Share

145. Muara Kebahagiaan

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-10-07 15:03:35

Jantung Puspa berdesir hangat.

Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipinya yang memanas.

Puspa berdeham pelan, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya.

“Kami langsung menikah tanpa pacaran,” jawab Puspa pelan, memasang raut wajah sepasrah mungkin.

Maudy mengernyitkan dahinya dalam-dalam.

“Sungguh?” Mata Maudy memancarkan ketidakpercayaan yang membuncah. “Tapi Jarren s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
𝚗𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚗𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊 𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚌𝚞𝚛𝚒𝚐𝚊𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚍𝚒 𝙼𝚘𝚍𝚒𝚐𝚊𝚙𝚕𝚘𝚔 𝚒𝚗𝚒..
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
𝚗𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚗𝚎𝚛𝚊𝚗 𝚜𝚒 𝙼𝚘𝚍𝚒 𝚋𝚒𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎𝚛𝚘𝚔 𝚐𝚊𝚖𝚎𝚜 𝚝𝚎𝚋𝚊𝚔 𝚝𝚎𝚋𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚒𝚝𝚞...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   148. Mengasingkan Diri

    Puspa mematung di tempatnya, menahan napas yang mendadak terasa memburu dan berat. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kosakata yang dikuasainya menguap tanpa sisa. “Ya kalau Mbok menyampaikan ke Den Jarren kalau Non mau dijemput,” sambung Mbok dengan nada polos, “Mbok yakin banget sih, Den Jarren pasti bakal bela-belain luangin waktu buat pulang sore nanti.” Puspa memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sebelum akhirnya mengulas senyum palsu. “Nggak usah, Mbok. Nggak perlu disampaikan,” tolak Puspa. “Aku ... lupa kalau Mas Jarren memang ada jadwal dinas ke luar kota hari ini.” Kebohongan itu meluncur mulus dari bibirnya, menutupi kenyataan pahit bahwa Puspa sama sekali tidak tahu-menahu mengenai keberangkatan suaminya. Jarren pergi tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, meninggalkan celah dingin di antara mereka. Sepanjang hari di sekolah, waktu terasa berjalan begitu lam

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   147. Calon Ayah

    Telapak tangan Puspa bertumpu erat pada garis pegangan tangga, menahan bobot tubuhnya yang kini terasa jauh lebih berat. “Hati-hati, Non!” seru Mbok panik dari arah bawah, setengah berlari menghampiri Puspa dengan raut wajah cemas. Puspa mengulas senyum tipis sewaktu wanita paruh baya itu dengan sigap menyangga sikunya, membimbingnya menuruni sisa anak tangga dengan ekstra hati-hati. “Makasih banyak ya, Mbok,” ucap Puspa tulus. Mbok terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. “Nggak perlu makasih, Non. Den Jarren itu sudah nitipin Non Puspa ke Mbok, ya Mbok harus jaga baik-baik. Kalau Non kenapa-kenapa, Mbok yang habis dimarahi.” Senyum Puspa spontan membeku. Sudut bibirnya mendadak kaku, memancarkan kecanggungan saat deretan huruf nama suaminya disebut. Namun Puspa buru-buru menguasai diri, menyembunyikan kegetiran yang mendadak menyeruak. “Mas Jarren sudah berangkat, Mbok?” ta

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   146. Bukan Muara Kebahagiaan

    Jemari Jarren bergerak perlahan, menyisir helai demi helai rambut Puspa dengan kelembutan yang melenakan. “Seperti katamu, Maudy masih berada di bawah pengawasan psikiater,” sahut Jarren. “Ada baiknya, kita menjaga diri dari orang yang pernah berusaha menghancurkan kita, sekalipun dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya, Mpus.” Puspa membisu sejenak. Kata demi kata yang dilontarkan suaminya mengendap dalam benak, meresap bersama logika yang masuk akal. Setelah menarik napas panjang, Puspa mengangguk mantap. “Setuju.” Senyum Jarren merekah semakin lebar. Tatapannya terkunci penuh pada paras cantik sang istri. Tangan kekar Jarren perlahan menyusup ke balik kain piyama Puspa, mendaratkan telapak tangannya yang hangat langsung di atas permukaan kulit perut Puspa yang membulat tebal. Seketika, sebuah dorongan beruntun terasa menyentak telapak tangan Jarren. “Semaki

