登入Langkah kaki yang sangat berat terdengar bergema di sepanjang koridor batu bawah tanah yang gelap. Aku tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa sosok besar yang sedang berjalan mendekat ke arah selku.Aroma kayu bakar panas yang biasanya terasa sangat mendominasi kini tercium sangat redup dan lemah. Bau tembakau yang pekat menyertainya, mengalirkan aroma penyesalan yang mendalam dari sang penguasa tertinggi kawanan ini.Pintu besi sel berderit sangat keras saat sosok raksasa itu melangkah masuk ke didera kegelapan ruangan. Xavier berdiri tegap di sana, menatapku didera sepasang mata merah darah yang tampak berkaca-kaca oleh emosi yang tertahan.Napasnya terdengar berat akibat sisa racun Wolfsbane perang perbatasan yang masih aktif di didera tubuhnya yang terluka. Xavier menyadari ada sesuatu yang salah setelah dia bangun dari komanya.Guncangan ikatan batinnya didera Alana membuatnya menyeret tubuhnya yang masih lemas dan diracun untuk turun ke sel bawah tanah demi menemuinya. Sor
Julian berdiri tegak di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman luar Menara Timur.Salju tipis mulai turun perlahan, menghiasi permukaan tanah yang membeku dengan lapisan putih tipis.Aroma peppermint yang dingin menguar pekat dari tubuhnya, memenuhi seluruh sudut ruang kerja yang sepi itu.Di belakangnya, seorang pengawal tepercaya dari faksi bayangan berdiri diam dengan kepala menunduk sangat dalam.Julian membolak-balik lembaran dokumen strategi militer di atas meja kayu ek miliknya dengan gerakan jari yang sangat teratur.Jari-jarinya yang panjang tiba-tiba berhenti pada selembar kertas kulit tipis yang terselip di sela buku anatomi miliknya."Apakah kau sudah memastikan keaslian dari surat ini?" tanya Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas tersebut."Sudah, Lord Julian. Pelayan bernama Sienna itu menulisnya sendiri sebelum dia menemui Lady Freya pagi ini," jawab pengawal itu dengan suara yang sangat rendah.Julian tersenyum tipis, sebuah ekspre
Langkah kaki yang sangat berat bergema di sepanjang koridor batu bawah tanah yang membeku.Aku tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa sosok yang sedang berjalan mendekat ke arah selku.Aroma kulit hangat yang biasanya menenangkan kini tercium sangat asam di udara.Bau itu dipenuhi oleh kepedihan mendalam dan rasa dikhianati yang sangat pekat dari sang Alpha.Bastian berdiri di balik jeruji besi dengan napas yang memburu tidak teratur.Wajahnya yang biasanya tampan kini terlihat sangat hancur dan dipenuhi oleh amarah yang membakar.Rahang tegasnya bergetar hebat saat matanya yang berwarna emas menatapku yang meringkuk tak berdaya.Dia mencengkeram besi-besi dingin itu hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar."Apakah kau mendengarku, Alana?! Jawab aku sekarang juga!" teriak Bastian dengan suara serak yang memecah kesunyian malam di penjara ini.Suaranya yang menggelegar terdengar sangat tersiksa, menahan gelombang emosi yang siap meledak kapan saja."Jangan bersembunyi di bal
Rantai besi bergemerincing keras, menyeret kakiku di atas lantai koridor yang beralih dari marmer halus menjadi batu kasar yang membekukan.Two guards grabbed my shoulders without any mercy.Mereka mendorongku hingga aku terjerembap di atas sebuah kursi besi dingin di tengah ruangan bawah tanah yang luas.Sebelum aku sempat menegakkan tubuh, rantai perak langsung melilit pergelangan tanganku dengan sangat kencang.Aku mendongak dengan napas terengah-engah dan tatapan yang mulai kabur akibat rasa takut yang luar biasa.Di depanku, di atas panggung batu yang lebih tinggi, duduk para tetua dewan istana dengan jubah hitam mereka.Elder Kael berdiri di tengah panggung, menatapku dengan mata hazel yang dipenuhi kebencian ideologis yang sangat pekat.Kehadirannya memancarkan aura penindasan yang begitu kuat hingga membuat dadaku terasa sangat sesak."Berdirilah dengan tegak, penyusup!" bentak salah satu pengawal sambil menjambak rambutku agar aku mendongak menatap para tetua.Aku meringis ke
Aku percaya kehangatan tangan Sienna yang mengusap pundakku adalah ketulusan.Aku tidak menyadari bahwa jemarinya sedang menghitung seberapa didera pisau pengkhianatan ini bisa menusuk rahimku.Pagi itu terasa begitu tenang di didera kamar tidurku di sayap barat istana.Sienna berdiri di belakangku, menyisir rambut hitam panjangku dengan sangat lembut."Rambutmu sangat indah, Alana," kata Sienna dengan suara pelan."Sayang sekali jika rambut seindah ini harus terlihat kusut."Aku tersenyum tipis menatap pantulan wajah kami di cermin besar.Kehadiran Sienna di kamar ini adalah satu-satunya hiburan bagiku setelah badai penyerangan Valerius berlalu."Terima kasih, Sienna," jawabku sambil memegang tangannya yang hangat."Hanya kau yang peduli padaku di istana yang dingin ini."Sienna menghentikan gerakan sisirnya sejenak, lalu mengusap bahuku dengan lembut.Matanya yang bulat menatapku dengan tatapan cemas."Aku selalu mencemaskan keselamatanmu, Alana," bisik Sienna di dekat telingaku."T
Langkah kakiku terasa sangat kaku saat aku mencoba turun dari ranjang beludru hitam. Rasa perih di punggung dan paha bagian dalamku masih tersisa, membuatku harus berpegangan pada tiang ranjang kayu agar tidak terjatuh.Aku melirik ke arah pintu kamar tidurku yang kini sudah tidak terkunci lagi. Keheningan siang ini terasa sangat asing setelah badai perang dan kepulan asap peppermint yang menyesakkan malam kemarin.Xavier dan kedua putranya pasti sedang sibuk mengurus sisa-sisa kerusakan istana di halaman luar. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bergerak mencari tahu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh keluarga kotor ini dariku.Aku melangkah kaku melewati koridor sayap barat istana yang tampak sangat berantakan akibat guncangan ledakan sebelumnya. Tujuanku adalah ruang perpustakaan pribadi sayap barat yang sudah lama terbengkalai dan jarang dilewati oleh para pengawal.Pintu kayu perpustakaan yang berdebu itu berderit perlahan saat aku mendorongnya didera sisa tenag
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"







