เข้าสู่ระบบAkhir-akhir ini, kesibukanku cuma seputar Tama. Aku menghabiskan banyak waktu di kamarnya.Tapi kamar luas ini… entah kenapa terasa terlalu sesak. Jadi, kuputuskan untuk memberikan sedikit kehidupan.
“Tama, kamu gak keberatan kan, kalau kamarnya aku ubah dikit?" Tentu saja Tama tak menjawab.Tapi diamnya kuanggap sebagai “ya”.
Aku mulai dari hal kecil.
Menarik tirai supaya cahaya masuk, mengisi vas bunga yang sudah lama kosong, dan menempelkan dua foto kecil di dinding.
Satu foto taman belakang rumah, satu lagi foto yang entah kenapa selalu berhasil membuatku tenang—langit sore dengan warna pink keunguan.Lalu aku menyalakan musik pelan-pelan.
Lagu lama, tapi selalu berhasil membuat ruangan terasa hangat.“Begini lebih baik, kan? Harusnya kulakukan dari kemarin.”Tama tetap diam.
Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa diamnya tak seberat dulu.Aku duduk di kursi, memandangi Tama yang tetap diam dengan wajah tenangnya.
Lebam di tubuhnya sudah menghilang.
“Kamu tuh, betah banget ya di alam sana? Atau kamu terlalu betah dengar aku ngoceh sendirian?”
Tanganku lalu menyapu debu di meja, sambil berusaha mencari tempat untuk menaruh vas bunga kecil yang baru kuisi.
Di sudut meja, sesuatu menarik perhatianku—kamera hitam yang sudah lama kubawa dari rumah, tapi belum sempat digunakan.
“Kamu tau nggak? Dulu, hobiku ngerekam hal-hal random. Apa aja kurekam.”
Aku terdiam sebentar, berusaha menyalakan kamera. Untunglah, baterainya masih penuh.
Aku memutar ulang salah satu video di dalamnya.
“Kamu mau lihat? Ini bulan lalu, waktu kita hiking ke bukit kecil. Inget gak? Ayah maksa aku ikut, katanya kamu terlalu berlama di goa sampai gak bisa kalau diajak ngomong.”
Aku terkekeh pelan. “Waktu itu aku gak percaya, tapi ternyata bener. Buktinya aku ngomong gak pernah kamu jawab.Tapi anehnya, aku gak pernah bosen juga.”
Aku menatap layar sebentar sebelum melirik Tama. “Ternyata kamu ganteng ya? Dulu aku gak pernah perhatiin.”
“Dan hidung kamu… mancung banget, tau gak? Ih, nyebelin, kenapa aku baru sadar sekarang.”
Aku menghela napas kecil sambil menatap wajahnya dari dekat. “Alis kamu juga rapi banget. Kalau aku yang punya alis begini pasti udah pamer tiap hari.”
“Biar aku cek yang lain. Sekarang mata.”
Tangan kiriku bergerak pelan, membetulkan posisi poni yang mulai menutupi matanya. Begitu ujung jariku menyentuh kulitnya, kulihat jari tangannya bergerak halus.
“Aneh,” gumamku sambil ketawa pelan. “Tiap kita lagi berdua, kamu selalu bergerak.”
“Sampe Ibumu marah sama aku, kamu inget kan?” Aku memegang tangannya.
“Tapi aku penasaran, apa yang bikin kamu bisa gerak refleks? Padahal kamu juga sering kok dipegang dokter dan perawat?"
Aku berpikir sebentar, lalu tersenyum sendiri.
“Mungkin kamu cuma pilih-pilih orang ya? Kuakui, seleramu bagus kalau gitu.”Tanganku masih di atas tangannya. “Kalo gitu, aku pengen bukti.”Aku berdiri, lalu menyalakan kamera.
“Sekalian aja, kita eksperimen kecil.”Kuarahkan lensa ke wajah Tama. Cahaya dari jendela membuat kulit pucatnya terlihat hangat.
“Baiklah, dokumentasi hari ini dimulai,” ucapku, menirukan gaya reporter TV.Aku tertawa kecil. “Metode percobaan pertama, memuji kamu.”
Aku mencondongkan wajah sedikit, pura-pura serius.
“Pertama, subjek memiliki struktur wajah sempurna—garis rahang jelas, simetri mendekati ideal. Bisa disimpulkan, waktu Tuhan bikin kamu kayaknya moodnya bagus. Niat banget, soalnya-"Aku tertawa kecil. “Kedua, mata kamu... bahkan waktu merem aja masih kelihatan galak.”
Aku menggerakkan tangan di depan matanya “Halo Tama? Bisa lihat aku kan?”“Ketiga, bibir—” aku berhenti sebentar, menimangnya sekilas. "Ini—" kataku terjeda seraya menyentuh bibirnya yang kering dengan jemariku. Namun urung aku melakukannya.
Aku melirik layar kamera, lalu ke Tama lagi.
“Intinya, kamu tuh kayak hasil kombinasi karakter favorit orang-orang. Kalau kamu jadi tokoh di film, rating-nya pasti tinggi. Kalau jadi idol juga pasti kamu visualnya.”Aku mencoba menahan senyum. “Sayangnya, kamu pilih tidur panjang daripada debut.”Lalu lebih pelan, hampir seperti gumaman, “Tapi gapapa, aku tunggu kok. Soalnya... kamu tetap kelihatan keren bahkan tanpa ngapa-ngapain.”
