Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 4: Raja yang Terbangun

Share

Chapter 4: Raja yang Terbangun

Author: Surjelly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-08 22:23:10

Aku tahu berjalan masuk ke Aula Besar pagi ini sama saja dengan mengantarkan leherku sendiri ke pisau jagal.

Namun, aku menolak untuk terlihat seperti domba pasrah yang siap disembelih di hadapan kawanan pembunuh ini.

"Jalan lebih cepat, Omega!" gertak pengawal di sebelah kananku, mencengkeram bahuku begitu keras hingga luka di punggungku kembali berdenyut perih.

"Lepaskan tangan kotormu," desisku tanpa mengalihkan pandangan dari pintu ganda kayu ek hitam di depan kami.

Pintu besar setinggi lima meter itu terbuka dengan dentum berat yang menggema, merobek keheningan koridor istana.

Di dalam Aula Besar, puluhan pasang mata serigala langsung tertuju padaku. Tatapan mereka lapar dan menakar, seolah aku hanyalah sepotong daging segar yang dilemparkan ke tengah kandang pemangsa.

Bastian berdiri di dekat takhta batu, matanya berkilat emas liar penuh amarah yang tertahan. Tangannya mengepal erat, siap mencabik siapa saja yang berani menatap tubuh setengah telanjangku terlalu lama.

Sementara di sampingnya, Julian berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Dia memutar cincin peraknya dengan gerakan lambat, menatapku seolah aku hanyalah pion catur yang baru saja masuk ke dalam perangkapnya.

Kehadiran mereka berdua tenggelam seketika begitu kabut tak kasat mata dari aura sang Alpha Tertinggi menguasai ruangan.

Udara di aula mendadak berubah menjadi sangat tebal, seolah oksigen di sekitarku lenyap dalam sekejap. Paru-paruku menyempit, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.

Xavier Bloodmoon duduk di atas takhta batu itu dengan keagungan yang mematikan.

Rambut peraknya berkilau dingin. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter memancarkan tekanan absolut yang membuat beberapa serigala muda di barisan depan langsung menundukkan kepala mereka karena tidak kuat menahan intimidasi.

"Lepaskan dia," suara berat Xavier memecah keheningan bagai guntur.

Dua pengawal itu mendorongku kasar. Aku jatuh tersungkur di atas lantai marmer hitam yang sedingin es.

"Berlututlah di hadapanku, Omega!" Titah Alpha-nya menggelegar, menghantam bahuku dengan kekuatan gaib yang luar biasa berat.

Lututku bergetar hebat. Gravitasi di sekitar ruangan seolah melonjak berkali-kali lipat, memaksaku untuk menunduk dan menyembah kakinya di atas lantai marmer.

Namun, kenangan kelam dari penjara bawah tanah Kastil Bayang mendadak melintas di kepalaku.

Dulu, di depan Raja Buangan, aku pernah berlutut.

Aku memohon, menangis hingga lututku berdarah di atas lantai batu sel yang dingin demi belas kasihan. Dan apa yang kudapatkan? Hanya cambukan perak yang jauh lebih kejam.

Berlutut tidak pernah menyelamatkanku. Itu hanya akan menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kupertahankan dengan nyawaku.

Aku mencengkeram marmer dingin dengan ujung jariku. Mengatupkan rahang rapat-rapat, aku memaksa kepalaku mendongak.

Aku menolak untuk tunduk. Aku menatap langsung ke dalam sepasang mata merah darah Xavier yang berkilat dingin di ujung aula.

Sudut bibir Xavier berkedut samar. Dia tidak meledak marah; ketenangannya justru jauh lebih mengerikan dari kemarahan apa pun.

Dalam satu kedipan mata, dia sudah berpindah tempat. Kecepatan sang Alpha Tertinggi benar-benar berada di luar nalar manusia.

Sebelum aku sempat menghindar, tangan besarnya yang kasar sudah mencengkeram rahangku dengan kekuatan baja.

"Akh!" Aku tersedak saat dia menarik kepalaku ke atas dengan kasar, memamerkan urat leherku yang terluka di bawah tatapan tajamnya.

"Lepas..." bisikku, mencoba meronta, namun cengkeraman jarinya sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun.

Ibu jarinya yang kapalan menekan tepat di atas kelenjar aromaku di samping leher yang sensitif.

Seketika, seluruh sistem pertahanan biologisku runtuh.

Aroma kayu bakar bercampur darah kering yang mengalir dari tubuh Xavier menyerang indra penciumanku tanpa ampun. Tubuh Omega-ku mendadak berteriak histeris, mengenali dominasi purba yang begitu pekat dan kuat.

Rasa panas yang memabukkan menjalar dari titik sentuhannya, turun ke dada, hingga meledak di perut bagian bawahku.

