LOGINKanaya duduk di antara ranjang ayah dan ibunya, menatap wajah mereka yang masih tak sadarkan diri. Hening rumah sakit hanya diisi dengungan monitor dan suara langkah sesekali suster.
Tangannya bergetar saat ia mengelap wajah ayahnya, seakan bisa mentransfer kekuatan hidupnya pada pria yang selalu menjadi panutannya itu. Lalu ia menoleh ke ibunya, yang masih terbaring lemah di sisi lain.
“Kanaya nggak tahu harus gimana, Ma… Pa…,” suaranya serak, nyaris berbisik. “Om bilang siang ini aku harus ketemu Leon. Calon jodoh yang Papa persiapkan sejak aku kecil.”
Hanya hening yang menjawab, suara monitor yang monoton terasa menekan dada Kanaya lebih keras dari apapun.
Gadis itu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi rasa penasaran dan cemas tetap membelit hatinya.
“Kenapa Papa dan Mama nggak pernah bilang?” gumamnya pelan, air matanya menetes.
Ia menunduk, menggenggam tangan ibunya sejenak, mencoba merasakan kehangatan yang sudah hilang.
“Tapi Kanaya percaya kok, Pa… Ma… pilihan Papa dan Mama pasti yang terbaik. Doakan Kanaya, ya. Hari ini Kanaya akan bertemu Leon. Calon menantu Mama dan Papa,” ujarnya, tersenyum getir pada ruang kosong di sekelilingnya.
Hening itu terganggu oleh getaran ponselnya di saku. Kanaya menatap layar, jantungnya berdegup kencang, tapi ia memilih mengabaikannya.
Dua hari terakhir ini ia menghindari panggilan adik-adiknya di Australia. Ia belum siap memberi tahu mereka tentang keadaan orangtuanya.
Setelah menghela napas panjang, Kanaya berdiri, membawa baskom dan handuk yang sebelumnya dipakai, tepat saat ketukan pintu terdengar. Asisten pribadi ayahnya masuk.
“Sudah waktunya, Nona,” ucapnya tenang.
Kanaya mengangguk. Hari ini, ia akan bertemu dengan Leon di restoran hotel mewah yang telah ditentukan.
Asisten pribadi itu mengambil baskom dan handuk, menyuruh Kanaya fokus pada pertemuannya.
“Nona tenang saja. Om akan menjaga Tuan dan Nyonya dengan baik selama Nona pergi.”
Kanaya tersenyum tipis, berterima kasih sebelum ia keluar dari ruang perawatan. Langkahnya berat namun mantap.
Dan selama perjalanan, ia terus memeriksa cermin di dalam clutch, memastikan riasannya terlihat natural, sopan, tidak berlebihan.
Jantungnya tetap tak tenang, dan setiap detik perjalanan terasa seperti jam yang menunda pertemuan yang ia takutkan sekaligus penasaran ingin dijalani.
Tak lama mobil pun berhenti di lobi hotel mewah. Kanaya mengucapkan terima kasih pada supirnya, menyerahkan sedikit uang untuk menutupi waktu tunggu, lalu turun.
Di pintu, ia terkejut melihat pria yang sempat menemani dan memberinya semangat di pesawat beberapa hari lalu.
“Mas? Kok bisa ada di sini? Apa kabar?” tanya Kanaya, sedikit lega melihat wajah familiar itu.
“Baik. Kamu sendiri bagaimana?” Pria itu tersenyum hangat, menatapnya penuh perhatian.
Kanaya menghela napas. “Orangtuaku masih koma. Aku belum bisa bicara banyak.”
Pria lantas menepuk bahunya lembut. “Aku mengerti. Tenang saja. Kita cuma akan ke restoran sebentar. Ini juga pertemuan pertama kamu dengan dia ‘kan?”
Seketika, Kanaya tersentak. “Jadi?”
Pria mengangguk. “Iya, Leon. Dia… calon suami kamu ‘kan? Aku pikir aku bisa jadi jembatan kecil supaya kamu nggak terlalu kaget,” katanya membuat senyum lega Kanaya terbit.
Selama perjalanan ke restoran, pria tersebut menghibur Kanaya dengan percakapan ringan. Namun ia tetap berhati-hati, hanya memberi petunjuk minim tentang Leon, agar kejutan tetap ada.
