LOGIN“Hmm ... ada apa lagi ini ya,” gumam Nadira saat dia melihat pesan yang muncul di ponselnya.Sebuah pesan yang mengharuskannya datang ke HRD sekarang. Ruangan yang tidak pernah dia datangi, kini malah memanggilnya.Dia yang tadinya akan kembali ke ruang kerjanya, kini harus ke ruang HRD dulu.Nadira naik lagi ke bagian staf administrasi rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil memegangi perutnya agar tidak kontraksi lagi.Nadira mengetuk ruang HRD, lalu membuka pintunya. Seorang staf wanita yang akan keluar, menemuinya.“Mau cari siapa, Dok?” tanya staf itu.“Bu Risma,” jawab Nadira.“Oh, ruangannya yang itu. Masuk aja.”Nadira mengangguk. “Iya, makasih.”Staf itu pun segera keluar dari ruangan HRD.Nadira berjalan ke arah ruangan pimpinan HRD yang tadi ditunjukkan sambil sesekali memberikan senyuman pada staf yang mejanya dia lewati.Nadira mengetuk pintu ruangan itu. Setelah diizinkan masuk, Nadira pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam sana.Seorang wanita seumuran suaminya,
“Belum??? Kok belum sih. Alasannya apa?” tanya Arjuna geram.Wisnu tersenyum. “Sabar lah, Bos. Kan pelakunya pegawai mereka. Ya mending ntar di panggil pas dia dinas. Santai dong,” jawab Wisnu sambil tersenyum.“Kalo nanti orangnya gak dinas dan malah kabur gimana, Pak? Kan bisa aja dia gak akan kerja karena udah tau,” sahut Nadira.“Nah, iya ... bener itu kata Nadira. Ntar kita malah gak ketemu pelaku sebenarnya.” Arjuna setuju dengan ucapan istrinya.Wisnu terkikik. “Kalian ini bener-bener ya. Kebanyakan liat drama kalian.”“Ya maaf, Wis. Namanya juga mereka udah penasaran,” sahut Agus.Wisnu menoleh ke mertua sahabatnya itu. “Iya, Pak. Lucu banget mereka.”Wisnu kembali melihat ke pasangan itu. “Udah, kalian tenang aja. Nanti juga bakalan dihubungi. Jam dinas dia bentar lagi.”“Lagi pula ya, kalo misalnya dia niat pergi, pasti udah sejak dia lakukan kejahatan itu. Tapi saat ini anaknya masih do rawat di rumah sakit itu. Anaknya baru aja operasi abis kecelakaan,” lanjut Wisnu.“Ini
“Gimana ... apa kata mereka?” tanya Arjuna ingin tahu.Wisnu meletakkan iPad yang dia bawa di atas meja. “Liat dulu yang ini,” jawab Wisnu.Arjuna melihat ke Wisnu sebentar, sebelum dia mengambil iPad itu.Arjuna jadi semakin penasaran dengan apa yang dilaporkan oleh pihak Sehat Sentosa.Setelah mendapatkan iPad-nya, Arjuna kembali melihat ke Wisnu.“Oh ya Wis, aku mau minta tolong,” ucap Arjuna.“Ada apa?”“Ini loh, soal Nadira.” Arjuna menoleh ke istrinya yang duduk di sampingnya. “Bisa gak kamu urus cuti buat Nadira semester ini. Semester depan aja dia mulai lagi residen tingkat tiganya,” pinta Arjuna.Wisnu melihat ke Nadira. “Karena kehamilannya ya?”Arjuna mengangguk. “Iya.”“Iya, Wis. Belakangan petut Nadira sering kram karena kecapekan. Ayah gak tega, Wis,” imbuh Agus menguatkan permintaan menantunya.“Bisa aja sih. Nanti tinggal minta surat keterangan dari dokter kandungannya sama kepala bagian residennya. Paling gak, aku akan usahakan yang udah dijalani kemaren gak ilang. Ja
