Share

Besok Kita Menikah

Author: Arrana
last update Last Updated: 2023-08-14 02:37:41

Langit sore merayap ke warna keemasan yang memudar, sementara gedung-gedung di luar jendela rumah sakit mulai menyalakan lampu.

Aroma antiseptik yang tajam bercampur samar dengan wangi kopi instan dari mesin di sudut ruang tunggu.

Kanaya terbaring di ranjang pasien, tubuhnya lemah di bawah selimut tipis. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kering, napasnya kini teratur tapi masih berat.

Di pelipisnya, helaian rambut menempel oleh keringat yang belum sempat dibersihkan.

Pagi tadi, ia masih berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, memegang map administrasi untuk mengurus tagihan ruang rawat orangtuanya.

Semalaman ia begadang di sisi ranjang ibunya yang sempat drop tekanan darahnya.

Pagi itu, ia langsung keluar lagi untuk menandatangani surat pindahan rumah atau kontrak sewa baru di sebuah rumah kecil dekat rumah sakit.

Ia hampir tidak makan sejak kemarin sore, hanya meneguk air putih seadanya. Perutnya kosong, tapi pikirannya terlalu penuh untuk merasa lapar.

Beban pikiran soal biaya, pekerjaan, dan kesehatan orangtuanya seperti menumpuk di dadanya, memeras sisa energinya.

Di siang hari, saat kembali ke rumah sakit dengan dua kantong belanja bahan makanan, pandangan Kanaya mulai berkunang-kunang.

Suara orang di sekelilingnya terdengar sayup. Satu langkah lagi ke lorong menuju ruang rawat orangtuanya, tubuhnya goyah lalu gelap.

Ketika ia membuka mata, semuanya terasa asing. Lampu putih di atas kepala, suara mesin infus berdetak pelan, dan tirai tipis yang memisahkan ranjangnya dari pasien lain.

Ia tak sadar sudah berapa lama terlelap, tapi tubuhnya terasa berat seperti diselimuti batu.

Di kursi dekat jendela, Leon duduk dengan kaki bersilang. Jas hitamnya rapi, rambutnya tertata sempurna, kontras dengan kondisi Kanaya yang lusuh.

Ia menatap layar ponselnya, jemarinya bergerak cepat, seperti tak terganggu oleh kehadiran siapapun di ruangan itu.

Sesekali, tanpa angkat kepala, matanya melirik ke arah Kanaya sekilas, dingin, nyaris tanpa ekspresi. Sulit menebak apakah itu bentuk kepedulian atau hanya kebiasaan mengawasi.

Perawat lantas masuk, memeriksa infus Kanaya dan mencatat sesuatu di papan medis. Leon berbicara tanpa memandangnya.

“Kalau pasien ini bangun, jangan langsung kabari siapa pun,” ucapnya datar, namun mengandung tekanan halus di ujung kalimatnya. “Dan pastikan dia nggak dapat makanan dari luar.”

Perawat menoleh sebentar, bingung. “Baik, Pak. Tapi kalau dia lapar—”

“Saya yang urus,” potong Leon cepat. Tatapannya singkat, namun cukup membuat perawat itu menelan kata-katanya kembali.

Ia berdiri perlahan, merapikan jasnya. Langkahnya mendekat ke ranjang Kanaya, berhenti tepat di sisi ranjang.

Sorot matanya menelusuri wajah pucat itu tapi bukan tatapan lembut. Ada sesuatu yang lebih gelap di sana, entah perhitungan atau rencana yang hanya dia yang tahu.

Kanaya terbangun malam itu. Lampu kamar rumah sakit sudah diredupkan. Hanya bunyi detak jam dan suara langkah perawat di koridor yang menemani.

Tenggorokannya kering, perutnya kosong. Di meja kecil, ada kantong kertas berisi roti dan sebotol air mineral. Tidak ada catatan, hanya aroma kopi hangat yang samar, seolah baru saja dibawa dari luar.

Ia menatap kantong itu dengan alis berkerut. Rasa ingin tahu bercampur waspada.

“Leon?”

Tidak mungkin dia peduli ‘kan?

***

Keesokan harinya, Leon muncul lagi. Kali ini mengenakan kemeja santai, tapi tetap dengan aura dingin yang sama.

“Sudah cukup istirahat. Malam ini ikut aku,” katanya, tanpa basa-basi.

Kanaya mendengus. “Ikut? Ke mana? Aku bahkan belum—”

“Simpan tenagamu buat nanti,” potong Leon, nada bicaranya seakan ia tak terbiasa diberi penolakan.

Kanaya ingin membantah, tapi ada sesuatu di sorot mata Leon yang membuatnya menahan kata-kata. Ada semacam tantangan di sana atau mungkin jebakan.

