MasukAngin malam bertiup dingin melewati celah-celah rumah kayu Desa Heishan. Kabut semakin tebal. Dari kejauhan, cahaya obor pasukan kekaisaran tampak samar bergerak di antara pepohonan hitam seperti bayangan hantu. Di dalam rumah, suasana menjadi semakin tegang. Kepala Desa Heishan menatap Zhao Fenglin beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. “Kalau mereka datang untukmu, kami bisa menyerahkanmu keluar desa.” Gu Liang langsung mengangkat kepala tajam. “Apa?” Namun Zhao Fenglin justru tetap tenang. Tatapannya bertemu langsung dengan pria besar itu. “Kalau aku di posisi Anda, aku juga akan berpikir sama.” Jawaban itu membuat Kepala Desa sedikit menyipitkan mata. Wei Chen melangkah maju. “Kami tidak datang untuk menyeret Heishan ke masalah.” “Kalian sudah melakukannya saat membawa setengah pasukan istana ke hutan ini.” Suasana kembali hening. Tak ada yang bisa membantah. Heishan memang wilayah terasing yang selama puluhan tahun menghindari urusan kekaisaran. Jika pasukan istana
Hutan Heishan semakin gelap saat malam benar-benar turun.Kabut tebal bercampur asap dingin membuat jarak pandang hanya beberapa langkah. Pria tua itu terus berjalan di depan tanpa pernah ragu memilih jalan, seolah mengenal setiap batu dan akar di tempat itu.Rombongan Zhao Fenglin mengikutinya dalam diam.Tak lama kemudian, suara air mulai terdengar.Mereka melewati celah batu sempit sebelum sebuah lembah tersembunyi muncul di balik kabut. Beberapa rumah kayu berdiri di antara pohon-pohon hitam, dengan lentera redup menggantung di depan pintu.Desa Heishan.Namun suasananya jauh dari damai.Saat rombongan mereka muncul, bayangan-bayangan langsung bergerak dari balik rumah dan pepohonan. Anak panah ditarik. Pedang terhunus.Puluhan pasang mata menatap mereka penuh waspada.Pria tua itu akhirnya berhenti.“Turunkan senjata kalian,” katanya dingin.Tak ada yang langsung bergerak.Seorang pria bertubuh besar melangkah keluar dari salah satu rumah. Wajahnya dipenuhi bekas luka panjang, se
Menjelang malam, rombongan Wei Chen akhirnya memasuki wilayah hutan hitam di utara.Pepohonan di sana jauh lebih rapat dibanding lereng sebelumnya. Batang-batang besar menjulang tinggi hingga hampir menutupi seluruh cahaya langit. Kabut menggantung rendah di antara akar dan semak liar, membuat udara terasa lembap dan dingin.Tak ada suara burung. Tak ada suara binatang.Hanya langkah kaki mereka yang pelan di atas tanah basah.Gu Liang masih membawa Zhao Fenglin di punggungnya, meski kini napas pria besar itu sendiri mulai berat.“Kalau kau tambah berat lagi, aku benar-benar akan membuangmu ke sungai,” gerutunya.Zhao Fenglin yang setengah sadar membuka mata sedikit. “Kau terlalu lemah.”“Lihat? Dia masih sempat menghina orang.”Shen Yu tertawa pendek dari belakang.Namun senyum mereka cepat menghilang saat Zhao Fenglin mendadak batuk keras.Tubuhnya menegang sesaat sebelum darah segar menetes dari sudut bibirnya.Langkah Gu Liang langsung berhenti.Wei Chen menoleh cepat, wajahnya me
