Partager

7. Kurang dari 24 Jam

Auteur: prasidafai
last update Date de publication: 2026-07-23 12:11:23

“Sederhana, Puspa. Klien-klien kaya dan dewan direksi lebih percaya pada pengacara yang berkeluarga,” jawab Jarren, menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. “Dan soal keturunan, posisiku di firma butuh legitimasi. Penerus yang jelas dari darahku sendiri bakal membungkam mulut mitra-mitra tua yang ragu sama kemampuanku. Ini cuma transaksi hukum yang efisien. Kamu dapat 700 juta dan kebebasan, aku dapat status dan kepastian.”

Puspa mencerna setiap kalimat itu dengan dada sesak.

“Ini sama saja seperti memiliki perjanjian pranikah,” sambung Jarren, memajukan tubuhnya ke arah meja kaca yang membatasi mereka. “Klausul kontraknya akan kita susun bersama malam ini. Kamu nggak akan dirugikan sedikit pun di atas kertas.”

Puspa menyunggingkan senyum sengit, menatap pria berjas mahal di hadapannya dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam. “Dulu kamu jadikan aku bahan tertawaan, sekarang kamu mau jadikan hidupku bahan perjanjian?”

Kata-kata itu menghantam ruangan dengan telak.

Jarren mendadak bungkam. Manik mata hitamnya yang selalu tajam dan arogan mendadak berkilat redup.

Puspa menghela napas panjang, mengusap lelah wajahnya lalu merapikan letak jilbabnya yang agak kusut.

“Baiklah. Daripada jadi istri keempat bos para preman itu, lebih baik aku menikah dengan musuh bebuyutanku.” Puspa akhirnya memutuskan.

Sudut bibir Jarren terangkat tipis, memunculkan sunggingan samar.

“Tapi ingat, Jarren,” ancam Puspa, menunjuk muka pria itu dengan jari telunjuk yang gemetar. “Kalau kamu cuma menjadikan aku lelucon lagi seperti zaman sekolah dulu, aku bakal ganggu hidup kamu seumur hidup! Sekalipun kamu ngumpet ke lubang semut!”

“Sudah aku catat, Bu Guru,” tanggap Jarren santai, menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi.

Puspa menegakkan tubuhnya, merapikan jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan.

“Satu lagi. Aku punya syarat untukmu. Aku ingin menikah secara sah agama dan negara. Jika ... jika sesuatu terjadi pada pernikahan kita di masa depan dan aku ingin bercerai, kamu harus setuju. Hak asuh anak ada padaku, dan kamu harus tetap ikut bertanggung jawab meski kita berpisah,” tukas Puspa tegas.

“Puspa, kamu berpikir terlalu jauh. Kita bahkan belum melangkah ke mana-mana.” Jarren mengernyit mendalam, tampak sangat tidak setuju dengan poin tersebut.

“Pahamilah posisiku, Jarren,” sahut Puspa, matanya memerah menahan panas yang siap melelehkan air mata. “Aku akan menikah dengan musuh bebuyutan yang dulu mempermainkan dan membiarkanku jadi olok-olokkan satu angkatan selama tiga tahun! Apa syarat dariku ini terasa berlebihan untukmu?”

Keheningan mencengkeram ruang kerja luas itu selama beberapa detik.

Jarren menatap Puspa lekat-lekat, membaca ketakutan, kewaspadaan tinggi, dan luka mendalam yang tersimpan rapat di balik ketegasan wanita itu.

“Setuju,” cetus Jarren akhirnya, mengalah tanpa perdebatan panjang.

Puspa menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. “Lalu, bagaimana kalau aku nggak bisa segera kasih kamu keturunan?”

“Kontrak batal,” jawab Jarren tanpa ragu sedikit pun.

“Ada denda?” tanya Puspa hati-hati.

“Nggak ada, selama kita berdua sudah berusaha semaksimal mungkin. Soal keturunan itu diusahakan oleh dua orang. Dalam banyak kasus, kekurangan justru terjadi pada pihak pria,” balas Jarren lugas. Pria itu lalu memutar layar laptopnya yang menyala ke arah Puspa. “Sekarang, buka dokumen baru. Kamu yang ketik, aku yang dikte.”

Selama setengah jam berikutnya, bunyi ketukan papan ketik beradu dengan suara bariton Jarren yang membacakan pasal demi pasal hukum.

Suasana profesional yang kaku menyelimuti mereka, tetapi atmosfer perlahan berubah menjadi canggung dan penuh percikan tak kasatmata.

Saat Puspa ragu mengetik klausul tentang hak tinggal dan batas area privat di rumah, Jarren mendadak condong ke depan.

