Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #001 Cinderella Tapi Tersesat

Share

Menipu Sang CEO Buta
Menipu Sang CEO Buta
Author: aisakurachan

#001 Cinderella Tapi Tersesat

Author: aisakurachan
last update publish date: 2025-12-12 08:10:31

LIMA TAHUN LALU

"Itu rumahmu?" Ellie menunjuk bangunan yang ada di depannya, dengan mulut terbuka lebar.

Dia tahu Lonan adalah salah satu putra dari keluarga Wycliff, keluarga konglomerat Eropa dengan kekayaan yang jumlah nol-nya lebih dari sepuluh.

Tapi melihatnya secara langsung seperti ini, membuat lutut Ellie tiba-tiba lemas. Lonan yang biasa bersamanya, terlihat santai dan membumi. Tidak ada jejak jika dia termasuk salah satu penghuni rumah yang lebih mirip kastil itu.

Jika Lonan tidak menyebut itu rumahnya, mungkin Ellie akan mengira jika bangunan luar biasa megah itu adalah istana raja Swedia, atau mungkin kediaman perdana menteri. Halamannya yang maha luas, kini ramai berisi jajaran mobil mewah, milik para tamu pesta yang lain.

"Ayo..."

Lonan mendahuluinya turun dari mobil, lalu membuka pintu. Kini tangannya terulur di depan Ellie dengan manis.

"Kau yakin aku boleh masuk? Lonan, aku merasa tidak pantas." Ellie dengan panik memeriksa gaun yang dipakainya hari ini. Gaun itu indah sekali, sampai-sampai Ellie ingin menangis saat melihatnya siang tadi.

Gaun pesta itu berwarna merah, dengan aksen perak di ujung roknya. Buritan mutiara mungil menghiasi tepinya. Itu adalah gaun termahal yang pernah dipakai Ellie. Lonan yang menyiapkan semua itu. Termasuk sepatu, tas, dan juga kalung dan anting. Perhiasan itu kini menempel dengan cantik di telinga dan leher Ellie yang pucat.

"Kau begitu menawan malam ini Ellie. Aku yakin kakakku akan terkesan." Lonan membuka pintu mobil lebih lebar.

Ellie akhirnya menurunkan kedua kakinya yang gemetar. Sepatu pesta yang juga berwarna perak, terlihat berkilau saat sinar lampu hiasan taman menerpanya.

Lonan dengan main-main menyebutnya sepatu kaca, tadi siang. Dan dengan perlahan, Ellie juga mulai merasa jika nasibnya mulai mirip Cinderella. Dengan semua kemewahan di sekitarnya, Ellie merasa tidak pantas berada di sana.

Tapi dengan senyum lebar, Lonan menarik tangan Ellie, lalu menyusupkan lengannya lipatan tangannya sendiri. Sambil berjalan menuju tempat pesta, Lonan mulai menjelaskan dengan detail hal-hal yang dilihat Ellie, seolah ingin menyapu kegelisahannya.

Ruangan dalam bangunan itu memang seperti istana. Ruang depannya penuh dengan barang mewah, lampu kristal dan jelas karpet mahal. Sejenak Ellie merasa silau dengan pemandangan itu. Matanya tidak terbiasa melihat semua kemewahan itu berada dalam satu tempat.

Musik lembut terdengar dari ruang dalam, tempat pesta berlangsung. Dan ruangan luas itu, juga berhias kemewahan yang hanya pernah Ellie lihat di dalam film. Saat melangkah ke dalam, Ellie semakin gugup.

Semua tamu memakai gaun yang sama mewahnya dengan gaun yang saat ini dipakainya. Semua pria memakai jas atau tuxedo, yang rapi tanpa kerutan. 

Mereka ingin tampak mengesankan bagi tuan rumah yang sedang berulang tahun. Pria itu saat ini perlahan berjalan menuruni tangga. Lonan membawanya ke bawah tangga, untuk menyambut pusat dari semua keramaian malam ini, Raven Wycliff.

Raven adalah kakak Lonan, dan merupakan pucuk tertinggi di semua lini yang beratas nama Wycliff, baik itu perusahaan, maupun keluarga. Kedua orang tua Lonan sudah meninggal, jadi kini Raven yang bertanggung jawab menjalankan bisnis dan juga kehidupan di mansion mewah ini.

