Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

Share

Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-08 22:22:48

Bunyi rantai besi berkarat yang diseret di atas lantai batu yang lembap.

Bau tembaga, genangan air payau, dan uap beladonna yang menyengat dari tungku penyiksaan milik Raja Buangan.

"Lari, Alana... jangan biarkan dia menangkapmu lagi..."

Sebuah tangan kurus sedingin mayat mendadak mencengkeram pergelangan kakiku dari balik jeruji besi. Belenggu yang dilapisi bubuk perak itu mengoyak kulitku, mengikis daging hingga ke tulang kering. Rasa panasnya meresap ke pembuluh darahku seperti racun cair.

"Tidak! Lepaskan aku!"

Aku tersentak bangun dengan napas yang terputus-putus.

Kegelapan murni menyambutku.

Jantungku berhantam keras di balik rusuk, liar seperti burung yang terperangkap dalam sangkar sempit. Paru-paruku terasa kaku, menolak menyerap udara.

Udara di sekitarku terasa tebal, dingin, dan membawa sisa-sisa bau karat besi yang seolah menolak pergi dari ingatanku.

Dengan panik, jari-jariku mencengkeram permukaan di bawahku. Halus. Terlalu halus. Ini beludru, bukan lantai batu sel basah itu.

Di mana aku? Apakah ini tipuan psikologis lain yang dirancang oleh para penyiksa di Kastil Bayang?

"Alana?"

Aku mencoba menegakkan tubuh, tetapi garis rasa sakit yang tajam seperti jilatan api langsung menjalar di sepanjang tulang belakangku. Luka cambukan perak yang masih segar menjerit menolak gerakan sekecil apa pun.

Rintihan tertahan lolos dari bibirku yang pecah-pecah. Disorientasi ini begitu nyata, menekan dadaku hingga aku tidak tahu apakah aku benar-benar telah lolos ke wilayah Bloodmoon atau masih membusuk di bawah tanah sana.

Pintu kamar perawatan sayap barat terbuka. Kali ini tidak ditendang kasar hingga jebol, melainkan digeser dengan keheningan yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi sarafku.

Sesosok bayangan tinggi besar membelah cahaya redup yang masuk dari koridor luar.

Bastian.

Dada bidangnya yang berotot terekspos tanpa sehelai kain pun, berkilau karena keringat tipis di bawah kegelapan malam. Sepasang mata emasnya menyala redup, langsung mengunci keberadaanku di sudut ranjang beludru hitam.

"Aku mendengar teriakanmu dari ujung lorong," suaranya parau, berat oleh sisa kantuk dan amarah yang belum tuntas.

"Pergi," bisikku. Namun, kali ini suaraku tidak memiliki taji kemarahan seperti sebelumnya. Itu hanya bisikan rapuh dari jiwa yang telah hancur berkeping-keping.

Dia mengabaikanku. Dia selalu melakukan apa pun yang dia inginkan.

Bastian naik ke atas ranjang, membuat kasur di bawahku amblas karena berat tubuhnya yang luar biasa besar.

Anehnya, kali ini aku tidak berjuang. Aku tidak mencakar dadanya atau mencoba melarikan diri seperti beberapa jam yang lalu saat dia mencoba mengklaimku secara paksa.

Tubuhku mati rasa. Jiwaku terasa seperti kaca yang retak, terlalu lelah untuk memicu pertengkaran fisik lain yang hanya akan merobek kembali kulit punggungku yang rapuh.

Ketika sepasang lengan kokohnya melingkari pinggangku, menarik punggungku yang terluka agar merapat ke dadanya yang sekeras baja dan sepanas bara api, aku membiarkannya.

Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan tubuhnya yang protektif.

Rasa benci langsung menyeruak di dadaku—bukan pada Bastian, melainkan pada diriku sendiri. Aku membenci diriku karena merasa nyaman. Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku yang kedinginan mendambakan suhu tubuhnya yang membara untuk mengusir bayang-bayang ketakutan dari mimpi burukku.

Ini bukan karena feromon Alpha-nya memaksa sistem sarafku untuk patuh. Ini murni karena sisi manusiawiku yang hancur sedang memohon untuk dilindungi dari kegelapan yang baru saja melahapku dalam tidur.

"Bagus. Kau akhirnya belajar untuk tidak membantah jantanmu," bisik Bastian, bibirnya menyapu pelipisku dengan posesif yang murni.

Napasnya yang hangat berbau hutan pinus perlahan menyelimuti kepalaku, membuat kabut tebal merayapi kesadaranku yang lelah. Logikaku perlahan larut, kehilangan kemampuannya untuk menyusun argumen defensif.

Aku mengepalkan tangan erat-erat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan, mencari rasa sakit nyata untuk menghentikan kenyamanan palsu ini. Rasa jijik pada kelemahanku sendiri terasa lebih pahit daripada racun perak mana pun.

Perlahan, ketegangan di tubuh besar Bastian mengendur. Napasnya berubah menjadi embusan teratur yang hangat di ceruk leherku.

Dia telah tertidur, tetapi lengannya yang besar masih mengunci pinggangku seperti palang besi yang tak tergoyahkan.

Tiba-tiba, suhu di dalam kamar anjlok drastis dalam hitungan detik.

Aroma pinus hangat milik Bastian mendadak lenyap, tersapu bersih oleh wewangian mint yang sangat tajam dan membekukan.

Itu bukan mint biasa. Itu adalah feromon bius konsentrasi tinggi yang langsung menyerang paru-paruku.

Udara dingin itu seolah membekukan setiap sel sarafku, membuat pikiranku yang sudah berkabut semakin tenggelam dalam kepasrahan yang dipaksakan. Penglihatanku berbayang dengan kilatan abu-abu keperakan.

Lengan Bastian di pinggangku melemas sepenuhnya. Tubuh besarnya menjadi beban mati, diseret paksa masuk ke dalam tidur lelap yang tidak wajar oleh feromon saudaranya sendiri.

Dari balik kegelapan di sudut ruangan, sesosok pria melangkah maju tanpa menimbulkan suara gesekan lantai sedikit pun.

Julian.

Dia berdiri tegak di samping ranjang, menatap kami berdua dengan mata emasnya yang sedingin es. Kemeja hitamnya terkancing sempurna, kontras dengan kekacauan yang ada di atas kasur ini.

Aku menegang kaku, mencoba menarik tubuhku menjauh dari Bastian, tetapi efek bius Julian telah membuat otot-ototku kehilangan koordinasinya. Tubuhku terasa seperti dilarutkan ke dalam air es.

Julian membungkuk perlahan, mengabaikan keberadaan saudara kembarnya seolah Bastian hanyalah rintangan tak berarti di kamar ini.

Ujung jarinya yang sedingin es menyentuh bibir bawahku, menekannya dengan perlahan namun memiliki kekuatan dominan yang tak bisa kubantah.

Sentuhan dinginnya mengirimkan sensasi ngeri yang kontras dengan kehangatan tubuh Bastian yang masih tersisa di kulit dadaku.

"Bastian terlalu bodoh dengan delusi kepemilikannya yang murahan," bisik Julian, suaranya begitu rendah dan datar hingga nyaris seperti desisan angin malam yang membekukan darah.

"Dia pikir kehangatan bodoh ini bisa membuatmu melupakan fakta bahwa kau adalah buronan teratas."

Aku mencoba membuang muka, tetapi cengkeraman jarinya di rahangku mengencang seketika, mengunci kepalaku agar tetap menatap langsung ke dalam manik matanya yang mati tanpa emosi.

Napas dinginnya yang beraroma peppermint menyapu pipiku, mengirimkan alarm bahaya murni ke seluruh insting serigalaku.

"Tetapi dia lupa, siapa yang memegang kendali atas rantai di lehermu, Alana."

Julian menarik jarinya dari bibirku, lalu menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung dengan gerakan yang sangat anggun, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan transaksi dagang, bukan menyusup ke kamar saudara kembarnya sendiri.

Dia melirik botol kaca berisi cairan merah misterius yang dia letakkan di meja kecil sebelumnya, lalu menatapku dengan sudut bibir yang menarik tipis.

"Simpan tenagamu untuk esok hari."

"Sebab besok pagi, saat matahari menyentuh aula utama, tirai sandiwara ini akan dibuka lebar."

Julian berbalik, melangkah pergi dan menghilang ke dalam koridor gelap tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun.

Pintu yang rusak itu kembali menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar perawatan yang dingin.

Aku terbaring kaku di bawah dekapan Bastian yang tak sadarkan diri, menatap langit-langit kamar dengan mata yang menolak untuk terpejam hingga pagi datang.

Kata-kata Julian berputar di kepalaku bagai lonceng kematian yang terus berdentang.

Besok pagi, aku harus menghadap Xavier.

Bukan hanya sebagai pengungsi yang terluka, tetapi sebagai Omega Murni yang menyamar di sarang para pemangsa tangguh.

Dan begitu Alpha Tertinggi itu mengendus aromaku secara langsung di depan seluruh dewan kawanan...

Aku tahu dia tidak akan sekadar mengurungku kembali. Xavier akan merobek sisa-sisa harga diriku, menancapkan taringnya ke kelenjar aromaku untuk menandai kepemilikannya secara brutal, atau langsung mengeksekusiku di tempat sebelum aku sempat membela diri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 106: PULANG DENGAN TANGAN BERDARAH

    Xavier melangkah mendekati jeruji besi selku dengan sisa energi Alpha Tertinggi yang berkobar di sekeliling tubuhnya. Dia mencengkeram besi-besi tebal itu dengan kedua tangan kosongnya yang berlumuran darah segar dewan tetua.Suara derit logam yang dipaksa membengkok terdengar sangat memekakkan telinga di dalam lorong bawah tanah yang sunyi. Dalam sekali sentakan kasar, jeruji besi itu runtuh dan menciptakan jalan masuk yang lebar."Kemari, Alana," ucap Xavier dengan suara parau yang sangat dalam dan bergetar hebat.Dia langsung menyusup masuk ke dalam selku yang sempit dan dingin. Rantai besi yang mengikat pergelangan tanganku langsung dihancurkannya menggunakan kuku peraknya yang memanjang tajam."Apakah kau terluka?" tanya Xavier sambil menatap pergelangan tanganku yang memerah akibat gesekan logam perak."Hanya sedikit perih," sahutku sambil mengusap bekas luka yang mulai membiru di kulitku.Xavier tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung merengkuh tubuhku dan menggendongku dalam

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 105: KEMBAR YANG MEMBUNUH

    Aroma anyir darah yang sangat pekat merembes semakin dekat ke arah sel batuku. Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang terseret dan napas yang terengah-engah dari arah koridor luar yang gelap.Sesosok tubuh tua merayap dengan panik di atas lantai batu yang basah oleh sisa-sisa air tanah. Itu adalah Elder Kael.Jubah kebesaran dewan yang dia kenakan kini compang-camping dan dipenuhi cipratan darah segar milik Elder Magnus. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat, dipenuhi kengerian yang luar biasa setelah menyaksikan pembantaian di aula sebelah."Tolong! Siapa saja, tolong aku dari kegilaan ini!" teriak Elder Kael dengan suara gemetar saat dia mencoba merangkak menjauh dari aula pertemuan dewan.Aku berdiri di sudut sel, mencengkeram erat jeruji besi dingin di depanku dengan kedua tanganku yang terborgol rantai berat. Mataku menatap dingin ke arah tetua yang kini tampak seperti binatang buruan yang menyedihkan itu."Tidak ada tempat untuk melarikan diri lagi, Elder Kael," ucapku p

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 104: PEMBANTAIAN YANG BERDARAH

    Aku terus meronta didera kegelapan sel batuku yang sangat dingin. Rantai besi berat di pergelangan tanganku berdenting keras setiap kali aku bergerak."Hei, lepaskan aku sekarang juga!" teriakku ke arah dua pengawal dewan yang berjaga di depan pintu sel besi.Salah satu pengawal itu menoleh ke arahku dengan senyum mengejek yang sangat menyebalkan. "Diam, Omega! Kau sebaiknya menghemat tenagamu untuk perjalanan jauh nanti malam.""Xavier akan mencabik-cabik kalian semua jika dia tahu apa yang kalian lakukan padaku," ancamku dengan napas yang memburu cepat.Mendengar nama rajanya disebut, pengawal itu justru tertawa parau seolah-olah aku baru saja mengucapkan lelucon yang konyol. "Xavier sedang sekarat di atas ranjang medisnya akibat Terkurasnya Energi Titah.""Dia tidak akan pernah bangun lagi untuk menyelamatkanmu," tambah pengawal yang satunya lagi dengan nada yang sangat yakin.Sebelum aku sempat membalas ucapan mereka, dentum keras tiba-tiba mengguncang seluruh dinding batu penjara

