LOGIN“Apa yang bisa diharapkan dari perawan tua sepertimu? Mendapatkan pria kaya raya dan hidup enak layaknya kisah Cinderella?” Kevin tertawa lepas saat mendengar penjelasan dari, Marissa.
Gadis itu mundur satu jengkal ketika Kevin berusaha merangsek di hadapannya. Dengan perlahan Marissa menurunkan jari telunjuk, Kevin.
“Apa kamu takut, Kevin?” sindir Marissa dengan senyuman mengejek.
Kevin salah tingkah, bola matanya bergerak tak tentu arah. “T-Tidak! S-Siapa yang takut? A-Aku, takut padamu? Jangan konyol, Marissa!”
Kevin mengelak, saat tuduhan Marissa tepat pada sasaran. Pria itu tertawa kecil untuk menutupi perasaan was-was yang tiba-tiba saja menyergapnya.
“Ayolah, Marissa! Jangan buang-buang waktu dengan percuma! Bukankah aku telah memberikan pilihan terbaik untukmu?” kata Kevin yang mencoba untuk mengalihkan percakapan yang menurutnya tidak berarti.
“Pilihan terbaik? Pilihan terbaik apa?!” dahi Marissa berkerut tanda tidak mengerti.
“Aku akan menjamin hidupmu jika kamu menjadi istriku. Perusahaan konstruksi yang kini sedang kamu jalankan, aku tidak akan mengusiknya. Terserah! Mau kamu apakan aku tidak akan ikut campur. Begitu pula dengan kesejahteraan keluargamu, aku akan tanggung semua itu. Bagaimana? Apa ada yang kurang? Apa yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya. Kurang baik apa aku padamu, hah?”
Kevin merentangkan kedua tangannya. Ia merasa jadi super hero, hingga apa yang dijanjikan Kevin saat ini membuat Marissa ingin muntah di hadapan mereka.
“Ck, dasar! Mana mungkin aku percaya dengan semua bualan itu? Sudah cukup aku menjadi gadis bodoh di mata kalian,” mulut Marissa mencebik ketika mendengar penjelasan dari, Kevin. Gadis yang mengenakan setelan overall berbahan jeans tersebut sudah tidak percaya dengan semua kalimat yang diucapkan oleh pria itu.
“Kenapa? Apa kamu meragukan semua ucapanku, Marissa? Aku tidak akan mangkir dari semua rencana kita dulu. Kamu tahu jika aku adalah ….”
“Ya! Hanya perempuan gila yang masih sudi menerima kehadiranmu setelah melihat dengan mata kepala sendiri jika kalian ….” Marissa menelan salivanya, ia menghentikan kalimatnya sejenak.
“Sudahlah! Aku akan mendapatkan penggantimu secepatnya. Kamu harus bersiap untuk mundur. Atau ….” Marissa menggantung kalimatnya setelah menyela ucapan, Kevin.
“Atau apa ….?” tanya Kevin yang nyatanya memang takut kehilangan, Marissa.
“Kamu bisa menikah dengan, Joanna. Seharusnya dia yang kamu nikahi, bukan aku. Toh kalian sudah main enak-enakan, kan?”
“Kau ….!” Joanna menunjuk Marissa dengan tatapan yang sengit.
“Santai, Jo! Jangan jadi gadis pemarah!” sahut Marissa tanpa memberinya jeda.
“Tahukah kamu, Joanna? Saat pertama kali kakimu menginjak di lantai rumah kami. Sore itu, paman Mike memohon padaku untuk menerimamu sebagai adikku. Aku sangat senang ketika mendengar jika kamu akan menjadi saudaraku. Aku memelukmu setelah hampir saja bersujud di kaki paman.” Pandangan Marissa menunduk dengan tatapan yang kosong. Ia meremas ujung dress overall yang dikenakan untuk menahan perasaannya yang sedang kacau.
Perubahan ekspresi Marissa membuat Joanna sedikit salah tingkah. Ia mengalihkan perhatiannya ke tempat lain dengan raut yang datar. Mungkin saat ini dalam hati Joanna sedang mengumpat, karena hampir saja membuat semua orang di dalam ruangan tersentuh dengan kalimat yang diucapkan oleh, Marissa.