Celana dalamku basah. Tubuhku yang hancur justru mendambakan remasan tangannya yang kasar. Aku menggigit bibir kuat-kuat, menolak mengeluarkan desahan memalukan yang sudah berada di ujung tenggorokan.

"Ayah, hentikan! Dia bisa mati!" seru Bastian, melangkah maju dengan mata emas yang menyala penuh insting protektif yang liar.

Xavier bahkan tidak menoleh. Feromon Alpha-nya meledak kembali, membungkam gerak Bastian seketika hingga putra sulungnya itu terpaksa mundur. "Mundur, Bastian. Atau aku sendiri yang akan mematahkan lehermu."

Julian hanya melirik dari kejauhan, matanya yang dingin merekam reaksi biologis tubuhku dengan presisi yang menakutkan.

Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam. Jarak kami begitu dekat hingga napas panasnya yang beraroma kayu bakar membakar bibirku yang gemetar.

Matanya yang merah darah berkilat penuh gairah berburu yang dingin.

"Aroma vanila yang manis... bercampur bau busuk dari wilayah Raja Buangan," bisik Xavier, suaranya begitu rendah hingga menggetarkan tulang belakangku.

"Kau pikir kau bisa mengelabui kawananku dengan tubuh rapuh ini, Alana?"

Aku terengah-engah, menatapnya dengan sisa keberanianku yang terakhir. "Jika kau begitu takut padaku... bunuh saja aku sekarang, Xavier."

Xavier menyeringai dingin. Ibu jarinya menekan lebih dalam pada kelenjar aromaku, memaksaku memejamkan mata menahan denyutan gairah biologis yang menyiksa.

"Membunuhmu adalah hal yang terlalu mudah, Omega," bisik Xavier, bibirnya menyapu daun telingaku dengan ancaman yang membuat napasku tercekat seketika.

"Mulai detik ini, kau bukan lagi buronan yang berlari mencari perlindungan..."

Dia mempererat cengkeramannya, mengunci tatapanku yang mulai sayu karena pengaruh feromonnya yang memabukkan.

"Kau adalah mangsaku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 70: HARI KEENAM: MAAF YANG DIBAYAR

    Udara malam di dalam kabin kayu terasa jauh lebih tenang dari malam-malam sebelumnya. Badai salju di luar sana mulai mereda, menyisakan keheningan yang terasa mengisolasi saraf pendengaranku.Aku berbaring miring di atas ranjang kulit beruang hitam. Mataku menatap nyala api perapian yang menari-nari redup memecah kegelapan. Tubuhku masih lemas, namun akal sehatku sudah jauh lebih jernih malam ini.Sebuah bayangan raksasa bergerak mendekati sisi ranjang dengan langkah tanpa suara. Aku menoleh perlahan. Bastian berdiri di sana dengan pupil mata keemasan yang terlihat suram.Pria yang biasanya dipenuhi amarah teritorial itu kini tampak dipenuhi keraguan. Dia tidak mengenakan kemeja, hanya celana panjang hitam yang membungkus kaki kokohnya.Bastian berlutut di tepi ranjang. Dia perlahan merangkak mendekatiku tanpa melepaskan pandangannya dari wajahku yang pucat."Kau belum tidur, Alana?" tanya Bastian. Suaranya sangat rendah, terdengar seperti geraman serak di tenggorokan."Bagaimana aku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 69: HARI KELIMA: LUKA YANG DISEMBUHKAN

    Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh persendianku saat kelopak mataku terbuka perlahan. Sisa-sisa kegilaan Penyatuan Tiga Alpha kemarin masih berdenyut nyata di setiap jengkal kulitku yang memar.Aku mencoba menggeser lenganku, namun ototku terasa kaku dan mati rasa. Di sudut ruangan, uap hangat mengepul tinggi dari sebuah bak mandi kayu besar yang telah terisi penuh."Jangan bergerak terlalu banyak, Alana," sebuah suara berat bergema lembut memecah kesunyian.Xavier berdiri di sisi ranjang dengan sehelai kain bersih di tangannya. Alpha Tertinggi itu tidak memancarkan dominasi yang menekan, melainkan keheningan yang suram dan menenangkan."Tubuhku... sangat sakit, Xavier," rintihku dengan suara parau yang hampir tak terdengar."Aku tahu," sahut Xavier membungkuk. Dia mengangkat tubuh mungilku dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati.Aku tidak memiliki sisa agensi untuk menolak saat dia membawaku mendekati bak mandi kayu itu. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, di

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 68: HARI KEEMPAT: TIGA YANG MENJADI SATU

