MasukBagai pisau yang menghujam ulu hatinya, Puspa tercengang, air mata kepedihan menetes tanpa suara.
Orang tua Puspa tega menjual dirinya?
BUK!
Gelas di atas meja bergetar hebat saat seseorang menyambar kerah baju si pemimpin preman dari belakang, memaksanya bangkit berdiri hingga kursinya terdorong kasar.
“Jarren?”
“Bicara sekali lagi lewat bibir menjijikkan itu,” ancam Jarren, menatapnya dengan kilat amarah yang pekat, “dan saya pastikan kamu nggak akan bisa bicara lagi besok!”
Dengan satu sentakan kuat, Jarren menghempaskan preman berotot itu hingga menabrak meja di sebelahnya.
Preman yang satu lagi spontan berdiri, tetapi Jarren melangkah lebih cepat. Pria berjas itu pasang badan, berdiri memagari Puspa sepenuhnya dari dua pria besar di hadapan mereka.
“Lo lagi! Nggak usah sok pahlawan–”
“Angkat kaki dari sini sekarang juga,” potong Jarren penuh penekanan, “sebelum saya kehilangan kesabaran!”
Si pemimpin preman menyapu darah tipis di sudut bibirnya akibat hantaman tadi. Dia memberikan kode pada temannya, lalu pergi.
“Dia bukan pengacara biasa, jangan dilawan,” gumamnya, meski masih menatap Jarren dengan tajam.
Restoran kembali hening. Puspa masih membeku di kursinya, jemarinya meremas kain rok yang lusuh dengan napas memburu dan air mata yang terus mengalir.
Jarren menghembuskan napas panjang. Pria itu berbalik, menatap Puspa yang tampak amat rapuh dan hancur di bawah pendar lampu restoran.
Sorot mata Jarren yang tadinya tajam berangsur melemah, menyisakan tatapan campur aduk antara amarah dan keprihatinan.
Tanpa mengeluarkkan kata-kata pedasnya lagi, Jarren berlutut di sebelah kursi Puspa, menyejajarkan tingginya. Tangannya terulur mengusap lembut air mata di pipi Puspa.
“Pria idiot mana yang membiarkan pacarnya keliling sendirian mencari uang hampir tengah malam begini?” bisik Jarren pelan, suaranya sarat akan emosi yang tertahan. “Putusin dia, Puspa.”
Puspa tersentak saat merasakan usapan lembut di pipinya. Ibu jari Jarren yang hangat dengan telaten menghapus sisa air mata yang masih membasahi kulitnya.
“Nggak ada pacar, Jarren. Aku bohong ... Nggak ada satu pun orang yang bisa aku mintai tolong.” Pengakuan itu lolos begitu saja bersama isakan yang memecah pertahanan Puspa.
Bahu wanita itu bergetar hebat di bawah pendar lampu restoran yang redup.
Jarren tidak mengejeknya. Pria itu justru menghela napas panjang.
KRUYUKK ....
Suara perut Puspa yang berderak nyaring mendadak memecahkan keheningan haru di antara mereka.
Rona merah padam seketika menjalar cepat dari leher hingga ke ujung telinga Puspa. Isakannya terhenti seketika, berganti rasa malu yang menusuk ulu hati.
Kedua sudut bibir Jarren yang tadinya tegang kini melar. Pria itu terkekeh pelan, tawa renyah yang amat jarang Puspa dengar.
“Itu ... itu bukan suara perutku!” dalih Puspa cepat, mendelik tajam meski matanya masih basah.
“Iya, percaya. Itu suara AC restoran,” sahut Jarren datar, tetapi jemarinya sudah lihai mengusap layar ponsel untuk memesan makanan.
Tidak sampai 10 menit, dua porsi paket ayam goreng tepung hangat tersaji di meja mereka. Aroma gurihnya langsung menyeruak.
