LOGINSuasana di dalam kamar seketika menegang. Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam tangan Selir Li Mei lebih erat, sementara Bibi Sun berdiri terpaku di depan pintu dengan wajah penuh kewaspadaan.Selama bertahun-tahun, Permaisuri Xie Zhaoyun hampir tidak pernah mengirim orang ke Istana Dingin, apalagi di tengah malam seperti ini. Bahkan ketika Yuwen Shuang pertama kali datang ke Istana, wanita itu tidak pernah menunjukkan perhatian khusus kepadanya ataupun kepada selir Li Mei.Karena itulah, kedatangan utusan Permaisuri saat ini terasa sangat aneh.Selir Li Mei menoleh ke arah Bibi Sun dan menganggukkan kepalanya pelan. "Buka pintunya."Bibi Sun tampak ragu-ragu. Tatapannya sempat beralih kepada Yuwen Shuang sebelum akhirnya berjalan menuju pintu kayu itu. Begitu pintu dibuka, seorang kasim muda segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat."Hamba memberi salam kepada Selir Li dan Putri Kedua."Yuwen Shuang memperhatikan pria itu dengan saksama. Wajahnya tampak asing. Ia yakin belum perna
Yuwen Shuang menatap Kaisar dengan wajah pucat. Lidahnya mendadak kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Kini kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dari apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tentang Heishan yang disebut oleh Kaisar, dan Zhao Fenglin yang ternyata masih hidup. Suaminya akan kembali ke ibu kota. Namun, mengapa ayahnya sendiri justru berbicara seolah-olah Zhao Fenglin adalah musuh yang harus diawasi?"Baginda ...," suara Yuwen Shuang bergetar, "apa yang sebenarnya terjadi di Heishan?" Kaisar Yuwen Longzhi membalikkan tubuhnya dan memandang halaman istana yang gelap. "Ada seseorang yang mencoba membunuh Zhao Fenglin."Mata Yuwen Shuang langsung membelalak. "Membunuh?" bisiknya."Namun, dia selamat." Kaisar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Dan sejak saat itu, aku tidak lagi mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya."Yuwen Shuang tanpa sadar menggenggam erat lengan bajunya sendiri. Selama ini, Zhao Fenglin adalah jenderal paling setia di
Teriakan Yuwen Shuang memecah keheningan malam. Tanpa memedulikan tatapan para penjaga di sekitarnya, ia segera berlari menaiki tangga batu menuju sang Ibu. Jubah panjangnya terseret di lantai, sementara wajahnya dipenuhi keterkejutan dan kepanikan."Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan napas memburu.Selir Li Mei perlahan mengangkat kepalanya. Wajah wanita itu tampak jauh lebih pucat daripada biasanya, matanya sedikit memerah seolah telah menangis dalam waktu yang lama. Saat melihat Yuwen Shuang, raut wajahnya justru berubah panik."Shuang'er, kenapa kau datang ke sini?" bisiknya pelan.Yuwen Shuang berlutut di samping ibunya. Tatapannya segera beralih ke tali yang melilit pergelangan tangan Li Mei."Siapa yang melakukan ini?" Suaranya mulai bergetar. "Kenapa mereka mengikat Ibu?"Li Mei membuka mulut, tetapi sebelum sempat menjawab, suara berat tiba-tiba terdengar dari dalam aula."Karena itu perintahku."Tubuh Yuwen Shuang langsung menegang. Perlahan, ia mengangkat ke
