Masuk
Kanaya Anggia Wardana menaruh tasnya di sofa apartemen, napasnya sedikit berat setelah seharian menghadiri rapat dan menyelesaikan presentasi penting.
Sore itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela menyinari ruang tamu, tapi hatinya tak bisa ikut tenang. Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air dari keran, berharap dapat menenangkan diri sejenak.
Namun ponselnya berbunyi, nada khas yang selalu membuatnya tersenyum. Hatinya pun berdegup kencang. Ia segera meraih telepon, bahagia melihat nama ayahnya muncul di layar ponsel.
“Halo, Pa…” sapanya riang.
“Tuan dan Nyonya sekarang berada di rumah sakit, Nona. Mereka mengalami kecelakaan pesawat.”
Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dada Kanaya. Gelas air jatuh dari tangannya, tumpah di lantai tanpa sempat dihiraukannya.
Lututnya lemas, dan ia terduduk di lantai, menangkup wajah, gemetar. Dunia yang ia kenal seketika runtuh.
“Bagaimana… bagaimana keadaan mereka?” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
“Mereka sedang ditangani tim dokter, Nona. Saya baru tiba di sini, jadi belum bisa menjelaskan detailnya. Kami masih menyelidiki penyebabnya. Dan saya baru menghubungi Nona.”
Rasa bersalah dan panik membanjiri Kanaya. Kanaya teringat dengan kedua adiknya yang sedang tinggal di luar negeri juga. Dan jika membandingkan dengan waktu di negaranya saat ini, kedua adiknya sedang tidur. Kanaya tidak ingin membangunkan mereka.
“Tolong jangan beritahu adik-adik dulu, Om. Saya akan segera pulang ke Indonesia. Om bisa bantu urus dokumennya?” katanya sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya.
“Baik, Nona. Saya akan menghubungi kembali secepatnya. Nona bersiap saja.”
Tak lama kemudian, Kanaya sudah berada di bandara, ditemani orang suruhan asisten pribadi ayahnya yang mengabari sebelumnya. Ia bergerak cepat, tapi setiap langkah terasa berat.
Dalam perjalanan menuju gerbang keberangkatan, pikirannya dipenuhi bayangan orangtuanya yang terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang menyedihkan.
Kecelakaan pesawat tentu saja bukan kecelakaan ringan dan memberikan harapan baik pada korban sekalipun selamat.
***
Di pesawat, Kanaya duduk menatap jendela, membiarkan pikirannya melayang. Bulir air mata jatuh tanpa ia sadari. Membuat seorang pria asing yang duduk di sampingnya tersenyum lembut sambil mengulurkan sesuatu.
“Perlu sapu tangan?” tanyanya dengan suara hangat.
Kanaya menerima dengan lemah, tersenyum tipis. “Terima kasih. Maaf kalau mengganggu, baru saja mendapat kabar buruk,” katanya pelan.
“It’s okay. Kadang berbagi dengan orang asing juga bisa meringankan beban,” jawab pria itu.
Keduanya lantas berbincang cukup sering selama perjalanan yang berlangsung belasan jam itu.
Pria juga menawarkan minuman dan makanan ringan yang diterima Kanaya dengan sopan meski pikirannya masih kacau. Rasa hangat dari kebaikan asing itu sedikit menenangkan hatinya.
Pesawat pun melaju di udara, membawa Kanaya kembali ke negara asal tempat kelahiran dan orangtuanya sedang dirawat sekarang.
Dan setibanya di rumah sakit, ia segera menuju ruangan ICU, ditemani asisten pribadi ayahnya yang menunggu kedatangannya di lobi.
Kedua orangtuanya tampak terbaring di ranjang dengan kondisi tak sadarkan diri, peralatan medis berdengung di sekitar mereka. Hatinya perih melihat keadaan seperti itu.
“Pesawat mengalami masalah, harus melakukan pendaratan darurat. Belum sempat mendarat sempurna, pesawat tergelincir,” jelas asisten pribadi ayahnya.
Kanaya berdiri di samping ranjang, menatap wajah orangtua yang ia cintai. Tangannya ingin meraih mereka, tapi langkahnya terhenti oleh ketukan pintu.
Seorang pria paruh baya muncul, tampak familiar tapi tak dikenalnya. “Kamu Kanaya, benar?” tanyanya.
Untuk beberapa jenak ia tertegun sebelum akhirnya mengkonfirmasi pada asisten pribadi ayahnya yang berdiri di samping.
“Silakan masuk, Tuan,” jawab asisten pribadi ayahnya kemudian.
Pria itu menatap Kanaya serius. “Dunia kalian berubah malam ini, Kanaya. Selain kecelakaan ini, ada hal lain yang harus segera kamu ketahui. Maaf kalau waktunya seolah mendesak dan tak memberimu ruang untuk berfikir panjang.”
Kanaya menelan ludah, jantungnya berdetak cepat. “Apa maksud, Tuan?”