Jarren tanpa ragu meraih paha ayam milik Puspa, menguliti bagian tepung renyahnya, lalu menaruh kulit goreng itu ke piringnya sendiri, persis seperti kelakuannya 10 tahun lalu saat mereka terpaksa berada di meja yang sama di kantin SMA.
Puspa mendesis, “Kamu masih terobsesi mencuri kulit ayamku, meski sudah menjadi pengacara yang sukses?"
“Gak ada yang gratis di dunia ini, Puspa. Kulit ayam ini imbalan karena aku sudi mengawasimu sampai ke restoran ini,” balas Jarren santai, mengunyah tanpa dosa.
“Mengawasi?” Dahi Puspa mengernyit.
Jarren terkekeh hambar, memutar-mutar gelas minumnya. “Muka kamu itu sudah pucat seperti mayat sejak dari rumah. Kalau aku nggak ikuti dari belakang, siapa yang mau memungut kamu kalau tiba-tiba tumbang di jalanan?”
Puspa berdecih sebal. Dia memutar bola matanya malas.
Namun kemudian Puspa memperhatikan Jarren yang sibuk makan cukup lama.
Dua kali berturut-turut, Jarren tepat waktu menyelamatkan Puspa.
Usai makan, Puspa merogoh tasnya yang lusuh dan mengeluarkan beberapa lembar uang puluhan ribu. “Ini bagianku. Aku mau bayar.”
“Simpan uangmu,” tolak Jarren tanpa melirik.
“Nggak! Aku nggak mau utang sama kamu,” tolak Puspa keras kepala. “Utangku sudah banyak.”
Jarren meletakkan sendoknya. Wajah santainya menguap, berganti raut serius yang menekan.
“Puspa, kamu sebenarnya punya jalan keluar paling mudah dan cepat dari semua kekacauan ini,” tukas Jarren.
Kening Puspa berkerut. “Maksud kamu?”
“Tawaranku untuk menikahimu itu serius.”
Kata itu menghantam dada Puspa. Jantungnya berdesir aneh, meletupkan denyut liar yang tidak bisa Puspa kuasai.
Sebelum Puspa sempat membalas, ponselnya di atas meja bergetar keras.
Sebuah foto masuk dari nomor tidak dikenal.
Tiga pria berotot kembali mengurung teras rumah lamanya, membakar salah satu kursi plastik.
[Satu jam lagi uangnya nggak ada, rumah ini kita ratakan.]
Darah Puspa terasa berhenti mengalir. Jarren melirik layar itu, lalu berdiri seketika dan merebut kunci motor dari jemari Puspa.
“Kita pergi sekarang,” cetus Jarren seraya menempelkan ponsel ke telinganya. “Bawa SUV-ku di restoran cepat saji dekat kompleks.”
“Tapi–”
“Pilihannya cuma dua,” potong Jarren, melemparkan helm pada Puspa. “Lebih baik diseret para preman atau aku?”
Tanpa banyak bicara, Jarren menaiki motor Puspa.
Puspa terpaksa naik ke jok belakang, mencengkeram jas Jarren erat-erat saat pria itu memacu kendaraan membelah angin malam.
Namun, Jarren tidak mengarah ke rumah Puspa. Dia membawanya menembus kawasan bisnis kota, berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit.
Jarren menuntun Puspa menuju lantai paling atas, membuka ruang kerja luas yang sangat elegan.
Tidak ada siapa-siapa selain mereka. Ini sudah lebih dari jam 12 malam.
Di atas meja kayu jati yang megah, terpahat papan nama kuningan.
[Jarren Dewandaru, S.H., M.H. - Managing Partner.]
Jarren melangkah ke sudut ruangan, lalu kembali membawa map dokumen tebal berwarna gelap.
Pria itu menghempaskannya ke atas meja kaca tepat di hadapan Puspa.
