Share

Diam-diam Menikah

Author: WinterBliss
last update publish date: 2026-03-09 23:19:42

Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada.

​Untuk pertama kalinya, Keira melihat Arkana tanpa kacamata. Pria itu tampak sangat berbeda—lebih muda, namun tetap dengan ekspresi yang begitu terkendali. Mata mereka bertemu di pantulan cermin.

​"Apa Bapak puas?" tanya Keira dengan suara lirih yang terselip rasa sedih. "Melihat saya terpaksa seperti ini?"

​Arkana berbalik, menatap Keira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan aneh di matanya yang hanya muncul selama satu detik sebelum kembali menghilang di balik ketenangan palsunya. "Kamu terlihat cantik, Keira. Kebaya itu cocok untuk Kamu."

​Keira mendengus sinis. "Saya tidak butuh pujian. Saya butuh kebebasan."

​Arkana berjalan mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah. Keira bisa mencium aroma parfum kayu yang maskulin dan sangat menenangkan—ironis dengan perasaannya yang kacau.

​"Kebebasan adalah persepsi, Keira," bisik Arkana agar tidak terdengar oleh para desainer di sekitar mereka. "Kamu tetap bisa menjadi dirimu sendiri, tapi dalam koridor yang berbeda. Saya tidak akan melarang kamu kuliah, saya tidak akan melarang kamu berteman. Saya hanya meminta kamu menjalankan peranmu dengan hormat di depan keluarga kita."

​"Bagaimana dengan di belakang mereka? Apa kita hanya akan menjadi dua orang asing yang tinggal satu atap?" tantang Keira.

​Arkana menatapnya dalam-dalam. "Itu tergantung bagaimana kita menjalaninya. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, saya tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan sesuatu. Jika saya sudah berkomitmen untuk menikah, maka saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin. Termasuk menjaga kamu."

​Kata-kata "menjaga kamu" yang keluar dari mulut Arkana entah mengapa membuat jantung Keira berdegup tidak keruan. Bukan karena cinta, ia yakin itu. Mungkin karena ia terkejut bahwa pria sebeku Arkana bisa mengucapkan kalimat seperti itu.

​"Jangan berpikir kalau dengan kata-kata manis itu saya akan luluh," gumam Keira sambil memalingkan muka, meski pipinya mulai terasa hangat.

​"Saya tidak sedang merayu. Saya sedang menyatakan fakta," jawab Arkana datar seraya kembali memakai kacamatanya. "Satu minggu lagi, Keira. Belajarlah untuk menerima bahwa saya adalah masa depanmu, suka atau tidak."

***

​Pernikahan itu akhirnya benar-benar dilaksanakan, namun jauh dari kemegahan pesta yang biasanya digelar oleh keluarga Aditya. Itu adalah syarat mutlak yang diajukan Keira sebelum ia melangkah menuju meja akad. Ia tidak ingin ada satu pun teman kampusnya tahu, ia tidak ingin menjadi pusat gosip sebagai "Mahasiswi yang menikahi Dosennya". Baginya, status ini adalah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat.

​Acara diadakan secara tertutup di kediaman keluarga Arkana yang asri, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat terdekat yang sudah disumpah untuk menjaga rahasia. Keira tersenyum dengan sopan kepada setiap tamu, menjalankan perannya sebagai putri dan menantu yang baik. Ia mencium tangan Arkana setelah ijab kabul diucapkan dengan satu napas yang tenang dan tegas. Meski di dalam hati, Keira merasa ingin berteriak karena merasa masa mudanya baru saja dikunci dalam kotak kaca.

​Malam itu, setelah seluruh acara selesai, Keira berdiri di tengah kamar pengantin yang luas di rumah baru mereka—sebuah rumah minimalis modern yang sangat mencerminkan kepribadian Arkana: bersih, rapi, dan sepi.

​Pintu terbuka, dan Arkana masuk. Ia melepas jasnya dan melonggarkan dasinya, terlihat sangat lelah namun tetap tegap. Ia menatap Keira yang masih lengkap dengan riasan pengantinnya.

​"Sesuai keinginanmu, Keira. Tidak ada pesta besar, tidak ada publikasi," ucap Arkana sambil berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan buku, bahkan di malam pertama mereka.

​Keira duduk di pinggir tempat tidur, menatap punggung suaminya yang kaku. "Terima kasih sudah menepati janji itu. Di kampus, Bapak adalah dosen saya, dan saya adalah mahasiswi Bapak. Tidak lebih. Jangan harap saya akan menyapa Bapak di koridor, apalagi membawakan tas Bapak."

​Arkana berhenti sejenak, lalu menoleh tanpa ekspresi. "Saya justru lebih senang jika kita bersikap profesional. Saya juga tidak ingin kehidupan akademik saya terganggu karena urusan domestik ini. Tapi ingat, di rumah ini, kamu adalah tanggung jawab saya."

​Keira menantang tatapan itu. "Tanggung jawab? Selama Bapak tidak mengatur hidup saya, kita akan baik-baik saja."