    Uap panas di dalam kabin kecil ini mencekik rongga tenggorokanku. Aroma vanila tubuhku yang meledak liar beradu dengan feromon kasturi pekat milik tiga pria yang mengepung ranjang.Aku mencoba meremas seprai kulit beruang di bawah punggungku. Namun, sisa tenagaku sudah habis terkuras.Tubuhku terus bergetar tanpa henti. Demam masa subur mendidih di dalam darahku seiring datangnya hari keempat siklus maut ini.Julian berdiri di sisi kiriku. Cengkeraman tangannya yang sedingin es mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas ranjang hingga aku tidak bisa meronta."Suhu tubuhnya sudah melewati batas aman untuk proses pematangan sel telur," ucap Julian. Suaranya bergetar hebat didera gairah biologis. "Dia bisa mati jika kita bertindak ceroboh.""Persetan dengan analisismu, Julian!" bentak Bastian. Dia merangkak naik dari ujung ranjang dengan pupil mata yang menyempit liar."Saraf serigalaku terus mendidih sejak kemarin. Aku harus memasukinya sekarang juga!" lanjut Bastian menarik paksa paha

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 67: HARI KETIGA: DINGIN YANG MENGONTROL

    Hari ketiga siklus masa subur membakar tubuhku dengan cara yang jauh lebih menyiksa dari hukuman fisik. Sisa cairan Bastian semalam masih berdenyut di selangkanganku, namun rasa kosong di dalam rahimku menuntut lebih banyak benih.Aku mengerang pelan saat sepasang tangan yang sedingin es mengangkat tubuhku dari ranjang. Julian membawaku tanpa suara mendekati perapian batu di sudut kabin.Kayu pinus di dalam perapian berderak panas. Hawa hangatnya langsung menyengat kulit telanjangku yang dibanjiri keringat. Julian mendudukkanku di atas lantai kayu tepat di depan jilatan api."Suhu tubuhmu menyentuh angka tiga puluh sembilan derajat celcius, Alana," ucap Julian dengan nada suara sedatar es."Julian... tolong, kepalaku berputar sangat kencang," rintihku. Aku menyandarkan dahi basahku ke dadanya yang terasa menyejukkan kulitku."Aku tahu. Aku di sini untuk mengontrol gairah biologismu yang tidak stabil," balas Julian pelan.Julian berlutut di belakangku. Dia menarik pinggulku hingga pung

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 66: HARI KEDUA: BRUTAL YANG MEMOHON

    Rasa penuh yang tersisa di dalam rahimku memaksaku terbangun dengan rintihan pelan. Cairan hangat sisa penguncian benih semalam terasa lengket di selangkanganku.Aku menggeser tubuhku yang kaku. Suara gemerincing rantai besi di pergelangan kakiku langsung memecah kesunyian kabin kayu ini.Otot-ototku terasa sangat lemas dan kebas akibat gempuran tanpa henti Xavier kemarin."Kau akhirnya membuka matamu, jalang kecilku," sapa sebuah suara serak dari kegelapan pagi yang menggigit.Bastian berdiri tepat di tepi ranjang. Tubuh raksasanya yang telanjang memancarkan hawa panas yang kentara.Dadanya naik turun dengan kasar, menyebarkan aroma kulit hangat yang sangat tajam di udara kabin yang pengap."Bastian... tolong, biarkan aku menarik napas sebentar," bisikku lemas dengan tenggorokan yang terasa kering."Bernapas? Siklus gairahmu sedang berada di puncaknya, Alana," sahut Bastian merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan memburu."Ayah sudah selesai menyegelmu kemarin. Kini giliranku unt

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 65: HARI PERTAMA: RAJA YANG MENGISI

    Cahaya fajar menyusup tipis melalui celah jendela kabin kayu. Namun, udara di sekitarku sama sekali tidak terasa dingin.Tubuhku terasa seperti logam yang dibakar di atas tungku mendidih. Rasa gatal dan denyut di perut bawahku semakin menyiksa kewarasan.Aku menggeliat tidak nyaman di atas ranjang kulit beruang. Suara gemerincing logam terdengar berdenting nyaring setiap kali aku bergeser.Kedua pergelangan kakiku telah diikat menggunakan rantai besi tipis yang terhubung ke pilar ranjang kayu pinus."Kau sudah bangun, Omega-ku?" sapa sebuah suara berat yang menggelegar dari sudut ruangan.Xavier berdiri di tepi ranjang tanpa busana. Tubuh raksasanya dipenuhi urat otot yang menegang keras.Aura dominasi merah gelap memancar dari tubuhnya, menekan rongga dadaku dengan paksa."Xavier... tolong... panas ini sangat menyiksa," rintihku dengan air mata menggenang di pelupuk mata."Aku tahu, Alana. Hari ini adalah giliranku," jawab Xavier sembari merangkak naik ke atas ranjang.Aroma kayu bak

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status