Share

Bab 153

Author: Liazta
last update Last Updated: 2024-11-14 23:03:40

Nathan berlari menuju ke ruangan interogasi. Di sana dia melihat Eliza duduk sendiri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penyelidik.

"Apa saya boleh masuk?" tanya Nathan yang sudah berdiri diambang pintu.

"Pak Nathan, silakan," jawab petugas yang

merupakan reserse kriminal.

Nathan memandang Eliza dengan perasaan bercampur aduk. Melihat wajah Eliza yang memar, bahkan sudut bibirnya juga terluka, membuat ia marah. Ingin mengamuk dan melampiaskan kemarahannya dengan Wati, Tina dan Tia. Namun sayang, mereka para wanita. Nathan tidak akan menjatuhkan harga dirinya hanya karena memeluk perempuan.

"Saya datang bersama pengacara. Untuk kasus ini pengacara saya akan langsung menanganinya." Nathan duduk di sebelah Eliza sedangkan pengacara Edwin duduk di sampingnya.

"Saya senang Elisa mendapatkan pengacara sehebat Pak Edwin. Sangat sulit bagi tersangka untuk bisa lolos dari jeratan hukum. Karena kita memiliki bukti yang lengkap," kata petugas kepolisian tersebut.

Eliza memandang Nathan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (24)
goodnovel comment avatar
rumiyani miyani
bagus eleza kamu sangat berani, cepat jadian sama natan aja liza
goodnovel comment avatar
Mega Gea
anak betina sudah tertangkap smg cpt eliza cerai dan jd deh sama natan
goodnovel comment avatar
Jumina Sihombing
lanjut dong seru ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 580

    "Sam, lihat mobil itu melintas." Michael berkata ketika berhasil menangkap keberadaan mobil.Nathan memperhatikan mereka, takjub sekaligus bangga. “Kalian berdua seperti detektif profesional saja…”“Tapi waktu kita tidak banyak,” potong Rizky. Wajahnya masih diliputi kecemasan. “Aku dan Nathan keluar dulu. Kita akan tanyakan ke orang-orang sekitar, siapa tahu ada yang melihat mobil itu.”Rizky benar-benar panik hingga ide bodoh seperti ini muncul. Dan yang lebih lucunya, Nathan juga setuju dengan ide bodoh tersebut.Samuel mengangguk singkat. “Ya, paman, jangan terlalu jauh dari area ini. Kalau ada informasi sekecil apapun, langsung hubungi kami.”Nathan menepuk bahu Michael sebelum pergi. “Temukan dia, Nak. Aku percaya padamu.”Samuel menganggukkan kepalanya.Saat ini Samuel sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Jika Rizki dan Nathan memilih untuk keluar dari kafe, itu artinya tidak ada yang mengganggunya. Dan dia bisa dengan fokus melacak keberadaan Yura. Begitu Nathan dan Ri

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 579

    “APA?! Harus menunggu 24 jam dulu baru laporan diterima?!”Suara Rizky meledak di kantor polisi, menghentak ruangan hingga membuat beberapa petugas terdiam kaku. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, dan tangannya bergetar menahan amarah.Nathan, yang sejak tadi sudah tidak sabar, menghantam meja keras-keras hingga bergetar. “Anak kecil hilang di sekolah, ada rekaman CCTV jelas, dan kalian masih bicara soal prosedur?! Kalau terjadi apa-apa pada Yura, kalian semua yang harus bertanggung jawab!”Para polisi saling pandang, sebagian gugup. Barulah ketika Rizky mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV dari sekolah, tampak Yura berjalan bersama seorang pria berwajah guru lalu menghilang masuk ke mobil hitam. Para polisi terperangah.“Baiklah, dengan bukti ini, kami akan mulai bergerak,” ucap salah satu perwira terbata-bata.Namun Samuel dan Michael tahu, itu tidak cukup. Mereka bisa membaca dengan jelas, proses birokrasi kepolisian akan memakan waktu terlalu lama. Dan waktu

