MasukBegitu sampai di Belanda, David langsung mengajak Elise ke hotel untuk menyimpan barang-barang mereka.Selama di perjalanan, Elise telah mencari tahu banyak hal tentang Belanda. Dia juga telah menandai banyak tempat yang ingin dia kunjungi. Selama David mengurus pekerjaannya, dia akan menikmati waktunya sendiri. Jalan-jalan, menikmati waktunya.David hanya memesan satu kamar. Bukannya ingin berhemat, tapi dia ingin hubungan mereka semakin dekat seperti dulu.Elise masuk ke dalam kamar itu, melihat-lihat. Tempat tidur yang besar, tampak empuk dan nyaman. Jendela kamar yang langsung menghadap ke arah kota, dan kamar mandi yang begitu luas. Tempat itu tak kalah mewah dengan kamar yang ada di Villa Axel.Setelah melihat seluruh kamar itu, Elise menghampiri David. Pria itu sedang sibuk memasukkan barang-barang mereka yang baru saja diantarkan pelayan hotel.“David, kamar ini sangat bagus.”“Bagus kalau kau menyukainya.”“Kenapa kau memasukkan semua barang-barangmu? Kamarmu.. apa di sebelah
Belanda, semua izin sudah didapatkan dan hari ini juga mereka akan berangkat.Tapi entah kenapa sejak pagi, perasaan Elise merasa tidak tenang. Hati kecilnya berkata tidak seharusnya dia pergi. Dan firasatnya pun mengatakan ada yang menunggunya saat dia tiba di sana.Meski begitu dia tidak tahu apa, dan tak bisa membatalkan perjalanan karena David telah mengurusnya dengan susah payah.“Emma," David mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka, “Apa semuanya sudah siap? Atau perlu aku bantu?”“Tidak perlu, aku sudah selesai, “Elise menarik sebuah koper kecil dari kamar, “Apa sudah harus pergi sekarang?”“Hm, tapi habiskan makananmu terlebih dahulu. Aku perhatikan dari pagi kau tidak berselera. Kau sakit?”“Tidak. Aku hanya terlalu gugup karena aku sudah tidak sabar untuk pergi," dustanya.Sejak pagi ada sesuatu mengganjal di hati. Membuatnya tak tenang, makan pun tidak berselera seolah-olah ada yang mengganjal di tenggorokannya.“Kalau begitu segera habiskan makanannya, kita pergi. Janga
Elise mulai terbiasa hidup sebagai Emma Grace. Dia terbiasa dengan lingkungan tinggal, pekerjaan Emma, dan persahabatan Emma yang terjalin cukup baik dengan beberapa orang yang dia kenal.Tidak hanya itu, dia juga sudah terbiasa dengan keberadaan David yang begitu baik dan perhatian padanya. Hidup barunya itu, tidak seburuk yang dia duga asalkan dia menjalaninya dengan baik.Walaupun ada yang sempat curiga dengannya tapi David menjadi tameng, meyakinkan yang lainnya kalau dia memang Emma.Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan bagaimana memiliki sahabat, bagaimana bekerja dan mendapatkan uang, dan bagaimana diperdulikan oleh seseorang dengan begitu tulus.Kehidupan seperti itu, dulu hanya ada dalam khayalannya saja. Tak menyangka dia dapat menjalaninya.Setiap hari, Daniel datang membawakan makanan. Walaupun Elise sudah berusaha mencegah agar pria itu tidak melakukannya, tapi Daniel melakukannya sebagai bentuk kepeduliannya pada Emma.Dia khawatir, penyakit Emma kambuh mesk