“Sayang!” pekik Arjuna panik yang langsung berhambur ke arah istrinya dan meletakkan makanannya begitu saja.Agus yang duduk di samping Nadira juga langsung memegangi putrinya. “Nad, kamu kenapa?” tanya Agus ikut panik.“Aduh, sakit, Yah,” keluh Nadira sambil memegangi perutnya.“Kram lagi, Sayang?” tanya Arjuna yang langsung mengusap perut istrinya.Nadira hanya mengangguk sambil mengatur napas. Dia berusaha santai, agar perutnya tidak tegang lagi.“Kita ke Dokter Ira ya,” ajak Arjuna.“Gak usah. Ini udah enakan kok,” jawab Nadira yang masih memejamkan matanya, merasakan sakit di perutnya.“Tapi kamu kesakitan, Sayang.” Arjuna tetap membujuk istrinya agar mau periksa.Napas Nadira semakin tenang. Wanita cantik itu masih menarik napas dalam lewat hidungnya lalu mengembuskannya lewat mulut.Dia harus berlatih napas juga, menghadapi masa persalinan yang kian dekat.Arjuna mengusap perut istrinya. Bagian yang tadi terasa sangat keras, kini perlahan mulai lembut.“Masih sakit gak?” tanya
“Dokter mau?” tanya Nadira ingin tahu.Raka menoleh sebentar ke Nadira. Dia kemudian tertawa kecil mendengar pertanyaan kecil itu.“Nad, bukannya kamu udah pernah sumpah dokter ya. Dokter gak boleh membedakan pasien,” jawab Raka.Nadira mengangguk perlahan. “Iya Dok, saya mengerti. Maaf.”“Iya ... kita gak boleh membedakan pasien. Tapi ....” Raka menoleh ke Nadira. “Kalo bisa dihindari, ya mending di hindari aja.”Nadira langsung tertawa mendengar jawaban Raka. Dia sampai memalingkan wajahnya dan memegangi perutnya, karena dia tidak bisa menghentikan tawanya.Raka ikut tertawa. Dia diam-diam masih menikmati wajah cantik Nadira, saat ibu hamil itu tersenyum.Nadira berusaha menghentikan tawanya saat mereka masuk ke dalam lift. Tidak enak rasanya dilihat orang umum, jika dokternya malah tertawa lepas di rumah sakit.Nadira dan Raka berdiri tepat di barisan depan. Raka masih bisa melihat wajah Nadira yang menahan tawa.Raka menggeser badannya ke arah Nadira. “Ingat ya, Nad. Hindari!” bis
“Siapa, Dok?” tanya Nadira ingin tahu.Raka menggeleng. “Bentar.”“Halo, selamat siang?” sapa Raka saat dia menerima panggilan dari penelepon itu.“Halo Ka, ini Lia. Aku ganggu kamu gak?” tanya Lia.“Lia?” Raka melihat lagi deretan nomor yang ada di ponselnya.“Ini nomor siapa, Li? Kok nomor baru,” lanjut Raka.“Ini nomor pribadi aku, Ka. HP ku satunya kehabisan baterai.”“Oh gitu. Ada apa nih kok tumben telpon?” tanya Raka sambil sedikit tersenyum, akhirnya wanita itu menghubunginya.“Ka, aku mau minta tolong sama kamu. Eh, tapi kamu sibuk gak sih?” tanya Lia ingin memastikan.“Enggak kok. Lagi abis ngobrol dikit aja ama Nadira.”“Oh gitu .... eh, bentar, Ka.”Sedetik kemudian, terdengar Lia sedang berbincang dengan beberapa orang. Mereka seperti sedang membahas sesuatu, tapi sayangnya suaranya tidak terlalu jelas.Raka masih tetap setia menanti, apa yang akan dikatakan oleh Lia kepadanya. Dia sudah sangat penasaran saat ini.Namun, belum juga Lia mengatakan tujuannya menghubungi Rak
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi
“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm







