MasukZhao Fenglin menatap jurang, kemudian tersenyum tipis. “Siapa bilang aku yang akan jatuh?” Kalimat itu membuat pemimpin bertopeng menyipitkan mata. Angin gunung berhembus keras di bibir tebing, membawa kabut tipis dan bau air sungai yang mengamuk jauh di bawah. Tanah di bawah kaki kuda licin oleh hujan malam, penuh kerikil longgar yang mudah runtuh. Pemimpin bertopeng mengangkat pedangnya sedikit. “Masih sempat bercanda saat ajal di depan mata?” Zhao Fenglin tidak menjawab. Ia hanya menepuk leher kudanya pelan, lalu memutar setengah tubuh. Posisi itu membuat punggungnya menghadap jurang, seolah benar-benar terdesak tanpa jalan keluar. Puluhan penunggang mulai menyebar, menutup sisi kiri dan kanan. Mereka tidak ingin memberi celah sekecil apa pun. Wei Chen selalu mengatakan satu hal tentang Zhao Fenglin. Jika pria itu tampak tenang saat terpojok, berarti orang lain sedang berjalan masuk ke perangkap. Pemimpin bertopeng menghentakkan kudanya maju dua langkah. “Turun dari k
Gelombang hitam itu datang tanpa ragu.Puluhan penunggang bertopeng memacu kuda lurus ke arah satu orang yang berdiri di tengah jalur sempit. Cahaya obor menari di bilah pedang mereka, memantulkan kilau dingin yang mematikan.Zhao Fenglin tidak mundur.Ia menghentakkan kudanya maju lebih dulu.Benturan pertama pecah seperti petir. Pedangnya menebas dari atas, membelah topeng dan tengkorak penyerang terdepan dalam satu garis lurus. Tubuh itu jatuh dari pelana sebelum sempat menjerit.Kuda-kuda di belakang kacau sesaat.Ia memanfaatkan celah itu. Bilahnya berputar ke samping, memotong leher penunggang kedua. Darah menyembur panas ke udara malam.“Lewat!” raung Shen Yu dari belakang.Shen Yu menerjang bersama belasan prajurit tersisa, menghantam sisi kanan musuh. Tawa gilanya kembali pecah meski wajahnya pucat karena kehilangan darah.Gu Liang di jalur tebing memaksa kudanya melompati batu besar sambil menyeret dua prajurit terluka. Tombak patahnya masih menghantam siapa pun yang terlalu
Malam telah larut sepenuhnya.Di kediaman Zhou, tepatnya di dalam kamar, hanya cahaya lampu minyak yang tinggal separuh menyala. Bayangannya bergoyang pelan di dinding, memanjang lalu memendek mengikuti tiupan angin dari celah jendela.Yuwen Shuang terbangun dalam keadaan duduk.Napasnya tidak teratur. Ujung rambut di pelipisnya basah oleh keringat dingin. Selimut yang menutupi tubuhnya telah bergeser setengah, jatuh di pangkuan tanpa ia sadari.Dadanya terasa sesak.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap ke depan dengan mata kosong, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Ingatan di kepalanya kacau seperti potongan kain yang tercabik-cabik.Rasa pahit di lidah. Suara seseorang berteriak, cangkir pecah, lalu gelap.Yuwen Shuang menunduk perlahan. Jemarinya menyentuh lehernya sendiri, lalu bergerak ke dada kiri. Detak jantung di sana begitu cepat, menghantam telapak tangannya tanpa ritme.Perasaannya sangat tidak enak.Seolah sesuatu sedang terjadi di tempat yang tidak bisa i
Wei Chen menoleh tajam ke arah lereng.Dari kegelapan hutan, bayangan-bayangan baru bermunculan di antara batang pohon. Obor kecil menyala satu per satu, memperlihatkan puluhan penunggang lain yang turun melalui jalur sempit di sisi atas.Semua memakai topeng hitam yang sama.Wajah Gu Liang berubah keras. “Mereka menunggu di sini sejak awal.”“Bukan menunggu,” gumam Wei Chen. “Mereka sudah menghitung jalur pulang kita.”“Mereka sudah menunggu kalau perang kali ini dimenangkan oleh kita!” Shen Yu ikut menyambut sambil mengusap keringat pada dahinya. Gelombang kedua langsung turun menghantam sisi belakang barisan Yuwen. Prajurit yang sedang menjaga kereta medis terkejut dan nyaris tak sempat mengangkat senjata. Jeritan pecah di tengah malam saat kuda-kuda menyeruduk masuk.Formasi Yuwen buyar.“Lindungi kereta!” raung Gu Liang sambil mencabut tombak cadangan dari punggung prajurit mati di dekatnya.Ia menerjang ke belakang, memukul jatuh satu penyerang dari pelana lalu menusuk penungga
