INICIAR SESIÓNHelai-helai rambut panjang Maudy yang halus terangkat pelan sewaktu jemari lentiknya menyugar rambut itu ke belakang telinga. Senyum tipis yang sarat kepasrahan mengulas tipis di paras cantiknya.“Itu kan sebabnya kamu secara nggak langsung mendesak Mas Jarren untuk mengantar Sena ke toilet?” cecar Puspa, menatap lurus sepasang mata Maudy. “Karena kamu memang sengaja ingin bicara empat mata denganku.”Maudy tertawa renyah. Gelengan kepalanya memperlihatkan ketidakberdayaan yang jujur sekaligus rasa kagum pada ketenangan Puspa.“Ah ... rupanya kamu membaca maksudku dengan sangat jelas, Puspa,” sahut Maudy.Puspa sedikit mengangkat kedua bahunya singkat, mempertahankan sikap dingin yang teratur dan elegan. “Lalu?”“Seharusnya Jarren ikut mendengar ini juga,” aku Maudy, menurunkan pandangannya menatap ubin granit lobi rumah sakit yang mengilap bersih. “Tapi kamu pasti bisa menyampaikannya nanti ke dia. Aku cuma nggak mau Sena mendengar hal kotor ini dari mulutku.”Iris mata Puspa menyipi
Raut kaku yang mendiami paras Puspa berangsur meluntur sewaktu iris matanya mengenali wajah wanita di hadapannya. Tidak ada lagi tatapan liar, bola mata memerah, atau rambut kusut berantakan seperti saat di apartemen itu. Sosok Maudy yang berdiri tegak kini tampak jauh lebih rapi, segar, dan sehat. Kendati tak lagi mengenakan hijab yang menutup kepalanya, pendar kemanusiaan kembali terpancar dari sepasang mata Maudy. “Maudy,” gumam Puspa lirih, lidahnya mengalunkan nama itu dengan nada tak percaya. Belum sempat Puspa mencerna bagaimana wanita yang seharusnya berada di pusat rehabilitasi narkoba itu bisa berada di ruang publik, sebuah suara cempreng mungil menyusup renyah memecah lamunannya. “Ibu Puspa!” Puspa spontan menundukkan pandangannya. Sebuah tangan mungil mendadak terlepas dari genggaman Maudy. Sena berlari kecil lalu menghambur pasrah ke dalam dekapan Puspa. “Sena,” gumam Puspa lagi, dadanya tersentak kaget sekaligus membuncah haru. “Sebentar ya, Ma.” Sena mendonga
Mulut Puspa mengatup rapat, mengabaikan denyut napasnya sendiri yang mendadak tertahan di pangkal tenggorokan. “Memang Ibu dan Bapak belum tahu kalau Bu Puspa sedang mengandung bayi kembar tiga?” tanya sang dokter spesialis kandungan, mengalihkan pandangannya dari layar monitor untuk menatap Puspa dan Jarren secara bergantian. Dada Puspa bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak kian kencang, menghantam rongga dada dengan intensitas yang tak main-main. Dengan leher yang terasa kaku, Puspa perlahan menoleh ke samping, mendapati rahang tegap Jarren yang mengeras akibat rasa terkejut yang sama besarnya. “Dokter yakin anak saya kembar tiga?” cecar Jarren, suara beratnya bergetar tipis, menumpahkan ketidakpercayaan yang membuncah. Dokter paruh baya itu terkekeh pelan seraya mengangguk mantap. “Iya, Pak Jarren, saya sangat yakin. Ini janin pertama, ini yang kedua, dan ini janin ketiga yang posisinya berada tepat di belakang saudara-saudaranya.” Detik itu juga, Puspa menyaksikan perubahan
Brak!Suara benturan nyaring menggema di dalam ruang rapat sewaktu Rangga menggebrak meja kaca dengan kedua telapak tangannya.Suasana ruangan yang semula hening seketika pecah oleh luapan murka yang tak lagi tertampung.“Sialan! Brengsek!” umpat Rangga dengan rahang mengeras dan napas terengah-engah, menatap pintu kayu yang baru saja tertutup rapat di balik punggung Jarren.Dimas melangkah tenang mengikuti Jarren keluar dari ruang konferensi, meninggalkan Rangga yang berdiri murka di tengah ruangan.“Maaf, Pak,” cicit sang sekretaris pelan, melangkah mendekati atasan yang kini tengah diselimuti aura mematikan.Rangga menoleh, melemparkan tatapan mata merah penuh rasa benci. “Apa lagi?!”“Firma kita ... baru saja kedatangan tim audit pusat dari kantor kepolisian dan kejaksaan, Pak,” lapor sang sekretaris dengan suara bergetar takut.Sekejap, wajah Rangga yang semula pucat langsung memerah padam. Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menegang tebal, menyadari bahwa Jarren benar-benar
“Kamu yang akan tamat hari ini, Jarren,” desis Rangga dingin, menyipitkan matanya tajam seolah sanggup menguliti lawan bicaranya hidup-hidup.Jarren tidak membalas dengan amarah. Pria itu justru menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sedikit memiringkan kepala.“Oh, ya? Kenapa?” tanya Jarren teramat santai.Ruangan konferensi yang tidak terlalu luas itu mendadak terasa semakin sesak, dingin, dan sarat tekanan. Atmosfer tegang menguar hebat tatkala Rangga dan Jarren resmi mengibarkan bendera perang terbuka.“Tujuh ratus juta,” cetus Rangga seraya memajukan tubuhnya. “Kamu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk melunasi utang keluarga Puspa sebelum kamu menikahinya.”“Benar,” sahut Jarren tanpa kedipan mata.Rangga menyunggingkan senyum sengit, merasa baru saja menancapkan belati awal. “Sertifikat rumah yang ditinggali keluarga Puspa yang merupakan warisan keluarga mereka, sekarang ada di tanganmu.”“Benar juga,” bala
Setitik air mata luruh melewati pipi Puspa, menyerap ke dalam kain hijabnya sewaktu rekaman di layar ponsel itu terus berputar.Suara benturan keras, cacian beracun, hingga lambaian tangan Rangga yang tak segan meremukkan tubuh para asisten rumah tangganya terpampang tanpa cela. Hampir 90 persen dari rekaman yang tersimpan itu memperlihatkan sosok Sena kecil yang mematung di sudut ruangan, menyaksikan kebiadaban sang ayah dengan tubuh gemetar ketakutan.Puspa memejamkan matanya erat-erat, meremas jemarinya sendiri. Dia tak sanggup lagi menyaksikan potongan trauma yang dipaksakan masuk ke kepala anak sekecil Sena.Dengan dada yang bergemuruh heboh, Puspa merengkuh tubuh Sena yang terlelap di sisinya, menyalurkan kehangatan yang tersisa.Setibanya di pelataran rumah megah bernuansa dingin itu, Puspa tidak bertindak gegabah.Tahu betul betapa liciknya hukum di tangan pria kaya, Puspa segera menghubungi perangkat RT setempat serta petugas kepolisian untuk mendobrak pintu utama yang terku







