Home / Romansa / Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa / 5. Sudah Harus Pergi?

Share

5. Sudah Harus Pergi?

Author: Maulana Hani
last update Last Updated: 2025-06-09 16:56:48

Aku terbangun, ketika suara mesin pendeteksi detak jantung berbunyi sangat keras, seolah mengumumkan keadaan lelaki yang tengah terbaring di brankarnya.

Mataku segera terbuka lebar, dan jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Ku tekan tombol darurat di ujung brankar, aku bahkan menekannya berulang kali, tak peduli jika Dokter atau perawat akan merasa terganggu atau apa pun, karena sekarang aku sangat khawatir.

Apa benar kau sudah harus pergi?

Apa benar ketika kau pergi rasa sakit itu akan menghilang?

Apa benar, kau sungguhan ingin pergi?

Aku masih menekan tombol darurat, berharap dokter atau perawat segera datang, dan melakukan tindakan terhadap lelaki ini, yang ku lihat tiba-tiba mulai mengalami kejang.

Aku tak tahu, Naqib. Aku tak tahu, harus bagaimana bersikap, tapi ketika dokter dan perawat masuk ke ruanganmu tergopoh-gopoh, serta menanyakan keadaanmu, aku seperti linglung. Ku pikir aku akan pingsan, tapi tidak. Aku terlalu linglung sepertinya untuk pingsan.

"Anda bisa menunggu di luar, Bu. Biar kami melakukan tindakan terhadap Pak Naqib," Ucap Dokter yang tanpa lama segera aku angguki.

Tapi kenapa? Kenapa kakiku tak mau bergerak? Kenapa mataku masih saja terpaku padamu, yang tengah dalam keadaan menyakitkan? Naqib, perawat sampai harus mendorong ku keluar, dan aku terus termangu, menatap pintu ruang rawatmu yang perlahan tertutup. Ini mengingatkanku pada hari di mana pintu kamar masa mudamu ditutup oleh Azizeh, dan pintu gudang tertutup, yang terus kau tatap sampai akhirnya kau kejang-kejang.

Ada apa sebenarnya, Naqib? Kau ini siapa? Mengapa kau begitu menyimpan banyak rahasia, yang tak aku ketahui? Seberapa banyak rahasia dalam hidupmu? Seberapa penuh kepalamu untuk terus menyimpannya seorang diri? Apa ini juga alasan mengapa senyum milikmu menghilang? Nyala hidup di matamu lenyap.

Aku menghela napas, segera mengucap istighfar, dan memilih duduk tak jauh dari pintu ruangan di mana lelaki itu dirawat. Perasaanku gelisah, takut, dan aku tak tahu rasanya tak jelas sekali melihat keadaan lelaki itu tadi.

Segera aku merogoh saku gamisku, mengambil ponsel dari sana, dan menekan panggilan pada nomor Paman Qasim, yang beruntungnya langsung dijawab oleh lelaki paruh baya itu. Aku menjelaskan keadaan Naqib, dan Paman Qasim mengatakan akan segera datang ke rumah sakit.

Aku tak menduga Paman Qasim akan datang secepat ini, ia bilang ia langsung memesan kereta cepat, dan langsung menuju kemari hanya dalam beberapa menit saja.

"Ia kejang lagi?" Tanyanya yang segera ku angguki.

Lelaki paruh baya, yang mengenakan setelan jas formal itu berjalan mendekati pintu ruang rawat Naqib. Ia berdiri lama di sana, mengamati tindakan dokter dan perawat melalui kotak transparan tertempel di pintu.

Aku menundukkan kepala, dan mulai berdzikir. Tapi tak tahu mengapa, rasanya aku semakin gelisah, tak bisa tenang dan mataku berulang kali menatap ke arah pintu, khawatir dan mencemaskan keadaan lelaki di dalam ruangan sana.

"Aku pergi ke toilet sebentar, Paman," Ucapku pada Paman Qasim, yang membuat lelaki paruh baya itu mengangguk, mempersilakan.