Ia benci mengakuinya, tapi rasa penasaran itu menempel seperti bayangan.

***

Malamnya, mobil Leon meluncur ke pusat kota. Lampu neon berpendar di sepanjang jalan, dan dentuman musik mulai terdengar begitu mereka mendekat ke sebuah klub eksklusif.

Leon tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya berjalan, menyibak kerumunan dengan percaya diri yang nyaris arogan.

Begitu mereka masuk, aroma alkohol dan parfum mahal menyergap. Musik EDM menghentak, lantai dansa penuh, dan lampu sorot bergerak liar.

Kanaya menatap sekeliling, merasa seperti terseret masuk ke dunia yang tidak ia pilih.

Leon membawanya ke sofa VIP di lantai dua. Dari sini, mereka bisa melihat seluruh lantai dansa. Ia memesan minuman, menyerahkannya pada Kanaya tanpa bertanya.

“Minum.”

“Aku nggak—”

“Minum.” Kali ini tatapannya menusuk, membuat Kanaya terpaksa menerima gelas itu.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan bergaun merah mendekat. Wajahnya cantik, senyumnya terlalu ramah.

Ia menyapa Leon dengan cara yang membuat Kanaya mengangkat alis, terlalu akrab, bahkan intim.

“Sudah lama nggak kelihatan,” ujar si perempuan, duduk di samping Leon. Tangannya singgah sebentar di bahu Leon, gerakan yang entah sengaja atau tidak membuat Kanaya menatap datar.

Leon hanya tersenyum tipis, tapi tatapan matanya pada Kanaya seperti sedang mengamati reaksi.

Tidak ada pengakuan bahwa ini bagian dari rencana, hanya diam yang terlalu licik untuk disebut kebetulan.

Perempuan itu mengajak Leon menari. Ia bangkit, lalu entah dengan sengaja atau tidak menyentuh tangan Kanaya di meja sebelum pergi.

Jantung Kanaya berdegup, tapi bukan karena cemburu. Lebih karena ia merasa sedang dijadikan pion di permainan yang belum ia mengerti.

Dan beberapa jam kemudian, Leon kembali ke sofa, pura-pura sedikit limbung. Napasnya berbau alkohol, matanya setengah terpejam.

Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, membuat Kanaya secara refleks menahan bahunya agar tidak jatuh.

“Kamu mabuk?”

Leon hanya terkekeh, menatapnya dari jarak yang terlalu dekat. Napas hangatnya menyentuh kulit Kanaya, membuatnya gugup meski ia berusaha menahan ekspresi.

“Kalau aku jatuh, kamu tangkap, kan?” bisik Leon, suaranya serak tapi jelas.

Kanaya menggeram. “Berhenti bicara omong kosong.”

Tapi tubuh Leon condong lebih dekat, nyaris membuat wajah mereka bersentuhan. Mata mereka bertaut, dan waktu seakan melambat.

Bukan hanya musik yang terdengar, tapi Kanaya juga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Lalu, tiba-tiba, Leon mundur. Ia berdiri, tersenyum tipis. “Sudah waktunya pulang.” Nada suaranya kembali normal, seolah momen itu tak pernah terjadi.

***

Di parkiran, dingin malam menusuk tulang. Kanaya berjalan setengah langkah di belakang Leon, pikirannya masih berputar apakah pria itu benar-benar mabuk tadi, atau semua hanya permainan yang diatur?

Begitu sampai di apartemen, Leon membuka pintu dan melangkah masuk tanpa menoleh. Kanaya mengikutinya lalu terhenti.

Seorang gadis muda berdiri di ruang tengah menggunakan sweater oversized menutupi tubuh rampingnya, rambut basahnya meneteskan air ke lantai.

Ia menoleh, menatap Leon, lalu tersenyum santai. “Kamu pulang juga,” sapanya ringan.

Dada Kanaya mengencang. Bukan cemburu, tapi karena rasa asing yang merayap. Ia seperti baru saja melangkah masuk ke medan yang sama sekali tidak ia pahami.

Leon berjalan mendekat ke arah gadis itu, tapi pandangannya hanya sekilas.

Senyum yang muncul di bibirnya bukan sinis seperti biasanya, melainkan samar dan terukur.

Tepat sebelum mencapai si gadis, ia berhenti, memiringkan wajah sedikit ke arah Kanaya, sekadar memastikan kata-katanya terdengar.

“Masuklah,” ujarnya pelan. “Ada hal yang harus dibicarakan.”

Suara itu menggantung di udara, membelah hening di antara mereka.

Tatapan gadis itu bergeser pada Kanaya, seakan menyimpan sesuatu yang belum sempat diungkap.