Ellie memandang sosok itu dengan seksama, dan dalam sekali pandang, Ellie tahu kenapa dia bernama Raven. Nama yang berarti gagak hitam itu cocok untuknya. Rambut Raven hitam sempurna, alis dan matanya juga di dominasi warna hitam. 

Meski kulitnya sedikit pucat, tapi kesan hitam jauh lebih mendominasi sosoknya. Tuxedo hitam yang dikenakannya malam ini, semakin memperkuat kesan gelap yang meliputi tubuh tegap itu.

Dan Ellie juga mengerti kenapa banyak gadis di Eropa yang tergila-gila padanya. Raven bukan selebriti, tapi beberapa kali menghiasi halaman utama berita.

Bukan karena keberhasilannya dalam berbisnis, tapi akibat kedekatan Raven dengan beberapa artis dan penyanyi yang terkenal cantik. Meski tidak pernah ada pengumuman resmi soal semua gosip itu, tapi Raven sudah terkenal sebagai penakluk wanita, terutama karena wajahnya yang tampan itu.

Jika dilihat sekilas, dia mirip dengan Lonan, tapi kesan yang ditimbulkannya jauh berbeda. Jika Lonan bernuansa hangat dengan semua keceriaan dan keramahannya, Raven terlihat dingin dan berjarak.

"SELAMAT ULANG TAHUN!" Lonan berseru sambil mengulurkan tangan, memeluk Raven. Sesaat Ellie bisa melihat wajah kaku Raven tersenyum samar.

"Aku tidak tahu kau akan pulang hari ini." Suara Raven juga sangat berbeda dengan Lonan. Suara itu berat dan sedikit serak. Dan entah kenapa bulu kuduk Ellie berdiri saat mendengarnya.

"Aku ingin memberi kejutan kehadiranku sebagai hadiah ulang tahun."

"Kau memberiku hadiah berwujud kehadiranmu? Murahan sekali." Raven tersenyum sebal menanggapi lelucon Lonan.

"Bukan hanya itu. Aku ke sini juga untuk memperkenalkan Ellie padamu." Lonan menepi, memperlihatkan sosok Ellie yang tadi nyaris tersembunyi di belakang punggung Lonan.

"Ini Ellie Harken. Gadis yang kemarin aku ceritakan padamu."

Sebelum mengulurkan tangan, Raven menatap Ellie dengan seksama, dari ujung kaki sampai kepala, menilai. Setelah berjeda tiga puluh detik, Raven akhirnya mengulurkan tangan.

"Raven," ucapnya.

"El... Ellie Harken." Ellie ingin mengutuk lidahnya yang tiba-tiba terasa kaku. Tanpa sadar, dia terlalu terpukau pada sosok Raven.

Setelah berjabat tangan sekilas, Raven segera mengalihkan perhatian pada Lonan, sepertinya tidak terkesan dengan sosok Ellie. Raven terus bertanya berbagai macam hal soal kuliah dan sebagainya pada Lonan. Meski terlihat kesal, Lonan tetap menjawab semua pertanyaan Raven.

Setelah puas menginterogasi adiknya, Raven lalu berjalan mengitari tempat pesta menyapa setiap tamu.

"Ayo! Aku akan mengambil minuman untukmu." Merayakan kebebasan dari cengkeraman kakaknya, Lonan menariknya menuju deretan meja yang berisi hidangan pesta, memutus pandangan Ellie yang menancap pada punggung Raven.

"Champagne dan buah." Lonan mengulurkan gelas berisi cairan berwarna keemasan. Dia juga menyuapkan beberapa butir anggur hijau langsung ke mulut Ellie.

Pemandangan itu membuat beberapa mata tamu wanita menyipit karena iri. Meski Lonan bukan pewaris tahta bisnis Wycliff, dia tetap menjadi sinar terang bagi ngengat yang tertarik dengan kemilau harta kekayaan Wycliff.

Jika tidak membawa Ellie, Lonan pasti sudah dikerumuni oleh pada gadis yang hadir di pesta itu.

"Aku harus berhenti meminumnya." Ellie meletakkan gelas champagne yang baru berkurang sepertiga ke meja.