“Perusahaan ayahmu…” Ada jeda, raut sedih seketika meraut di wajah pria seumuran ayahnya tersebut. “…sebetulnya sudah lama mengalami masalah keuangan. Ayahmu sempat meminta saya untuk membantu. Kami bertemu beberapa hari lalu, tapi ia tidak ingin membebanimu.”
Hatinya tercekat. “Apa yang harus saya lakukan?”
Pria itu menyerahkan berkas tebal. “Baca ini. Tanda tangani jika setuju. Saya akan membantu menyelamatkan perusahaan. Tapi ada satu hal lagi…”
Kanaya menatapnya dengan bingung. “Apa itu, Tuan?”
“Kamu harus melaksanakan perjodohan yang sudah diatur ayahmu sejak lama.”
Badan Kanaya gemetar. Perjodohan? Ia menatap berkas itu lagi, jantungnya berdetak cepat. Siapa pria itu? Mengapa Papa tidak pernah memberi tahu? Dan bagaimana ia harus menghadapi kenyataan baru yang tiba-tiba ini?
Ia membuka lembar demi lembar berkas itu. Ada foto seorang pria. Hanya satu halaman tapi wajahnya tak sepenuhnya jelas. Ada catatan kecil di sisi dokumen yang menerangkan kalau pria tersebut adalah, “Calon suami Kanaya, pilihan ayah sejak lama.”
Hatinya campur aduk. Antara sedih, marah, takut, tapi juga penasaran. Dunia Kanaya yang selama ini terasa baik-baik saja seketika telah berubah dalam sekejap.
Ia menandatangani dokumen itu dengan tangan gemetar, lalu menatap pria paruh baya yang mengawasinya.
“Lakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan Papa. Tolong, Om. Kanaya akan melakukan apapun,” katanya dengan suara serak.
Pria itu mengangguk. “Om akan melakukan sebisa mungkin. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang perusahaan, tapi hidupmu juga akan berubah. Apa kamu sudah siap?”
Kanaya menatap berkas, lalu foto samar pria itu lagi. Bayangan tentang siapa yang akan menjadi bagian hidupnya selanjutnya memenuhi pikirannya. Siapa pria itu? Bagaimana hubungannya nanti?
Dan di luar kamar, dunia tetap berjalan, tapi Kanaya merasa seakan waktu berhenti. Segala hal yang ia percayai, segala rencana hidupnya, kini terasa rapuh.
Ia menoleh ke jendela kamar rumah sakit, melihat lampu kota yang berpendar di malam hari. Pikiran tentang orangtuanya, perusahaan, dan perjodohan yang tiba-tiba muncul memenuhi kepalanya. Sebuah pertanyaan besar menghantui.
“Siapa pria yang akan menjadi bagian hidupku selanjutnya? Dan apakah aku siap menghadapi semuanya?”
Kanaya menutup mata, menarik napas panjang. Ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Kabar kecelakaan itu hanyalah awal dari badai yang lebih besar, badai yang akan mengubah kehidupannya, hatinya, dan masa depannya bahkan mungkin jiwanya di masa depan.
Tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Dan memang tidak ada hal yang harus diulang untuk memastikan sesuatu sudah berubah.Beberapa tahun setelah semuanya berakhir, Kanaya sudah tidak lagi menghitung hari dengan luka sebagai penanda waktu. Hidupnya berjalan dengan ritme yang tenang, tidak selalu mudah, tapi tenang.Ia tinggal di kota kecil yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, cukup jauh dari pusat kekuasaan, cukup dekat dengan laut dan manusia-manusia yang tidak menuntutnya menjadi apa pun selain dirinya sendiri.Pusat pemulihan trauma yang ia kelola kini berdiri mandiri. Tidak besar apalagi mewah. Tapi isinya sangat hidup.Ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu ruangan sunyi yang selalu ia sebut “ruang bernapas”, tempat anak-anak, orang dewasa, siapa pun, boleh duduk tanpa harus bicara dan tidak ada kewajiban untuk pulih dengan cepat. Tidak ada target, hanya ruang untuk merasa ada.Kanaya sudah berhenti menjelaskan masa lalunya kepada orang-orang baru. Bukan kare
Hujan turun sejak subuh, bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat tanah di sekitar tenda-tenda pengungsian menjadi lembek dan semakin becek.Kanaya bangun lebih awal dari biasanya dengan tubuh yang lelah namun pikirannya justru terasa ringan. Ada hari-hari ketika lelah terasa seperti hukuman tapi di lain lelah kadang terasa seperti bukti bahwa ia masih hidup dan berguna. Dan hari ini Kanaya ada dalam keduanya.Ia berjalan melewati lorong-lorong tenda dengan payung kecil di tangan, menyapa beberapa relawan lain yang mulai sibuk membagi logistik. Bau udara basah bercampur kopi instan dan solar dari generator menjadi aroma khas pagi itu. Aneh, tapi entah kenapa menenangkan.Di tenda trauma anak-anak, beberapa bocah sudah duduk di tikar warna-warni. Sebagian masih memeluk boneka yang sudah kusam, sebagian lain menatap kosong ke depan. Kanaya tersenyum kecil, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata mereka.“Selamat pagi,” ucapnya lembut. “Hari ini kita gambar matahari, ya.”Seorang anak