Dan sesampainya di restoran, pria lantas tersenyum dan mempersilakan Kanaya masuk sendiri ke dalam ruang.
Kanaya mengatur napas, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke ruangan private yang dipesan Leon.
Pintu dibuka, dan tak lama matanya menatap seorang pria tinggi, rapi, dan… dingin yang sudah duduk di mejanya. Leon.
“Halo, Leon. Aku—” sapanya gugup.
Leon menatapnya tajam, meletakkan buku menu di atas meja. “Sepertinya kamu mudah akrab dengan pria yang baru kamu kenal,” katanya, nada tajam dan sedikit mengejek.
Kanaya membeku, mulutnya kering. “Maksudmu, pria yang—?”
Leon mengangkat alis, setengah senyum miring. “Jangan salah paham. Aku dan Bobi memang kenal baik. Tapi apakah harus aku menjelaskannya padamu?”
Kanaya menelan ludah, menggenggam clutchnya lebih erat. Dalam hatinya, ia mencoba menenangkan diri.
‘Tenang, Kanaya. Jangan terpancing. Leon ketus karena jabatan dan tekanan pekerjaannya mungkin, bukan karena aku.’
Kanaya duduk tanpa setelah sedikit menunggu dan melihat tatapan Leon yang semakin mengintimidasinya.
“Tapi, bolehkah aku tetap ingin tahu siapa sebenarnya kamu, Leon?” gumamnya pelan.
Leon lalu bangun dan berjalan mendekat, mencondongkan tubuh lalu menatap Kanaya tajam.
“Kamu tak punya posisi menentukan apa pun, Kanaya. Ingat, kamu butuh uang bukan? Untuk menyelamatkan perusahaan, adik-adikmu yang jauh di luar negeri sana atau untuk tetap membuat kedua orangtuamu hidup,” kata-katanya menusuk, membuat dada Kanaya terasa sesak.
Ia nyaris tidak bisa menanggapi, hanya mengetatkan rahang.
Leon melanjutkan, “Untuk apa sekolah jauh-jauh sampai Inggris kalau hal seperti ini saja tidak bisa kamu atasi? Bodoh!”
Kata-kata itu kembali menusuk seperti belati. Kanaya terpaku, napasnya tercekat, tangannya gemetar. Ia menyadari betul kalau saat ini tidak ada pilihan lain selain menahan sakitnya. Tapi hatinya menolak, menolak menerima cara Leon yang dingin dan keras.
Pelayan lantas datang dan menanyakan pesanannya. Kanaya memesan segelas air dan meneguk perlahan, mencoba menenangkan diri.
Ia menatap Leon, menyadari bahwa pria ini mungkin juga terpaksa menjalani perjodohan ini. Mungkin ada alasan di balik sikap ketusnya.
Sekilas, Kanaya merasa sedikit lega karena pikirannya sendiri tersebut, tapi hati kecilnya tetap bergejolak.
Tanpa berniat makan, Kanaya berdiri, hendak meninggalkan meja. Leon bangkit, melempar serbet ke meja dengan kasar.
“Jangan pergi sebelum pelayan menyuruhmu,” katanya singkat.
Kanaya duduk kembali menelan sakit hati sambil menunduk. Setiap langkahnya kemudian terasa berat, tetapi ia tahu harus menahan diri. Semua ini untuk orangtuanya.
Saat keluar menuju lift, sesuatu membuatnya tersentak. Leon berdiri di depan lift, tangan pria itu memeluk seorang wanita berpakaian seksi.
Mereka tampak sedang berciuman, dan tubuh Kanaya seketika membeku. Mata wanita itu menyipit saat melihat Kanaya, dan Leon tampak menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.
Kanaya merasa dunia runtuh sekejap. Tubuhnya hampir ambruk, tapi ia berhasil memegang gagang besi di lift. Nafasnya berat, dada sesak. Pikiran tentang Leon, tentang perjodohan, tentang orangtuanya yang koma, semua bercampur menjadi satu.
Lift berhenti, wanita itu tersenyum cemburu dan pergi, meninggalkan Kanaya terpaku di depan pintu.