Minuman itu lezat dan pasti mahal; sedikit sayang harus menyisakannya. Tapi kepalanya mulai terasa ringan. Toleransi Ellie pada alkohol sangat rendah. Dia akan mabuk parah, hanya dengan meminum setengah gelas bir yang paling murah sekalipun

"Oh... aku lupa. Apa kau ingin jus?" Lonan menawarkan.

Ellie menggeleng. "Kita mengobrol saja."

Sel-sel otak Ellie sedang sibuk mengendapkan kenyataan jika kekasihnya benar-benar bukan orang biasa. Ini membuatnya tidak ingin mengunyah apapun.

Lonan tidak pernah menyembunyikan identitasnya, jadi Ellie tahu siapa Lonan dari sejak awal mereka bertemu di rumah sakit. Tapi skala kekayaan Wycliff jauh melebihi bayangan Ellie. Ada sedikit rasa antusias, saat mengetahui jika Lonan ternyata kaya-raya.

Siapa wanita yang tidak menginginkan kekasih kaya raya? Namun kekayaan itu kini membuatnya takut, karena jurang perbedaan mereka begitu besar.

Ellie gadis biasa, yang tadi pagi hanya sanggup sarapan dengan roti bakar polos tanpa selai, karena harus berhemat. Biaya kuliahnya, menyedot hampir seluruh gaji yang dihasilkan Ellie sebagai perawat. Belum lagi keadaan keluarganya yang jauh dari kata indah.

Perbedaan gaya hidup Lonan dan Ellie tidak bisa hanya dijabarkan sebagai bumi dan langit, tapi bagaikan dasar palung terdalam dan langit ketujuh.

"Sebentar, Raven hanya ingin meneruskan omelannya." Lonan menggerutu, sambil tersenyum masam, saat melihat kakaknya melambai memanggil.

Ellie mengangguk. "Ya."

Lonan mengecup pipi Ellie sekilas, lalu berjalan bersama kakaknya menuju ruangan yang ada di sudut kiri ruang pesta.

Ellie terus menatap punggung Lonan yang kini berjajar bersama Raven. Mereka lalu menghilang masuk ke dalam ruangan berpintu putih.

Ellie lalu memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing karena champagne, tapi kepalanya sakit bukan hanya karena minuman itu.

Ellie masih sibuk berpikir soal status Lonan. Di balik semua kemilau kekayaannya, Lonan pria yang ramah dengan bonus wajah tampan. Perhatian, lembut---nyaris sempurna. Ellie mencintai Lonan karena semua itu. Ellie meyakinkan diri agar tidak terlalu silau oleh keadaan disekitarnya dan bersembunyi.

"Kau sendirian?"

Sapaan yang tidak terduga itu menyentak Ellie. Seorang pemuda dengan senyum mencurigakan mengulurkan segelas champagne padanya.

"Maaf. Saya sudah cukup banyak minum. Dan saya tidak sendiri. Kekasih saya ada di sana." Ellie menunjuk ruangan tempat Lonan menghilang.

"Oh, baiklah kalau begitu. Tapi aku rasa tidak ada salahnya jika kita berkenalan. Aku Caius Gustaf." Dia mengulurkan tangan, setelah meletakkan gelas bawaannya ke meja.

Tidak mungkin menolaknya tanpa bersikap kasar, Ellie mengulurkan tangan. "Ellie Harken."

Namun ternyata Caius tidak hanya menjabat tangan Ellie. Sambil tersenyum, dia menarik tangan Ellie, lalu mengecup punggung tangannya dengan sikap menggoda. Ellie terkesiap dan segera menarik tangannya.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
lanjut ah...
goodnovel comment avatar
Yanti
gak bosen baca ini.. si gagak hitam & kabut misteri
goodnovel comment avatar
Tan XianYing
mau yg langsung kisah Alrick & Rose-nya, ka Ai hehehehehe ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   #End - Suatu Tempat Di Masa Depan

    Musim panas di Italia tahun ini, mulai mencapai puncak. Udara yang hangat hanya tinggal kenangan saja.Hanya ada panas menyiksa, yang hanya bisa dilawan dengan segelas es teh dan pohon rindang. Kegiatan favorit semua orang di Genoa, saat ini adalah berpiknik, di sekitar tempat yang sejuk. Karena itu tidaklah mengherankan, melihat sekelompok keluarga bersantai di tepi sungai, siang itu.Yang mengherankan, suara ribut pertengkaran yang terdengar, justru berat dan dalam. Bukan lengkingan ceria atau pun teriakan lucu, yang biasa dikeluarkan saat anak-anak bertengkar.Pertengkaran justru terjadi antara dua pria yang jelas berusia paling tua, dalam rombongan itu. Mereka duduk di atas batu yang ada di tepi sungai, dengan es teh di tangan.Tidak terlihat kalau mereka berdua adalah penyumbang pajak yang terhitung sangat besar pada negara masing-masing tempat mereka tinggal. Perdebatan dan omelan seperti itu, membuat mereka tampak seperti pria paruh baya keras kepala, yang sifat bijak-nya belum

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 10 - Koleksi Dan Kerinduan

    "Apa ini?" Ivy menatap takjub, ke sekeliling apartemen Matteo. Unit apartemen itu tentu saja sama persis dengan miliknya. Semua tatanan interior persis sama. Berwarna putih bersih dan rapi.Tapi jika Ivy mempertahankan tatanan seperti saat membeli, Matteo membuat perubahan mencolok di ruang tengah.Ruang yang seharusnya berisi sofa, dengan TV dan perapian elektrik, berganti rupa menjadi studio lukis. Sofa dan yang lain telah di pindahkan ke tepi. Ada tiga buah easel yang berdiri di depan jendela, menampung kanvas separuh penuh. Aroma thinner danDi sekitarnya, tergantung beberapa lukisan, ada juga kanvas yang sudah selesai dilukis, bersandar pada tembok. Ada juga yang bergantung di dinding.Ivy seakan berada dalam lautan warna yang berpadu memanjakan mata."Kau mencoba melukis manusia?" Ivy menunjuk salah satu kanvas yang ada di easel. Dan menjadi satu-satunya kanvas yang tergambar sosok manusia.Matteo mengangguk. "Tapi sulit."Bagian wajah lukisan itu belum sempurna, meski rambut gel

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 9 - Sama Dan Beda

    Raven mengikuti Ellie sambil menunduk dalam-dalam, kembali ke lantai paling atas. Ellie tidak mengucap satu patah kata pun, semenjak keluar dari apartemen Ivy. Dia hanya memandang galak pada Matteo, yang menunggunya dengan cemas, lalu berbalik pergi.Menimbang Ivy masih tenang berada dalam apartemennya, maka itu berarti dugaan Raven amat sangat benar. Ellie mungkin berniat mengatakan semua pada Ivy, tapi tak mampu, setelah menimbang resiko.Raven menarik nafas panjang, dengan galau. Kini dia harus mencari jalan agar Ellie mau memaafkannya. Raven mulai merasa kehidupan Matteo dan Ivy menyebalkan, karena sampai membuatnya bersusah payah seperti ini.Dulu Raven menyelesaikan masalah salah paham Lonan dengan mengajak Ellie menikah, tapi tak mungkin mengadakan pernikahan dua kali, jadi cara itu tak bisa lagi dipakai.Ellie menghenyakkan tubuh ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada, menyilangkan kaki, dan masih dilengkapi oleh palingan wajah, yang menolak untuk memandang Raven. Ellie mun

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 8 - Tahu Dan Marah

    Sumpah serapah diteriakan Matteo dalam hatinya, saat mendengar Ivy menyambut hangat dan menerima bunga itu. Bunga itu buruk sekali seharusnya, karena sama sekali tidak ada warna ungu di sana, tapi Ivy tetap ramah menyambut hadiah itu.Matteo mengeratkan genggaman pada pintunya, saat melihat mereka berdua masuk. Ini adalah ujian terbesar dalam masa pengintaian itu. Matteo ingin sekali menendang pintu apartemen Ivy, dan menyeret pria itu keluar."Berpikir! Berpikir!" Matteo bergumam gelisah, sementara kakinya mondar-mandir tak bisa diam, seakan memaksa otaknya bekerja mencari solusi. Namun kemudian Matteo malah mendesis kesal, saat menemukan jawaban. Karena jawaban itu bukan pilihan menyenangkan. Pilihan pintar, tapi tidak menyenangkan.Matteo menyambar ponsel dengan wajah enggan. Dia tidak ingin melakukan ini, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini, sementara dia tidak mungkin muncul di hadapan Ivy. Dan Matteo tahu dia ada di rumah, karena melihatnya masuk ke gedu