Langkah kakiku membawa ku menuju mushola. Jam 3 dini hari. Mungkin ini saatnya, saatnya aku melakukan sholat tahajud. Sholat yang jarang atau bahkan hampir tak pernah aku lakukan lagi.

Ku mantapkan diri menuju tempat wudhu, lalu masuk ke mushola. Ku hamparkan sajadah dan mulai melaksanakan sholat tahajud, yang telah sangat lama tak pernah aku laksanakan.

Aku percaya Tuhan ada, aku percaya Allah, Tuhanku ada. Aku sangat percaya. Tiada tempat yang patut dimintai pertolongan selain Ia. Tiada doa yang tak dikabulkan oleh-Nya. Maka aku memohon kepada-Mu, ya Allah, ya Tuhanku. Dengan segala daya upayaku yang lemah, aku memohon pada-Mu. Kali ini, kali ini biarkan lelaki itu bangun, biarkan ia menghirup napas yang kau berikan percuma padanya, biarkan ia sehat lagi, biarkan ia membuka matanya lagi.

Aku berdoa pada-Mu. Aku percaya. Aku sangat percaya. Aku akan mulai berpuasa sunnah, aku akan bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan, aku akan mendirikan sholat lima waktu dengan tepat waktu, aku akan menjadi istri yang baik untuk lelaki itu. Aku memohon pada-Mu sang Maha Pemurah untuk mengabulkan doaku, untuk membuat lelaki itu bangun dan kembali baik-baik saja. Aaminn.

Aku tak tahu, tapi ku rasa ini adalah doaku yang paling tulus dari hati terdalamku. Air mata meluruh di wajahku begitu saja. Lelaki itu, lelaki itu, Naqib Kamandhana yang menjadi penyebabnya.

Setelahnya segera aku keluar dari mushola, berjalan tergesa menunju ke ruang rawat di mana lelaki itu berada.

Ku lihat Paman Qasim sudah tak lagi berdiri di depan pintu, ia duduk dengan ekspresi wajah yang tampak lega di kursi tak jauh dari pintu ruang rawat Naqib.

"Bagaimana keadaan Naqib, Paman?" Aku hanya ingin mendengar satu kabar. Kabar baik, bahwa lelaki itu dalam kondisi yang stabil, bahwa Allah telah menjaganya, membantunya untuk bangun, membantunya untuk kembali membuka matanya.

Seulas senyum tipis tercipta di wajah lelaki paruh baya itu. "Allhamdulillah, segala puji bagi Allah. Keadaannya membaik, tadi perawat sudah keluar untuk mengatakannya, sebentar lagi dokter akan keluar, memastikan kondisi Naqib benar-benar stabil," Ucapnya membuatku akhirnya turut mengulas senyum.

Kegelisahan juga rasa takut, telah hilang dariku. Kelegaan datang menyapa, dan benar, Ibuku selalu benar, begitu pun Ayahku. Bahwa Tuhan ada, bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hamba-Nya, yang dipinta dengan penuh kesungguhan juga ketulusan hati. Naqib seharusnya tahu ini, bahwa Tuhan memang ada, selalu ada untuk hamba-hamba-Nya.

Tak seberapa lama, dokter akhirnya keluar. Seulas senyum tampak di wajah lelaki yang sepertinya, seusia dengan Paman Qasim. Dokter mengatakan kalau kondisi Naqib sudah stabil, dan beberapa waktu ke depan ada kemungkinan lelaki itu akan sadarkan diri.

Kau tahu, Naqib? Tuhan ada. Dan aku telah berdoa padanya, agar kau baik-baik saja, dan Tuhanku Allah mengabulkannya.

Paman Qasim masuk lebih dulu, dan aku memilih menunggunya di luar, karena ku lihat ia menggenggam tangan Naqib, lalu entah mengucapkan apa, setelahnya lelaki paruh baya itu mengusap kepala Naqib. Cukup lama Paman Qasim berbicara pada keponakannya itu.