Leon menekan tombol lift dan menghilang di depan matanya. Hati Kanaya remuk, air mata menetes di pipi, dan ia hampir jatuh jika tidak menahan diri.
Kanaya pergi ke sebuah lokasi, menatap gedung kosong yang dahulu dirancang Papa sebagai hotel mewah, hadiah ulang tahun pernikahan ke-25 untuk sang mama.
Kini, gedung itu setengah jadi, menunggu biaya yang tak ada, persis seperti hidupnya saat ini.
Di lantai tinggi gedung itu, Kanaya menangis sejadi-jadinya. Tangisnya bukan sekadar kesedihan, tapi akumulasi semua rasa sakit, kehilangan, dan ketidakpastian.
Ia melepaskan segala sesak yang menumpuk sejak pertemuan pertama dengan Leon di restoran.
Namun di tengah tangisnya, sebuah kesadaran muncul. Leon mungkin memiliki alasan. Perjodohan ini mungkin juga bukan sepenuhnya pilihannya. Dan rasa penasaran yang menumpuk di hatinya tentang siapa Leon sebenarnya membuat tangisnya perlahan berubah menjadi tekad.
“Kanaya… kamu harus kuat. Untuk Mama, Papa… dan adik-adik. Kamu harus tahu siapa pria itu,” gumamnya sambil menghapus air mata, menatap pemandangan kota dari ketinggian.
Malam itu, Kanaya pulang dengan hati yang campur aduk. Sakit, penasaran, dan sekaligus ingin tahu tentang Leon—calon suami yang dingin dan misterius—menjadi bayangan yang akan terus menghantui setiap langkahnya.
Tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Dan memang tidak ada hal yang harus diulang untuk memastikan sesuatu sudah berubah.Beberapa tahun setelah semuanya berakhir, Kanaya sudah tidak lagi menghitung hari dengan luka sebagai penanda waktu. Hidupnya berjalan dengan ritme yang tenang, tidak selalu mudah, tapi tenang.Ia tinggal di kota kecil yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, cukup jauh dari pusat kekuasaan, cukup dekat dengan laut dan manusia-manusia yang tidak menuntutnya menjadi apa pun selain dirinya sendiri.Pusat pemulihan trauma yang ia kelola kini berdiri mandiri. Tidak besar apalagi mewah. Tapi isinya sangat hidup.Ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu ruangan sunyi yang selalu ia sebut “ruang bernapas”, tempat anak-anak, orang dewasa, siapa pun, boleh duduk tanpa harus bicara dan tidak ada kewajiban untuk pulih dengan cepat. Tidak ada target, hanya ruang untuk merasa ada.Kanaya sudah berhenti menjelaskan masa lalunya kepada orang-orang baru. Bukan kare
Hujan turun sejak subuh, bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat tanah di sekitar tenda-tenda pengungsian menjadi lembek dan semakin becek.Kanaya bangun lebih awal dari biasanya dengan tubuh yang lelah namun pikirannya justru terasa ringan. Ada hari-hari ketika lelah terasa seperti hukuman tapi di lain lelah kadang terasa seperti bukti bahwa ia masih hidup dan berguna. Dan hari ini Kanaya ada dalam keduanya.Ia berjalan melewati lorong-lorong tenda dengan payung kecil di tangan, menyapa beberapa relawan lain yang mulai sibuk membagi logistik. Bau udara basah bercampur kopi instan dan solar dari generator menjadi aroma khas pagi itu. Aneh, tapi entah kenapa menenangkan.Di tenda trauma anak-anak, beberapa bocah sudah duduk di tikar warna-warni. Sebagian masih memeluk boneka yang sudah kusam, sebagian lain menatap kosong ke depan. Kanaya tersenyum kecil, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata mereka.“Selamat pagi,” ucapnya lembut. “Hari ini kita gambar matahari, ya.”Seorang anak