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 7 - Menatap Dan Jauh

    Mungkin terdengar sinting, tapi Matteo sungguh merasa iri kepada bangku taman. Dia iri karena bangku itu bisa berada dekat dengan Ivy, sementara dirinya harus puas hanya dengan memandang saja.Saat ini dia merasa lebih sial dari bangku taman yang sedang diduduki Ivy, dan juga kesal luar biasa, karena melihat Ivy tersenyum saat menatap ponselnya.Matteo bersedia membayar mahal, untuk tahu siapa yang sedang mengirim pesan pada Ivy, dan membuatnya tersenyum seperti itu. Matteo bersungguh-sungguh berharap pesan itu bukan dari laki-laki lain.Kemarin Matteo hampir saja kehilangan kendali, dan menyerbu ke dalam Westwood, karena melihat Sean berada di sana. Untung saja Matteo ingat, jika Ivy masih menganggap Sean sebagai anak-anak. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal Sean. Pemuda itu boleh beredar di sekeliling Ivy, dan Ivy tetap tidak akan memiliki perasaan lebih padanya.Matteo menyesal karena sempat melupakan kemampuan Ivy untuk menarik banyak pria saat Dante menjelaskan rencana ini. Dia

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 Extra 6 - Kejutan Dan Kebetulan

    Tapi belum cukup bagi Marion. Dia melepaskan genggaman Matteo, lalu mengelus pipi Matteo dengan tangan gemetar."Tapi tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tahu apa yang dilakukan iblis itu padamu di ruangan gelap itu. Seharusnya aku membawamu pergi. Tapi aku terlalu takut saat itu. Kalau pergi seorang diri, aku berharap dia tidak akan terlalu marah. Jika membawamu serta, aku yakin dia akan berusaha sangat keras mencariku, meski harus menggali ke dalam lubang yang paling dalam sekalipun. Aku membuatmu menjadi tameng, dengan meninggalkanmu di sana."Sangat jelas terlihat, Marion memendam perasaan itu berulang kali. Tangannya yang mengelus pipi Matteo bergetar dengan sangat hebat, dan wajahnya kini basah kuyup.Matteo meraup tangan yang kini terasa dingin itu, dan memandangnya."Aku sebelum hari ini, mungkin akan marah mendengar ini, tapi aku yang sekarang tidak akan marah maupun membencimu..... Mom." Lidah Matteo sedikit kaku saat mengucapkan kata yang sudah puluhan tahun tidak perna

  • Menipu Sang CEO Buta   #345 Menawar Tapi Pemerasan

    "Aku ingin berbicara denganmu," kata King Gustaf.Tangan kokoh yang tadi menahan pintu, adalah pengawal yang berada di belakangnya. Dia hanya membawa dua orang kali ini."Saya tidak bermaksud kurang ajar, tapi tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," geram Raven."Aku tahu apa yang kau persiapkan!

  • Menipu Sang CEO Buta   #343 Lembut Tapi Sampah

    Ellie mengupas apel yang ada di meja, memotongnya menjadi ukuran lebih kecil. Bukan gayanya untuk memakan apel seperti itu. Ellie lebih menyukai apel utuh, yang dimakan langsung bersama kulitnya.Apel itu bukan untuk dirinya. Setelah meletakkannya di dalam mangkuk. Ellie membawa apel itu ke sebelah

  • Menipu Sang CEO Buta   #342 Jelas Tapi Ditutupi

    "Rave?"Ellie menggoyangkan bahu Raven pelan. Raven tertidur semenjak pulang dari rumah sakit, dan saat ini sudah hampir tengah hari.Raven menggeliat, membuka mata."Mereka datang..." Mendengar kata itu, Raven langsung bangkit berdiri, meski sempoyongan."Di depan..."Raven membuka pintu dengan set

  • Menipu Sang CEO Buta   #341 Parah Tapi Selamat

    Ellie menemukan Raven berdiri di depan UGD. Mondar-mandir dengan wajah pucat dan kuyu."Rave!"Raven menyambut panggilan itu dengan wajah aneh. Dia ingin tersenyum, tapi seakan otot yang bertanggung jawab untuk membentuk senyum di bibirnya telah rusak."Dia ada di dalam. Mereka tidak memperbolehkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status