ログインMelihat luka lecet yang memerah dan darah yang mulai mengalir di telapak tangan serta lututku, Tuan Sinyo tidak membiarkanku berdiri lebih lama. Tanpa sepatah kata pun, ia menyelipkan satu tangannya di belakang punggungku dan satu tangan lainnya di bawah lipatan lututku, merengkuh tubuhku secara bridal style.“T-Tuan... saya bisa jalan sendiri,” cicitku pelan, memegangi pundak bidangnya karena takut jatuh.Sinyo tidak menjawab. Ia tetap menggendongku menyeberangi jembatan batu dengan langkah lebar dan kokoh, membawaku kembali menuju Paviliun Lavender.Seluruh pelayan yang kami lewati menunduk dalam-dalam, tak ada satu pun yang berani bersuara melihat Tuan Muda mereka menggendong seorang gadis pelayan yang bersimbah luka.Saat kami memasuki Paviliun Lavender, Bu Diana dan Yumna yang sedang duduk di teras mendadak berdiri. Wajah mereka membeku kaget melihat Tuan Muda Sinyo berjalan santai sembari menggendongku dalam dekapan rapatnya.Pipi dan telingaku seketika terasa terbakar oleh rasa
Pagi harinya, rasa pegal di pinggang dan lemas di seluruh persendianku masih begitu terasa. Namun sebagai pelayan Paviliun Lavender, aku tidak punya alasan untuk berbaring lama. Setelah merapikan diri, aku bergegas pergi menuju area dapur belakang mansion untuk mengambil bahan makanan segar yang baru saja dikirim oleh pemasok.Aku memilih jalur jembatan batu di atas kali kecil dengan pemandangan yang indah. Jalan ini memang jalur terjauh untuk menuju dapur, tapi selalu terasa lebih tenang di jam-jam seperti ini. Namun, saat langkahku baru sampai di tengah jembatan batu yang membentang luas itu, sebuah bayangan melangkah tiba-tiba muncul memotong jalanku.Yudistira berdiri di sana. Ia menungguku tepat di tengah jembatan.“My Lavender,” panggilnya dengan suara yang teramat kukenal.Jantungku serasa melompat. Aku menghentikan langkah mendadak, mendongak, dan melihat tatapan intens Yudistira yang membuat bulu kudukku meremang. Dia sengaja berada di sini, dia tahu betul aku selalu lewat si
Malam berikutnya, luka fisik dan lebam emosional di tubuhku belum sepenuhnya reda. Rasa nyeri di area intim akibat hukuman Sinyo semalam masih menyisakan rasa ketat setiap kali aku melangkah.Sekitar pukul satu malam, keheningan Paviliun Lavender menyelimuti seluruh sudut bangunan. Perutku yang perih akibat belum sempat makan malam memaksa langkahku mengayun pelan menuju dapur di lantai bawah. Suasana dapur amat hening dan remang, hanya diterangi lampu kecil di atas meja konter.Aku berharap, malam ini Tuan Sinyo memberiku hari libur dulu dari aktivitas panas di ranjang. Aku merasa sangat lelah, bukan fisik saja tapi juga jiwaku.Saat aku sedang mengunyah segigit semangka, sebuah bayangan tinggi besar mendadak melingkupi belakang tubuhku.Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan tegap mencengkeram pinggangku dari belakang, memutar tubuhku dengan kasar hingga punggungku terbentur tepian konter dapur yang dingin. Aroma parfum mahal itu langsung menyergap indraku.“T-Tuan Sinyo...” c
Bekas tamparan di pipi kiriku masih menyisakan rasa panas yang menjalar hingga ke dada. Seharian ini aku melayani kebutuhan Ibu Diana dengan wajah tertunduk, malu jika beliau melihat merah bekas tangan di pipiku.Namun, rasa sakit di pipiku tak sebanding dengan rasa hancur saat mendengar bentakan Tuan Muda Sinyo malam tadi.“Kuasai dirimu, Silvia! Aku bukan Bara!”Kalimat itu terus bergema di kepalaku sepanjang hari, meremukkan sisa-sisa keberanianku. Aku sadar telah melakukan kesalahan fatal dengan menyerukan nama Capybara-ku di puncaknya penyatuan kami. Bagi Sinyo, aku hanyalah istri kontrak yang bertugas memuaskan hasratnya, dan menyebut nama pria lain di peraduan adalah bentuk penghinaan bagi dominasinya.Malam dengan cepat melingkupi Paviliun Lavender. Sesuai perintah dinginnya sebelum pergi semalam, aku duduk kaku di tepi peraduan, menunggu kedatangannya. Tubuhku terbalut gaun tidur tipis berwarna merah marun berbahan sutra licin, gaun seksi yang memperlihatkan lekuk bahu dan pu
Setelah dokumen nikah kontrak itu resmi kutandatangani, seluruh jalan hidupku berubah. Kamar sempitku di area pelayan bawah resmi kutinggalkan. Atas perintah Tuan Muda Sinyo, kamarku dipindahkan ke lantai atas Paviliun Lavender. Berada di area yang sama dengan kamar utama Tuan Muda Sinyo, hanya berselisih beberapa langkah dari kamar miliknya.Di depan Bu Diana dan para penghuni paviliun, Sinyo menyampaikan alasan yang dibuat-buatnya. “Supaya Silvia bisa sigap menyiapkan segala keperluan pribadiku kapan pun dibutuhkan,” ucapnya datar pagi itu. Tak ada dari mereka yang mempertanyakan keputusan itu. Bu Diana mengangguk memahami, sementara aku hanya diam, menahan getaran di tanganku.Namun di balik semua itu, kami berdua tau alasan sebenarnya. Kepindahan kamar ini dibuat agar Tuan Muda Sinyo bisa dengan mudah mendatangiku setiap malam. Setiap kali hasratnya sedang memuncak.Malam ini tidak terkecuali.Begitu pintu kamarku terbuka pelan di tengah kesunyian malam, aroma parfum mahalnya se
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it