Pria itu mengulurkan tangannya dari belakang bahu Puspa untuk membetulkan kalimat yang salah.

Jemari Jarren yang hangat dan kokoh menyentuh punggung tangan Puspa yang menempel di atas mouse, mengarahkannya untuk memblok baris kalimat di layar. 

Sentuhan singkat yang tidak disengaja itu meletupkan aliran listrik tak kasatmata di sepanjang lengan Puspa.

Napas wanita itu tertahan seketika, dadanya berdesir hebat oleh kedekatan jarak fisik mereka yang tiba-tiba mengikis batas aman.

Bau aroma parfum maskulin khas Jarren mendadak menyerbu indra penciuman Puspa.

“Jangan melamun, Puspa. Cetak berkasnya,” bisik Jarren tepat di samping telinganya sebelum menarik diri kembali dengan tenang.

Puspa menetralkan napasnya yang memburu, mengutuk reaksi tubuhnya sendiri, lalu segera mencetak dua rangkap dokumen tersebut.

Dengan tangan gemetar, Puspa membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai itu.

Saat tinta pulpen Puspa mengering, Jarren langsung meraih ponsel di atas meja dan melakukan panggilan singkat.

“Eksekusi pelunasan utang atas nama Rusdi sekarang. Kirim bukti transfer dan surat pernyataan penghentian teror resmi ke pihak kepolisian dan nomor pimpinan mereka,” perintah Jarren.

Hanya dalam hitungan menit, teror utang 700 juta yang selama ini mencekik leher dan menghancurkan masa depan Puspa resmi menguap tidak berbekas.

“Demi perlindungan hukum penuh dan menjaga martabatmu, supaya kamu nggak diseret preman lagi atau jadi bahan fitnah keluarga, kita akan melangsungkan akad nikah dalam hitungan hari,” tukas Jarren seraya berdiri dan merapikan jas mewahnya.

Puspa membelalak sempurna, lidahnya kelu tidak berdaya. Menikah dalam hitungan hari dengan musuh bebuyutannya sendiri?

Jarren menyambar kunci motor dari meja jati, lalu menatap Puspa dengan raut wajah tanpa dosa. “Rumah kamu sudah aman. Aku antar kamu pulang sekarang, sekalian minta restu orang tua kamu.”

Puspa melirik jarum jam dinding ruangan yang sudah menunjukkan pukul 01.15 pagi.

“Orang gila mana yang minta restu nikah jam segini, Jarren?” gumam Puspa benar-benar tidak percaya dengan jalan pikiran pria di hadapannya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
aiihhh, cepet banget pasang gembookkk...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
wkwkwwkwk, bisa gagal belah duren nih,,, belum apa² asma kumat..
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   181. Kontraknya Selesai

    “Aku mempekerjakan kamu bukan untuk melaporkan semuanya pada Puspa,” tukas Jarren cepat, berusaha memotong celotehan asisten pribadinya. Dimas mengulas senyum jenaka tanpa dosa, menyahut santai tanpa rasa takut. “Bapak malu?” Puspa tidak sanggup menahan kekehan tipis saat mendapati rona merah tipis merayap di sekitar telinga dan pipi suaminya. Jarren berdeham keras, membetulkan letak jam tangannya demi menutupi rasa canggung sebelum mengalihkan topik pembicaraan. “Empat babysitter profesional akan datang sebentar lagi, Mpus,” tutur Jarren seraya menatap Puspa lekat-lekat. Puspa mengangguk pelan, menyapu pandangannya ke seluruh sudut rumah yang kini terasa hangat dan hidup. “Terima kasih banyak sudah mempersiapkan semuanya untukku dan anak-anak, Mas.” Jarren menggeleng. Pria itu mengikis jarakdi antara mereka lalu berbisik parau, “Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Pus

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   180. Tinggal Masing-Masing

    Garis-garis halus di sudut mata Jarren melengkung sempurna kala pupil matanya membesar. “Aku suka banget lagi, Mpus,” puji Jarren antusias, suara baritonnya bergetar pelan. Puspa tanpa sadar terkekeh renyah, merasakan kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya. “Artinya juga bagus banget, Mpus,” sambung Jarren lagi seraya mengusap layar ponselnya, membaca baris demi baris makna kata yang baru saja mereka rangkai. “Biantara Bintang Dewanora, penguasa udara yang berjiwa bebas, menjadi penunjuk arah sekaligus cahaya malam yang indah. Nama yang sangat cocok untuk seorang kakak.” Puspa mengangguk setuju, matanya berbinar terang. Momen indah itu berlanjut dengan diskusi hangat yang mengalir tanpa sekat. Dengan ketelitian dan penuh kasih sayang, jemari mereka bergantian memilah lembaran makna, merangkai setiap huruf untuk ketiga jagoan lainnya. Hingga akhirnya, disepakatilah deretan nama indah un