Aku mengalihkan pandangan ke kamera. “Oke kita kembali lagi. Karena metode pertama gagal, kita coba metode kedua, kamu disentuh dengan penuh kasih sayang."
“Percobaan pertama, sentuhan lembut di tangan,” kataku sambil menahan tawa.
Kujulurkan tangan kiri, menyentuh jari-jarinya pelan.Kamera di tangan kanan merekam semua—termasuk degupan halus yang entah kenapa terasa di ujung jariku sendiri.“Hmm, gak ada respon.” Aku mencondongkan badan, mendekat ke wajahnya.
“Percobaan berikutnya…” ujarku sambil menaruh kamera di meja, “cek struktur wajah.”
Kujulurkan tangan, menyentuh pipinya pelan. Kulitnya dingin, tapi lembut. “Pipi kamu… halus banget sih. Gak adil.”
Aku mencubitnya sedikit, cuma iseng, lalu cepat-cepat menarik tanganku. “Aduh, maaf! Refleks.”Tanganku bergerak ke rahangnya, ibu jariku menyentuh kulit dingin di bawahnya. “Tulang rahang kamu tajam banget, beneran cocok jadi aktor film.”
Aku mengangkat dagunya sedikit, pura-pura menilai. “Coba lihat, kalau kamu senyum dikit pasti—”
Kalimatku berhenti.
Aku ngerasa sesuatu—ada yang bergerak. Sesuatu bagian bawahnya menegang sebentar.
Aku refleks mundur sedikit. Kulihat kamera yang masih merekam diatas meja.
Aku menarik napas, sedikit gugup tapi juga… bingung. “Aku gak bisa gini. Nanti kalau aku suka kamu—bahaya."
Tama pulang sebelum matahari benar-benar turun.Aku sedang duduk di ruang makan dengan buku terbuka di depanku ketika suara mobilnya terdengar memasuki halaman.Pintu terbuka.Ia masuk dengan langkah yang tetap tenang, tetap terukur. Jasnya masih terpasang rapi.“Kau sudah makan?” pertanyaannya datang bahkan sebelum ia benar-benar meletakkan tasnya.“Belum,” jawabku. “Kau?”“Sudah sedikit.”
Pagi itu tidak berbeda dari biasanya.Tama berangkat lebih awal.Ia sempat berdiri beberapa detik di dekat pintu sebelum pergi, seolah ingin memastikan sesuatu.“Aku akan cukup sibuk hari ini,” katanya.“Aku tahu,” jawabku.Ia mengangguk kecil.“Kalau ada apa-apa, kabari.”Pintu tertutup.Langkahnya menjauh.
Waktu benar-benar berlalu begitu cepat.Akhir pekan datang lagi. Padahal rasanya kemarin kami pergi ke galeri.Aku duduk di ujung sofa panjang di ruang santai,dengan remote yang sejak tadi tak lepas dari genggamanku.Di sebelahku, Tama duduk lebih tegak. Tablet tipis terbuka di pangkuannya.“Kau tidak bekerja di ruang kerja?” tanyaku sambil memindahkan saluran.“Tidak,” jawabnya tanpa mengangkat wajah. “Aku ingin bersamamu
Galeri semakin ramai menjelang malam.Lampu-lampu sorot menggantung rendah di atas kanvas, membentuk bayangan lembut di lantai putih mengkilap. Suara percakapan terpecah menjadi potongan-potongan kecil—tentang teknik, tentang harga, tentang makna yang mungkin tidak pernah dimaksudkan pelukisnya.Tama kembali ke sisiku setelah menyelesaikan panggilan teleponnya.“Maaf,” katanya pelan. “Sedikit urusan mendesak.”Aku mengangguk.Ia melirikku sebentar, lalu berdiri di sampingku menghadap lukisan biru gelap.“Kau masih melihat hal yang sama?” tanyanya pelan, matanya tetap pada kanvas.“Aku suka lukisan ini,” jawabku akhirnya.Tama menoleh sedikit. “Karena?”“Karena ia tidak mencoba menyembunyikan gelapnya,” kataku. Beberapa detik kami berdiri tanpa bicara. Garis terang yang membelah kanvas itu tampak semakin tajam di bawah sorot lampu. Tama bergerak ke lukisan berikutnya.Aku mengikutinya. Ia membaca keterangan kecil di bawah bingkai dengan saksama, seperti membaca laporan keuangan ya
Hari-hari berlalu tanpa terasa.Di akhir pekan, Tama mengajakku menghadiri pembukaan kecil di galeri milik kenalan lama Ayah.Galeri itu lebih sunyi daripada yang kubayangkan.Langit-langitnya tinggi, dindingnya putih bersih, lantainya memantulkan cahaya lampu kuning hangat yang dipasang tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Aroma cat minyak yang samar bercampur dengan wangi kayu tua dari bingkai-bingkai besar yang berjajar rapi.Tama berjalan di sampingku, langkahnya tenang. Jasnya gelap, rambutnya tertata rapi seperti biasa.
Rumah kembali sunyi setelah percakapan itu.Bukan sunyi yang berat.Lebih seperti ruang yang sedang menyesuaikan napas.Aku masih duduk di sofa ketika Tama berdiri di depanku. Lampu ruang tamu redup, hanya satu lampu dinding yang menyala, menciptakan bayangan lembut di sepanjang lantai.“Kau lapar?” tanyanya tiba-tiba.Aku menggeleng. “Tidak terlalu.”Ia mengangguk kecil, lalu duduk di sebelahku.







