LOGINsebenernya mereka niat nggak sih jadi musuh bebuyutan?
“Apa?” Mata Puspa membola sempurna, menatap dua lembar kertas tebal berukuran persegi panjang di tangannya.Otak Puspa seakan tumpul, melumpuhkan seluruh logika kerja kepalanya di tengah remang malam.Jarren menyunggingkan tersenyum lebar. Matanya yang merah masih dihinggapi rasa kantuk yang berat, tetapi pendar kepuasan memancar jelas dari sana.Pria itu mengulurkan lengannya, merengkuh tubuh Puspa ke dalam pelukan hangat yang memabukkan.“Kamu sebentar lagi liburan semester, kan?” bisik Jarren, mengusap lembut perut Puspa yang tertutup selimut. “Aku sudah ajukan cuti. Kita pergi ke Turki untuk babymoon.”“Kamu serius nggak sih, Mas?” Puspa menengadah, mengikis jarak di antara mereka.“Serius, Mpus. Coba baca deh, ada nama siapa di dalam tiket itu.” Jarren mempererat pelukannya, membawa Puspa makin menempel pada dada bidangnya.Jemari Jarren terulur ke samping, menekan sakelar lampu nakas. Seketika, pendar kuning hangat menyirami sebagian kamar tidur utama mereka.Puspa buru-buru men
Puspa mengernyitkan dahi heran, berusaha keras memelihara senyum canggung di bibirnya.Di sisinya, Jarren ikut memamerkan raut bingung yang sama, mengamati gestur janggal dari wanita yang menyambut mereka di lorong lantai dua tersebut.“Kenapa Bude menanyakan nama orang tuaku?” tanya Puspa balik dengan nada sehalus mungkin, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak membeku.Tantri membasahi bibirnya yang tampak kering, lalu memandangi lekuk wajah Puspa dari ujung dahi hingga garis rahang secara teliti.“Kamu sangat mirip dengan sahabat Bude waktu kuliah,” celetuk Bude Tantri datar.Puspa membulatkan bibirnya tipis. “Nama orang tuaku Liza dan Rusdi, Bude. Apa Bude kenal?”Tantri semakin mengernyitkan dahi, seolah mengeja nama-nama itu di dalam memorinya.“Tapi mereka nggak pernah kuliah, Bude,” tambah Puspa polos, menyambung kalimatnya tanpa prasangka.Tantri mengembuskan napas perlahan, cengkeraman tangannya mengendur sebelum akhirnya terlepas sepenuhnya dari pergelangan tangan Puspa.
“Kamu biasanya nggak peduli pendapat orang lain,” sahut Jarren santai, tangannya tetap berada di atas kemudi saat mobil melintasi pekarangan rumah utama yang luas.Puspa menghembuskan napas panjang, menatap bayangan pohon-pohon peneduh yang terpantul di kaca jendela.“Soal penerimaan dalam keluarga, aku kurang percaya diri,” aku Puspa jujur.Tanpa perlu penjelasan lebih jauh, Jarren langsung mengerti kepedihan yang tersirat dalam nada suara istrinya.Wanita di sampingnya ini memang memiliki ayah, ibu, dan seorang kakak.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang layak dipanggil keluarga, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat bersandar justru menjadi sumber luka bagi Puspa.“Sekalipun ini hanya pernikahan sementara,” lanjut Puspa lirih, mengusap lembut perutnya yang berbalut blazer longgar.Rahang Jarren seketika mengeras. Ada sengatan tidak nyaman yang mendadak menghantam dadanya mendengar frasa itu meluncur begitu mudah dari bibir Puspa. Namun wanita itu terlalu sibuk dengan gel
Dua lengan kekar Jarren melingkar sempurna di pinggang Puspa. Tanpa peringatan, pria itu mengangkat tubuh istrinya begitu mudah, mendudukkannya di atas meja dapur granit yang dingin. Sebelum Puspa sempat protes, Jarren membuka kedua kaki wanita itu, lalu menyusup berdiri tegas di antaranya. “Mas!” Puspa terkesiap. Jarren tidak membalas. Pria itu justru menunduk, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di permukaan perut Puspa yang tertutup daster tipis. “Awalnya aku sengaja undang mereka buat ketemu kamu,” bisik Jarren. Puspa mendaratkan kedua telapak tangannya di atas bahu polos Jarren yang masih licin oleh bulir keringat usai berolahraga. Sensasi hangat dan sedikit basah merambat ke jemari Puspa. “Awalnya begitu, lalu akhirnya?” tanya Puspa pelan, menatap lurus manik mata suaminya dalam jarak beberapa sentimeter. Jarren menengadah. Posisi wajah Puspa yang kini sedikit lebih tinggi membuat pria itu harus mendongak tipis, memamerkan garis rahangnya yang tegas.
“Jangan bercanda, Jarren,” cetus Puspa tajam. Mata wanita itu menyipit, meneliti setiap senti garis wajah Jarren. Namun tidak ada selapis pun raut jahil, tengil, atau guratan humor yang biasanya bertengger di sana. Rahang Jarren justru mengeras dengan pendar mata yang teramat intens. “Aku nggak bercanda, Mpus,” sahut Jarren. Kernyitan di dahi Puspa semakin dalam. “Terus kenapa kalian sampai berantem karena aku?” Puspa memiringkan kepalanya, menatap Jarren lekat-lekat. Jarren mendengkus pelan, mengalihkan pandangannya sekilas sebelum kembali mengunci manik mata Puspa. “Rangga minta aku buat jauhin kamu, terus aku nggak mau.” Puspa membisu. Tidak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya, tidak juga ada perubahan pada raut wajahnya yang diliputi kebingungan. “Saat itu kan Rangga lagi gigih banget deketin kamu,” lanjut Jarren, bibirnya mengukir tawa sinis tatkala memori lama itu berputar di kepalanya. “Jadi dia anggap kehadiran aku adalah gangguan buat dia.” Puspa
Puspa memperhatikan raut wajah suaminya itu dengan datar. Jarren melirik Puspa sekilas lewat sudut matanya, menyadari keheningan aneh yang menyelimuti istrinya. “Iya, Mas. Aku ngerti maksudmu,” balas Puspa akhirnya. “Aku cuma merasa nggak tega karena Sena masih kecil dan sekarang sedang sakit. Tapi aku nggak akan memaksa.” Jarren membuang napas kasar. Jemarinya masih mencengkeram kemudi terlalu kuat. “Lain kali, kamu seharusnya langsung bilang ke aku kalau Rangga datang mencari kamu.” Balasan pria itu masih terdengar tajam, menyengat di udara kabin yang sempit. Puspa menarik napas panjang. Kehangatan yang tadi sempat membelai dadanya kini berganti menjadi letupan kekesalan. “Bisa biasa saja nggak?” tanya Puspa dengan sedikit ketus. “Ini aku juga bilang, kok. Kak Rangga yang datang tanpa aku undang, bukan aku yang ngundang atau sengaja meresponsnya. Justru dia datang karena dia sudah nggak bisa menghubungi aku lewat telepon atau chat.” “Kamu blokir dia?” Jarren menoleh sejenak,