“Tujuh ratus juta dan seluruh teror pinjaman keluargamu bisa selesai malam ini,” ujar Jarren dingin, berdiri menjulang di balik meja. “Syaratku cuma dua. Pertama, sertifikat tanah peninggalan nenekmu disita atas namaku agar nggak dijual keluargamu. Kedua, kamu menikah denganku secara sah di mata hukum, menjalankan kewajiban sebagai istri, salah satunya memberikan keturunan.”
Puspa membelalak sempurna. Napasnya tertahan mengetahui syarat dari Jarren yang siap menjerat masa depannya.
“Kalau kamu setuju, kita susun bersama surat perjanjian pernikahan kontrak dan perlindungan hukum sekarang juga,” sambung Jarren sambil menatap lekat Puspa.
Tatapan mata Puspa menusuk ke dalam manik mata Jarren yang tidak tertebak.
“Kenapa kamu mau repot-repot menikahi musuhmu sendiri, Jarren?” tanya Puspa.
Genggaman Puspa pada tali tasnya mengencang seketika. Bayangan masa lalu mendadak melesak liar di kepalanya. Bagaimana keras dan ringannya tangan Rangga sewaktu pria itu berani menyentuhnya secara paksa saat Puspa masih bekerja sebagai guru privat Sena. Jarren mencengkeram kemudi semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Matanya menatap lurus jalanan dengan pendar dingin yang sarat ancaman. “Kemungkinan itu selalu ada, Mpus,” tutur Jarren dengan suara berat yang tertahan, “meski hanya nol koma sekian persen sekali pun. Aku juga akan cari tahu soal itu.” Puspa mengangguk pelan, mencoba menetralkan gejolak cemas di dadanya sewaktu mobil meluncur membelah gerbang sekolahnya. Beberapa hari kemudian, jam istirahat siang menyapa. Langkah Puspa yang agak melambat karena perut lima bulannya membawa tubuhnya kembali ke ruang guru. Namun begitu tiba di depan meja
Jarren menatap lekat-lekat manik mata Puspa yang memancarkan keteguhan tanpa cela. Selapis amarah dan kepedihan merayapi sorot mata istrinya, tetapi di sana juga terpancar ketulusan. “Mas …” Puspa mengikis jarak, mengulurkan tangannya untuk meremas lembut jemari tegap Jarren, “apa yang kita tanam hari ini, itu yang akan kita tuai di kemudian hari. Bisa saja sekarang kita menyelamatkan Sena, lalu di kemudian hari orang lain akan mempermudah jalan kita, atau bahkan menolong anak-anak kita saat tangan kita sendiri nggak mampu mencapai mereka.” Sebuah desahan napas panjang lolos dari dada Jarren. Ketegangan di garis rahangnya sedikit mengendur sewaktu dia membalas genggaman hangat Puspa. “Kita lanjut bicara di mobil, Mpus,” bisik Jarren rendah, memberi isyarat halus bahwa pelataran rumah orang lain bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat. Puspa sempat membuka mulut, hendak membantah ajakan menunda percakapan itu. Namun menangkap keseriusan di mata suaminya, wanita itu akhirnya meng
Mata Puspa membola sempurna, pasokan udara di paru-parunya seakan mendadak mengencang.Di sisi Puspa, alis Jarren bertaut rapat dengan kelopak mata menyipit tajam.“Panti asuhan?” ulang Puspa, suaranya naik satu oktaf dipenuhi nada ketidakpercayaan yang membuncah.Sari mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang kembali membasah dengan lengan baju.“Tapi untuk apa Sena mau ditaruh di panti asuhan kalau kedua orang tuanya masih hidup, sehat, dan sangat mampu membiayai Sena, Mbak?” Puspa mengernyitkan dahi dalam-dalam, dadanya kempas-kempis menahan pusaran amarah yang mendadak membakar pembuluh darahnya.Puspa sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rangga dan mantan istrinya. Hati nurani Puspa sebagai calon ibu dari bayi kembar berontak hebat.Bagaimana bisa ada orang tua berdarah dingin yang tega membuang darah dagingnya sendiri hanya demi ego pribadi?Sari meremas jemarinya yang gemetar, menjawab dengan raut wajah kian sedih, “Saya juga kurang paham detailnya, Bu. Saya cuma