​Arkana menarik sudut bibirnya—sebuah senyum tipis yang sangat langka, namun terlihat sangat berbahaya sekaligus menawan. "Kita lihat saja nanti, Keira Olivia Adhitama."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Misi rahasia

    ​"Bisa pelan-pelan dikit napasnya, Kei? Lo ini habis dikejar rentenir atau habis lari maraton dari Jakarta ke Bandung?" Siska menatap sahabatnya dengan dahi berkerut, tangannya masih memegang botol air mineral yang baru saja akan ia teguk.​Keira tidak menjawab. Ia hanya terus menggerutu, sebuah gumaman tidak jelas yang terdengar seperti mantra kutukan. Rambutnya yang tadinya tersisir rapi kini sedikit berantakan karena ia berlari sekencang mungkin dari basemen khusus dosen menuju lantai empat gedung Fakultas Ekonomi. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat, bukan hanya karena aktivitas fisik, tetapi karena rasa takut yang hampir membuatnya pingsan: takut jika ada mata yang melihatnya keluar dari sedan mewah milik Arkana Adhitama.​"Arkana gila... bener-bener kanebo kering nggak punya otak... seenaknya aja nurunin gue di basemen dosen. Kalau ada dekan yang lewat gimana? Kalau ada Valery yang sedang cari muka bagaimana? Bisa habis riwayatku," batin Keira sambil menghentakkan pungg

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Debaran

    ​"Ini huruf 'u'. Dia sedang membahas teori utilitas," ucap Arkana pelan, suaranya yang berat terasa bergetar di dekat telinga Keira.​"Oh... o-oke. Utilitas," jawab Keira gugup. Ia segera kembali menatap layar laptopnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.​Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan kaku seperti di kelas. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding dan ketikan pelan.​"Keira," panggil Arkana tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di depannya.​"Ya?"​"Terima kasih untuk yang di kampus tadi. Soal Valery." ucap Arkana terdengar tulus.​Keira tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka pria seangkuh Arkana akan mengungkit kejadian itu lagi. "Oh, itu... ya saya cuma nggak suka liat orang nggak sopan di ruang dosen. Apalagi dia centil banget, ganggu konsentrasi kerja saya aja." katanya sedikit memberenggut.​"Hanya karena itu?" Arkana menoleh, menatap Keira dengan tatapan intens yang

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Begadang

    Keira tetap menatap layar laptop. "Ya... kan Mama sering kirim makanan. Sayang kalau nggak dimakan cuma gara-gara Bapak mau makan siang sama mahasiswi centil itu." ​Arkana berdiri, berjalan mendekat ke meja Keira. Ia meletakkan tangannya di tepi meja, mengurung Keira dalam ruang geraknya yang terbatas. "Kamu terlihat sangat bersemangat saat mengusirnya tadi. Apa itu bagian dari tugas asisten, atau ada alasan lain?" ​Keira mendongak, mendapati wajah Arkana yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Itu... itu biar Bapak nggak keganggu! Saya kan asisten yang berdedikasi!" ​"Begitu?" Arkana menatap mata Keira dengan dalam, seolah sedang mencari kejujuran di sana. "Kalau begitu, sebagai asisten yang berdedikasi, hari ini kita pulang telat. Ada banyak berkas yang harus diselesaikan di rumah." ​"Di rumah lagi? Bapak nggak capek liat muka saya terus?" ​Arkana menjauhkan tubuhnya, kembali ke sikap dinginnya yang biasa, namun sebelum ia berbalik, ia menggumamkan sesuatu yang membu

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Asisten Dosen

    Berita itu menyebar seperti api di area fakultas. Nama-nama asisten dosen untuk semester ini telah dipajang di papan pengumuman digital, dan nama Keira Olivia berada tepat di samping mata kuliah Manajemen Strategis yang diampu oleh Arkana Adhitama.​Bagi mahasiswa lain, itu adalah pencapaian luar biasa—atau mungkin sebuah kutukan karena harus bekerja di bawah pengawasan dosen paling perfeksionis se-universitas. Namun bagi Keira, itu adalah deklarasi perang.​"Pak—maksud saya, Arkana! Ini apa-apaan?!" Keira masuk ke ruang kerja pribadi Arkana di rumah dengan langkah menghentak. Ia baru saja pulang dan langsung meluapkan kekesalannya. "Kenapa nama saya ada di daftar asisten Bapak? Bapak tahu kan saya ini mahasiswi tingkat dua? Masih banyak kakak tingkat yang lebih kompeten!"​Arkana, yang sedang memeriksa beberapa jurnal penelitian, hanya menaikkan pandangannya sedikit. Ia melepas kacamata bacanya, menunjukkan tatapan tajam yang selalu berhasil membuat Keira merasa sedang disidang.​"Du

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Menjadi orang asing

    Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. ​"Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah Keira sambil menyambar tas ranselnya. Ia sudah memakai pakaian mahasiswi yang biasa; kaus polo dan celana cargo, sangat kontras dengan Arkana yang sudah rapi dengan kemeja slim-fit abu-abunya. ​"Saya punya jadwal sendiri, Keira. Silakan jalan duluan. Dan satu hal... tugas yang saya berikan minggu lalu, pastikan kamu mengerjakannya dengan benar. Saya tidak akan memberikan nilai tambahan hanya karena kita tinggal satu rumah," sahut Arkana tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja makan. ​Keira mendengus. "Nggak butuh! Saya bisa dapet nilai bagus karena otak saya, bukan karena status ini!" ​Setibanya di kampus, Keira mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tantangan terber

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Diam-diam Menikah

    Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada.​Untuk pertama kalinya, Keira melihat Arkana tanpa kacamata. Pria itu tampak sangat berbeda—lebih muda, namun tetap dengan ekspresi yang begitu terkendali. Mata mereka bertemu di pantulan cermin.​"Apa Bapak puas?" tanya Keira dengan suara lirih yang terselip rasa sedih. "Melihat saya terpaksa seperti ini?"​Arkana berbalik, menatap Keira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan aneh di matanya yang hanya muncul selama satu detik sebelum kembali menghilang di balik ketenangan palsunya. "Kamu terlihat cantik, Keira. Kebaya itu cocok untuk Kamu."​Keira mendengus sinis. "Saya tidak butuh pujian. Saya butuh kebebasan."​Arkana berjalan mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status