INICIAR SESIÓNCahaya temaram lampu gantung memantul pada meja putih yang dihiasi rangkaian bunga mawar merah segar.Denting piano sayup terdengar di latar belakang.Atmosfer yang seharusnya sempurna untuk merayakan satu tahun kebersamaan.Galaxy duduk tepat di hadapan Cintya. Di depannya ada sepotong steak premium sudah terpotong, tapi dia sama sekali tidak menyentuhnya. Pikirannya sudah terbang ribuan mil jauhnya.Sedang Cintya menatapnya dengan raut kecewa, tangannya terlipat di depan dada."Bagaimana, Laxy? Kamu pilih aku atau Lona? Aku tidak akan ragu membatalkan rencana pertunangan kita kalau malam ini kamu sampai pergi lagi hanya untuk mengurus dia," ucap Cintya menekan kata karena menahan amarah. Dadanya bergemuruh hebat. Wajahnya memerah.Galaxy menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak oleh dilema yang menghimpit. Hanya saja, dilema itu sembilan puluh persen pikirannya sudah dipenuhi oleh bayangan Willona di tengah reruntuhan."Laxy, dengarkan aku. Lona itu sudah dewasa. Dia dokter,
"Dok! Bagaimana ini?" Seorang perawat panik melihat banyaknya korban yang terluka.Sedang seorang wanita cantik berdiri tegak dalam balutan jas putih. Tingginya proporsional, setidaknya dia tidak mendongak jika mau melotot pada Galaxy.Wajahnya cuma sedikit cantik–KATA GALAXY, dengan nada rendah menekan. Namun, sebenarnya memuji Willona memiliki daya tarik yang unik. Matanya tajam dan jernih. Dia cerdas dan selalu bekerja dua langkah lebih cepat dari orang di sekitarnya. Rambutnya sering diikat rapi ke belakang saat bekerja, menonjolkan leher jenjangnya.Jika non formal, dia sering menggerai surai hitamnya, menampakkan keanggunan.Dia tidak membutuhkan riasan untuk tampak cantik. Karena adonan David dan Irish benar-benar berhasil mencetak wanita yang punya daya pikat luar biasa.Dulu, dia memang sengaja pakai kacamata cupu. Tapi sejak tahu Galaxy punya kekasih, dia melepas cupu style-nya.Entahlah, jangan ditanya kenapa? Kini, wanita berjas putih itu memakai maskernya. "Kassa steri
"Lona, dengar Papa. Jangan terlalu sering menempel pada Kak Laxy. Dia itu pengaruh buruk, kamu harus jaga jarak!" Sebenarnya hanya gertakan agar putrinya tidak terlalu didominasi oleh Galaxy. Akan tetapi, Willona justru menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Papa mau aku dan Kak Laxy pisah? Apa salah dia? Dia selalu datang tepat waktu untuk menjagaku. Dia juga, .... yang tanpa ngomong sudah tahu apa yang aku mau. Tahu apa yang aku butuhkan." Sore harinya. Galaxy yang baru berusia empat belas tahun, tapi memiliki tinggi badan yang cukup menjulang, datang dengan wajah merah padam. Laxy berdiri di hadapan David, menyembunyikan Willona di balik punggungnya. "Om, aku nggak suka kalau Lona menangis." Galaxy menatap tajam siap bertempur. David mengerutkan keningnya. "Hey, Bocah. Kamu datang mau jadi sok tahu?" "Jangan berani-berani membentak atau memarahi Lona lagi, Om. Kalau Om nggak bisa jaga perasaan Lona, katakan saja. Aku yang akan membawanya ke rumahku dan merawatnya jauh
"Jangan dekat-dekat seperti itu, Bocah?! Akhh. Anakku alergi demit!" pekik David. Dia merasa jerit batinnya selama ini tidak menembus langit. Keinginannya mengusir Galaxy belum berhasil. Malah selalu saja ada sebab yang membuat anaknya dan bocah demit itu lengket.Galaxy berdiri dengan wajah cemberut. "Kalau jauh, gimana aku lihatnya? Om ini nggak paham teori. Memangnya melihat bayi dalam box bisa dalam jarak lima meter?""Itu box kaca transparan, Bocah. Cukup kamu lihat dari jauh saja. Dah sana yang jauh. Lagi pula, bayinya Om nggak boleh terkontaminasi kenakalanmu." David mendelik."Aku bodyguard-nya, harus dekat. Lagian adikku ini bukan pajangan. Kenapa harus dilihat dari jauh?""Kamu tetap dilarang mendekat lebih dari radius dua meter." David menggerakkan tangannya membuat garis pembatas.Galaxy tidak bergeming. Dia justru melipat tangan di depan dada dengan gaya menantang."Om David jangan egois. Kalau waktu itu aku tidak mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Tante Irish yang
"Sayang, bangun, Sayang ...." Bibirnya gemetar menatap wajah istrinya. "Bangun kumohon ....."Rasa sesal menjalar dan mencengkram dadanya kuat-kuat hingga rasanya seperti ditusuk ribuan duri. Dia sangat menyesal memilih pergi meninggalkan istrinya. Meski. Ya, meski dia langsung kembali dan membatalkan pertemuan langsungnya pada profesor itu. Dia tetap sangat menyesal.David sudah sempat pergi ke luar kota dengan helikopter, dan menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Dan begitu tiba di helipad sebuah hotel, dia langsung meminta untuk kembali ke kotanya.Begitu kembali, teleponnya berdering dan ternyata Irish memanggil. Ketika diangkat, David hanya mendengar rintihan istrinya. Saat itu, rasanya begitu ngilu hingga pria itu melajukan mobilnya begitu cepat. Dan untungnya belum terlambat.Suasana di dalam mobil menuju rumah sakit sangat mencekam."Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Anak kita juga akan baik-baik saja." David terus mengecup pucuk kening istrinya. Ada tetesan air mata yang lepas
Jadwal David nanti di sebuah aula seminar kedokteran. Dia akan bertemu dengan profesor itu, untuk diskusi proyek.Kini seorang pria tampan baru saja menapakkan kakinya di sekitar ball room itu. "Apa Profesor Franky sudah tiba?" tanya pria tampan itu sambil menatap arloji seharga sepuluh bulan gajinya itu."Menurut informasi, baru saja tiba dan beliau duduk di meja VVIP barisan depan. Sebelah meja kita."Pria itu mengangguk kecil dan melangkah tegap sambil membenarkan jasnya.Kakinya mengikis jarak pada pintu ball room. Pria itu tersenyum lebar karena hadir bukan sebagai dirinya sendiri."Keren ... Luar biasa .... Ketampanan memang by modal. Jas mahal tak bisa bohong," katanya pada diri sendiri.**"Tenang, Sayang. Papa akan cepat kembali. Dia nggak akan betah berlama-lama jauh dari kita." Irish mengusap lembut perutnya.Setelah seharian merasa jiwanya kosong karena ditinggal suaminya. Setelah seharian hidup tanpa separuh jiwanya, akhirnya Irish masuk kamar."Sayang, ternyata tanpa pa