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 103: RAJA YANG MEMUTUSKAN

    Aku merapatkan punggungku ke dinding batu sel yang dingin. Aku menolak menyerah pada ketakutan yang sengaja diciptakan oleh para tetua dewan yang korup itu.Tanganku yang terborgol rantai besi berat bergerak meraba perut bawahku yang masih terasa polos. "Mereka tidak akan pernah menyentuhmu," bisikku lirih pada benih di rahimku.Aku memejamkan mata rapat-rapat, memfokuskan seluruh pikiranku pada detak jantung Xavier di dalam batin kami. Ikatan batin kami mendadak berdenyut sangat kencang ketika aku membuka gerbang feromon level dua.Ini pertama kalinya aku mencoba mengendalikan feromon tubuh untuk mengirimkan sinyal darurat biologis. Aroma vanila manis bercampur rasa takut murni perlahan mengalir keluar dari pori-pori kulitku.Aku mendorong aliran feromon keemasan itu melewati celah ventilasi batu agar terbawa angin malam menuju menara medis. "Bangun dan hancurkan mereka semua untukku," gumamku sebelum tubuhku mendadak lemas.Sementara itu, di dalam ruang medis istana Bloodmoon yang b

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 102: INKUBATOR YANG DIINCAR

    Aku mempercepat langkahku menyusuri koridor utama menara timur didera kesunyian malam yang dingin.Aku harus segera kembali ke kamar Xavier sebelum ada yang menyadari kepergianku dari sayap medis.Namun, bau peppermint dingin dan anyir darah mendadak menusuk tengkukku dengan sangat tajam.Sembilan pasang sepatu bot berat mendadak melangkah keluar dari tikungan koridor depan, menghalangi jalan lari.Delapan pengawal dewan dengan seragam perak langsung mengepungku dalam formasi melingkar yang sangat ketat.Ujung tombak perak mereka terarah tepat ke dadaku, memancarkan kilau logam yang mematikan di bawah cahaya obor.Di tengah-tengah mereka, Elder Magnus melangkah maju dengan tongkat perak berkepala serigala di tangan kanannya.Senyum di wajah keriputnya tampak sangat dingin dan penuh kemunafikan hukum kawanan."Mau pergi ke mana terburu-buru, Alana?" tanya Elder Magnus dengan suara parau yang memuakkan.Aku mundur selangkah, namun ujung tombak di belakangku langsung menempel erat di pun

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 101: DEWAN YANG TIDAK MELARANG

    Aroma darah hitam Xavier yang membusuk di mangkuk perak tabib memenuhi indra penciumanku.Bau amis itu memberi tahu bahwa pelindung terkuatku telah runtuh sepenuhnya sekarang.Aku berdiri di sudut ruang medis yang remang-remang, meraba perban di pergelangan tanganku.Tabib tua itu terus mengoleskan minyak herbal di pelipis Xavier dengan tangan yang gemetar hebat.Xavier memejamkan matanya rapat-rapat dengan rahang yang mengeras menahan perih yang luar biasa di kepalanya.Aroma feromon kayu bakar miliknya tercium sangat redup dan rusak di udara ruangan yang pengap."Apakah dia akan bangun hari ini, Tabib?" tanyaku dengan suara yang sengaja kubuat berbisik.Tabib itu menghela napas berat tanpa berani menatap langsung ke arah sepasang mata amber milikku."Terkurasnya Energi Titah ini terlalu parah, Alana," jawab tabib itu lirih."Berapa lama dia akan tertidur seperti ini?" tanyaku lagi untuk memastikan keadaannya."Saraf kepalanya mengalami kerusakan serius akibat memaksakan kekuatan Alp

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status