LOGINReyvan mencondongkan tubuhnya ke arah David. "Kita harus bertindak. Aku nggak mau citraku hancur berantakan karena dibilang punya hubungan spesial dengan dokter galak sepertimu!"David mendorong bahu Reyvan dengan kasar. "Heh! Kamu pikir aku mau?! Aku yang paling dirugikan di sini! Nama baikku sebagai dokter teladan bisa hancur kalau sampai pasien-pasienku tahu, aku dibilang pasangan kekasih pria narsis sepertimu!"Reyvan memutar otaknya cepat, matanya menyisir cafe yang dipenuhi wanita-wanita sosialita dan tamu cantik yang sedang memperhatikan mereka. Sebuah ide licik namun brilian muncul."Oke, dengar. Kita harus mematahkan rumor ini sekarang juga," bisik Reyvan serius."Aku tahu. Tapi bagaimana caranya?!" geram David."Kita duduk terpisah. Lalu, buat wanita-wanita di cafe ini terpesona. Kita harus terlihat seperti pria tulen, sangat maskulin, dan sangat ... menggoda. Tunjukkan pada mereka kalau kita tertarik pada lawan jenis, bukan pada satu sama lain."David terdiam sejenak, lalu
"Berikan satu cangkir kopi paling pahit untuk temanku ini. Tapi ingat, buat tingkat kemanisannya persis seperti wajahku."Pelayan muda itu terdiam mematung. Wajahnya tampak bingung dan kikuk, matanya berkedip berkali-kali menatap Reyvan lalu bergantian menatap David. "Mohon maaf, Pak. Ehm ... saya kurang paham. Maksudnya ... manisnya seperti apa, ya? Manis atau pahit?"David melirik tajam pelayan. "Abaikan saja dia. Sudah jelas wajah bosmu ini tidak ada manis-manisnya. Berikan saja kopi hitam pekat tanpa gula. Cepat." Dia menyambar cepat dengan wajah jengkel yang sudah mencapai ubun-ubun."Kejam!" Reyvan menghela napas panjang, pura-pura kecewa karena pesonanya tidak dihargai oleh David.Tak lama kemudian, pelayan itu kembali membawa nampan berisi secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul panas."Ini kopi pahitnya, Pak. Selamat menikmati, jika butuh yang lain langsung panggil saja saya."Secangkir kopi pahit tersaji di depan David.Akan tetapi, Reyvan yang sedang membetulkan pos
Reyvan menyandarkan punggungnya pada kursi rotan di area outdoor cafe Victoria Resort. Istrinya tidak ikut karena dia baru saja melakukan pekerjaanya, inspeksi Resort.Pria itu sedang duduk santai menikmati kopi dan croissant sambil menikmati pemandangan pantai."Ha ha ha ha ...." Reyvan terkekeh membayangkan muka David yang sedang menunduk memberi hormat untuk berterima kasih padanya karena sangking bahagianya.Di hadapannya, hamparan Pantai berkilau seperti permata cair yang tumpah di bawah sinar matahari pagi. Dia menyesap kopinya, sesekali menyobek croissant mentega yang masih hangat. Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. [Pak David sedang menuju ke sana, Pak.] Pesan dari bawahannya itu membuat seringai lebar muncul di wajah Reyvan."Sepertinya ada orang yang mau berterima kasih padaku. Dia pasti sangat tersentuh dengan persembahanku itu," gumam Reyvan pada dirinya sendiri.Dia kembali terkekeh, membayangkan David yang akan memujinya karena merasakan ajaibnya fasilitas khusus ya
Irish menelan ludahnya berkali dengan desiran ombak cinta dalam hatinya. Dadanya naik turun karena senang berbunga-bunga."Karena kamar ini akan jadi saksi manisnya cinta kita malam ini ...." David tersenyum cool dan dibalas dengan wajah sipu istrinya.Awalnya, David merutuki ide gila Reyvan yang benar-benar di luar nalar, tapi tak bisa membohongi diri kalau hatinya justru bersorak."Aku menyiapkan semua ini untuk wanita yang paling istimewa bagiku."Irish tersenyum sipu. "Benarkah?"David memegang tangan Irish dan mengusap punggung tangan itu lembut. "Kamu adalah satu-satunya alasan mengapa semua keindahan ini ada."Irish merasakan hatinya meleleh seketika, senyum sipu terus terukir manis di bibirnya yang kemerahan."Vid, aku--" Terpotong.David melingkarkan tangannya di pinggang Irish, menarik tubuh itu masuk ke dalam pelukan hangat yang posesif.Irish tersentak kaget dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat, dia menyembunyikan wajahnya di dada David sambil menahan senyum b
Di kamar Reyvan."Ha ha ha ha ha ha ha .... Kira-kira tanduk atau taringnya yang bakalan keluar?"Begitu Reyvan masuk kamar, dia langsung tertawa renyah. Sampai Amber mengerutkan dahinya. "Katakan apa yang kamu lakukan pada David dan Irish. Bukannya mau kasih mereka moment romantis sebagai ganti kejutan romantis dulu? Jangan buat mereka kecewa." Menaikkan sedikit dagunya dengan tatapan tajam, tapi tersenyum.Reyvan sontak merengkuh pinggang istrinya dan mengecup lembut kening Amber. "Siapa bilang yang aku siapkan bukan kejutan manis romantis. Cuma ... Cuma, ya begitulah. David selalu berpikir kalau romantis gayaku itu bencananya." Dia mengerling dengan senyum penuh arti. "Tapi---"Mata Amber membelakak, dia hendak membuka mulut ingin protes karena geregetan pada tingkah suaminya, tapi belum sampai suaranya keluar, Reyvan sudah membungkam dengan mulutnya."Emmppttt---" Seketika dadanya meleleh, tak jadi protes. Susunan kata yang sudah ada di kepala menguap sudah.Hanya kecupan manis
Victoria Resort.Gerbang utamanya terdiri dari pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter dengan ukiran sulur kayu ulin yang indah. Lantai lobinya dari granit hitam mengkilap memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang menjuntai dari langit-langit setinggi tiga lantai.Desain Resort mewah itu, perpaduan sempurna antara kemewahan Eropa dan kehangatan nusantara.Dua mobil sedan mewah berhenti di depan pintu utama. Disambut oleh para jajaran eksekutif Resort. Pintu dibuka para oleh penjaga Resort. "Selamat datang, Pak Reyvan dan semuanya ...." Langsung disambut serentak sembari mengangguk hormat.Tak ada simulasi, tapi gerakan kaki Reyvan dan David serentak. Kaki jenjang nan tegas mereka serentak menjulur keluar.Mereka itu turun dari mobil mewah. "Ehhem!" Reyvan dan David juga sama-sama merapikan kemejanya dengan gaya CEO cool, wajah datar dan tatapan tajam. Sebentar mereka saling lirik.Disusul dua ratu hati di hati raja mereka. Dan ... si bocah demit biang kekacauan."Ma,







