Share

Menjadi orang asing

Penulis: WinterBliss
last update Tanggal publikasi: 2026-03-09 23:31:24

Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama.

​"Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah Keira sambil menyambar tas ranselnya. Ia sudah memakai pakaian mahasiswi yang biasa; kaus polo dan celana cargo, sangat kontras dengan Arkana yang sudah rapi dengan kemeja slim-fit abu-abunya.

​"Saya punya jadwal sendiri, Keira. Silakan jalan duluan. Dan satu hal... tugas yang saya berikan minggu lalu, pastikan kamu mengerjakannya dengan benar. Saya tidak akan memberikan nilai tambahan hanya karena kita tinggal satu rumah," sahut Arkana tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja makan.

​Keira mendengus. "Nggak butuh! Saya bisa dapet nilai bagus karena otak saya, bukan karena status ini!"

​Setibanya di kampus, Keira mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tantangan terberatnya muncul saat kelas dimulai. Arkana masuk ke ruangan dengan aura dingin yang sama, seolah-olah semalam mereka tidak berbagi ruang yang sama.

​"Selamat pagi. Hari ini kita akan membahas tentang teori perilaku konsumen. Sebelum saya mulai, Saudari Keira Olivia, silakan kumpulkan tugas Anda di depan," ucap Arkana dengan nada datar yang sangat formal.

​Keira berdiri, berjalan menuju depan kelas dengan hati yang bergejolak. Saat ia meletakkan map tugasnya di meja Arkana, tangan pria itu tidak sengaja menyentuh ujung jarinya. Keira tersentak kecil, namun Arkana tetap tenang, matanya menatap Keira melalui kacamata seolah sedang menantangnya untuk tetap tenang.

​"Terima kasih. Silakan duduk," ucap Arkana singkat.

​Selama kuliah berlangsung, Keira merasa sulit untuk fokus. Teman sebangkunya, Siska, menyikut lengannya. "Kei, lo perhatiin nggak sih? Pak Arkana hari ini makin ganteng ya? Tapi kok auranya makin serem. Tadi gue liat dia pake cincin di jari manisnya. Gila, dosen killer kita udah nikah, ya? Kira-kira istrinya kayak gimana ya? Pasti yang kaku dan pinter juga kayak dia."

​Keira tersedak ludahnya sendiri. "Hah? Mana gue tahu! Mungkin istrinya... menderita," jawab Keira asal-asalan sambil memalingkan wajah ke arah jendela.

​"Eh, tapi beneran deh, denger-denger dia nikah diem-diem minggu kemarin. Kabarnya dari anak administrasi. Sayang banget ya, idola kampus tapi udah ada yang punya," lanjut Siska tanpa henti.

​Keira merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia melirik ke depan, dan saat itu juga ia mendapati Arkana sedang menatap ke arahnya dan Siska.

​"Saudari Siska dan Keira, jika ada hal yang lebih menarik untuk dibicarakan daripada materi saya, silakan keluar. Jika tidak mau, tolong hargai saya yang sedang berdiri di depan," suara Arkana menggema di aula kelas yang sunyi.

​Wajah Keira memerah padam. Sialan! Dia bener-bener nggak kasih ampun! batinnya kesal. Ia menunduk dalam-dalam, berpura-pura mencatat meski tangannya hanya mencorat-coret kertas dengan kasar.

​Sore harinya, Keira pulang dengan perasaan sangat lelah secara mental. Ia mengira bisa bersantai, namun saat masuk ke rumah, ia mendapati Arkana sedang duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Di sampingnya, ada dua piring makanan yang masih tertutup.

​"Ganti baju, lalu makan. Mama mengirimkan makanan tadi siang," ucap Arkana tanpa menoleh.

​Keira melempar tasnya ke sofa. "Bapak sengaja ya tadi di kelas? Kenapa harus saya yang ditegur padahal Siska yang ngajak ngobrol?"

​Arkana menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Keira dengan serius. "Kamu adalah tanggung jawab saya sekarang, Keira. Di kelas, kamu adalah mahasiswi saya. Jika kamu tidak disiplin, itu mencerminkan kegagalan saya dalam mendidik mahasiswi saya—sekaligus kegagalan saya sebagai suamimu."

