LOGINSetelah selesai mandi, aku berganti pakaian dan membuka pintu. Ternyata Bara masih duduk di sana, menungguku keluar.“Sudah selesai?” Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung berjalan menghampiriku dan meraih tubuhku yang memang masih kesulitan menjaga keseimbangan. Ia membawaku kembali ke kamar dan meletakkanku di ranjang dengan sangat hati-hati. Tak lama, ia kembali membawa botol minyak zaitun dan duduk di sisi ranjang.Aku masih menatapnya dengan penuh prasangka. “Mas, mau apa?” tanyaku tegang, refleks menarik kakiku yang sakit sedikit menjauh.“Aku mau memijat kakimu. Kalau didiamkan, bengkaknya bisa makin parah,” jawabnya tenang.“Jangan, Mas... ini sakit banget,” tolakku keberatan.Namun, ia tidak menghiraukan penolakkanku. Ia mulai mengoleskan minyak itu ke pergelangan kakiku dengan gerakan yang sangat lembut dan perlahan.Awalnya aku meringis menahan sakit, namun sentuhan jemarinya ternyata jauh lebih ahli dari yang kuduga. Rasa hangat dari minyak zaitun mulai menjalar, perlahan
“Kamu tidak melihat bagaimana sikapku selama ini?” tanya Bara. Ia sepertinya benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranku.“Selama ini kamu itu... ketus, dingin, dan selalu menuntut dilayani,” jawabku gamblang, tanpa ada yang ditutup-tutupi.Bara mengernyit. “Hanya itu yang kamu rasakan? Bagaimana saat kita sedang berdua di ranjang?”“Aku... aku...” Lidahku mendadak kelu.“Kamu tidak bisa jawab, kan? Karena aku tahu kamu juga merasakannya,” sergah Bara cepat.“Rasa apa?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, merasa tidak nyaman dengan arah obrolan ini.“Kamu menikmatinya, Silvia. Jujur saja,” jawab Bara dengan nada penuh percaya diri. “Kamu menikmati setiap sentuhanku, bahkan saat kita benar-benar menyatu.”“Cukup!” teriakku. “Tidak usah membahas itu di sini.”“Kenapa? Kamu lebih suka aku langsung bertindak saja?” Bara melangkah mendekat, sengaja ingin menggodaku.“Mas, kita ini di tengah hutan. Apa yang mau kamu lakukan?” sergahku, merasa waswas dengan kilat di matanya.“Bagai
“Ayo, jalannya lebih cepat!” ujar Bara tergesa, seolah ia ingin segera menjauhkanku dari tembok batu itu.Aku mendadak menghentikan langkah. “Tunggu! Mas tidak lihat kakiku pincang?!” sergahku mulai kesal. Rasa sakit di pergelangan kaki akibat terjatuh tadi mulai berdenyut hebat.Bara menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatapku dengan mata yang sulit diartikan. Tanpa sepatah kata pun, ia bergerak mendekat. Dengan sekali tarikan yang mantap, tubuhku sudah berada di dalam gendongannya. Aku menghela nafas dalam dan memilih pasrah. Toh, memang lebih mudah menembus hutan pinus ini jika digendong begini daripada harus terseok-seok sendiri.“Benteng itu milik orang kota yang membeli lahan di sini. Aku hanya ditugaskan untuk mengawasi area perbatasannya agar warga desa tidak sembarangan masuk. Hutan ini berbahaya, Silvia,” jelas Bara, suaranya terdengar datar namun tegas.Aku menatap suamiku penuh selidik dari jarak sedekat ini. Jawaban itu terdengar cukup logis, tapi nuraniku menolak perc
Aku akhirnya selesai membersihkan diri setelah hampir satu jam lebih bergelut di dalam kamar mandi. Lumpur hitam dari sawah itu benar-benar pekat dan sulit sekali dihilangkan, hingga aroma tanah masih terasa menempel di kulitku. Pakaian yang tadi aku kenakan sudah tidak tertolong lagi, penuh noda yang mustahil bersih, sehingga aku memutuskan untuk membuangnya saja ke tempat sampah. Sesaat kemudian, terdengar deru mesin mobil Hilux dan suara langkah kaki yang berat dari teras. Bara telah kembali. Dari derap langkahnya, pria itu terdengar sangat terburu-buru, seolah ada penjelasan atau amarah yang ingin segera ia tumpahkan padaku. Suasana hatiku yang sedang buruk, merasa sangat malas jika harus berhadapan dengan Bara sekarang. Aku tidak ingin mendengar ceramah soal harga diri atau alasan-alasannya mengenai Maisaroh. Sebelum Bara sempat mencapai pintu rumah, aku segera menyelinap keluar melalui pintu belakang. Aku harus pergi dari rumah ini, setidaknya sampai emosiku sedikit mereda.
Maisaroh hari itu benar-benar tidak menjengukku ke kamar. Sikapnya seolah tidak peduli lagi padaku, dan aku pun terlalu malas untuk berteriak memanggil namanya. Akhirnya, aku memutuskan untuk rebahan seharian di ranjang—sebuah pengorbanan kecil agar Bara tidak menaruh curiga pada kepura-puraanku.Namun, di balik sandiwara ini, Bara justru menunjukkan sisi yang sangat manis dan lembut. Sepulang dari ladang, ia membawakanku berbagai macam buah-buahan segar; ada alpukat, pisang, dan kelapa. Ia bahkan dengan telaten menyuapiku alpukat mentega yang rasanya sangat enak. Katanya, itu adalah hasil panen terbaiknya hari ini.Malam itu aku sengaja tidur lebih cepat. Aku ingin hari esok segera tiba supaya aku bisa lepas dari jeratan "sakit" ini. Sungguh, aku sudah sangat bosan terkurung di kamar yang mulai terasa bau apak ini.Begitu pagi menjelang, aku bangun dengan semangat yang meluap. Saat menuju dapur, aku mendapati Bara sedang sibuk di depan kompor.“Lho, Mai belum datang?” tanyaku heran.
Pertanyaanku tadi sukses membuat Bara terdiam sepanjang jalan. Suasana di dalam mobil Hilux ini mendadak jadi sangat kaku. Aku yakin, ada sesuatu yang sangat besar yang sedang ia rahasiakan dariku.“Kalau kamu memang ingin tahu soal itu, aku bisa mengantarkanmu dan memberitahumu sekarang. Tapi... kamu sedang sakit,” ujar Bara akhirnya, memecah keheningan. “Kalau terlalu lama di perjalanan, nanti kamu malah tambah sakit, dan ujung-ujungnya kamu akan menyalahkanku lagi.”Lagi?Darahku berdesir. Maksudnya, setelah malam pertama itu, aku akan menyalahkannya lagi? Ini kan, urusannya berbeda. Sekarang aku tidak sedang sakit, aku hanya sedang mencari jawaban! Namun, aku tersadar. Jika aku memaksanya sekarang, Bara yang waspada ini pasti akan semakin mencurigaiku. Aku harus bermain cantik. Aku harus sangat hati-hati agar rahasia tentang Aditya tidak ikut terbongkar. Tidak untuk saat ini.“Ya sudah, pulang saja sekarang,” pintaku akhirnya sambil membuang muka ke arah jendela.Bara tidak menyah
“Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,
Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera
Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe
Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah







