LOGINBunyi rantai besi berkarat yang diseret di atas lantai batu yang lembap.
Bau tembaga, genangan air payau, dan uap beladonna yang menyengat dari tungku penyiksaan milik Raja Buangan.
"Lari, Alana... jangan biarkan dia menangkapmu lagi..."
Sebuah tangan kurus sedingin mayat mendadak mencengkeram pergelangan kakiku dari balik jeruji besi. Belenggu yang dilapisi bubuk perak itu mengoyak kulitku, mengikis daging hingga ke tulang kering. Rasa panasnya meresap ke pembuluh darahku seperti racun cair.
"Tidak! Lepaskan aku!"
Aku tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus.
Kegelapan murni menyambutku.
Jantungku berhantam keras di balik rusuk, liar seperti burung yang terperangkap dalam sangkar sempit. Paru-paruku terasa kaku, menolak menyerap udara.
Udara di sekitarku terasa tebal, dingin, dan membawa sisa-sisa bau karat besi yang seolah menolak pergi dari ingatanku.
Dengan panik, jari-jariku mencengkeram permukaan di bawahku. Halus. Terlalu halus. Ini beludru, bukan lantai batu sel basah itu.
Di mana aku? Apakah ini tipuan psikologis lain yang dirancang oleh para penyiksa di Kastil Bayang?
"Alana?"
Aku mencoba menegakkan tubuh, tetapi garis rasa sakit yang tajam seperti jilatan api langsung menjalar di sepanjang tulang belakangku. Luka cambukan perak yang masih segar menjerit menolak gerakan sekecil apa pun.
Rintihan tertahan lolos dari bibirku yang pecah-pecah. Disorientasi ini begitu nyata, menekan dadaku hingga aku tidak tahu apakah aku benar-benar telah lolos ke wilayah Bloodmoon atau masih membusuk di bawah tanah sana.
Pintu kamar perawatan sayap barat terbuka. Kali ini tidak ditendang kasar hingga jebol, melainkan digeser dengan keheningan yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi sarafku.
Sesosok bayangan tinggi besar membelah cahaya redup yang masuk dari koridor luar.
Bastian.
Dada bidangnya yang berotot terekspos tanpa sehelai kain pun, berkilau karena keringat tipis di bawah kegelapan malam. Sepasang mata emasnya menyala redup, langsung mengunci keberadaanku di sudut ranjang beludru hitam.
"Aku mendengar teriakanmu dari ujung lorong," suaranya parau, berat oleh sisa kantuk dan amarah yang belum tuntas.
"Pergi," bisikku. Namun, kali ini suaraku tidak memiliki taji kemarahan seperti sebelumnya. Itu hanya bisikan rapuh dari jiwa yang telah hancur berkeping-keping.
Dia mengabaikanku. Dia selalu melakukan apa pun yang dia inginkan.
Bastian naik ke atas ranjang, membuat kasur di bawahku amblas karena berat tubuhnya yang luar biasa besar.
Anehnya, kali ini aku tidak berjuang. Aku tidak mencakar dadanya atau mencoba melarikan diri seperti beberapa jam yang lalu saat dia mencoba mengklaimku secara paksa.
Tubuhku mati rasa. Jiwaku terasa seperti kaca yang retak, terlalu lelah untuk memicu pertengkaran fisik lain yang hanya akan merobek kembali kulit punggungku yang rapuh.
Ketika sepasang lengan kokohnya melingkari pinggangku, menarik punggungku yang terluka agar merapat ke dadanya yang sekeras baja dan sepanas bara api, aku membiarkannya.
Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan tubuhnya yang protektif.
Rasa benci langsung menyeruak di dadaku—bukan pada Bastian, melainkan pada diriku sendiri. Aku membenci diriku karena merasa nyaman. Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku yang kedinginan mendambakan suhu tubuhnya yang membara untuk mengusir bayang-bayang ketakutan dari mimpi burukku.
Ini bukan karena feromon Alpha-nya memaksa sistem sarafku untuk patuh. Ini murni karena sisi manusiawiku yang hancur sedang memohon untuk dilindungi dari kegelapan yang baru saja melahapku dalam tidur.
"Bagus. Kau akhirnya belajar untuk tidak membantah jantanmu," bisik Bastian, bibirnya menyapu pelipisku dengan posesif yang murni.
Napasnya yang hangat berbau hutan pinus perlahan menyelimuti kepalaku, membuat kabut tebal merayapi kesadaranku yang lelah. Logikaku perlahan larut, kehilangan kemampuannya untuk menyusun argumen defensif.
Aku mengepalkan tangan erat-erat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan, mencari rasa sakit nyata untuk menghentikan kenyamanan palsu ini. Rasa jijik pada kelemahanku sendiri terasa lebih pahit daripada racun perak mana pun.
Perlahan, ketegangan di tubuh besar Bastian mengendur. Napasnya berubah menjadi embusan teratur yang hangat di ceruk leherku.