​"Nggak usah bawa-bawa peran suami di sini! Bapak bilang mau profesional!"

​"Saya bersikap profesional. Mahasiswi yang mengobrol di kelas saya akan ditegur. Kebetulan mahasiswi itu adalah istri saya, jadi saya punya alasan ganda untuk memastikan kamu tetap di jalur yang benar," jawab Arkana dengan logika kaku yang selalu membuat Keira kalah argumen.

​Keira menghentakkan kakinya ke lantai, sifat bar-barnya mulai kumat. "Tahu nggak, Pak? Hidup sama Bapak itu kayak hidup sama robot. Capek!"

​Keira langsung berlari menuju kamarnya (mereka sepakat untuk memiliki kamar terpisah di awal pernikahan ini atas permintaan Keira). Namun, baru saja ia ingin menutup pintu, tangan Arkana menahan pintu tersebut dengan kuat.

​"Ada satu aturan lagi yang belum kita bahas, Keira," ucap Arkana, suaranya kini lebih rendah dan terdengar lebih intim, membuat Keira menahan napas.

​"A-apa lagi?"

​"Jangan pernah membanting pintu di rumah saya. Dan satu lagi... di rumah ini, panggil saya dengan nama, atau setidaknya jangan panggil 'Bapak'. Saya bukan dosenmu saat kita hanya berdua."

​Keira menelan ludah, melihat jarak mereka yang begitu dekat. "Terus... saya harus panggil apa? 'Om'? 'Kak'?"

​Arkana menatapnya dengan tajam selama beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang. "Panggil saya Arkana. Itu sudah cukup."

​"Oke, Arkana. Sekarang lepasin pintunya, saya mau mandi!" Keira mendorong dada pria itu dengan tenaga sisa yang ia punya, lalu berhasil menutup pintu dengan keras.

​Di balik pintu, Keira menyandarkan punggungnya, jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Sial, kenapa dia harus wangi banget sih pas lagi marah? batinnya merutuki diri sendiri.

​Sementara itu, di luar kamar, Arkana berdiri diam menatap pintu yang tertutup. Ia mengembuskan napas panjang yang jarang ia lakukan di depan orang lain. Gadis itu benar-benar menguji kesabarannya—sekaligus memberikan warna yang sangat berisik dalam hidupnya yang selama ini sunyi senyap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Misi rahasia

    ​"Bisa pelan-pelan dikit napasnya, Kei? Lo ini habis dikejar rentenir atau habis lari maraton dari Jakarta ke Bandung?" Siska menatap sahabatnya dengan dahi berkerut, tangannya masih memegang botol air mineral yang baru saja akan ia teguk.​Keira tidak menjawab. Ia hanya terus menggerutu, sebuah gumaman tidak jelas yang terdengar seperti mantra kutukan. Rambutnya yang tadinya tersisir rapi kini sedikit berantakan karena ia berlari sekencang mungkin dari basemen khusus dosen menuju lantai empat gedung Fakultas Ekonomi. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat, bukan hanya karena aktivitas fisik, tetapi karena rasa takut yang hampir membuatnya pingsan: takut jika ada mata yang melihatnya keluar dari sedan mewah milik Arkana Adhitama.​"Arkana gila... bener-bener kanebo kering nggak punya otak... seenaknya aja nurunin gue di basemen dosen. Kalau ada dekan yang lewat gimana? Kalau ada Valery yang sedang cari muka bagaimana? Bisa habis riwayatku," batin Keira sambil menghentakkan pungg

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Debaran

    ​"Ini huruf 'u'. Dia sedang membahas teori utilitas," ucap Arkana pelan, suaranya yang berat terasa bergetar di dekat telinga Keira.​"Oh... o-oke. Utilitas," jawab Keira gugup. Ia segera kembali menatap layar laptopnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.​Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan kaku seperti di kelas. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding dan ketikan pelan.​"Keira," panggil Arkana tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di depannya.​"Ya?"​"Terima kasih untuk yang di kampus tadi. Soal Valery." ucap Arkana terdengar tulus.​Keira tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka pria seangkuh Arkana akan mengungkit kejadian itu lagi. "Oh, itu... ya saya cuma nggak suka liat orang nggak sopan di ruang dosen. Apalagi dia centil banget, ganggu konsentrasi kerja saya aja." katanya sedikit memberenggut.​"Hanya karena itu?" Arkana menoleh, menatap Keira dengan tatapan intens yang

