Share

BAB IV

Author: Shine
last update Last Updated: 2025-10-07 18:39:38

“Lonjakannya terjadi jam tiga,” suaranya datar, sedingin kaca jendela di belakangnya. “Dan kebetulan kamu di sana waktu itu.”

Aku tahu suara itu. Miranda.

Ia berdiri menepi dari lampu, membiarkan bayangannya lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Tangan terlipat di dada, dagu sedikit terangkat, bibir menyisakan senyum yang tidak ramah. Napasku tersendat, dada terasa sesak sejenak.

“Jangan bilang kau menyentuhnya.”

Aku berusaha memproses kalimatnya satu per satu, seperti menelan pil tanpa air. Kesadaranku belum pulih seutuhnya setelah semalaman begadang di sisi ranjang Tama, menghitung napasnya yang naik turun.

“Jawab.” Pandangannya tak berkedip. “Kau apakan anak saya?”

“Aku cuma—”

“Cuma apa?” Nada suaranya naik, bukan berteriak, tetapi cukup tajam untuk menembus kulit. “Asal kau tahu, kau ini cuma istri pura-pura.”

Tangannya menarik tirai. 

“Semua orang tahu posisimu, Anya,” ujarnya pelan namun menusuk. “Jangan bertingkah seolah Tuhan memilihmu jadi penyelamat.”

“Sensor jantungnya melonjak tiba-tiba,” katanya, menekan kata demi kata. “Dan cuma ada satu kemungkinan kenapa itu bisa terjadi. Kau menyentuhnya.”

“Ibu—”

“Aku bukan ibu tirimu dan bukan ibu mertuamu,” katanya. “Jangan pernah bermimpi menjadi nyonya besar Adikara.”

“Aku tahu jenis perempuan seperti kamu,” lanjutnya. “Berpura-pura polos, lalu mencari cara untuk bertahan.”

Ujung jarinya menyentuh daguku, ringan seperti abu, tapi ancamannya jelas. “Menikah diam-diam, lalu pura-pura jadi istri sah. Kau kira keluarga ini sebodoh itu?”

Ia tertawa kecil, lalu menoleh ke Tama yang terbaring pucat. “Kalau bukan karena wasiat bodoh itu, hidupnya tak akan bertahan lama.”

Aku menahan napas. “Dia masih hidup karena aku merawatnya,” kataku, berusaha stabil.

Tepukan keras mendarat di pipiku—bukan pukulan, tapi penghinaan yang dibentuk menyerupai kasih sayang. Panasnya menjalar.

“Dia hidup karena aku mengizinkan. Jangan lupa itu.”

Ia berbalik, melangkah ke ambang pintu. “Oh, satu lagi,” ucapnya tanpa menoleh.

“Mulai hari ini aku tinggal di sini.”

“Di sini?” suaraku serak.

“Kenapa? Rumah ini rumah anakku, bukan?” Pandangannya menyapu selang, tiang infus, dan aku—yang baginya lebih kecil dari debu.

“Koperku di mana akan kamu taruh?”

Aku masih diam. Ia melirikku, mengulas senyum miring yang asing.

“Ah, iya. Lupa.” Suaranya pelan. “Kamu kan sudah jadi istrinya sekarang. Jadi sudah sepantasnya aku tinggal di rumah menantuku sendiri, kan?”

Ia pergi. Pintu tertutup. Sunyi menekan seperti selimut basah.

Aku mundur ke kamarku, pintu menutup di belakang. Tangis pecah tanpa aba-aba. Suara tamparan masih berdenyut di telinga. Aku jatuh terduduk, memegangi pipi yang panas, lalu merayap kembali ke kamar Tama. Di ambang ranjang, aku memeluk bantalnya, mencium sisa wangi yang samar.

“Tama…” Namanya lolos seperti doa. “Kenapa kamu tinggalin aku sendirian?”

Aku menangis sampai gemetar reda menjadi lelah. Pandanganku kabur. Aku tidak tahu kapan tepatnya tertidur di tepi ranjangnya—hanya ingat dingin pada jari, dan bunyi mesin yang kembali stabil seperti nada dasar kesepian.

Ada sesuatu. Bukan suara, melainkan gerak halus yang diingat kulit. Jemari—itu rasanya jemari—menyibak rambutku pelan, dari ubun-ubun ke pelipis, berhenti pada pipi yang masih perih. Hangatnya seperti kompres air, lembutnya seperti permintaan maaf yang tidak diucapkan.