Kabut semakin tebal saat mereka meninggalkan lereng utara. Tak ada seorang pun yang berjalan terlalu jauh dari Zhao Fenglin. Bahkan Gu Liang yang biasanya paling ribut kini terus memperhatikan langkah pria itu dengan wajah gelap.Setelah dua hari hilang di pegunungan, kondisi Zhao Fenglin jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan.Demamnya semakin tinggi. Beberapa kali langkahnya goyah meski tetap dipaksa stabil.Namun tak sekali pun ia mengeluh. Wei Chen berjalan di sisi kirinya sambil terus mengawasi sekitar.“Kita tidak bisa turun ke kaki gunung,” katanya rendah. “Pasukan kekaisaran pasti mulai menutup jalur keluar.”Shen Yu yang berjalan paling belakang menyeringai tipis. “Kalau begitu kita sembunyikan dia di sarang harimau.”Gu Liang mendengus. “Aku serius ingin memukulmu suatu hari.”“Aku juga serius.” Shen Yu menyahut tak mau kalah.Mereka terus bergerak melewati jalur sempit berbatu. Hujan semalam membuat tanah licin, sementara kabut membatasi jarak pandang hanya beberapa la
Kabut tebal turun menyelimuti pegunungan barat.Hujan semalam meninggalkan tanah licin dan udara dingin yang menusuk tulang. Di antara pepohonan pinus yang rapat, Wei Chen berjalan paling depan dengan wajah tegang.Tak ada seorang pun berbicara sejak fajar.Jejak yang mereka temukan kemarin menghilang di jalur berbatu utara, seolah orang yang mereka cari sengaja menghapus keberadaannya sendiri.Gu Liang menendang batu kecil dengan kesal.“Kalau dia benar-benar masih kuat berjalan sejauh ini, begitu ketemu akan kupastikan tulangnya patah semua.”Shen Yu mendengus kecil.“Kalau begitu kau harus antre. Aku yang memukul lebih dulu.”Namun tak ada senyum di wajah mereka. Karena semakin lama pencarian berlangsung, mereka semakin sadar satu hal. Zhao Fenglin terluka parah.Dan dia sedang menghindari semua orang. Wei Chen tiba-tiba mengangkat tangan.Semua prajurit langsung berhenti. Suara samar terdengar dari depan. Bukan langkah kaki melainkan batuk.Pelan, tertahan, tapi jelas berasal dari
Hening panjang memenuhi kamar Zhao Fenglin. Ini pertama kalinya ia memasuki kamar suaminya selama mereka menikah. Hujan di luar terus turun perlahan, memukul atap dan dedaunan bambu dengan suara lembut yang justru membuat suasana terasa makin kosong.Yuwen Shuang memandang Han Ruoxi beberapa saat. Ia ingin menjawab yakin. Ingin berkata Zhao Fenglin pasti hidup.Namun untuk pertama kalinya sejak kabar itu datang, bahkan dirinya sendiri mulai takut mempercayai harapan.“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya pelan.Jawaban itu membuat mata Han Ruoxi kembali memerah.Wanita itu tertawa kecil, namun terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.“Benar juga,” gumamnya lirih. “Tidak ada yang tahu.”Ia menunduk menatap kedua tangannya sendiri.“Dulu aku selalu takut Fenglin mati di medan perang.” Suaranya sangat pelan. “Sejak dia mulai mengikuti Zhao Jianwu ke perbatasan, aku selalu takut suatu hari seseorang akan datang membawa kabar buruk.”Yunxi dan Mei’er sama-sama menahan napas.“Setiap k
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Ibu ….”Suara Yuwen Shuang tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran.Kereta kembali berguncang keras. Sesuatu menghantam sisi luarnya hingga kayu tebal itu berderak seakan ingin pecah. Mei’er menjerit pelan dan semakin merapat, sementara Yunxi memeluk tubuh majikannya erat, berusaha menahan gun
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan
Han Ruoxi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan kepada kepala pelayan itu, lalu menoleh pada Yuwen Shuang.“Putri, lanjutkan makanmu. Aku akan kembali sebentar lagi.”Setelah memastikan Yunxi dan Mei’er tetap berada di dalam, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu dengan hati-