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   179. Cucu-Cucu Mama

    Belum sempat bibir Puspa merangkai jawapan atas permohonan tulus itu, daun pintu kamar VIP mendadak terdorong dari luar. Saras melangkah masuk dengan binar mata berseri-seri, tangannya melambai pelan seraya memegangi dada dengan raut wajah penuh kegembiraan. “Puspa, Jarren, bayi-bayinya mau datang!” seru Saras penuh antusias, tak sanggup menyembunyikan getaran bahagia di suaranya. “Ya Allah, mereka semua tampan-tampan sekali!” Jarren spontan berdiri tegak, merapikan letak kemejanya seraya mengambil beberapa langkah mendekati pintu. Senyum tipis yang sarat keharuan perlahan mengembang di bibir Puspa kala dua perawat berseragam merah muda melangkah masuk. Masing-masing mendorong satu keranjang bayi berisi dua sosok mungil berdampingan. “Selamat siang, Ibu Puspa, Bapak Jarren,” sapa salah seorang perawat dengan ramah. Atmosfer kamar inap yang tadinya riuh oleh emosi mendadak diliputi kehangatan ya

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   178. Akibat Sebuah Kebodohan

    “Tidur saja nggak apa-apa, Ibu. Prosedur bedahnya sudah hampir selesai.” Dokter anestesi yang berdiri menatap monitor irama jantung di sisi ranjang tersenyum menenangkan. Bagaikan mendapat izin, seluruh pertahanan kesadaran Puspa meloloskan kendalinya. Kegelapan yang amat hangat dan damai seketika menyapu habis sisa rasa lelah wanita itu. Suara pendar pendingin udara yang mengalun lembut menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Puspa kala matanya perlahan terbuka. Langit-langit ruangan bernuansa krem yang luas dan lampu temaram menyadarkannya bahwa Puspa telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas VIP. Sensasi hangat di punggung tangannya seketika menguat. Jarren yang duduk di kursi samping ranjang spontan menegakkan tubuh tegapnya. “Puspa? Kamu dengar aku, Sayang?” bisik Jarren lembut, menatap dalam ke iris mata istrinya. Puspa mengangguk sangat pelan, lalu mengedipkan kelopak matany

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   177. Untuk Jarren

    “A-apa, Mas?” bisik Puspa parau, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Jarren tidak menarik kembali ucapannya. Pria itu justru mendaratkan keningnya di pelipis Puspa seraya merengkuh jemari istrinya yang membeku. “Aku cinta kamu, Mpus,” ulang Jarren tanpa ragu sedikit pun sambil menekankan setiap kata. “Sangat cinta.” Puspa hendak membuka bibirnya, menuntut penjelasan atas pengakuan yang hadir di detik-detik pertaruhan nyawa ini. Namun suara dokter spesialis dari balik tirai steril di batas dadanya memotong percakapan itu. “Ibu Puspa, berasa saya colek nggak?” tanya dokter santai. Puspa mengedipkan matanya, menyesuaikan fokus. “Enggak ... enggak berasa apa-apa, Dokter.” “Oke, Ibu, dibawa santai ya,” timpal sang dokter menenangkan. “Sekarang operasi sesar sudah sangat canggih. Nanti begitu dedek bayinya keluar semua dan Ibu pindah ke kamar rawat inap, Ibu sudah bisa jalan lag

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   176. Ke Mana Jarren?

    Setetes keringat dingin meluncur melintasi pelipis Puspa, menyatu dengan ringisan pelan tatkala gelombang cinta dari sang buah hati kembali menghantam ulu hatinya.“Mas Jarren ke mana, Ma?” bisik Puspa di sela-sela usahanya mengatur napas, menatap Saras dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.Saras menoleh, raut wajahnya memancarkan tingkat frustrasi yang tak kalah pekat. Jemarinya masih menempelkan ponsel di telinga sebelum akhirnya menurunkan benda pipih itu dengan helaan napas berat.“Harusnya dia di kantor, Sayang,” jawab Saras jujur, menyembunyikan getaran panik di suaranya. “Tapi Jarren, bahkan Dimas pun sama-sama sulit dihubungi dari tadi.”Puspa menggigit bagian dalam bibirnya erat-erat, memejamkan mata tatkala kekecewaan halus mulai merayap di celah-celah rasa sakitnya.Melihat kondisi menantunya yang semakin kepayahan, Saras membalikkan badan, menatap lurus ke dalam iris mata sang dokter. “Biar saya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status