Mag-log inTiga menit dua puluh detik.
Itu adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan pelayan paruh baya itu untuk meletakkan nampan makanan, berjalan ke lemari linen di ujung lorong luar, dan kembali dengan membawa handuk bersih.
Aku harus bergerak tepat pada detik keseratus sepuluh jika ingin bertahan hidup di tempat ini.
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap pelayan itu lembut, meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging di atas meja dekat jendela kamar sayap barat.
"Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres Anda," tambahnya tergesa-gesa sebelum kembali melangkah keluar.
Pintu kayu ek tebal itu dibiarkan sedikit terbuka—sebuah celah kesalahan fatal yang langsung kumanfaatkan.
Aku bangkit dari tempat tidur. Rasa perih di punggungku masih ada, tetapi aku mengabaikannya.
Di atas nampan perak, sebuah pisau buah kecil dengan mata logam yang berkilau tajam memantulkan cahaya lilin.
Tanganku baru saja terulur dan ujung jariku menyentuh gagang besi dingin itu saat suara langkah kaki berat mendadak menggema dari koridor luar.
Langkah kaki itu lambat, berwibawa, dan sangat kukenal. Itu bukan langkah kaki pelayan.
Jantungku berhantam keras di balik rusuk. Aku membeku di tempat dengan tangan gemetar, sementara bayangan raksasa di luar koridor perlahan mendekati ambang pintuku yang terbuka.
Jika aku ketahuan memegang senjata, Xavier tidak akan ragu untuk mematahkan leherku saat ini juga.
Dengan gerakan secepat kilat, aku menyambar pisau itu, menyelipkannya ke dalam lipatan lengan gaun katun putihku yang longgar, lalu berbalik memunggungi pintu tepat saat pelayan itu kembali membawa handuk.
"Ini handuknya, Nona. Saya harap Anda lekas pulih," ucap pelayan itu tanpa menyadari hilangnya pisau kecil dari atas nampan.
Begitu suara kunci pintu berputar dari luar menandakan pelayan itu telah pergi, aku mengembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan di tenggorokan.
Aku melangkah cepat ke arah ranjang beludru hitam di sudut kamar.
Kusandarkan pisau perak kecil itu ke bagian paling dalam di bawah bantal sutra hitamku, memastikan posisinya tampak rata agar tidak memicu kecurigaan siapa pun yang masuk.
"Siapa pun di antara kalian yang berani menyentuhku lagi... besi ini yang akan merobek dada kalian," desisku dingin pada keheningan malam.
Dua jam kemudian, kegelisahan memaksaku meninggalkan kamar yang terasa seperti sangkar emas ini.
Aku menyelinap keluar menuju perpustakaan istana di lantai dua, berniat mencari informasi tentang kelenjar Omega Murni dan arti takdir gila yang kini menjeratku.
Keheningan perpustakaan menyambutku dengan aroma kertas tua yang menenangkan. Jajaran rak kayu ek raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari yang masuk dari jendela kaca besar.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Aroma tajam kayu pinus basah yang sangat kuhargai sekaligus kutakuti mendadak mengalir sangat pekat di udara sunyi.
Sebelum aku sempat berbalik untuk melarikan diri, sebuah bayangan besar langsung mengurung tubuhku dengan rapat dari arah belakang.
Bastian menempelkan kedua telapak tangan besarnya pada rak buku kayu di sisi kiri dan kananku, mengunci pergerakanku sepenuhnya hingga dadanya yang bidang menempel erat pada punggungku yang terluka.
"Mencari cara untuk melarikan diri dariku, Alana?" bisik Bastian tepat di telinga kiriku. Napas panasnya membuat seluruh kulit leherku merinding hebat.
"Bastian, mundur," desisku dingin, mencoba menolak kehangatan tubuhnya yang kembali mengacaukan sistem logikaku.
Aku meletakkan kedua telapak tanganku di dada bidangnya yang keras, mencoba mendorong tubuh kekar itu menjauh dengan sisa tenagaku.
Bastian sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Namun, kali ini, tatapan mata emasnya tidak hanya memancarkan birahi liar yang posesif. Matanya meredup, menyimpan rahasia kelam yang belum pernah kuperhatikan sebelumnya.
"Kau pikir aku melakukan semua ini karena ingin menyiksamu?" bisik Bastian, suaranya terdengar serak, hampir seperti rintihan frustrasi yang tertahan.
"Jika bukan karena aku yang menahanmu di kamar sayap barat dan memohon pada dewan, Ayah sudah menyerahkan lehermu ke tiang gantung sejak malam pertama kau menginjakkan kaki di sini. Aku mencoba mempertahankan nyawamu, Alana. Bahkan jika aku harus mengurungmu dari dunia luar."
Aku tertegun. Kata-katanya menyuntikkan kebingungan baru ke dalam benakku. Apakah ini kepedulian yang murni, atau sekadar taktik manipulasi yang lebih halus untuk menjinakkanku?
"Tapi caramu menahanku... tidak ada bedanya dengan penjara Raja Buangan," desisku, menolak goyah oleh kilatan luka di matanya.
Sudut bibir Bastian tertarik sebelah, keputusasaan di wajahnya mendadak menguap, digantikan oleh dominasi jantan yang kembali mengeras.
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk melindungi apa yang sudah ditakdirkan menjadi milikku," geramnya.
Bastian membalikkan tubuhku dengan kasar hingga aku menghadapnya langsung, membuat punggungku terbentur rak kayu ek di belakangku dengan suara berdentum pelan.
"Lepaskan aku, Bastian!" rontaku, tetapi dia sudah mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas kepala dengan satu tangan besarnya yang seperti borgol besi.
Tangan kirinya yang panas bergerak naik, mencengkeram erat leher belakangku, menekan saraf sensitif di pangkal tengkorakku agar aku mendongak menatap wajahnya yang hanya berjarak satu sentimeter dari bibirku yang gemetar.
"Biarkan aku mencicipimu sekali lagi, Alana..."
Cengkeraman kuat di leher belakangku...
Tekanan jemari kasar yang menekan urat nadiku...
Seketika, perpustakaan megah di sekelilingku runtuh dan lenyap tanpa sisa.
Gemerincing.
Suara rantai besi berkarat yang diseret di atas lantai batu basah menggema langsung di dalam gendang telingaku, begitu nyata hingga membuat kepalaku berdenyut kencang.
Bau karat logam bercampur darah membusuk mendadak mencekik tenggorokanku, menggantikan aroma kertas tua perpustakaan.
Aku tidak lagi berada di perpustakaan Bloodmoon. Aku kembali berada di sel bawah tanah sedalam sepuluh meter itu.
Kegelapan pekat yang membekukan merayap dari segala arah, merantai tanganku ke atas dinding batu sementara bayangan kejam Raja Buangan mendekat, menjambak rambutku ke belakang dan mencengkeram leherku dengan cara yang persis sama.
"Jangan... tolong... lepaskan..." rintihku dengan dada yang naik turun hebat akibat serangan panik yang luar biasa.
Seluruh kulitku mendingin seketika. Keringat dingin membasahi tubuhku sementara aku berjuang setengah mati untuk sekadar menarik napas yang seolah telah lenyap dari dunia.
"Alana? Alana! Ada apa denganmu?!"
Suara Bastian terdengar sangat jauh, terdistorsi seperti berada di bawah air hangat yang dalam. Tubuh besarnya terasa seperti bayangan monster penjaraku yang siap mengoyak dagingku.
Pikiran bawah sadarku sepenuhnya terkunci dalam ingatan penyiksaan masa lalu yang brutal. Aku tidak bisa membedakan mana realitas dan mana mimpi buruk.
Dunia di sekelilingku berputar hebat, lalu semuanya memudar menjadi hitam pekat yang dingin.
Namun, tepat sebelum kesadaranku benar-benar terputus sepenuhnya ke dalam kegelapan yang murni...
Aku mendengar suara detak jam saku emas yang sangat familier mendekat perlahan, disusul sebuah desikan suara yang sedingin es tepat di samping kepalaku yang terkulai lemas di dada Bastian:
"Kerja bagus, Bastian. Serum di tubuhnya bereaksi tepat waktu."
Lembayung senja yang memerah pekat menerobos dari balik tirai kamar tidur utama menara.Cahaya kemerahan itu menyinari separuh ruangan, menyapu ranjang beludru hitam yang kini tampak rapi.Aku duduk tenang di tepi ranjang, memperhatikan matahari sore yang mulai tenggelam di balik perbatasan hutan kawanan Bloodmoon.Suara ketukan pelan di pintu kayu jati menghentikan keheningan kamar ini sebelum akhirnya daun pintu berderit terbuka.Xavier melangkah masuk dengan perlahan tanpa ada sisa keangkuhan teritorial yang biasa dia tunjukkan di ruang dewan.Jubah beludru tebalnya yang megah tampak sedikit longgar, memperlihatkan bahunya yang tidak lagi tegang kaku menantang dunia.Dia melangkah mendekatiku tanpa suara, lalu mendudukkan dirinya di atas kursi marmer tepat di samping ranjang riasku.Tatapan mata merah menyalanya kini terlihat sangat suram, meredup dengan lapisan air yang berkaca-kaca menahan luapan emosi.Sinar matahari sore memperlihatkan dengan jelas garis-garis luka cakar kemera
Langkah kakiku terdengar bergesekan pelan dengan kerikil putih taman mawar istana.Di belakangku, siluet raksasa Bastian terus mengikuti dengan jarak tepat dua jengkal.Dia melangkah dengan kepala yang menunduk dalam, seolah mengunci pandangannya hanya pada ujung gaun sutra putihku.Rahang tegasnya masih tertutup oleh balutan perban putih bersih setelah pertarungan brutalnya tempo hari."Apakah luka-luka di tubuhmu sudah membaik, Bastian?" tanyaku tanpa menghentikan langkah kaki."Luka ini tidak ada artinya sama sekali, Alana," jawab Bastian cepat dengan nada suara yang terdengar sangat patuh."Rasa sakit akibat cambukan ayah kemarin malam bahkan langsung lenyap setiap kali aku berada di dekat aromamu," lanjutnya.Aku berhenti melangkah di dekat rumpun mawar putih yang mekar sempurna siang ini.Bastian langsung menghentikan gerakan kakinya secara instan tanpa perlu kuperingatkan lagi."Mengapa kau terus mengikutiku seperti bayangan yang menyedihkan, Bastian?" tanyaku dingin tanpa berb