Beberapa bulan kemudian, hidup Kanaya berjalan dengan ritme baru. Ia tidak kembali ke kehidupan lamanya. Ia membangun yang lain.Pagi-paginya kini diisi dengan ruang kelas kecil berwarna cerah. Dindingnya penuh gambar matahari, rumah, dan wajah-wajah dengan senyum lebar yang digambar tangan-tangan kecil.Kanaya duduk bersila di lantai, sejajar dengan anak-anak.“Kalau kamu merasa takut,” katanya lembut, “kamu boleh bilang. Takut itu nggak papa, kok.”Seorang anak perempuan mengangkat tangan, ragu-ragu. “Kalau takutnya lama?”Kanaya tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat. “Kalau lama, berarti takutnya butuh ditemani lebih lama juga.”Ia menjadi relawan trauma, bukan karena ingin menjadi pahlawan, tapi karena ia tahu rasanya tidak ditemani.Ia tidak berharap bisa menghapus luka anak-anak korban bencan. Ia hanya mengajarkan mereka cara hidup berdampingan dengan luka-luka itu tanpa perlu merasa tersakiti lagi, sampai suatu hari luka itu seperti tak terlihat lagi.Di luar jam relawan, Ka
Ruang sidang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, tapi karena semua yang hadir tahu kalau hari ini sebuah putusan akan dikumandangkan. Keputusan yang akan mengubah masa depan dan kehidupan seseorang.Kanaya duduk tegak di kursi penggugat. Setelan krem sederhana membingkai tubuhnya yang kini tampak jauh lebih tenang dibanding sidang pertama dan mediasi. Tidak ada lagi tangan gemetar dan napas yang terasa sesak.Di sisi seberang, Leon tampak kurus. Wajahnya nampak sedikit kusam. Setelan mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kehancuran yang menggerogotinya dari dalam.Sidang dibuka. Hakim memandang berkas di depannya, lalu menatap kedua pihak.“Kita lanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan bukti tambahan.”Pengacara Kanaya berdiri. “Kami menghadirkan saksi pertama yaitu saudari Miranti Suryani.”Seorang perempuan melangkah masuk. Wajahnya tegang, tapi matanya jujur. Ia mengucap sumpah, lalu duduk.“Saudari saksi,” ucap hakim, “Jelaskan hubungan Anda dengan kedua be
Hujan turun tipis sore itu, seolah air langit ragu saat ingin benar-benar jatuh.Kanaya duduk di sudut kafe yang sudah tutup. Beberapa lampunya sudah dimatikan, sehingga suasana terlihat redup, hanya di dekat satu meja yang ditempatinya yang masih menyala.Di depannya, tersaji secangkir teh yang sudah dingin dan ponsel yang sejak tadi tak ia sentuh lagi.Nama Miranti kembali tertera di layar. Kanaya menarik napas, lalu menekan tombol panggil.“Halo, Naya,” suara di seberang terdengar pelan dan hati-hati. “Maaf aku baru berani menghubungi sekarang.”“Tidak apa-apa,” jawab Kanaya. “Kamu bilang ada sesuatu tentang Arya.”Hening sebentar.“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Miranti akhirnya. “Aku takut kamu mengira aku membela dia. Tapi tidak. Aku berani menghubungimu karena seseorang menceritakan masalah kalian.”Kanaya menegakkan punggung. “Baiklah. Aku akan mendengarkannya.”Miranti menghela napas panjang. “Hari pengakuan itu aku ada di ruang siaran.”Jantung Kanaya berdetak l
Ruang mediasi itu lebih kecil dari ruang sidang, tapi tekanannya justru terasa lebih besar. Sebuah meja, tiga kursi di satu sisi dan tiga di sisi lain.Tidak ada palu hakim juga peserta sidang lainnya. Hanya keheningan yang terasa membuat napas menjadi sesak.Kanaya datang tepat waktu.Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu datar. Penampilannya rapi dan sopan, tidak terlihat masa bodo.Di depannya terlampir map cokelat tipis berisi dokumen yang tidak terlalu tebal.Leon datang lima menit kemudian bersama sang pengacara yang kemudian duduk di sebelah kiri. Di sisi kanan, sang Bunda hadir.Bunda Leon tidak menatap Kanaya dengan permusuhan. Justru ada kelelahan di sana. Kelelahan seorang ibu yang akhirnya menyadari bahwa ada kesalahan yang tak bisa ia rapikan dengan uang atau pengaruh.Mediator lantas membuka pertemuan dengan bahasa formal. Tentang niat baik dan juga kesempatan damai. Tentang kemungkinan rujuk untuk keduanya.Kanaya mendengarkan dan meng







