LOGINAku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib.Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar.Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan.“Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara.Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia menga
Semua ini bermula ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak sekolah sudah dipulangkan sejak tadi, dan tugas pemeriksaan kesehatan dokter Aditya pun sudah selesai sepenuhnya. Namun, alih-alih langsung pamit pulang naik motor dinasnya, pria kota itu malah memilih untuk tetap tinggal. Matahari siang itu sedang menyengat dengan sangat terik, aku dan Asih duduk di bawah pohon tabebuya sambil minum es teh manis.Sebuah truk engkel bermuatan batako dan beberapa sak semen baru saja tiba. Bara, yang sejak pagi memimpin renovasi, tampak menyeka keringat deras di pelipisnya menggunakan kaus oblong hitamnya. Mungkin karena gerah yang sudah tidak tertahankan di bawah jam satu siang, pria itu dengan santai mencengkeram ujung kausnya, lalu menariknya ke atas melewati kepala dalam satu gerakan lurus.Sret.Kaus hitam itu dilemparkan begitu saja ke atas pembatas selasar. Dan di sanalah dia, berdiri dengan gagah di bawah siraman cahaya matahari, memamerkan punggung lebar dan deretan perut kot
Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Itu benar-benar dia. Pria yang selama ini memenuhi isi hatiku, mau apa dia di sini?Aditya yang sedang mengedarkan pandangan ke arah bangunan sekolah yang sedang direnovasi, mendadak menghentikan tatapannya tepat di tempatku berdiri. Matanya membelalak, ia sama kagetnya denganku. Refleks, aku melangkah hendak menghampirinya, tetapi kepala sekolah lebih dulu muncul dan menyambut mereka. Aku pun buru-buru mengalihkan langkahku, berbalik arah dan berjalan cepat menuju toilet untuk menenangkan diri.Aku membasuh wajahku berkali-kali di wastafel toilet sambil berpikir keras. Mau apa dia di sekolah ini? Kenapa dia harus datang sekarang?Setelah merasa debaran jantungku agak terkendali, aku merapikan penampilan dan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu toilet yang sepi dan agak tersembunyi dari halaman utama, langkahku kembali terkunci. Aditya sudah berdiri di sana, menungguku.“Silvia?” panggilnya, suaranya terdengar tidak pe
Esok hari, Bara benar-benar menepati ucapannya. Begitu matahari belum terlalu tinggi, sebuah truk engkel bermuatan semen, beberapa tumpuk kayu, dan kaleng-kaleng cat berukuran besar sudah terparkir rapi di halaman SD Mertasari. Tidak tanggung-tanggung, Bara bahkan mengerahkan lima orang pekerjanya yang berbadan kekar untuk memulai perbaikan plafon kelas yang bocor.Sebagai dalang di balik proyek ini, tentu saja aku tidak mau ketinggalan memantau.“Wah, Mbak Silvia... saya benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi,” ujar Asih tulus. Pagi itu, dia menyambutku di selasar sekolah dengan mata yang berbinar haru. “Mas Bara juga baik sekali langsung mengirimkan bahan bangunan sebanyak ini.”Aku mengibaskan tangan di udara, tersenyum lebar. “Aduh, jangan sungkan begitu, Mbak. Ini kan, juga demi kenyamanan anak-anak belajar. Oh ya, Mas Bara mana? Tadi katanya mau ikut memantau ke sini?”“Mas Bara sedang di belakang, Mbak. Memeriksa tiang penyangga bangunan yang kat
Padahal aku sudah sering melihat Bara bertelanjang dada tapi setiap dia melakukan hal itu, jujur saja bikin jantungku berdetak cepat. Melihat punggung telanjang itu dari dekat, bisa membuat pipiku panas.‘Fokus, Silvia! Dia ini Capybara yang menyebalkan, dan ingat... kamu melakukan ini demi memuluskan jalan kembali ke Aditya,’ umpatku pada diri sendiri, mencoba mengenyahkan pikiran aneh yang mulai merayap.Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu perlahan naik ke atas ranjang. Memosisikan diri duduk berlutut di samping pinggangnya.“Di... di sebelah mana yang pegal, Mas?” tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku terdengar senormal mungkin.“Semuanya. Terutama pundak dan punggung bawah,” gumam Bara, suaranya teredam kasur namun getaran tetap terasa berat.Aku menuangkan minyak ke telapak tangan, menggosoknya kasar, lalu langsung menempelkannya ke bahu lebar Bara dengan sedikit dendam kesumat. Aku menekan otot pundaknya sekuat tenaga, berharap dia kesakitan. Membalurkan lagi ke lengan dan kaki
Aroma sayur lodeh dan ikan asin menu makan malam tadi masih tertinggal tipis di udara. Aku dan Bara sedang duduk berhadapan, tapi dalam diam. Masing-masing kami sedang menikmati minuman kami. Bara menyesap kopi hitamnya dengan gerakan yang selalu tenang, namun auranya yang dominan tetap saja membuat atmosfer ruangan terasa sesak.Aku berdeham kecil, meletakkan cangkir tehku lalu melipat kedua tangan di atas meja, menatapnya lurus. Berpikir untuk segera melancarkan gerakan perjodohannya dengan Asih.“Mas Bara,” aku mencoba mencairkan keheningan.Pria di depanku itu menurunkan cangkir kopinya. Sepasang mata tajamnya melirikku datar. “Ya?”“Tadi siang... aku jalan-jalan keliling desa, aku sempat lewat di depan gedung sekolah dasar Mertasari,” aku menjeda kalimatku sengaja, memperhatikan reaksinya. “Kondisinya memprihatinkan sekali, Mas. Cat temboknya sudah mengelupas parah, dinding papannya lapuk, bahkan beberapa atap kelasnya kulihat sudah bolong-bolong. Kalau hujan besar, anak-anak pas
“Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,
Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera
Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe
Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah