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 579

    Rizky tiba di sekolah dengan wajah pucat pasi. Kiara menempel di lengannya, matanya masih basah oleh air mata. Para guru dan staf sekolah menunggu dengan ekspresi cemas.“Apa benar anak saya tidak masuk kelas sejak pagi?” suara Rizky bergetar, namun matanya tajam menusuk setiap orang.Guru kelas Yura menunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. “Benar, Dokter. Awalnya saya pikir Yura izin sakit. Tapi setelah saya tahu Yura sudah berangkat dan terlihat sampai di depan gerbang sekolah, kami langsung mencarinya. Toilet, aula, setiap gedung—semua sudah kami periksa. Tidak ada.”“Tidak ada yang melihat Yura keluar?!” bentak Rizky, hingga beberapa guru bergidik ketakutan.Kepala sekolah mencoba menengahi. “Kami sudah meminta keterangan teman-temannya, tapi tidak ada yang memperhatikan.”Napas Kiara tercekat, emosinya memuncak. “Ini sekolah unggulan, bukan sekolah murah! Bahkan kami adalah donatur tetap di sini. Bagaimana mungkin pengawasan bisa seburuk ini?”Guru serta kepala sekolah terdiam

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 577

    Pagi itu suasana sekolah begitu ramai. Anak-anak berseragam putih merah berlarian kecil menuju kelas masing-masing, suara tawa riang terdengar di udara.Di antara keramaian itu, Yura tampak cantik dengan rambut dicepol dua, membawa tas ransel ungu muda. Gadis kecil itu melambaikan tangan kepada sopir keluarga sebelum berbalik masuk ke gerbang sekolah.“Selamat belajar ya, Nona Kecil, Yura” ucap sopir itu sambil tersenyum hangat.Yura mengangguk dengan wajah sumringah. “Iya, Om! Nanti aku cerita kalau aku dapat bintang di kelas.”Pria yang menjadi supir pribadi itu tersenyum dan kemudian mengangkat jempolnya. Setelah itu ia masuk ke mobil dan meninggalkan Yura yang sudah berjalan menuju ke gerbang sekolah. Sudah menjadi kebiasaan guru kelas Yura untuk memberikan stiker bintang bagi murid yang mendapat nilai bagus. Hari ini, Yura yakin sekali bisa pulang dengan bangga sambil menempelkan bintang di bukunya.Namun, sebelum sempat masuk ke gerbang sekolah, seorang pria berseragam petugas

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 576

    Suasana ruang makan, pagi itu begitu ramai. Aroma roti hangat, sup ayam, steak daging, dan kopi memenuhi udara, bercampur dengan suara gelak tawa dari berbagai sudut meja panjang keluarga besar itu. Olivia, putri bungsu Albert, duduk di samping Aruna. Gadis remaja itu tampak ceria sekali, tidak berhenti bercerita tentang hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Sesekali ia merangkul lengan Aruna, seolah ingin menunjukkan betapa gembiranya memiliki ibu baru. Setelah kepergian ibunya, Olivia merasa sangat sepi. Tidak ada lagi tempat dia untuk curhat. Curhat dengan kedua kakak laki-lakinya, atau dengan sang ayah, pastilah tidak bisa sebebas ketika bercerita dengan sesama wanita. “Mommy, setelah ini kita belanja baju bareng ya? Aku mau beli baju seperti mommy Aruna!” katanya dengan mata berbinar. Aruna hanya tertawa, sementara Albert di sampingnya menatap keduanya dengan penuh kasih. Pasangan pengantin baru itu tampak begitu serasi, senyum mereka tidak pernah lepas sejak kemarin. Di sis

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 575

    Pagi itu, rumah keluarga Hermawan, terasa lebih ramai dari biasanya. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Anak-anak kecil berlarian, sementara orang dewasa berbincang tentang rencana masa depan.Di tengah suasana itu, Michael duduk di sofa dengan wajah pasrah. Di pangkuannya, seorang gadis kecil berusia delapan tahun tampak santai memakan es krim.“Yura… itu es krim keberapa?” Michael mengernyit, menatap bocah mungil itu dengan serius.Yura menengok dengan polos, wajahnya belepotan cokelat. “Baru dua… eh tiga…”Michael menepuk jidat. “Ya Tuhan, nanti sakit perut lagi kamu. Kalau sakit perut, yang dituduh siapa? Aku lagi!”Michael tidak lupa, tadi malam Yura sakit perut. Dokter Rizky, langsung memarahinya, karena tidak melarang Yura makan eskrim.Gadis kecil itu malah tertawa geli, lalu menyandarkan kepala di dada Michael. “Semalam makan eskrim sampai 6.”Michael tercengang mendengar pengakuan dari Yura. Padahal semalam Yura hanya mengakui 2 saja. "Anak kecil gak boleh bohong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status