LOGINSebuah gejolak cemas mendadak merayap naik, membelenggu rongga dada Puspa tatkala matanya menangkap guratan pucat di paras anggun milik Tantri.Tantri melipat bibirnya rapat, jemarinya bergetar pelan saat kembali melayangkan pertanyaan dengan nada teramat hati-hati. “Puspa, ini bukan cuma sekadar kebiasaan bawaan hamil kamu, kan?”Dahi Puspa mengernyit halus. Dia mengusap perutnya yang kian membesar seraya menguraikan jawaban jujur.“Bukan, Bude. Dari sebelum aku kenal Mas Jarren, bahkan dari aku kecil, kalau makan semangka, aku memang selalu telaten misahin bijinya kayak gini.”Jarren yang duduk bersisian di samping Puspa tak lagi sanggup membendung rasa penasarannya.“Ada apa sebenarnya, Bude? Kok Bude kelihatan gelisah dan tegang banget?” Manik mata legam pria itu menatap lekat pada sang bude.Hening menyelimuti ruang makan sejenak.Tantri menghela napas panjang yang terdengar amat berat, mencoba menata emosi yang men
Tawaran ramah dari Tantri mengudara seiring dengan usapan hangat di bahu Puspa. Jika sanggup memilih, Puspa ingin sekali menepis halus dan mencari ribuan alasan untuk menolak.Namun pendar tulus di sepasang mata paruh baya itu terlampau pekat, mengunci lidah Puspa hingga tak sanggup melontarkan kata sanggahan.Tanpa memberi celah bagi Puspa untuk berkilah, Tantri langsung membayar satu buah semangka utuh pada sang pedagang.Wanita paruh baya itu dengan ceria menuntun Puspa, memandu wanita hamil itu untuk masuk ke dalam mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari kios.Perjalanan singkat itu berlanjut tanpa hambatan.Tidak sampai sepuluh menit berlalu, sedan mewah yang mereka tumpangi melintasi pintu gerbang besi berukir tebal, melaju lambat menelusuri pekarangan rumah berarsitektur klasik yang amat megah.“Ini rumah Bude, Puspa,” ujar Tantri lembut, mengusap punggung tangan Puspa dengan belas kasih yang meluap. “Bude cu
Satu alis Dimas terangkat, menangkap gelagat tak biasa dari atasan yang mendadak ingin bertamu tanpa undangan resmi.Dimas mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna manuver licik yang tengah dilancarkan Jarren.Seakan mengerti betul intrik di balik senyum tipis bosnya, Dimas menghela napas seraya berujar tegas, “Puspa nggak tinggal di rumah saya, Pak.”Jarren bergeming. Mata legamnya menancap lurus, mengunci wajah Dimas cukup lama. Atmosfer di koridor kantor mendadak terasa begitu menyempit.“Saya tetap perlu memeriksanya secara langsung.” Jarren berkilah dengan suara berat yang tak menerima bantahan.Dimas mengusap tengkuknya, menyadari bahwa menolak kemauan pria berkuasa di hadapannya ini hanya akan memicu kecurigaan yang lebih besar.Tanpa pilihan lain, Dimas mengangguk pasrah.Beberapa puluh menit kemudian, deru mesin sedan mewah Jarren memelan, berhenti tepat di pekarangan sebuah rumah sederhana bertingkat satu. Sebelum memutar gagang pintu mobil, Dimas menoleh penuh
Persendian Puspa serasa meloloskan hawa dingin yang menusuk hingga ulu hati. Panggilan Mpus yang meluncur begitu spontan dari bibir Jarren seketika mengalun bagai sembilu tajam, bersanding menyiksa dengan kepedihan saat pria itu mengingatkannya dengan Saras.Namun pertahanan diri Puspa terkunci rapat. Dia menguatkan haitnya.Tidak boleh ada lagi rasa iba atau prasangka hangat untuk pria yang Puspa tahu, hanya ada perpisahan di ujung hubungan mereka.“Bukan aku yang berhak menjawab pertanyaan kamu, Mas,” sergah Puspa dengan nada datar yang teramat dingin, menyembunyikan getaran di pangkal tenggorokannya.Tanpa sudi meluangkan waktu satu detik pun untuk menatap mata suaminya, Puspa memutar tubuhnya mantap. Langkah kakinya yang kian berat akibat bobot kehamilannya terayun lebar, melintasi koridor menuju ruang guru.Tak peduli seberapa keras panggilan Jarren bergema membelah keheningan pelataran sekolah, Puspa membulatkan tekad untu
Pendar samar lampu jalanan menimpa garis paras tegap pria yang baru saja menutup pintu mobil. Begitu sosok itu melangkah melintasi keremangan pekarangan, kerutan di dahi Puspa terlipat semakin dalam. “Dimas?” gumam Puspa lirih. Meski kebas kepanikan tak seluar biasa saat Puspa menduga Jarren yang berada di sana, degup liar di rongga dada wanita itu tetap enggan memelan. “Ada apa, Pa?” tanya Anisa yang mendadak muncul dari balik lorong dapur seraya mengusap jemarinya dengan serbet. Puspa menoleh cepat, menangkap pijar penasaran di mata sahabatnya. “Dimas ... Dimas datang, Nis!” “Oh, Kak Dimas. Bukain saja,” sahut Anisa santai, mengayunkan langkah hendak meraih engsel pintu. “Sebentar, Nis! Aku ngumpet dulu!” Puspa dengan cepat merentangkan tangan, menghalangi gerak Anisa. Anisa menghentikan langkahnya, menatap Puspa dengan mulut sedikit terbuka. Guratan rasa bersala
Kalimat menohok ibunya bergema nyaring, menghantam ulu hati Jarren bagaikan godam berat yang menghancurkan seluruh pertahanannya.Pria itu mematung, berdiri membeku di tengah ruang tamu dengan napas yang tertahan di pangkal tenggorokan.Kenyataan pahit itu kini terhampar telanjang dan begitu benderang di hadapan Jarren.Sejak awal, memang hanya dirinya yang memendam rasa. Puspa tidak pernah menyimpan nama Jarren di dalam hati.Bukti nyata itu kini tersaji di depan mata, Puspa begitu tergesa-gesa mengemas angkat kaki, seolah ingin secepat mungkin lepas dari rengkuhan Jarren.Saras melangkah mendekat, mengusap lembut bahu putranya yang menegang keras. “Nggak peduli sebesar apa perasaanmu padanya, nggak baik memaksa Puspa untuk tetap tinggal di sini kalau hatinya memang tak pernah ada untukmu,” tambah Saras menguatkan.Rahang tegas Jarren mengeras. Jemari tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan