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   145. Muara Kebahagiaan

    Jantung Puspa berdesir hangat. Rona merah tipis seketika menjalar di kedua belah pipinya yang memanas. Puspa berdeham pelan, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya. “Kami langsung menikah tanpa pacaran,” jawab Puspa pelan, memasang raut wajah sepasrah mungkin. Maudy mengernyitkan dahinya dalam-dalam. “Sungguh?” Mata Maudy memancarkan ketidakpercayaan yang membuncah. “Tapi Jarren selalu menatap kamu dengan tatapan yang begitu dalam, seolah dia sudah memendam rasa padamu sejak lama. Aku sempat merasa cemburu setengah mati padamu, Puspa.” Maudy beralih menoleh ke depan, melemparkan pandangan kosong menatap deretan kursi lobi yang sepi. “Oleh sebab itu, aku sengaja memprovokasi kalian saat acara reuni sore itu.” “Memprovokasi kami?” Iris mata Puspa menyipit tajam, menangkap sinyal bahaya. Kemerahan di pipi Puspa spontan memudar.

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   144. Pengakuan

    Helai-helai rambut panjang Maudy yang halus terangkat pelan sewaktu jemari lentiknya menyugar rambut itu ke belakang telinga. Senyum tipis yang sarat kepasrahan mengulas tipis di paras cantiknya.“Itu kan sebabnya kamu secara nggak langsung mendesak Mas Jarren untuk mengantar Sena ke toilet?” cecar Puspa, menatap lurus sepasang mata Maudy. “Karena kamu memang sengaja ingin bicara empat mata denganku.”Maudy tertawa renyah. Gelengan kepalanya memperlihatkan ketidakberdayaan yang jujur sekaligus rasa kagum pada ketenangan Puspa.“Ah ... rupanya kamu membaca maksudku dengan sangat jelas, Puspa,” sahut Maudy.Puspa sedikit mengangkat kedua bahunya singkat, mempertahankan sikap dingin yang teratur dan elegan. “Lalu?”“Seharusnya Jarren ikut mendengar ini juga,” aku Maudy, menurunkan pandangannya menatap ubin granit lobi rumah sakit yang mengilap bersih. “Tapi kamu pasti bisa menyampaikannya nanti ke dia. Aku cuma nggak mau Sena mendengar hal kotor ini dari mulutku.”Iris mata Puspa menyipi

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   143. Dilarang Pegang-Pegang

    Raut kaku yang mendiami paras Puspa berangsur meluntur sewaktu iris matanya mengenali wajah wanita di hadapannya. Tidak ada lagi tatapan liar, bola mata memerah, atau rambut kusut berantakan seperti saat di apartemen itu. Sosok Maudy yang berdiri tegak kini tampak jauh lebih rapi, segar, dan sehat. Kendati tak lagi mengenakan hijab yang menutup kepalanya, pendar kemanusiaan kembali terpancar dari sepasang mata Maudy. “Maudy,” gumam Puspa lirih, lidahnya mengalunkan nama itu dengan nada tak percaya. Belum sempat Puspa mencerna bagaimana wanita yang seharusnya berada di pusat rehabilitasi narkoba itu bisa berada di ruang publik, sebuah suara cempreng mungil menyusup renyah memecah lamunannya. “Ibu Puspa!” Puspa spontan menundukkan pandangannya. Sebuah tangan mungil mendadak terlepas dari genggaman Maudy. Sena berlari kecil lalu menghambur pasrah ke dalam dekapan Puspa. “Sena,” gumam Puspa lagi, dadanya tersentak kaget sekaligus membuncah haru. “Sebentar ya, Ma.” Sena mendonga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status