, memperhatikan dadanya yang naik turun perlahan. Bukan perubahan besar, tapi cukup membuatku merasa tak sendiri.
Aku menarik napas panjang, berusaha menekan gejolak yang tidak seharusnya muncul di tengah tugas sederhana seperti ini.
Beberapa menit kemudian aku berdiri di sisi lain ranjang, mengganti handuk dengan yang baru. Kain hangat itu menyentuh kulit lehernya, lalu turun sedikit ke bahu. Aku menahan diri agar gerakanku tetap mekanis, profesional. Tapi setiap kali kain berpindah, rasa hangat di dadaku juga ikut berpindah.
“Harusnya ada perawat yang bantu,” gumamku. “Tapi kamu pasti lebih nyaman kalau aku sendiri yang ngurus, ya?”
Aku tertawa kecil. Suaraku terdengar aneh di antara dengung mesin.
Aku berhenti sejenak, menatap wajahnya dari dekat. Ada bayangan masa lalu di sana—malam ketika ia memelukku sebelum semuanya runtuh. Aku menutup mata, menepis ingatan itu, lalu kembali bekerja.
Namun ketika aku menyeka bagian lengannya, jemariku tak sengaja menyentuh pergelangannya terlalu lama. Hangat. Detak di monitor melonjak pelan.
“Tama?”
Aku tahu reaksi kecil itu bisa berarti banyak hal medis seperti impuls saraf, refleks otot. Tapi bagian dalam diriku menolak logika itu. Rasanya seperti tubuhnya sedang menjawab— tenang Anya.
Aku menelan ludah, menggantungkan kain di sisi ranjang. “Kamu selalu keras kepala, bahkan waktu tidur begini pun masih suka bikin orang panik.”
Aku duduk di kursi di samping ranjang, memandangi wajahnya yang tenang. Lampu redup memantul di kulitnya–bayangannya jatuh di dinding, menyerupai sosok yang hidup. Udara kamar jadi berat, menekan dada seperti tangan tak terlihat.
“Kalau kamu sadar nanti,” kataku lagi, “aku bakal marah besar karena kamu bikin aku begini.”
Aku tidak tahu apa maksud kalimat itu—antara kesal, rindu, atau keduanya.
Monitor kembali berbunyi pelan. Aku menggenggam ujung selimut, menatanya. Saat jemariku hampir menyentuh tangan Tama lagi mengelusnya, menggenggamnya, aku berhenti.
“Cukup untuk malam ini,” bisikku.
Aku berdiri, menatapnya sekali lagi. “Tidurlah, Tama. Aku masih disini.”
Tama pulang sebelum matahari benar-benar turun.Aku sedang duduk di ruang makan dengan buku terbuka di depanku ketika suara mobilnya terdengar memasuki halaman.Pintu terbuka.Ia masuk dengan langkah yang tetap tenang, tetap terukur. Jasnya masih terpasang rapi.“Kau sudah makan?” pertanyaannya datang bahkan sebelum ia benar-benar meletakkan tasnya.“Belum,” jawabku. “Kau?”“Sudah sedikit.”
Pagi itu tidak berbeda dari biasanya.Tama berangkat lebih awal.Ia sempat berdiri beberapa detik di dekat pintu sebelum pergi, seolah ingin memastikan sesuatu.“Aku akan cukup sibuk hari ini,” katanya.“Aku tahu,” jawabku.Ia mengangguk kecil.“Kalau ada apa-apa, kabari.”Pintu tertutup.Langkahnya menjauh.
Waktu benar-benar berlalu begitu cepat.Akhir pekan datang lagi. Padahal rasanya kemarin kami pergi ke galeri.Aku duduk di ujung sofa panjang di ruang santai,dengan remote yang sejak tadi tak lepas dari genggamanku.Di sebelahku, Tama duduk lebih tegak. Tablet tipis terbuka di pangkuannya.“Kau tidak bekerja di ruang kerja?” tanyaku sambil memindahkan saluran.“Tidak,” jawabnya tanpa mengangkat wajah. “Aku ingin bersamamu
Galeri semakin ramai menjelang malam.Lampu-lampu sorot menggantung rendah di atas kanvas, membentuk bayangan lembut di lantai putih mengkilap. Suara percakapan terpecah menjadi potongan-potongan kecil—tentang teknik, tentang harga, tentang makna yang mungkin tidak pernah dimaksudkan pelukisnya.Tama kembali ke sisiku setelah menyelesaikan panggilan teleponnya.“Maaf,” katanya pelan. “Sedikit urusan mendesak.”Aku mengangguk.Ia melirikku sebentar, lalu berdiri di sampingku menghadap lukisan biru gelap.“Kau masih melihat hal yang sama?” tanyanya pelan, matanya tetap pada kanvas.“Aku suka lukisan ini,” jawabku akhirnya.Tama menoleh sedikit. “Karena?”“Karena ia tidak mencoba menyembunyikan gelapnya,” kataku. Beberapa detik kami berdiri tanpa bicara. Garis terang yang membelah kanvas itu tampak semakin tajam di bawah sorot lampu. Tama bergerak ke lukisan berikutnya.Aku mengikutinya. Ia membaca keterangan kecil di bawah bingkai dengan saksama, seperti membaca laporan keuangan ya
Hari-hari berlalu tanpa terasa.Di akhir pekan, Tama mengajakku menghadiri pembukaan kecil di galeri milik kenalan lama Ayah.Galeri itu lebih sunyi daripada yang kubayangkan.Langit-langitnya tinggi, dindingnya putih bersih, lantainya memantulkan cahaya lampu kuning hangat yang dipasang tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Aroma cat minyak yang samar bercampur dengan wangi kayu tua dari bingkai-bingkai besar yang berjajar rapi.Tama berjalan di sampingku, langkahnya tenang. Jasnya gelap, rambutnya tertata rapi seperti biasa.
Rumah kembali sunyi setelah percakapan itu.Bukan sunyi yang berat.Lebih seperti ruang yang sedang menyesuaikan napas.Aku masih duduk di sofa ketika Tama berdiri di depanku. Lampu ruang tamu redup, hanya satu lampu dinding yang menyala, menciptakan bayangan lembut di sepanjang lantai.“Kau lapar?” tanyanya tiba-tiba.Aku menggeleng. “Tidak terlalu.”Ia mengangguk kecil, lalu duduk di sebelahku.