Tubuhku kaku, antara mimpi dan sadar. Aku ingin membuka mata, tetapi kelopak terasa berat. Gerakan itu berpindah, menyisir garis rahang, berhenti lagi di dekat telinga lalu terhenti di bibir.

“Tam…” Napasku pecah menjadi patah kecil. Dalam gelap yang samar aku mendengar gesekan kain. Tempat tidur berderit halus. Bukan langkah Miranda. Ini jarak yang hanya bisa ditempuh oleh seseorang yang duduk terlalu dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXXIV

    Pagi itu tidak berbeda dari biasanya.Tama berangkat lebih awal.Ia sempat berdiri beberapa detik di dekat pintu sebelum pergi, seolah ingin memastikan sesuatu.“Aku akan cukup sibuk hari ini,” katanya.“Aku tahu,” jawabku.Ia mengangguk kecil.“Kalau ada apa-apa, kabari.”Pintu tertutup.Langkahnya menjauh.

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXXIII

    Waktu benar-benar berlalu begitu cepat.Akhir pekan datang lagi. Padahal rasanya kemarin kami pergi ke galeri.Aku duduk di ujung sofa panjang di ruang santai,dengan remote yang sejak tadi tak lepas dari genggamanku.Di sebelahku, Tama duduk lebih tegak. Tablet tipis terbuka di pangkuannya.“Kau tidak bekerja di ruang kerja?” tanyaku sambil memindahkan saluran.“Tidak,” jawabnya tanpa mengangkat wajah. “Aku ingin bersamamu

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXXII

    Galeri semakin ramai menjelang malam.Lampu-lampu sorot menggantung rendah di atas kanvas, membentuk bayangan lembut di lantai putih mengkilap. Suara percakapan terpecah menjadi potongan-potongan kecil—tentang teknik, tentang harga, tentang makna yang mungkin tidak pernah dimaksudkan pelukisnya.Tama kembali ke sisiku setelah menyelesaikan panggilan teleponnya.“Maaf,” katanya pelan. “Sedikit urusan mendesak.”Aku mengangguk.Ia melirikku sebentar, lalu berdiri di sampingku menghadap lukisan biru gelap.“Kau masih melihat hal yang sama?” tanyanya pelan, matanya tetap pada kanvas.“Aku suka lukisan ini,” jawabku akhirnya.Tama menoleh sedikit. “Karena?”“Karena ia tidak mencoba menyembunyikan gelapnya,” kataku. Beberapa detik kami berdiri tanpa bicara. Garis terang yang membelah kanvas itu tampak semakin tajam di bawah sorot lampu. Tama bergerak ke lukisan berikutnya.Aku mengikutinya. Ia membaca keterangan kecil di bawah bingkai dengan saksama, seperti membaca laporan keuangan ya

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXXI

    Hari-hari berlalu tanpa terasa.Di akhir pekan, Tama mengajakku menghadiri pembukaan kecil di galeri milik kenalan lama Ayah.Galeri itu lebih sunyi daripada yang kubayangkan.Langit-langitnya tinggi, dindingnya putih bersih, lantainya memantulkan cahaya lampu kuning hangat yang dipasang tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Aroma cat minyak yang samar bercampur dengan wangi kayu tua dari bingkai-bingkai besar yang berjajar rapi.Tama berjalan di sampingku, langkahnya tenang. Jasnya gelap, rambutnya tertata rapi seperti biasa.

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXX

    Rumah kembali sunyi setelah percakapan itu.Bukan sunyi yang berat.Lebih seperti ruang yang sedang menyesuaikan napas.Aku masih duduk di sofa ketika Tama berdiri di depanku. Lampu ruang tamu redup, hanya satu lampu dinding yang menyala, menciptakan bayangan lembut di sepanjang lantai.“Kau lapar?” tanyanya tiba-tiba.Aku menggeleng. “Tidak terlalu.”Ia mengangguk kecil, lalu duduk di sebelahku.

  • Menikahi Kakakku yang Koma   BAB LXXIX

    Restoran tetap hangat ketika aku berdiri.Musik masih mengalun pelan. Dewan tersenyum seperti sebelumnya—sopan, terkendali.“Akan kami tunggu kabar dari Anda,” ujar pria berambut perak itu sebelum aku benar-benar melangkah pergi.“Tentu,” jawabku.Udara malam menyambutku begitu pintu kaca tertutup di belakangku.Aku berjalan menuju mobil dengan langkah stabil. Tidak cepat. Tidak lambat. Tidak ada yang perlu dikejar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status