***

Jam di dinding ruangan menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku masih duduk di kursi samping kanan brankar Naqib, menunggu lelaki itu untuk membuka mata. Tapi aku bersyukur keadaannya berangsur-angsur membaik, bahkan ia sudah tak memerlukan mesin pendeteksi detak jantung, dan ventilator yang sejak seminggu lalu dipasang di mulutnya juga sudah dilepaskan sekitar pukul 7 pagi tadi. Dokter bilang Naqib sudah tak memerlukannya lagi.

"Kau tidak mau bangun, Naqib? Kau tidak mau membalas setiap perkataanku dengan mulut pedasmu itu? Aku tidak tahu, tapi aku sangat berharap kau bangun lagi. Jadi, bangunlah. Aku bisa mengajakmu jalan-jalan nanti, kita bisa pergi ke taman, ke pameran lukisan barang kali kau suka seni, atau ke museum, dan banyak tempat yang ingin ku tunjukkan padamu." Aku berbicara pada lelaki ini, yang masih saja menutup kelopak matanya.

Apa mimpinya sangat indah? Sehingga ia menolak untuk bangun. Apa rasanya sangat nyaman? Sampai ia tak lagi mengigau di kala ia terlelap. Tentu saja, aku ingin melihatnya tidur dengan nyenyak, tapi bukan seperti ini. Bukan di rumah sakit, bukan karena ia sakit.

Tiba-tiba saja, kelopak mata yang berwarna cokelat gelap, dan bulu matanya tersisa beberapa helai saja itu bergerak, seperti hendak terbuka. Ku harap benar, ku harap lelaki ini benar-benar membuka matanya, menatapku lagi, walau dengan sorot mata penuh kebencian miliknya itu. Sungguh tak apa. Aku tak masalah.

Benar. Kelopak matanya terbuka perlahan, dan langsung menyipit, sepertinya menyesuaikan cahaya.

Aku kembali merasa lega, sangat lega, sampai aku merasa ini adalah perasaan, paling melegakan dalam sepanjang aku hidup di dunia ini.

Mulutnya yang kering dan kecokelatan bergerak, hendak terbuka. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, membuat ku langsung bangkit dan mendekat ke arahnya.

"Kau memerlukan sesuatu?" Apa pun itu, aku akan membantumu mendapatkannya, Naqib.

"A-air," Suaranya lirih sekali dan aku nyaris menangis, hanya untuk mendengar suara yang biasanya tegas, dan terdengar menyebalkan, kini jadi sangat lirih.

Aku segera mengangguk, dan mengambilkan air minum di meja dekat sofa. Setelahnya aku membantunya untuk minum, satu gelas telah ia habiskan, seolah ia baru saja berkeliling di gurun tandus, dan amat kehausan.

"Paman Qasim." Kali ini tak terlalu lirih, ia menyebut lelaki paruh baya itu.

"Tadi Paman datang kemari, tapi ia harus segera kembali keluar kota karena urusan bisnisnya belum selesai, ia sangat mencemaskanmu," Ucapku menjelaskan, membuat lelaki itu tak lagi menanyakan apa-apa.

Akhirnya aku bisa mendengar suaranya lagi, suara yang terkadang memang menyebalkan untuk didengar itu.

"Berapa lama?" Mungkin maksudnya berapa lama ia ada di rumah sakit.

"Satu minggu kau tak sadarkan diri," Aku membalasnya dan ia kembali diam.

"Siapa saja yang kemari?" Kau mengharapkan siapa memangnya? Mereka aneh, mereka seperti tak peduli padamu, yang datang hanya Paman Qasim. Seolah lelaki itu adalah satu-satunya yang peduli, dan menyayangimu setulus hati.