Alicia kembali dengan tangan kosong. Tubuhnya kotor, dan terdapat beberapa luka karena jatuh ke atas aspal. Bahunya memar, akibat ditendang Axel. Tak hanya itu, dia merasa bahunya bergeser karena Axel menendangnya dengan kuat.Ibunya bergegas keluar dari rumah saat melihat putrinya telah kembali. Dia harap Alicia berhasil membujuk Axel agar rumah mereka tidak di sita.Tapi ketika melihat keadaan Alicia, ibunya begitu panik.“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa penuh luka seperti ini?”“Mom, Axel menendangku. Bahuku sangat sakit sekarang.”“Dia menendangmu?” ibunya berteriak marah, “Beraninya dia menendangmu?”“Kita bicara di dalam saja, Mom,” langkahnya terseok, “Pria itu benar-benar kejam,” Diana memapah tubuh putrinya, “Padahal kau sudah bersedia memohon padanya, tapi beraninya dia memperlakukanmu seperti ini?”“Mom, bagaimana sekarang?” keadaannya itu tidak terlalu membuatnya pusing tapi bagaimana dengan permasalahan mereka? Hari ini, kalau tak ada yang bisa mereka selesaikan maka
Semua berkas dari rumah sakit sudah Axel dapatkan. Dia telah pergi ke Korea, mencari bukti apakah Elise sudah mati atau hanya tipuan. Tapi semua berkas yang dia dapatkan menunjukkan kalau Elise memang sudah tiada.Hampir satu bulan dia berada di Korea hanya untuk mencari kebenaran itu. Namun pihak rumah sakit hanya memberikan berkas-berkas kematian Elise. Dia juga mendapati kenyataan kalau Elise melarikan diri tanpa membawa apa-apa. Dia tidak diberi apapun oleh keluarganya.Kenyataan itu membuatnya terpukul. Dia memutuskan pulang, karena tidak menemukan apapun selain laporan kematian Elise.Tadinya dia begitu optimis, menyangka masih ada harapan tapi ternyata harapan itu pun sudah kandas.Melihat putranya sudah kembali, Harmoni langsung menghampirinya. Sepertinya tidak sesuai dengan harapan, karena Axel tidak bersemangat sama sekali“Axel, bagaimana?” ibunya bertanya dengan hati-hati.Axel menggeleng, mengambil segelas air lalu duduk. Harmoni mendekati, dan duduk di samping putranya.
Elise keluar dari kamar, dia terkejut karena David masih berada di rumah. Dia juga terkejut karena pria itu telah membersihkan semuanya. Bahkan aroma makanan membuat perutnya berbunyi.Padahal dia ingin menikmati waktu tenangnya sambil mencari tahu bagaimana dengan kehidupan Emma Grace supaya dia tidak melakukan kesalahan nantinya.Sekilas, dia melihat sebuah album foto dalam lemari pakaian Emma. Dia berniat melihatnya setelah beristirahat, tapi rupanya pria itu masih berada di sana.Walaupun dia telah menipu tapi kalau dia hilang ingatan, tapi sebisa mungkin tak boleh membuat pria itu semakin curiga dengannya.“Kenapa kau masih berada di sini?”“Aku mengkhawatirkan keadaanmu, Emma. Aku lihat rumahmu begitu kotor, jadi aku bersihkan. Aku juga sudah membuatkan makanan untukmu. Kemarilah, kau harus makan yang banyak supaya cepat pulih.”“Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini, David. Aku tidak ingin merepotkanmu dan berhutang budi padamu.”“Apa yang kau katakan,? Ini kewajibanku seb
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Surat perjanjian sudah berada di atas meja keesokan paginya. Elise duduk dengan tegak, tatapan matanya tak lepas dari saudara kembarnya.Jadi, mereka membawanya kembali agar dia menggantikan kakaknya menikah dengan laki-laki bernama Axel Smith?Lagi, dia harus menggantikan kakaknya itu meski kali i
Mobil yang dibawa oleh ayahnya melesat dengan cepat. Elis duduk di belakang, tertawa pelan dan menggumamkan sesuatu. Melihat itu membuat Diana sedikit cemas. Dia takut mereka salah mengambil keputusan lalu membuat kekacauan. “Edward,” dia berpaling ke arah suaminya, “Apakah keputusan kita sudah b
Lorong panjang itu dipenuhi suara-suara samar. Bisikan, tawa, dan jeritan yang bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kegilaan yang tak pernah benar-benar berhenti.Para pasien pria dan wanita berlalu lalang, tertawa dan berbicara sendiri. Dan beberapa wanita terlihat menangis.Aroma obat-obat







