مشاركة

Bab 44

مؤلف: Lyla Veil
last update تاريخ النشر: 2026-06-09 10:18:00

“Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.

Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.

Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telate
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 46

    Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 45

    Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 44

    “Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 43

    Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 42

    Semua ini bermula ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak sekolah sudah dipulangkan sejak tadi, dan tugas pemeriksaan kesehatan dokter Aditya pun sudah selesai sepenuhnya. Namun, alih-alih langsung pamit pulang naik motor dinasnya, pria kota itu malah memilih untuk tetap tinggal. Matahari siang itu sedang menyengat dengan sangat terik, aku dan Asih duduk di bawah pohon tabebuya sambil minum es teh manis.Sebuah truk engkel bermuatan batako dan beberapa sak semen baru saja tiba. Bara, yang sejak pagi memimpin renovasi, tampak menyeka keringat deras di pelipisnya menggunakan kaus oblong hitamnya. Mungkin karena gerah yang sudah tidak tertahankan di bawah jam satu siang, pria itu dengan santai mencengkeram ujung kausnya, lalu menariknya ke atas melewati kepala dalam satu gerakan lurus.Sret.Kaus hitam itu dilemparkan begitu saja ke atas pembatas selasar. Dan di sanalah dia, berdiri dengan gagah di bawah siraman cahaya matahari, memamerkan punggung lebar dan deretan perut kot

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 41

    Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau meledak. Itu benar-benar dia. Pria yang selama ini memenuhi isi hatiku, mau apa dia di sini?Aditya yang sedang mengedarkan pandangan ke arah bangunan sekolah yang sedang direnovasi, mendadak menghentikan tatapannya tepat di tempatku berdiri. Matanya membelalak, ia sama kagetnya denganku. Refleks, aku melangkah hendak menghampirinya, tetapi kepala sekolah lebih dulu muncul dan menyambut mereka. Aku pun buru-buru mengalihkan langkahku, berbalik arah dan berjalan cepat menuju toilet untuk menenangkan diri.Aku membasuh wajahku berkali-kali di wastafel toilet sambil berpikir keras. Mau apa dia di sekolah ini? Kenapa dia harus datang sekarang?Setelah merasa debaran jantungku agak terkendali, aku merapikan penampilan dan berjalan keluar. Namun, baru saja melewati pintu toilet yang sepi dan agak tersembunyi dari halaman utama, langkahku kembali terkunci. Aditya sudah berdiri di sana, menungguku.“Silvia?” panggilnya, suaranya terdengar tidak pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 14

    “Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 17

    Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 16

    Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 12

    Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status