MasukJemari Jarren bergerak perlahan, menyisir helai demi helai rambut Puspa dengan kelembutan yang melenakan. “Seperti katamu, Maudy masih berada di bawah pengawasan psikiater,” sahut Jarren. “Ada baiknya, kita menjaga diri dari orang yang pernah berusaha menghancurkan kita, sekalipun dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya, Mpus.” Puspa membisu sejenak. Kata demi kata yang dilontarkan suaminya mengendap dalam benak, meresap bersama logika yang masuk akal. Setelah menarik napas panjang, Puspa mengangguk mantap. “Setuju.” Senyum Jarren merekah semakin lebar. Tatapannya terkunci penuh pada paras cantik sang istri. Tangan kekar Jarren perlahan menyusup ke balik kain piyama Puspa, mendaratkan telapak tangannya yang hangat langsung di atas permukaan kulit perut Puspa yang membulat tebal. Seketika, sebuah dorongan beruntun terasa menyentak telapak tangan Jarren. “Semaki
Jantung Puspa berdesir hangat. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipinya yang memanas. Puspa berdeham pelan, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya. “Kami langsung menikah tanpa pacaran,” jawab Puspa pelan, memasang raut wajah sepasrah mungkin. Maudy mengernyitkan dahinya dalam-dalam. “Sungguh?” Mata Maudy memancarkan ketidakpercayaan yang membuncah. “Tapi Jarren selalu menatap kamu dengan tatapan yang begitu dalam, seolah dia sudah memendam rasa padamu sejak lama. Aku sempat merasa cemburu setengah mati padamu, Puspa.” Maudy beralih menoleh ke depan, melemparkan pandangan kosong menatap deretan kursi lobi yang sepi. “Oleh sebab itu, aku sengaja memprovokasi kalian saat acara reuni sore itu.” “Memprovokasi kami?” Iris mata Puspa menyipit tajam, menangkap sinyal bahaya. Kemerahan di pipi Puspa spontan memudar.
Helai-helai rambut panjang Maudy yang halus terangkat pelan sewaktu jemari lentiknya menyugar rambut itu ke belakang telinga. Senyum tipis yang sarat kepasrahan mengulas tipis di paras cantiknya.“Itu kan sebabnya kamu secara nggak langsung mendesak Mas Jarren untuk mengantar Sena ke toilet?” cecar Puspa, menatap lurus sepasang mata Maudy. “Karena kamu memang sengaja ingin bicara empat mata denganku.”Maudy tertawa renyah. Gelengan kepalanya memperlihatkan ketidakberdayaan yang jujur sekaligus rasa kagum pada ketenangan Puspa.“Ah ... rupanya kamu membaca maksudku dengan sangat jelas, Puspa,” sahut Maudy.Puspa sedikit mengangkat kedua bahunya singkat, mempertahankan sikap dingin yang teratur dan elegan. “Lalu?”“Seharusnya Jarren ikut mendengar ini juga,” aku Maudy, menurunkan pandangannya menatap ubin granit lobi rumah sakit yang mengilap bersih. “Tapi kamu pasti bisa menyampaikannya nanti ke dia. Aku cuma nggak mau Sena mendengar hal kotor ini dari mulutku.”Iris mata Puspa menyipi
Raut kaku yang mendiami paras Puspa berangsur meluntur sewaktu iris matanya mengenali wajah wanita di hadapannya. Tidak ada lagi tatapan liar, bola mata memerah, atau rambut kusut berantakan seperti saat di apartemen itu. Sosok Maudy yang berdiri tegak kini tampak jauh lebih rapi, segar, dan sehat. Kendati tak lagi mengenakan hijab yang menutup kepalanya, pendar kemanusiaan kembali terpancar dari sepasang mata Maudy. “Maudy,” gumam Puspa lirih, lidahnya mengalunkan nama itu dengan nada tak percaya. Belum sempat Puspa mencerna bagaimana wanita yang seharusnya berada di pusat rehabilitasi narkoba itu bisa berada di ruang publik, sebuah suara cempreng mungil menyusup renyah memecah lamunannya. “Ibu Puspa!” Puspa spontan menundukkan pandangannya. Sebuah tangan mungil mendadak terlepas dari genggaman Maudy. Sena berlari kecil lalu menghambur pasrah ke dalam dekapan Puspa. “Sena,” gumam Puspa lagi, dadanya tersentak kaget sekaligus membuncah haru. “Sebentar ya, Ma.” Sena mendonga
Mulut Puspa mengatup rapat, mengabaikan denyut napasnya sendiri yang mendadak tertahan di pangkal tenggorokan. “Memang Ibu dan Bapak belum tahu kalau Bu Puspa sedang mengandung bayi kembar tiga?” tanya sang dokter spesialis kandungan, mengalihkan pandangannya dari layar monitor untuk menatap Puspa dan Jarren secara bergantian. Dada Puspa bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak kian kencang, menghantam rongga dada dengan intensitas yang tak main-main. Dengan leher yang terasa kaku, Puspa perlahan menoleh ke samping, mendapati rahang tegap Jarren yang mengeras akibat rasa terkejut yang sama besarnya. “Dokter yakin anak saya kembar tiga?” cecar Jarren, suara beratnya bergetar tipis, menumpahkan ketidakpercayaan yang membuncah. Dokter paruh baya itu terkekeh pelan seraya mengangguk mantap. “Iya, Pak Jarren, saya sangat yakin. Ini janin pertama, ini yang kedua, dan ini janin ketiga yang posisinya berada tepat di belakang saudara-saudaranya.” Detik itu juga, Puspa menyaksikan perubahan
Brak!Suara benturan nyaring menggema di dalam ruang rapat sewaktu Rangga menggebrak meja kaca dengan kedua telapak tangannya.Suasana ruangan yang semula hening seketika pecah oleh luapan murka yang tak lagi tertampung.“Sialan! Brengsek!” umpat Rangga dengan rahang mengeras dan napas terengah-engah, menatap pintu kayu yang baru saja tertutup rapat di balik punggung Jarren.Dimas melangkah tenang mengikuti Jarren keluar dari ruang konferensi, meninggalkan Rangga yang berdiri murka di tengah ruangan.“Maaf, Pak,” cicit sang sekretaris pelan, melangkah mendekati atasan yang kini tengah diselimuti aura mematikan.Rangga menoleh, melemparkan tatapan mata merah penuh rasa benci. “Apa lagi?!”“Firma kita ... baru saja kedatangan tim audit pusat dari kantor kepolisian dan kejaksaan, Pak,” lapor sang sekretaris dengan suara bergetar takut.Sekejap, wajah Rangga yang semula pucat langsung memerah padam. Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menegang tebal, menyadari bahwa Jarren benar-benar