Udara di jalur pegunungan mendadak membeku.Para penunggang berkuda itu terus melaju tanpa memperlambat langkah. Jumlah mereka puluhan, mungkin lebih, bergerak dalam barisan rapat seperti pasukan yang telah berlatih berkali-kali. Wajah mereka tertutup topeng hitam polos, tanpa lambang, tanpa warna, tanpa identitas.Namun Zhao Fenglin mengenali mereka.Ia pernah melihat topeng semacam itu malam penyergapan di penginapan beberapa bulan lalu. Malam saat perjalanan menuju Ibu kota setelah menyelamatkan Yuwen Shuang dari kerajaan Ling. Tatapannya langsung berubah tajam.Wei Chen menangkap perubahan itu lebih dulu. “Jenderal, sepertinya kita pernah melihat mereka!”Zhao Fenglin mengangguk. “Mereka yang menyergap kita di penginapan malam itu!” Bukan Zhao Fenglin yang menjawab, melainkan Gu Liang.“Turun dari kuda jika ingin hidup lebih lama,” jawab Zhao Fenglin dingin.Wei Chen tidak bertanya lagi. Tangannya segera terangkat memberi aba-aba ke belakang.“Formasi bertahan!”Wei Chen mengger
Pasukan Yuwen meninggalkan dataran perang. Tanah yang dipenuhi jejak kuda, darah, dan senjata patah kini tersapu oleh derasnya hujan. Sorot mata mereka lelah, wajahnya yang semula dipenuhi bercak darah kini bersih, tubuh mereka penuh luka.semua itu terbayar setelah kemenangan yang akan mereka bawa menuju Istana.Hujan sudah sepenuhnya reda. Kabar kemenangan itu menyebar dari barisan depan ke belakang seperti api yang menyambar rumput kering. Sorak-sorai pecah berkali-kali di sepanjang perjalanan. Beberapa prajurit saling menepuk bahu, beberapa lainnya tertawa keras meski perban masih melilit kepala dan lengan.“Kita hidup!” teriak seseorang.“Kerajaan Ling mundur!”“Jenderal muda Zhao menebas dua pangeran Ling dalam satu perang!”Tawa dan sorak kembali pecah.Kereta-kereta medis bergerak di tengah rombongan, membawa yang terluka parah. Tabib keliling mondar-mandir di antara barisan, mengganti perban sambil mengumpat pada prajurit yang terlalu banyak bergerak.Gu Liang menunggang di s
“Ibu ….”Suara itu kembali lolos dari bibir Yuwen Shuang. Selir Li Mei kembali berbalik. Ia mendekat kembali, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Kedua mata itu masih terpejam, bulu matanya bergetar pelan seolah sedang terjebak dalam mimpi yang tak ingin dilepaskan.“Ibu, jangan pergi .…”
Jantung Han Ruoxi berdegup lebih keras.Ia tidak tahu permintaan apa yang akan disampaikan.Ia menunggu dengan sabar ucapan lanjutan dari Selir Li Mei.“Kalau besok, lusa, atau kapanpun. Ada orang Istana yang datang berkunjung kemari, tolong beritahu aku,” lanjut Selir Li Mei dengan pelan. Derajat
‘Suami?’ Sejujurnya itu masih terasa asing di pendengarannya. Yuwen Shuang menatap Han Ruoxi dengan senyuman sebelum menjawab. “Jenderal Zhao pergi ke ruang belajar, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang pada akhirnya. Han Ruoxi terdiam mendengar panggilan Yuwen Shuang padanya. “Putri, maaf sebelumnya. Ak
Yuwen Shuang melangkah menyusuri koridor. Kini tujuannya jelas, ia ingin menemui Zhao Fenglin di ruang belajar. Di kepalanya ucapan Mei’er berputar, tatapannya fokus ke depan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya memberikan hormat. Wajah mereka terkejut, tapi Yuwen Shuang tak peduli. Ia hanya