Aku sungguh tak paham tentang hubungan keluarga, yang terjalin di antara mereka di Keluarga Kamandhana, seolah hanya Paman Qasim yang menganggap lelaki ini ada, hidup, dan perlu perhatian. Yang lain tak pernah peduli padanya.

"Tidak ada. Hanya Paman Qasim dan aku saja."

To be continued.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   56. Tuan Muda yang Buruk Rupa [POV3]

    Dua hari berlalu dan pagi ini Naqib bangun lebih awal, sebelum turun dari ranjang, ia sempat menatap Laiba, yang masih terlelap di sisi kanan ranjang. Setelahnya lelaki itu perlahan turun dari ranjang, dan menaiki kursi rodanya, yang memang selalu diletakkan di dekat sisi kiri ranjang, di mana ia terbaring.Naqib membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos putih polos yang cukup longgar berlengan pendek, yang dibalut jaket hoodie tipis berwarna biru tua, sementara celananya berwarna hitam berbahan corduroy.Ketika ia hendak mengenakan kaos kaki, tiba-tiba seseorang mengambil benda itu darinya, membuat Naqib mendongakkan kepala, dan matanya bertemu dengan mata ber-iris cokelat gelap milik Laiba."Aku akan melakukannya untukmu," ucap perempuan itu dengan seulas senyum, seraya kepalanya mulai menunduk dan fokus untuk memasang kaos kaki.Naqib terdiam lama sekali, tatapannya tak teralih sedikit pun dari Laiba, yang kini bahkan sudah bangkit dan berkata bahwa ia akan mengambil

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   55. Naqib dan Kenangan-kenangan [POV3]

    Sekitar beberapa menit, Naqib kembali lagi ke kamar, membawa makan malam untuk Laiba. Dan melihat Laiba yang tengah berjongkok di sudut kamar, dekat meja belajar, Naqib segera tahu apa yang tengah dilakukan oleh perempuan itu, pasti tengah melihat kaset pita milik Naqib, tetapi lelaki itu diam saja. Ia merasa tak perlu khawatir, karena 10 kaset pita berisi suara sang Ayah, telah ia simpan di sebuah celah di bawah kotak. Bagaimana pun ia tak akan membiarkan Laiba mencoba mendengarkan isi kaset pitu itu, kaset pita yang amat berharga, bahkan lebih dari hidupnya sendiri.Lelaki itu masih tak mengatakan apa-apa, ketika Laiba bangkit dan menoleh padanya dengan ekspresi wajah terkejut. Ia hanya meletakkan makan malam Laiba di meja nakas, lalu melajukam kursi roda canggihnya menuju lemari, mengambil sebuah piyama berwarna hijau tua, dengan motif kotak-kotak yang garisnya merah dan hitam."Kau tak mau ku bantu, Naqib?" Laiba bertanya dengan nada kikuk, dan Naqib dengan cepat menggelengkan kep

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   54. Hanya Simpati [POV3]

    Sejak sarapan Naqib telah melakukan segalanya sendiri, lagipula kini ia menyadari bahwa manusia tak bisa bergantung pada manusia lain, sedekat apapun hubungan mereka, bahwa ia harus kembali melakukan segalanya sendiri. Ia tak perlu lagi meminta bantuan Laiba, yang memang pada awalnya perempuan itu menawarkan bantuan sendiri, tetapi kini Naqib telah sadar, ia tak bisa bergantung pada siapa pun lagi, ia akan melakukan segalanya sendiri meski perlu waktu yang lama.Siang ini Naqib termenung di atas kursi rodanya, ia berada di taman belakang, atau lebih tepatnya di depan lahan yang telah ditanami bunga matahari, meskipun baru muncul kecambahnya. Lelaki itu membawa serta buku sketsa miliknya, dan sebuah bolpoin bertinta biru.Kepala lelaki itu mendongak, wajahnya tanpa ekspresi, meski melihat langit di atas sana yang begitu cerah dengan sedikit awan berserabut. Ini langit kegemarannya, langit yang membiru cerah dengan awan serabut-serabut halus serupa gula kapas, langit yang juga digemari