Kanaya mengatur napasnya, lalu melangkah masuk. Pintu tertutup otomatis di belakangnya dengan bunyi klik yang membuatnya sedikit terlonjak.

Gadis itu melirik Leon sebentar, lalu tanpa sepatah kata menuju kamar di ujung lorong. Hanya suara sandal rumah yang menyeret pelan di lantai kayu yang tersisa.

Begitu gadis itu menghilang, Leon berbalik menatap Kanaya. “Duduk,” ucapnya singkat sambil menunjuk sofa.

Kanaya tetap berdiri. “Langsung saja.”

“Dia hanya teman,” jawabnya tanpa berkedip, lalu menuang air ke dalam dua gelas. “Dan kamu tidak perlu tahu lebih dari itu sekarang.”

Nada datar Leon membuat Kanaya nyaris ingin melemparkan sesuatu pada Leon.

Tapi tatapan dingin Leon seolah menghitung sekaligus menahannya.

Kanaya pun memilih duduk, meski otot-ototnya masih kaku.

Leon menyerahkan segelas air padanya. “Minum. Kamu dehidrasi.”

Kanaya menerima gelas itu, memutarnya di tangan, lalu menyeruput perlahan. Rasa dingin air justru menajamkan kesadarannya.

“Apa yang sebenarnya kamu mau dari aku?” tanya Kanaya akhirnya.

Leon duduk di kursi seberang, bersandar ke depan, siku di lutut.

“Jawaban. Dan kesepakatan.” Matanya menyapu wajah Kanaya seolah mencari tanda-tanda kebohongan. “Besok pagi kita ke KUA.”

Kanaya nyaris tersedak. “KUA? Untuk apa?”

“Menikah,” jawab Leon datar, seakan ia baru saja berkata ‘besok kita belanja ke supermarket’.

Kanaya terkekeh tak percaya. “Kamu gila? Kita bahkan—”

“Aku tidak bercanda,” potong Leon cepat. “Aku butuh pernikahan ini.”

Leon menegakkan tubuhnya, lalu menghela napas seolah memutuskan tidak akan menjelaskan lebih.

Hening menggantung beberapa detik, hanya dipecah suara AC. Leon akhirnya berdiri.

“Tidur. Besok kita harus bangun pagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Epilog

    Tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Dan memang tidak ada hal yang harus diulang untuk memastikan sesuatu sudah berubah.Beberapa tahun setelah semuanya berakhir, Kanaya sudah tidak lagi menghitung hari dengan luka sebagai penanda waktu. Hidupnya berjalan dengan ritme yang tenang, tidak selalu mudah, tapi tenang.Ia tinggal di kota kecil yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, cukup jauh dari pusat kekuasaan, cukup dekat dengan laut dan manusia-manusia yang tidak menuntutnya menjadi apa pun selain dirinya sendiri.Pusat pemulihan trauma yang ia kelola kini berdiri mandiri. Tidak besar apalagi mewah. Tapi isinya sangat hidup.Ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu ruangan sunyi yang selalu ia sebut “ruang bernapas”, tempat anak-anak, orang dewasa, siapa pun, boleh duduk tanpa harus bicara dan tidak ada kewajiban untuk pulih dengan cepat. Tidak ada target, hanya ruang untuk merasa ada.Kanaya sudah berhenti menjelaskan masa lalunya kepada orang-orang baru. Bukan kare

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Jawaban Yang Tak Perlu Dicari

    Hujan turun sejak subuh, bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat tanah di sekitar tenda-tenda pengungsian menjadi lembek dan semakin becek.Kanaya bangun lebih awal dari biasanya dengan tubuh yang lelah namun pikirannya justru terasa ringan. Ada hari-hari ketika lelah terasa seperti hukuman tapi di lain lelah kadang terasa seperti bukti bahwa ia masih hidup dan berguna. Dan hari ini Kanaya ada dalam keduanya.Ia berjalan melewati lorong-lorong tenda dengan payung kecil di tangan, menyapa beberapa relawan lain yang mulai sibuk membagi logistik. Bau udara basah bercampur kopi instan dan solar dari generator menjadi aroma khas pagi itu. Aneh, tapi entah kenapa menenangkan.Di tenda trauma anak-anak, beberapa bocah sudah duduk di tikar warna-warni. Sebagian masih memeluk boneka yang sudah kusam, sebagian lain menatap kosong ke depan. Kanaya tersenyum kecil, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata mereka.“Selamat pagi,” ucapnya lembut. “Hari ini kita gambar matahari, ya.”Seorang anak