Beberapa bulan kemudian, hidup Kanaya berjalan dengan ritme baru. Ia tidak kembali ke kehidupan lamanya. Ia membangun yang lain.Pagi-paginya kini diisi dengan ruang kelas kecil berwarna cerah. Dindingnya penuh gambar matahari, rumah, dan wajah-wajah dengan senyum lebar yang digambar tangan-tangan kecil.Kanaya duduk bersila di lantai, sejajar dengan anak-anak.“Kalau kamu merasa takut,” katanya lembut, “kamu boleh bilang. Takut itu nggak papa, kok.”Seorang anak perempuan mengangkat tangan, ragu-ragu. “Kalau takutnya lama?”Kanaya tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat. “Kalau lama, berarti takutnya butuh ditemani lebih lama juga.”Ia menjadi relawan trauma, bukan karena ingin menjadi pahlawan, tapi karena ia tahu rasanya tidak ditemani.Ia tidak berharap bisa menghapus luka anak-anak korban bencan. Ia hanya mengajarkan mereka cara hidup berdampingan dengan luka-luka itu tanpa perlu merasa tersakiti lagi, sampai suatu hari luka itu seperti tak terlihat lagi.Di luar jam relawan, Ka
Ruang sidang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, tapi karena semua yang hadir tahu kalau hari ini sebuah putusan akan dikumandangkan. Keputusan yang akan mengubah masa depan dan kehidupan seseorang.Kanaya duduk tegak di kursi penggugat. Setelan krem sederhana membingkai tubuhnya yang kini tampak jauh lebih tenang dibanding sidang pertama dan mediasi. Tidak ada lagi tangan gemetar dan napas yang terasa sesak.Di sisi seberang, Leon tampak kurus. Wajahnya nampak sedikit kusam. Setelan mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kehancuran yang menggerogotinya dari dalam.Sidang dibuka. Hakim memandang berkas di depannya, lalu menatap kedua pihak.“Kita lanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan bukti tambahan.”Pengacara Kanaya berdiri. “Kami menghadirkan saksi pertama yaitu saudari Miranti Suryani.”Seorang perempuan melangkah masuk. Wajahnya tegang, tapi matanya jujur. Ia mengucap sumpah, lalu duduk.“Saudari saksi,” ucap hakim, “Jelaskan hubungan Anda dengan kedua be
Hujan turun tipis sore itu, seolah air langit ragu saat ingin benar-benar jatuh.Kanaya duduk di sudut kafe yang sudah tutup. Beberapa lampunya sudah dimatikan, sehingga suasana terlihat redup, hanya di dekat satu meja yang ditempatinya yang masih menyala.Di depannya, tersaji secangkir teh yang sudah dingin dan ponsel yang sejak tadi tak ia sentuh lagi.Nama Miranti kembali tertera di layar. Kanaya menarik napas, lalu menekan tombol panggil.“Halo, Naya,” suara di seberang terdengar pelan dan hati-hati. “Maaf aku baru berani menghubungi sekarang.”“Tidak apa-apa,” jawab Kanaya. “Kamu bilang ada sesuatu tentang Arya.”Hening sebentar.“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Miranti akhirnya. “Aku takut kamu mengira aku membela dia. Tapi tidak. Aku berani menghubungimu karena seseorang menceritakan masalah kalian.”Kanaya menegakkan punggung. “Baiklah. Aku akan mendengarkannya.”Miranti menghela napas panjang. “Hari pengakuan itu aku ada di ruang siaran.”Jantung Kanaya berdetak l
Ruang mediasi itu lebih kecil dari ruang sidang, tapi tekanannya justru terasa lebih besar. Sebuah meja, tiga kursi di satu sisi dan tiga di sisi lain.Tidak ada palu hakim juga peserta sidang lainnya. Hanya keheningan yang terasa membuat napas menjadi sesak.Kanaya datang tepat waktu.Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu datar. Penampilannya rapi dan sopan, tidak terlihat masa bodo.Di depannya terlampir map cokelat tipis berisi dokumen yang tidak terlalu tebal.Leon datang lima menit kemudian bersama sang pengacara yang kemudian duduk di sebelah kiri. Di sisi kanan, sang Bunda hadir.Bunda Leon tidak menatap Kanaya dengan permusuhan. Justru ada kelelahan di sana. Kelelahan seorang ibu yang akhirnya menyadari bahwa ada kesalahan yang tak bisa ia rapikan dengan uang atau pengaruh.Mediator lantas membuka pertemuan dengan bahasa formal. Tentang niat baik dan juga kesempatan damai. Tentang kemungkinan rujuk untuk keduanya.Kanaya mendengarkan dan meng







