Se connecterPersendian Puspa serasa meloloskan hawa dingin yang menusuk hingga ulu hati. Panggilan Mpus yang meluncur begitu spontan dari bibir Jarren seketika mengalun bagai sembilu tajam, bersanding menyiksa dengan kepedihan saat pria itu mengingatkannya dengan Saras.Namun pertahanan diri Puspa terkunci rapat. Dia menguatkan haitnya.Tidak boleh ada lagi rasa iba atau prasangka hangat untuk pria yang Puspa tahu, hanya ada perpisahan di ujung hubungan mereka.“Bukan aku yang berhak menjawab pertanyaan kamu, Mas,” sergah Puspa dengan nada datar yang teramat dingin, menyembunyikan getaran di pangkal tenggorokannya.Tanpa sudi meluangkan waktu satu detik pun untuk menatap mata suaminya, Puspa memutar tubuhnya mantap. Langkah kakinya yang kian berat akibat bobot kehamilannya terayun lebar, melintasi koridor menuju ruang guru.Tak peduli seberapa keras panggilan Jarren bergema membelah keheningan pelataran sekolah, Puspa membulatkan tekad untu
Pendar samar lampu jalanan menimpa garis paras tegap pria yang baru saja menutup pintu mobil. Begitu sosok itu melangkah melintasi keremangan pekarangan, kerutan di dahi Puspa terlipat semakin dalam. “Dimas?” gumam Puspa lirih. Meski kebas kepanikan tak seluar biasa saat Puspa menduga Jarren yang berada di sana, degup liar di rongga dada wanita itu tetap enggan memelan. “Ada apa, Pa?” tanya Anisa yang mendadak muncul dari balik lorong dapur seraya mengusap jemarinya dengan serbet. Puspa menoleh cepat, menangkap pijar penasaran di mata sahabatnya. “Dimas ... Dimas datang, Nis!” “Oh, Kak Dimas. Bukain saja,” sahut Anisa santai, mengayunkan langkah hendak meraih engsel pintu. “Sebentar, Nis! Aku ngumpet dulu!” Puspa dengan cepat merentangkan tangan, menghalangi gerak Anisa. Anisa menghentikan langkahnya, menatap Puspa dengan mulut sedikit terbuka. Guratan rasa bersala
Kalimat menohok ibunya bergema nyaring, menghantam ulu hati Jarren bagaikan godam berat yang menghancurkan seluruh pertahanannya.Pria itu mematung, berdiri membeku di tengah ruang tamu dengan napas yang tertahan di pangkal tenggorokan.Kenyataan pahit itu kini terhampar telanjang dan begitu benderang di hadapan Jarren.Sejak awal, memang hanya dirinya yang memendam rasa. Puspa tidak pernah menyimpan nama Jarren di dalam hati.Bukti nyata itu kini tersaji di depan mata, Puspa begitu tergesa-gesa mengemas angkat kaki, seolah ingin secepat mungkin lepas dari rengkuhan Jarren.Saras melangkah mendekat, mengusap lembut bahu putranya yang menegang keras. “Nggak peduli sebesar apa perasaanmu padanya, nggak baik memaksa Puspa untuk tetap tinggal di sini kalau hatinya memang tak pernah ada untukmu,” tambah Saras menguatkan.Rahang tegas Jarren mengeras. Jemari tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan
Puspa menarik napas panjang, membiarkan pasokan udara dingin memenuhi rongga dadanya sebelum menghembuskannya perlahan.Sorot mata Puspa yang pekat bergulir menghujam tepat pada sepasang manik milik pengacara keluarga.“Saya nggak peduli bagaimana dan kapan saya bakal berpisah dengan Mas Jarren,” ujar Puspa lugas, menekankan setiap suku kata tanpa keraguan. “Yang jelas, saya cuma mau anak-anak tetap tinggal sama saya.”Tubuh Jarren seketika menegang. Cengkeraman jemarinya pada lutut mengeras, memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih.Sebelum ada satu pun orang di ruangan itu yang sempat memotong, Puspa bergegas menyambung, “Lalu ... kalau proses hukum ini justru bikin waktu saya banyak tersita, lebih baik saya sama sekali nggak membebankan tanggung jawab untuk menafkahi anak-anak ke Mas Jarren.”“Maksud kamu apa, Puspa?!” sergah Jarren cepat, intonasi suaranya meninggi penuh ketidakpercayaan.Namun sebelum Puspa sempat menan
Kehangatan dari jemari Jarren yang masih menangkup kedua belah pipi Puspa terasa bagai sengatan listrik yang memicu desir perih di dadanya. Manik mata legam itu mengunci Puspa rapat, penuh intimidasi yang sarat akan kecemasan terselubung. Puspa perlahan mengangkat kedua tangannya, meraih jemari Jarren lalu melepas paksa cengkeraman pria itu dari parasnya. “Kamu sibuk,” balas Puspa pelan namun penuh ketegasan. “Kamu nggak bakal punya waktu cuma buat mengikuti aku seharian di sekolah.” Belum sempat Puspa menarik lengannya kembali, Jarren bergerak cepat ganti membalas menggenggam erat kedua belah tangan istrinya. Tatapan pria itu bergulir sejenak melirik perut Puspa yang kian membuncah membulat tebal. “Seenggaknya anak-anakku harus mendapatkan fasilitas yang terbaik sejak mereka berada di dalam kandungan,” cetus Jarren datar, menekankan nada suaranya secara dingin. “Masuk ke mobilku, Puspa.” Puspa tertegun di tempatnya. Panggilan Puspa yang meluncur tegas dari bibir pria itu, ali
Tatapan mata Jarren bergulir gelisah menyusuri sudut-sudut vas porselen yang kini berdiri anggun di atas meja. Jakunnya naik-turun saat dia mencoba menelan keringat dingin yang membasahi lehernya.“Aku pikir, kamu ... pergi,” bisik Jarren lirih, memelankan suaranya tepat pada kata terakhir.Puspa menghembuskan napas panjang. Sorot matanya menghujat dingin, tanpa ada pendar kehangatan yang tersisa.“Apa perlu sepanik itu sampai bikin seisi rumah heboh, Mas?” tanya Puspa.Jarren perlahan mengangkat kedua bahunya. Pria itu bergerak cepat menuruni sisa anak tangga, mengikis jarak hingga dia berdiri tegap tepat di hadapan istrinya.“Biar aku yang bereskan ini,” tukas Jarren seraya menunjuk sisa-sisa dahan, daun kering, dan plastik pembungkus bunga yang berserakan di atas meja.Puspa mengangguk pelan. “Makasih.”“Kamu seharusnya bangunin aku, Mpus,” tegur Jarren seraya membungkuk memunguti tangkai bunga yang tersisa. “Mengurus