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Hidup Yang Baru

    Beberapa bulan kemudian, hidup Kanaya berjalan dengan ritme baru. Ia tidak kembali ke kehidupan lamanya. Ia membangun yang lain.Pagi-paginya kini diisi dengan ruang kelas kecil berwarna cerah. Dindingnya penuh gambar matahari, rumah, dan wajah-wajah dengan senyum lebar yang digambar tangan-tangan kecil.Kanaya duduk bersila di lantai, sejajar dengan anak-anak.“Kalau kamu merasa takut,” katanya lembut, “kamu boleh bilang. Takut itu nggak papa, kok.”Seorang anak perempuan mengangkat tangan, ragu-ragu. “Kalau takutnya lama?”Kanaya tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat. “Kalau lama, berarti takutnya butuh ditemani lebih lama juga.”Ia menjadi relawan trauma, bukan karena ingin menjadi pahlawan, tapi karena ia tahu rasanya tidak ditemani.Ia tidak berharap bisa menghapus luka anak-anak korban bencan. Ia hanya mengajarkan mereka cara hidup berdampingan dengan luka-luka itu tanpa perlu merasa tersakiti lagi, sampai suatu hari luka itu seperti tak terlihat lagi.Di luar jam relawan, Ka

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Putusan Sidang

    Ruang sidang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, tapi karena semua yang hadir tahu kalau hari ini sebuah putusan akan dikumandangkan. Keputusan yang akan mengubah masa depan dan kehidupan seseorang.Kanaya duduk tegak di kursi penggugat. Setelan krem sederhana membingkai tubuhnya yang kini tampak jauh lebih tenang dibanding sidang pertama dan mediasi. Tidak ada lagi tangan gemetar dan napas yang terasa sesak.Di sisi seberang, Leon tampak kurus. Wajahnya nampak sedikit kusam. Setelan mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kehancuran yang menggerogotinya dari dalam.Sidang dibuka. Hakim memandang berkas di depannya, lalu menatap kedua pihak.“Kita lanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan bukti tambahan.”Pengacara Kanaya berdiri. “Kami menghadirkan saksi pertama yaitu saudari Miranti Suryani.”Seorang perempuan melangkah masuk. Wajahnya tegang, tapi matanya jujur. Ia mengucap sumpah, lalu duduk.“Saudari saksi,” ucap hakim, “Jelaskan hubungan Anda dengan kedua be

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Kelas Sketsa

    Hujan turun tipis sore itu, seolah air langit ragu saat ingin benar-benar jatuh.Kanaya duduk di sudut kafe yang sudah tutup. Beberapa lampunya sudah dimatikan, sehingga suasana terlihat redup, hanya di dekat satu meja yang ditempatinya yang masih menyala.Di depannya, tersaji secangkir teh yang sudah dingin dan ponsel yang sejak tadi tak ia sentuh lagi.Nama Miranti kembali tertera di layar. Kanaya menarik napas, lalu menekan tombol panggil.“Halo, Naya,” suara di seberang terdengar pelan dan hati-hati. “Maaf aku baru berani menghubungi sekarang.”“Tidak apa-apa,” jawab Kanaya. “Kamu bilang ada sesuatu tentang Arya.”Hening sebentar.“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Miranti akhirnya. “Aku takut kamu mengira aku membela dia. Tapi tidak. Aku berani menghubungimu karena seseorang menceritakan masalah kalian.”Kanaya menegakkan punggung. “Baiklah. Aku akan mendengarkannya.”Miranti menghela napas panjang. “Hari pengakuan itu aku ada di ruang siaran.”Jantung Kanaya berdetak l

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Chat Orang Lama

    Ruang mediasi itu lebih kecil dari ruang sidang, tapi tekanannya justru terasa lebih besar. Sebuah meja, tiga kursi di satu sisi dan tiga di sisi lain.Tidak ada palu hakim juga peserta sidang lainnya. Hanya keheningan yang terasa membuat napas menjadi sesak.Kanaya datang tepat waktu.Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu datar. Penampilannya rapi dan sopan, tidak terlihat masa bodo.Di depannya terlampir map cokelat tipis berisi dokumen yang tidak terlalu tebal.Leon datang lima menit kemudian bersama sang pengacara yang kemudian duduk di sebelah kiri. Di sisi kanan, sang Bunda hadir.Bunda Leon tidak menatap Kanaya dengan permusuhan. Justru ada kelelahan di sana. Kelelahan seorang ibu yang akhirnya menyadari bahwa ada kesalahan yang tak bisa ia rapikan dengan uang atau pengaruh.Mediator lantas membuka pertemuan dengan bahasa formal. Tentang niat baik dan juga kesempatan damai. Tentang kemungkinan rujuk untuk keduanya.Kanaya mendengarkan dan meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status