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   53. Video yang Mengancam[POV3]

    "Apa? Kau meminta libur lagi?" Aleisha berteriak kesal pada seseorang, yang terhubung dengannya melalui sambungan telepon. Tatapan matanya jelas menunjukkan kemarahan.Perempuan muda itu mencengkeram rambut panjangnya, dan kembali berteriak kuat-kuat. "Kau tidak bisa seenaknya begitu, Yazan!"Ketika Aleisha hendak kembali berteriak, tiba-tiba seseorang merebut ponselnya, membuat perempuan muda itu meradang. Tangannya terangkat, menampar seseorang yang tak ia ketahui siapa. Dan perempuan itu semakin meradang kala tahu siapa yang merebut ponselnya, tangan kanannya kembali terangkat, hendak menampar seseorang di hadapannya, tetapi seseorang itu dengan mudah menahan tangannya, seorang lelaki yang ternyata adalah Jon itu menyeringai."Selamat pagi, Aleisha!" sapa lelaki itu ramah, dan masih menyekal pergelangan tangan Aleisha."Lepaskan!" seru Aleisha sembari mencoba berontak dengan menarik tangannya, yang ternyata sangat sulit karena Jon menyekalnya sangat erat, tetapi Jon segera melepask

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   52. Sebuah Walkman[POV3]

    "Kau harus makan malam, Laiba," ucap Naqib, yang entah sudah ke berapa kalinya. Dan Laiba sama sekali tak menanggapi lelaki itu, ia masih saja berada di atas ranjang, berbaring telungkup dan membenamkan wajahnya ke bantal. Setelahnya Naqib menghela napas, ia tak bisa membiarkan Laiba terus murung dan menolak untuk makan malam begitu. Lelaki yang sebelumnya duduk di atas kursi roda canggihnya menghadap rak buku, kini berpindah, ia melajukan kursi roda canggihnya mendekati sang istri."Laiba!" Naqib memanggilnya tetapi sama seperti tadi sore, perempuan itu mengabaikannya. Dan kali ini, Naqib sungguh tak tahan untuk menghadapi kemurungan sang istri, bahkan mungkin mendadak ia merindukan istrinya yang cerewet, dan selalu menanyakan banyak hal. Tetapi tentu saja ia terus menyangkalnya, merasa bahwa ia hanya bersimpati pada perempuan itu. Ia bersimpati atas meninggalnya kedua mertuanya itu."Laiba," panggil Naqib lagi, yang kali ini membuat Laiba memiringkan kepalanya, menatap Naqib dengan

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   51. Tragedi [POV3]

    Yazan pada akhirnya kembali mengajukan libur pada Aleisha, karena Ibunya memintanya untuk tetap di rumah hari ini. Pemuda itu sungguh tak tahu apa yang sebenarnya sang ibu inginkan, tetapi ia berujung menurut, tak menanyakan apapun.Malam ini Yazan diminta untuk ikut kedua orangtuanya, Yazid juga Zulaikha untuk pergi ke suatu tempat menemui seseorang. Pemuda itu mengenakan kemeja biru gelap dan celana kain warna senada, rambutnya yang cepak tertata rapi, sepatunya hitam mengkilat. Berulang kali lelaki itu menghela napas, menatap jam dinding di ruang tamu, yang telah menunjukkan pukul 8 malam, dan ibunya mengatakan, mereka harus pergi ke tempat itu tepat pukul 8, tapi sekarang? Ya, Yazan hanya bisa bersabar, menunggu sang Ibu merias diri, yang tentu memerlukan waktu yang menurut Yazan sangat lama."Ibumu belum selesai, Nak?" Yazid yang baru masuk ke rumah, entah dari mana, bertanya pada putranya itu.Yazan langsung bangkit dari sofa, menatap sang Ayah, seraya menggelengkan kepala, ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status