Angin malam berembus pelan, membuat ujung jubah hitam Han Zhiren berkibar di bawah cahaya lentera. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya menggeleng tipis."Hamba tidak berani menebak kehendak Baginda."Yuwen Shuang menatapnya lekat, seolah ingin mencari sesuatu dari wajah tenang pengawal itu. Namun ia tidak menemukan apapun. Pria itu begitu pandai menyembunyikan ekspresinya.Untuk beberapa saat, suasana di halaman paviliun menjadi sunyi. Para pelayan menundukkan kepala, tidak berani ikut campur dalam percakapan mereka.Yuwen Shuang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah aula utama istana yang tampak jauh di balik kegelapan malam. Hatinya semakin gelisah. Selama bertahun-tahun, Kaisar Yuwen Longzhi hampir tidak pernah memanggil Selir Li Mei, apalagi di tengah malam seperti ini.Semakin dipikirkannya, semakin aneh semuanya terasa.Tiga hari yang lalu, ia tiba-tiba diperintahkan kembali ke istana. Lalu, suasana istana berubah menjadi jauh lebih tegang. Sekarang, Li Mei dipanggil se
Yuwen Shuang perlahan membalikkan tubuhnya. Ia tampak terkejut saat melihat seorang pria yang menyambut kedatangannya beberapa bulan yang lalu, saat ia berkunjung untuk menemui sang Ibu. Keterkejutan itu hanya sesaat."Han Zhiren?" gumam Yuwen Shuang. Pria itu tersenyum sopan, lalu membungkukkan tubuhnya. "Putri kedua, apakah Anda membutuhkan sesuatu?""Tidak. Aku keluar untuk menemui Ibu, karena aku terbangun karena mimpi buruk." Yuwen Shuang mengatakan itu dengan tenang, sorot matanya datar. Jelas ia berbohong. Sepertinya Han Zhiren tidak mudah dibohongi. Karena mata tajam Pria itu menatap lekat wajah Yuwen Shuang, wanita itu tidak seperti orang yang baru saja terbangun karena mimpi buruk. Wanita itu jelas belum tidur. Namun pria itu tetap mengangguk, masih dengan senyumannya. "Mari saya antar, Putri. Ini sudah sangat larut, istana dingin letaknya sangat jauh." Dengan cepat Yuwen Shuang menggeleng. "Tidak perlu. Saya bisa pergi sendiri." Han Zhiren mengangguk, ia tidak bisa
Berbaliklah Zhao Fenglin dari jembatan batu itu. Langkahnya tetap tenang, tetapi Wei Chen dapat merasakan perubahan pada pria di sampingnya. Selama bertahun-tahun mereka bertempur bersama, ia tahu satu hal. Semakin tenang Zhao Fenglin terlihat, semakin besar badai yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.Kabut malam perlahan menelan cahaya obor pasukan kekaisaran. Di belakang mereka, suara derap kaki kuda Lu Dehai semakin menjauh hingga akhirnya menghilang bersama embusan angin.Beberapa saat kemudian, Wei Chen akhirnya memecah keheningan."Jenderal, apakah kau mempercayai ucapannya?"Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering."Tidak sepenuhnya.""Lalu kita tetap kembali?" tanyanya lagi. "Kita memang harus kembali."Wei Chen menghela napas pelan. "Padahal bisa saja itu jebakan.""Memang jebakan."Jawaban Zhao Fenglin begitu tenang hingga membuat Wei Chen terdiam."Tapi jebakan itu memang ditujukan agar aku masuk ke
“Nyonya, maaf aku sedikit terlambat.”Yuwen Shuang menghampiri Han Ruoxi yang telah menunggunya di bawah atap teras gerbang dalam. Kereta kuda keluarga Zhao sudah terparkir beberapa langkah dari sana. Dua ekor kuda hitam berdiri tenang, sesekali mengibaskan ekornya. Seorang kusir memegang kendali d
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk
Zhao Fenglin tidak langsung menjawab.Kereta terus bergerak mendekati gerbang istana.Suara roda kayu yang berderak perlahan bercampur dengan langkah para penjaga yang berjaga di sepanjang jalan menuju gerbang utama.Lampion merah besar yang tergantung di kedua sisi gerbang bergoyang pelan tertiup
Langit ibu kota perlahan berubah gelap ketika matahari akhirnya tenggelam di balik tembok kota.Lampion-lampion mulai dinyalakan satu per satu di sepanjang jalan utama. Cahaya kuning hangat memantul di batu jalan yang telah dipakai selama puluhan tahun oleh kereta para pejabat dan bangsawan.Di dep