Dia telah tertidur, tetapi lengannya yang besar masih mengunci pinggangku seperti palang besi yang tak tergoyahkan.
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar anjlok drastis dalam hitungan detik.
Aroma pinus hangat milik Bastian mendadak lenyap, tersapu bersih oleh wewangian mint yang sangat tajam dan membekukan.
Itu bukan mint biasa. Itu adalah feromon bius konsentrasi tinggi yang langsung menyerang paru-paruku.
Udara dingin itu seolah membekukan setiap sel sarafku, membuat pikiranku yang sudah berkabut semakin tenggelam dalam kepasrahan yang dipaksakan. Penglihatanku berbayang dengan kilatan abu-abu keperakan.
Lengan Bastian di pinggangku melemas sepenuhnya. Tubuh besarnya menjadi beban mati, diseret paksa masuk ke dalam tidur lelap yang tidak wajar oleh feromon saudaranya sendiri.
Dari balik kegelapan di sudut ruangan, sesosok pria melangkah maju tanpa menimbulkan suara gesekan lantai sedikit pun.
Julian.
Dia berdiri tegak di samping ranjang, menatap kami berdua dengan mata emasnya yang sedingin es. Kemeja hitamnya terkancing sempurna, kontras dengan kekacauan yang ada di atas kasur ini.
Aku menegang kaku, mencoba menarik tubuhku menjauh dari Bastian, tetapi efek bius Julian telah membuat otot-ototku kehilangan koordinasinya. Tubuhku terasa seperti dilarutkan ke dalam air es.
Julian membungkuk perlahan, mengabaikan keberadaan saudara kembarnya seolah Bastian hanyalah rintangan tak berarti di kamar ini.
Ujung jarinya yang sedingin es menyentuh bibir bawahku, menekannya dengan perlahan namun memiliki kekuatan dominan yang tak bisa kubantah.
Sentuhan dinginnya mengirimkan sensasi ngeri yang kontras dengan kehangatan tubuh Bastian yang masih tersisa di kulit dadaku.
"Bastian terlalu bodoh dengan delusi kepemilikannya yang murahan," bisik Julian, suaranya begitu rendah dan datar hingga nyaris seperti desisan angin malam yang membekukan darah.
"Dia pikir kehangatan bodoh ini bisa membuatmu melupakan fakta bahwa kau adalah buronan teratas."
Aku mencoba membuang muka, tetapi cengkeraman jarinya di rahangku mengencang seketika, mengunci kepalaku agar tetap menatap langsung ke dalam manik matanya yang mati tanpa emosi.
Napas dinginnya yang beraroma peppermint menyapu pipiku, mengirimkan alarm bahaya murni ke seluruh insting serigalaku.
"Tetapi dia lupa, siapa yang memegang kendali atas rantai di lehermu, Alana."
Julian menarik jarinya dari bibirku, lalu menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan transaksi dagang, bukan menyusup ke kamar saudara kembarnya sendiri.
Dia melirik botol kaca berisi cairan merah misterius yang dia letakkan di meja kecil sebelumnya, lalu menatapku dengan sudut bibir yang menarik tipis.
"Simpan tenagamu untuk esok hari."
"Sebab besok pagi, saat matahari menyentuh aula utama, tirai sandiwara ini akan dibuka lebar."
Julian berbalik, melangkah pergi dan menghilang ke dalam koridor gelap tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun.
Pintu yang rusak itu kembali menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar perawatan yang dingin.
Aku terbaring kaku di bawah dekapan Bastian yang tak sadarkan diri, menatap langit-langit kamar dengan mata yang menolak untuk terpejam hingga pagi datang.
Kata-kata Julian berputar di kepalaku bagai lonceng kematian yang terus berdentang.
Besok pagi, aku harus menghadap Xavier.
Bukan hanya sebagai pengungsi yang terluka, tetapi sebagai Omega Murni yang menyamar di sarang para pemangsa tangguh.
Dan begitu Alpha Tertinggi itu mengendus aromaku secara langsung di depan seluruh dewan kawanan...
Aku tahu dia tidak akan sekadar mengurungku kembali. Xavier akan merobek sisa-sisa harga diriku, menancapkan taringnya ke kelenjar aromaku untuk menandai kepemilikannya secara brutal, atau langsung mengeksekusiku di tempat sebelum aku sempat membela diri.
Suhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela
Air mataku jatuh perlahan. Setetes air hangat itu mendarat tepat di bahu kemeja putih Julian yang masih berlutut lemas di depanku.Aku bisa merasakan tubuh ramping pria itu bergetar hebat di bawah cengkeraman emosinya sendiri. Kepalanya tertunduk pasrah, seolah seluruh kekuatan taktis yang dia miliki telah menguap tanpa sisa.Di dalam perut bawahku, sebuah getaran hangat supernatural mendadak bergejolak kencang. Janin di dalam rahimku merespons stres ekstrem yang sedang melanda seluruh sistem sarafku saat ini.Aku merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam hingga dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa seluruh penderitaanku selama ini diatur oleh jemari dingin Julian membuatku merasa sangat kotor.Aku hancur, pikirku di dalam hati dengan rasa sakit yang membakar. Hidupku ternyata hanya sebatas mainan eksperimen di balik jarinya yang jenius.Namun, amarah yang dingin segera mengambil alih kesadaranku yang sempat goyah. Aku menolak untuk menyerah pada rasa kasihan atau keputusasaan maut
Langkah kaki berat Valerius akhirnya menghilang di lorong gua yang gelap. Keheningan mencekam kembali membungkus sel batu yang lembap ini.Aku mencoba meredakan detak jantungku yang bergoyang hebat. Aroma feromon membusuk milik raja Serigala Liar itu masih tertinggal pekat di udara.Julian berdiri mematung di depanku, menatap pintu sel yang kosong. Cahaya obor di dinding gua bergetar, memantulkan bayangannya di atas dinding batu basah.Dia tidak lagi menunjukkan senyuman sosiopat dingin yang tadi ditunjukkannya pada pamannya. Wajah tampannya kini tampak sangat suram, retak oleh kepedihan.Secara perlahan, Julian berlutut di depanku di atas tanah gua yang dingin. He menyentuh pergelangan tanganku yang lecet akibat lilitan tali kulit rusa kasar.Sentuhannya tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Jemari dinginnya bergerak sangat pelan, mengusap noda darah segar yang mengering di kulitku."Sakit?" tanya Julian dengan nada suara rendah yang terdengar sangat parau.Aku mendengus pelan, menola
Dada bidangku naik-turun dengan sangat cepat di bawah lilitan tali kulit rusa yang kencang. Aku menatap mata emas Julian yang berkilau dingin tanpa riak rasa bersalah sedikit pun.Rasa perih di pergelangan tanganku yang mengucurkan darah tidak lagi terasa penting sekarang. Hatiku jauh lebih sakit, remuk oleh kenyataan bahwa pria di depanku adalah sutradara dari seluruh neraka hidupku.Aku mengumpulkan seluruh sisa napasku untuk berteriak langsung ke wajah tampannya yang membeku. "Kau menyuruh Sienna mendekatiku sejak awal, bukan?"Julian tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak dengan keanggunan sosiopat yang sangat tenang. Sikap diamnya justru membuat darahku semakin mendidih di dalam dada."Kau membiarkan Freya mencuri denah pertahanan sayap barat itu agar rencana ini berjalan mulus!" teriakku lagi dengan suara parau yang bergetar hebat.Aku menyentakkan tanganku hingga tali kulit itu semakin mengikis kulit pergelangan tanganku dengan kasar. "Kau yang merancang seluruh penderitaanku
Udara dingin berbau besi berkarat menusuk paru-paruku dengan sangat kejam. Bau feromon Serigala Liar yang membusuk membuatku mual seketika.Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat lengket dan berat. Kepalaku berdenyut kencang. Rasa pening yang tajam menusuk saraf pelipisku.Di mana aku sekarang? Mengapa sekelilingku terasa begitu gelap, pengap, dan membeku?Aku berusaha menggerakkan pergelangan tanganku yang mati rasa. Rasa perih yang tajam langsung menyengat kulitku dengan kasar.Kedua tanganku ternyata telah terikat erat ke dinding batu yang basah. Tali kulit rusa menggores pergelangan tanganku hingga terasa panas menyiksa.Feromon vanilaku meledak tipis di udara gua yang lembap dan dingin. Lututku lemas seketika, tubuhku gemetar hebat di atas tanah yang dingin.Aku diculik dari istana Bloodmoon malam ini. Bagaimana mungkin mereka bisa menembus pertahanan kamar tidurku di sayap barat?Xavier telah berjanji bahwa aku akan selalu aman di bawah perlindungannya. Namun, di mana dia
Kesunyian malam selalu menjadi sekutu terbaik bagi rencana yang disusun di dalam kegelapan.Kepatuhan emosional Xavier yang baru saja kukunci sore tadi memberikan celah kebebasan yang kubutuhkan malam ini.Aku melangkah tanpa suara menyusuri koridor menara utama yang hanya diterangi oleh obor dinding.Langkah kakiku yang polos tanpa alas terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai marmer yang sunyi.Xavier sedang tertahan dalam rapat darurat bersama para tetua dewan di aula luar istana.Ini adalah waktu terbaik untuk menembus ruang kerja pribadinya yang selama ini dijaga sangat ketat.Aku mendorong pintu kayu jati besar ruang kerja Sang Raja secara perlahan hingga celahnya terbuka cukup lebar.Ruangan luas itu tampak kosong, hanya diterangi oleh lampu minyak di atas meja belajar mahoni yang menyala redup.Bau sisa kertas tua, tinta hitam, dan aroma kayu bakar khas tubuh Xavier menggantung tipis di udara malam.Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dikelilingi oleh pilar-pilar
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"