Sebuah cengkeraman kokoh bertumpu di udara, membekukan tangan pria itu tepat satu jengkal di depan kerah pakaian kerja hamil Puspa.Buku-buku jari milik Jarren mengunci pergelangan tangan berjaket kulit itu. Hawa dingin dari luar ruangan seolah mengkristal di sekitar tubuhnya, memancarkan aura intimidasi yang siap mematahkan lawan detik itu juga.“Tangan kotor Anda nggak layak menyentuh istri saya,” ucap Jarren penuh penekanan.Pria berjaket kulit itu mengaduh pelan, menggeram menatap Jarren dengan mata memerah oleh amarah. “Jadi kamu suaminya?! Berarti kamu papanya anak ini?!”Puspa mengembuskan napas lega yang panjang.Sekilas wanita itu mengukir senyum tipis sarat rasa terima kasih ke arah suaminya.Namun ukiran senyum itu melenyap tanpa sisa tatkala Puspa memutar kepalanya kembali, menghadapi pria di hadapannya.“Bukan, Pak,” tukas Puspa lugas. “Tadi saya juga sudah bilang kalau saya bukan mamanya Sena.”Pria itu menoleh cepat, melayangkan tatapan membunuh pada Puspa meski pergela
“Sudah, Bu. Nggak direspons sama sekali,” sahut Atika dengan canggung. Kedua mata Puspa melebar sempurna. Bibirnya sedikit terbuka, mematung mencerna kalimat singkat yang meluncur dari mulut guru di hadapannya. “Memang mama Sena nggak pernah menanggapi pesan, panggilan telepon, atau bahkan undangan resmi dari pihak sekolah sejak awal tahun ajaran. Kontak beliau yang terdaftar di berkas nggak pernah aktif.” Atika mendesah pelan, meremas jemarinya sendiri. Puspa tertegun. Pikirannya melayang liar. Wanita itu berusaha keras untuk tidak pernah menghakimi kehidupan pribadi orang lain, tetapi nuraninya berontak kencang. Ibu kandung seperti apa yang hatinya sama sekali tidak tergerak saat mendengar putranya terluka di sekolah? Sementara Puspa, yang notabene hanyalah mantan guru privat tanpa ikatan darah, justru terseret melangkah hingga ke tempat ini karena naluri keibuannya? Kini, Puspa mulai memahami kepedihan tak kasatmata di balik binar mata Sena. Anak laki-laki itu tumbuh dala
Jemari Puspa membeku di atas layar ponselnya. Dahi wanita itu berkerut semakin dalam. Puspa menekan tombol balas, menari-narikan jarinya di atas papan ketik virtual. “Maaf, Bu. Saya nggak ada hubungan keluarga sama Sena. Jadi silakan hubungi ayah atau ibunya saja.” Puspa mengirimkan pesan, lalu menghembuskan napas panjang. “Aneh banget,” gumam Puspa lirih pada ruangan sepi. “Kenapa ngehubungin aku? Guru Sena dapat nomor aku dari mana, ya?” Baru saja Puspa membalikkan ponsel dan meletakkannya di sudut meja, denting suara notifikasi kembali memecah keheningan. Jemarinya yang berhias cincin pernikahan refleks terulur meraih kembali benda pipih itu. [Mohon maaf, Bu, nomor Ibu terdaftar sebagai kontak darurat atas nama Sena Baswara.] Tak berselang lama, sebuah foto terunduh otomatis di layar. Gambar yang menunjukkan anak laki-laki itu duduk lemas di atas kasur dengan hidung tersumbat kain kasa dan bercak darah segar mengering di sekitar bibirnya. Puspa mendesah berat. Rasa hangat