“Kalian, bukankah seharusnya membelaku? Kenapa kalian seolah membenarkan perbuatan, Joanna? Apalagi kalian berhutang cukup besar tanpa sepengetahuanku. Tahukah kalian, Ma ….” Marissa mengangkat wajahnya dan menatap nyonya Sawyer dengan bola mata yang sendu.
“Mati-matian aku mempertahankan perusahaan konstruksi itu. Jatuh bangun aku membangkitkan kembali saham dan investor yang hampir saja gulung tikar. Meski aku tahu kalian tidak peduli seperti apa jatuh bangunnya perjuanganku waktu itu, tapi aku tetap berusaha. Dan setelah semuanya kembali terkendali, kalian mengejutkanku dengan kejadian seperti ini? Ya! Aku benar-benar terkejut dengan lelucon kalian.” Marissa terkekeh dengan bola mata yang berkaca-kaca. Ia melihat kedua orang tuanya, Joanna dan Kevin secara bergantian.
“Kevin memilihmu, tidak ada yang bisa merubah keputusan itu.” Tuan Sawyer menjawab singkat agar tidak memperpanjang perdebatan.
“Aku bukan barang. Aku punya hak untuk menentukan jalan hidupku sendiri,” bela Marissa pada dirinya sendiri.
“Bukankah aku telah memudahkan hubungan kalian?” lanjut Marissa sambil melihat ke arah, Joanna.
“Marissa ….!” kali ini Kevin yang berteriak, membuat Marissa harus memalingkan wajahnya. Ia merasa lengkingan suara Kevin kali ini memekakkan telinga, hingga membuat gema di dalam ruangan.
“Jangan berteriak seperti itu! Hobi banget sih marah-marah nggak jelas. Telingaku tidak tuli lho,” Marissa tersenyum tipis, ia melirik sinis pada dua orang yang telah mengkhianatinya.
***
"Aku bersedia," Marissa terkesiap ketika sebaris kata terdengar begitu nyaring di telinganya. Kalimat pendek tersebut mampu membuyarkan lamunannya tentang sengketa kecil yang terjadi di tengah-tengah keluarganya siang tadi.
Kalimat yang terucap dari Deniz begitu fasih. Kini keduanya berhadapan di atas mimbar untuk mengucapkan janji suci, hingga Marissa terpaku saat Deniz meraih salah satu tangannya. Gadis itu membiarkan Deniz memasukkan cincin bertahta permata di jari manis lentiknya.
‘Bagaimana mungkin dia sudah mempersiapkan semua ini?’ (batin Marissa bertanya-tanya saat Deniz telah menyematkan cincin itu).
Hingga tanpa Marissa sadari, pria tersebut sudah mengecup keningnya dengan penuh rasa. Ia sedikit terkejut, buru-buru Marissa menormalkan kembali perasaan gugupnya.
“Kalian sudah sah menjadi suami istri,” suara itu membuat jantung Marissa seakan berhenti berdetak.
Ketika Marissa mengangkat wajahnya, ia disuguhkan dengan senyuman Deniz yang mengembang sempurna. Entah apa yang membuat Deniz terlihat begitu bahagia? Apakah pria itu tengah menertawakan Marissa yang terlihat linglung di hadapannya?
“Bolehkan saya membawa istri saya pulang?” Deniz menoleh pada lelaki yang berdiri di depan mereka.
“Silahkan! Gadis manis ini sudah sah menjadi milik Anda,” jawab lelaki berambut putih itu dengan senyuman yang tak kalah senangnya.
“Terima kasih banyak atas bantuannya.” Dengan sopannya Deniz menjabat erat tangan lelaki tersebut.
“Tuhan memberkati kalian berdua,” lelaki paruh baya yang berperan sebagai pendeta tersebut, mendoakan pasangan pengantin baru itu agar pernikahan mereka tetap langgeng.
Deniz kembali meraih tangan, Marissa. Gadis itu terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja dialaminya. Tapi bukankah ini yang diinginkan oleh Marissa agar bisa pergi dari kehidupan Kevin dan keluarganya.
“Apa kamu menyesal sekarang, Nona Marissa?” tanya Deniz saat keduanya berjalan menuju pelataran gereja.
“Jangan memintaku untuk membelikan gaun pengantin atau buket bunga yang cantik untukmu! Aku tidak tahu ukuran tubuhmu, kecuali ….” Deniz berhenti tepat di depan pintu mobil.
Marissa menoleh dengan tatapan enggan ke arahnya. Gadis itu masih tidak percaya jika dirinya sudah menikah dengan teman lamanya—Deniz Ansel Ghazy.
“Kecuali aku bisa menyentuh pinggangmu dengan kedua tanganku ini,” kedua tangan Deniz sudah berada di depan mata Marissa dengan posisi hendak memeluk.
“Sialan! Dasar pria mesum,”
“Aduh! Hei, Marissa ….!”
Tanpa Deniz sangka, gadis itu telah mengarahkan tendangannya tepat di bagian sensitif. Sontak saja, Deniz memegang bagian yang sakit dengan raut wajah meringis menahan sesuatu.
Siang Hari, Apartemen JoannaJoanna yang sedang merayakan kemenangan kecilnya, terkejut ketika pintu apartemennya digedor. Dia ditangkap tak lama setelah Kevin, sebagai istri yang tidak pernah diakui sekaligus kaki tangan utama dalam manipulasi data.Dalam beberapa jam, nama Kevin dan Joanna menjadi berita utama di seluruh dunia, bukan sebagai pengusaha sukses, tetapi sebagai penjahat kelas dunia. Bursa Efek menangguhkan perdagangan saham VantaCorp, dan penyelidikan pun resmi dimulai.Dua Bulan Kemudian, Pagi Hari yang CerahMarissa duduk di balkon apartemen mereka, menghirup udara segar. Di sampingnya, berita pagi di tablet menampilkan headline terakhir:Keputusan Akhir: Kevin dan Joanna Dinyatakan Bersalah atas Tuduhan Federal, Dijatuhi Hukuman Penjara Berat.Kevin dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena penipuan sekuritas dan manipulasi data yang mengakibatkan kerugian investor bernilai miliaran. Joanna, sebagai kaki tangan utama dalam manipulasi data internal, merebut peru
Pukul 11:00 Pagi, Markas Genovua TechDeniz memarkir mobilnya dengan kasar dan langsung menuju kantornya. Dia melewati ruang-ruang kerja yang penuh dengan timnya yang bersemangat, tetapi pikirannya tertuju pada satu hal—pembalasan.Dia bukan lagi Deniz yang percaya pada etika bisnis yang bersih. Kevin telah mengajarinya pelajaran yang brutal, bahwa benteng pribadi adalah titik terlemah. Sekarang dia akan meruntuhkan seluruh kemunafikan Kevin, satu demi satu.Deniz memanggil kepala keamanan dan Kepala Tim Analisis Datanya, Tuan Hadi, untuk rapat darurat.“Tuan Hadi, saya ingin Anda membuka kembali semua file, setiap data, dan setiap transaksi yang berkaitan dengan merger Genovua Tech dan VantaCorp beberapa tahun yang lalu,” perintah Deniz, matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. “Fokus pada semua akuisisi Kevin, terutama yang ada di luar negeri. Saya tidak mencari kesalahan akuntansi, saya mencari pencucian uang dan penipuan saham.”Tuan Hadi mengerutkan kening. “Itu
Tiga Minggu Kemudian, Galeri Seni KontemporerUdara di Galeri Seni Kontemporer terasa dingin dan mewah, beraroma anggur putih dan parfum mahal. Ratusan tamu berpakaian elegan membanjiri aula, mata mereka menyapu karya-karya yang dipajang. Ini adalah acara pembukaan pameran seni bergengsi yang menampilkan seniman-seniman yang sedang naik daun dari seluruh Asia.Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri Marissa Sawyer. Ia tampak memukau dalam gaun malam berwarna gelap. Namun, perhatiannya tertuju pada tiga lukisan besar yang tergantung di dinding utama—karya-karyanya. Lukisan abstrak yang dipenuhi dengan warna-warna berani dan emosi mentah, mewakili perjalanan pribadinya dari kegelapan menuju harapan.Deniz berdiri di sampingnya, memegang tangan istrinya erat-erat. Wajahnya berseri-seri bangga.“Kau luar biasa, Sayang,” bisik Deniz di telinga Marissa. “Lihat, semua orang mencintai karya-karyamu.”Deniz memang sedang berada di puncak. Genovua Tech telah pindah ke kantor baru yang berkilau
Beberapa Jam Kemudian, Kantor Genovua TechGenovua Tech adalah anak perusahaan yang terlupakan, terletak di lantai paling bawah sebuah gedung tua milik perusahaan induk. Begitu masuk, Anda akan disambut oleh aroma kopi basi, debu di sudut-sudut, dan suara kipas komputer yang berisik.Namun, di sore hari itu, aura tempat tersebut berubah total.Deniz berdiri di tengah ruangan kecil itu, dikelilingi oleh sekitar dua puluh insinyur muda dan desainer yang tampak kelelahan namun bersemangat. Mereka adalah tim Genovua Tech—tim yang selama ini bekerja dalam bayang-bayang tanpa dana yang cukup, tetapi memiliki ide-ide inovatif tentang teknologi green energy dan sistem smart-grid.“Selamat pagi,” sapa Deniz, suaranya tenang namun penuh otoritas. Ia sudah berganti pakaian menjadi kemeja kasual yang lebih santai.“Tuan Deniz,” sapa pemimpin tim, seorang wanita bernama Luna, dengan wajah terkejut. Mereka tidak menyangka sang CEO akan datang secepat ini.“Mulai hari ini, Genovua Tech bukan l
Apartemen, Pukul 07:00 MalamSetelah badai emosi berlalu, keheningan yang penuh kebahagiaan menyelimuti kamar. Deniz tidak lagi mengenakan jas biru mudanya. Ia hanya memakai kaos putih dan celana piyama, duduk di tepi ranjang sambil memeluk Marissa yang bersandar di bahunya. Kotak mint itu tergeletak di karpet, terlupakan, digantikan oleh kenyataan yang jauh lebih berharga.“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?” tanya Deniz lembut, mengelus rambut Marissa.Marissa mendongak, matanya masih sedikit bengkak karena tangisan bahagia. “Aku menunggu saat yang tepat, Mas. Aku nggak mau membebani pikiranmu dengan ini saat kamu sedang berjuang di kantor.”Deniz mencium keningnya. “Sayang, kamu adalah alasan aku berjuang. Kamu bukan beban. Kamu adalah rumahku yang sesungguhnya.”Ia kemudian bangkit. “Aku harus melakukan sesuatu. Kabar gembira ini butuh perayaan besar.”“Tapi, Mas,””Sttt… aku nggak mau dengar alasan apa pun.”Deniz meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat.Li
Kantor, Pukul 11:30 Pagi Ruang rapat direksi terasa seperti arena gladiator modern. Lampu kristal di langit-langit memantul pada permukaan meja mahoni yang mengkilap, menciptakan siluet tajam bagi 12 pasang mata yang menatap Deniz. Mereka adalah para veteran bisnis, pemegang saham yang kuat, dan juga para opportunist yang sigap dan tanggap jika terjadi bahaya sekecil apa pun. Kevin tidak hadir, tetapi kehadirannya terasa melalui ketegangan yang menggantung. “Dasar pecundang,” gumam Deniz. Deniz berdiri di ujung meja, menyandarkan tangan di permukaan meja. Tidak ada proyektor, tidak ada PowerPoint. Hanya dia, dan ketenangannya. Jas biru mudanya terlihat mencolok di antara setelan abu-abu tua dan hitam. Ia membiarkan keheningan itu berlarut selama beberapa detik, membiarkan detak jam dinding seolah menjadi hitungan mundur. “Selamat siang. Saya tahu mengapa kita semua ada di sini,” Deniz memulai, suaranya pelan tapi menusuk, “Kecemasan. Sebuah emosi yang disebarkan dengan sangat