Sinar matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar tidur utama yang sangat berantakan. Xavier dan Bastian masih tertidur lelap dengan napas berat di atas ranjang beludru hitam.Dua monster teritorial itu benar-benar kelelahan secara fisik setelah sesi pembalikan kekuasaan semalam. Aku duduk tenang di kursi depan meja rias sembari menyisir rambut hitamku yang terurai panjang.Di sudut ruangan dekat jendela, Julian berdiri mematung menatapku dengan tatapan mata yang tidak fokus. Kemeja putihnya tampak sangat kusut dengan beberapa kancing atas yang terlepas berantakan di dadanya.Pola pernapasannya terdengar sangat dangkal dan tidak stabil menabrak kesunyian pagi. Aroma peppermint dingin miliknya tercium sangat tipis dan melemah di udara kamar ini.Bau khasnya itu telah hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di seluruh ruangan. "Mengapa kau berdiri di sana seperti patung rusak, Julian?" tanyaku dingin tanpa menoleh dari pantulan cermin.Julian mengepalka
Langkah kakiku terasa mantap saat aku menuntun tiga monster ini masuk ke dalam kamar tidur utama. Ranjang beludru hitam yang dulu menjadi saksi pengekangan tubuhku kini berdiri kokoh di tengah ruangan.Aku mengambil rantai perak dan borgol besi dari laci meja tanpa keraguan sedikit pun. Suara gemerincing logam dingin memecah keheningan malam yang sunyi di dalam kamar tidur.Xavier berdiri gemetar di sisi ranjang dengan napas yang memburu sangat kasar. Bastian dan Julian berdiri di sampingnya dengan mata emas yang dipenuhi kabut kepatuhan murni.Aku menyunggingkan senyuman tipis melihat kepatuhan murni dari tiga monster teritorial ini. "Kalian bertiga membuat pakta gila untuk membagi tubuhku sesuka hati di belakangku," ujarku sembari meraba borgol besi yang dingin."Tetapi mengapa sekarang kalian justru merangkak pasrah di atas ranjang beludru hitam ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban."Kami salah, Alana... tubuh kami benar-benar membutuhkanmu untuk bertahan hidup..." lirih Xavier deng
Langkah kaki yang terseret dan gemetar terdengar mendadak memecah keheningan malam di arah pintu teras marmer. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja menyerahkan sisa harga dirinya demi mencari sisa aromaku."Langkah kakimu terdengar sangat kacau, Julian," ucapku tenang sembari menatap rembulan malam yang bersinar redup."Kau... kau telah merusak seluruh sisa rasionalitas di dalam sistem saraf otakku, Alana," sahut Julian dengan suara serak yang bergetar hebat. Dia berdiri bersandar pada pilar batu teras, mencengkeram dadanya yang naik turun dengan sangat cepat mencoba mencari oksigen.Kemeja putihnya yang semula rapi kini tampak terbuka lebar hingga memperlihatkan peluh keringat dingin yang membasahi dada bidangnya. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, hancur total oleh kepekatan aroma asap manis tubuhku yang menggantung di udara malam."Apakah arsitek medis yang agung tidak mampu merancang obat penawar untuk meredakan gairah liar di tubuhnya
Bunyi deru napas berat Xavier beradu dengan keheningan aula tengah yang dingin. Di bawah tangga altar, Bastian masih terbaring lemas dengan kening yang menempel di atas marmer basah.Keduanya telah kehilangan seluruh kekuatan akibat kepungan feromon Level tiga milikku. Aku melangkah turun satu anak tangga, membuat ujung jubah sutra putihku menyapu helai rambut perak Xavier.Xavier mendongak perlahan dengan tatapan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi kabut birahi. "Alana... aku mohon... biarkan aku masuk... rasanya sangat sakit..." rintih Xavier dengan suara bergetar hebat.Aku menyunggingkan senyum tipis melihat penguasa tertinggi wilayah barat itu gemetar di bawah kakiku. "Kemarin kau mengancam akan menyeretku kembali ke menara terdalam, Xavier," sahutku dengan nada dingin."Mengapa sekarang kau justru merangkak di bawah kakiku seperti ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban.Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku salah... persetubuh
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin







