Compartir

Bab 31

Autor: Lyla Veil
last update Fecha de publicación: 2026-05-12 20:59:06
Aku akhirnya selesai membersihkan diri setelah hampir satu jam lebih bergelut di dalam kamar mandi. Lumpur hitam dari sawah itu benar-benar pekat dan sulit sekali dihilangkan, hingga aroma tanah masih terasa menempel di kulitku. Pakaian yang tadi aku kenakan sudah tidak tertolong lagi, penuh noda yang mustahil bersih, sehingga aku memutuskan untuk membuangnya saja ke tempat sampah.

Sesaat kemudian, terdengar deru mesin mobil Hilux dan suara langkah kaki yang berat dari teras. Bara telah kembal
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 89

    Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 88

    Akal sehatku sepenuhnya runtuh. Pria berkuasa yang menindihku ini bukanlah Tuan Muda Sinyo sang penguasa Ananta. Pria ini adalah suamiku. Mas Bara, pria sederhana yang kutinggalkan di Desa Mertangi demi kesombongan dan ketakutanku sendiri.“Ini benar-benar kamu, kan, Mas?” suaraku bergetar, dipenuhi rasa bersalah yang lama kupendam. Mataku mulai berkaca-kaca. “Maafkan aku... Maaf atas kebodohanku selama ini. Aku sudah menyakitimu dan meninggalkanmu, tapi hatiku tidak pernah berpaling...”Aku menarik wajahnya mendekat, menyatukan napas kami yang berpacu kencang. Aku memberanikan diri mencium bibirnya lebih dulu. Ia sempat membeku sejenak sebelum akhirnya membalas ciumanku dengan menyapu rongga mulutku secara mendalam. Perasaan ini persis seperti saat kami bercinta dulu, gaya dominannya yang begitu akrab. Jika dulu aku sering berpura-pura menahannya, kini aku menyerahkan seluruh diriku dan menikmati setiap sentuhannya."Aku mencintaimu, Mas Bara... Sangat mencintaimu," tumpah seluruh pe

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 87

    Sensasi dingin dari besi pagar balkon menembus gaun tipisku saat Yudistira mengunci pergerakanku dari belakang. Bau alkohol menyengat bertiup dari napasnya yang terengah. Pandanganku yang kabur dan kepala yang berputar hebat membuat seluruh tenagaku kian menguap.“T-Tuan... lepas...” bisikku parau, berusaha mendorongnya dengan sisa kekuatan yang tersisa.“Kenapa? Tadi di lantai dansa kamu kelihatan menikmati, My lavender,” kekeh Yudistira rendah, memajukan wajahnya sembari menyusupkan jemari kasarnya ke wajahku. “Malam ini kamu milikku. Bunga lotere itu sudah memilihku.”“Lepas!” pekikku menahan mual, menepis tangannya meski gerakanku sudah menyimpang jauh karena pengaruh alkohol.Yudistira berdecak sebal, cengkeramannya di perutku makin mengetat kasar. Namun, sebelum wajahnya menyentuh kulit leherku, sebuah tangan tegap berbalut sarung tangan kulit hitam mendadak menyambar kerah jas Yudistira dari belakang dan menyentakkannya menjauh secara brutal.Brak!Yudistira tersungkur menghant

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 86

    Aula utama Mansion Ananta disulap menjadi ruang pesta yang megah. Lampu-lampu kristal memancarkan kilau keemasan, membalut riuh rendah para tamu VIP berbusana glamor. Demi menghormati Tuan Muda Sinyo yang konsisten menyembunyikan parasnya, Tuan Ananta menggelar pesta ini sebagai masquerade party yang penuh misteri.Aku datang belakangan karena sengaja, sejak awal juga aku enggan datang. Aku datang karena menghormati Ibu Diana. Aku mengenakan gaun malam berpotongan seksi warna hitam pekat, gaun dengan belahan dada sweetheart yang anggun dan bagian punggung terbuka, dipadukan dengan topeng ukir renda tipis dengan bulu hitam di area mata. Penampilanku benar-benar berubah total. Tanpa perhiasan mencolok, riasan tipis dan rambut yang kusanggul sederhana justru memancar begitu kontras di antara kerumunan wanita bergaun mewah.Begitu aku melangkah masuk ke aula, seorang penerima tamu memberikanku gelang dari bunga lavender yang cantik.Setiap pasang mata di aula menoleh, bisik-bisik kagum me

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 85

    Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 84

    Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 5

    Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status