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Begadang

    Keira tetap menatap layar laptop. "Ya... kan Mama sering kirim makanan. Sayang kalau nggak dimakan cuma gara-gara Bapak mau makan siang sama mahasiswi centil itu." ​Arkana berdiri, berjalan mendekat ke meja Keira. Ia meletakkan tangannya di tepi meja, mengurung Keira dalam ruang geraknya yang terbatas. "Kamu terlihat sangat bersemangat saat mengusirnya tadi. Apa itu bagian dari tugas asisten, atau ada alasan lain?" ​Keira mendongak, mendapati wajah Arkana yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Itu... itu biar Bapak nggak keganggu! Saya kan asisten yang berdedikasi!" ​"Begitu?" Arkana menatap mata Keira dengan dalam, seolah sedang mencari kejujuran di sana. "Kalau begitu, sebagai asisten yang berdedikasi, hari ini kita pulang telat. Ada banyak berkas yang harus diselesaikan di rumah." ​"Di rumah lagi? Bapak nggak capek liat muka saya terus?" ​Arkana menjauhkan tubuhnya, kembali ke sikap dinginnya yang biasa, namun sebelum ia berbalik, ia menggumamkan sesuatu yang membu

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Asisten Dosen

    Berita itu menyebar seperti api di area fakultas. Nama-nama asisten dosen untuk semester ini telah dipajang di papan pengumuman digital, dan nama Keira Olivia berada tepat di samping mata kuliah Manajemen Strategis yang diampu oleh Arkana Adhitama.​Bagi mahasiswa lain, itu adalah pencapaian luar biasa—atau mungkin sebuah kutukan karena harus bekerja di bawah pengawasan dosen paling perfeksionis se-universitas. Namun bagi Keira, itu adalah deklarasi perang.​"Pak—maksud saya, Arkana! Ini apa-apaan?!" Keira masuk ke ruang kerja pribadi Arkana di rumah dengan langkah menghentak. Ia baru saja pulang dan langsung meluapkan kekesalannya. "Kenapa nama saya ada di daftar asisten Bapak? Bapak tahu kan saya ini mahasiswi tingkat dua? Masih banyak kakak tingkat yang lebih kompeten!"​Arkana, yang sedang memeriksa beberapa jurnal penelitian, hanya menaikkan pandangannya sedikit. Ia melepas kacamata bacanya, menunjukkan tatapan tajam yang selalu berhasil membuat Keira merasa sedang disidang.​"Du

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Menjadi orang asing

    Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. ​"Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah Keira sambil menyambar tas ranselnya. Ia sudah memakai pakaian mahasiswi yang biasa; kaus polo dan celana cargo, sangat kontras dengan Arkana yang sudah rapi dengan kemeja slim-fit abu-abunya. ​"Saya punya jadwal sendiri, Keira. Silakan jalan duluan. Dan satu hal... tugas yang saya berikan minggu lalu, pastikan kamu mengerjakannya dengan benar. Saya tidak akan memberikan nilai tambahan hanya karena kita tinggal satu rumah," sahut Arkana tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja makan. ​Keira mendengus. "Nggak butuh! Saya bisa dapet nilai bagus karena otak saya, bukan karena status ini!" ​Setibanya di kampus, Keira mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tantangan terber

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Diam-diam Menikah

    Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada.​Untuk pertama kalinya, Keira melihat Arkana tanpa kacamata. Pria itu tampak sangat berbeda—lebih muda, namun tetap dengan ekspresi yang begitu terkendali. Mata mereka bertemu di pantulan cermin.​"Apa Bapak puas?" tanya Keira dengan suara lirih yang terselip rasa sedih. "Melihat saya terpaksa seperti ini?"​Arkana berbalik, menatap Keira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan aneh di matanya yang hanya muncul selama satu detik sebelum kembali menghilang di balik ketenangan palsunya. "Kamu terlihat cantik, Keira. Kebaya itu cocok untuk Kamu."​Keira mendengus sinis. "Saya tidak butuh pujian. Saya butuh kebebasan."​Arkana berjalan mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status