FAZER LOGINMarsya, dengan wajah pucat dan napas memburu, merangkak sedikit mendekat ke arah Puspa. “Puspa ... kamu nggak bisa giniin Ayah sama Ibu,” tutur Marsya dengan intonasi memohon yang dipaksakan. “Walaupun mereka bukan orang tua kandung kamu, mereka yang membesarkan kamu selama 25 tahun ini, Puspa ….” Liza mengangguk-angguk cepat di tengah isak tangisnya yang membuncah. “Benar, Puspa, kami yang merawat kamu dari bayi. Kami yang kasih kamu makan, minum, dan tempat tinggal. Kami juga yang menyekolahkan kamu sampai dewasa,” Sebuah kekehan sumbang yang teramat dingin lolos dari bibir Puspa. Sorot matanya menghujat lurus ke arah wanita yang dulu dipanggilnya ibu itu. “Makanan sisaan Marsya, kan?” cecar Puspa tajam. “Minuman sisa dari gelas-gelas kalian yang saya kumpulkan jadi satu? Dan kamar dengan atap bocor yang sampai detik ini nggak pernah kalian perbaiki?” Liza dan Rusdi membeku. “S
Isak tangis Liza mendadak terhenti. Jemari keriput wanita paruh baya itu gemetar hebat sewaktu melepas lembaran dokumen berstempel resmi di tangannya, membiarkan kertas itu meluncur jatuh. “Nggak mungkin, Puspa!” jerit Liza histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut pias. “Nggak mungkin! Bukti ini pasti palsu! Kamu dibohongi orang!” Puspa mengulas senyum tipis yang sarat keputusasaan, mengamati kehancuran wanita yang pernah diagungkannya. Dia mengangkat salah satu alisnya tanpa riak emosi. “Ini asli, Bu Liza,” balas Puspa dengan datar. “Kalau Ibu meragukan keabsahan lembaran hukum itu, berarti Ibu sama saja melecehkan dan nggak percaya pada institusi terkait yang mengeluarkannya.” Liza mendadak kehilangan kata-katanya. Tenggorokan wanita paruh baya itu terkunci rapat, lidahnya kelu tak sanggup lagi menyusun pembelaan. Tanpa membuang waktu, Puspa memalingkan pandangannya pada Rusdi. Jemari lentik wanita hamil itu mengambil berkas tebal berikutnya dari dalam map, lalu
Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari intonasinya. “Mungkin Puspa malu, Bu, punya keluarga melarat kayak kita! Sekarang dia sudah jadi orang kaya, hidup bergelimang harta, sementara kita makin miskin dan terlunta-lunta!”“Puspa memang seharusnya malu,” timpal Rusdi, mengangkat dagunya angkuh seolah memegang kendali. “Keadaan kita yang mengenaskan begini cuma makin membuktikan ke sekeliling kalau dia anak durhaka yang sama sekali nggak peduli sama keluarganya sendiri!”Jarren yang duduk di samping Puspa bergulir menata
Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.
Puspa menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.Ucapan Jarren mengenai riwayat genetik itu mengalun samar di benak Puspa, tetapi pertahanan dirinya buru-buru menolak gagasan tersebut.“Jangan mengada-ada, Mas,” bisik Puspa parau, mengalihkan wajahnya ke arah jendela. “Asma itu penyakit umum. Banyak orang mengidap hal yang sama tanpa harus punya hubungan darah.”Jarren tak membalas perdebatan itu dengan kata-kata. Pria itu menekan tombol panggil di sisi ranjang.Tak berselang lama, dokter spesialis paru masuk bersama dua perawat.Dengan tenang, sang dokter menjelaskan detail medis secara gamblang bahwa asma alergi atau atopi memiliki tingkat keterikatan genetik yang sangat tinggi, kerap diturunkan langsung dari orang tua kandung ke anaknya.Puspa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa perih merayap di lidahnya. Tangan kanannya mengepal erat, meremas sprei rumah sakit hingga kusut.“Apa ada cara lain buat
Detak jarum jam dinding seolah terhenti sewaktu iris mata Jarren terpaku pada deretan huruf di layar ponselnya. Jemarinya membeku, tak sanggup menggeser tampilan dokumen hukum yang kian menelanjangi kenyataan.“Puspa Manora,” gumam Jarren lirih. “Ada berapa banyak orang di dunia ini yang bernama Puspa Manora?”“Cuma aku,” sahut sebuah suara tenang dari arah belakang.Jarren memutar kepala secara refleks.Di ambang pintu kamar mandi, Puspa berdiri seraya mengeringkan helai-helai rambut basahnya menggunakan selembar handuk kecil.Piyama longgar pinjaman dari Tantri melambai pelan seiring helaan napasnya yang teratur.“Kamu tahu dari mana?” tanya Jarren cepat, menatap istrinya lekat-lekat.Puspa menghentikan usapan handuknya, menatap balik tanpa berniat mengikis jarak. “Aku pernah iseng riset kecil-kecilan di internet sama media sosial. Nggak ada satu pun akun atau artikel yang mencatat nama lengkap Puspa Manora selain mili







