LOGINSeretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih.
"Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku.
"Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu," desisku dingin dengan pandangan yang menantang mereka.
"Diam dan jangan membuat Alpha Tertinggi menunggu lebih lama lagi!" bentak pengawal bertubuh raksasa di sebelah kiriku.
Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menolak keras untuk menunjukkan rasa sakit atau air mata di depan para penjaga ini.
Kami melangkah melewati koridor panjang menuju pintu ganda Aula Besar yang dilapisi emas hitam kuno.
Saat pintu kayu itu terbuka lebar, aroma kayu bakar bercampur bau darah kering langsung menyergap indra penciumanku.
Itu adalah aroma feromon dominan milik Xavier Bloodmoon, sang Alpha Tertinggi yang memimpin Kawanan Bloodmoon.
Puluhan pasang mata serigala di dalam ruangan besar itu langsung tertuju padaku dengan tatapan menakar yang lapar.
"Lihat dia, baunya sangat manis bercampur vanila hangat, membuatku ingin mencicipinya sekarang juga," bisik seorang pria di barisan depan.
"Jaga mulut kotor kalian!" bentak Bastian dari dekat takhta batu, matanya berkilat emas memancarkan kemarahan liar.
"Mundur, Bastian. Jangan membuat kekacauan di depan Ayah," sela Julian dingin sembari memutar cincin perak di jarinya dengan perlahan.
"Ayah, dia terluka parah akibat cambukan perak. Setidaknya biarkan dia berdiri," ucap Bastian, menatap takhta batu di ujung aula.
Xavier Bloodmoon duduk dengan keagungan menakutkan, rambut peraknya yang basah tampak berkilau di bawah lampu kristal.
"Jangan mencoba mencampuri urusanku, Putra Mahkota," desis Xavier, suaranya yang berat membuat seluruh ruangan mendadak sunyi senyap.
"Tapi Ayah, dia tidak bersalah—" ucap Bastian mencoba membela.
"Aku bilang mundur, Bastian!" bentak Xavier dengan menggunakan Titah Alpha miliknya.
Suaranya menghantam dadaku seperti godam, menekan paru-paru dan membuatku kesulitan untuk sekadar menarik napas.
Bastian terpaksa melangkah mundur dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang memutih akibat tekanan mutlak tersebut.
Julian melirik kembarannya dengan dingin, lalu mengalihkan pandangan sembari kembali memutar cincin perak di jari manisnya.
Xavier menatapku tanpa ekspresi hangat di wajahnya yang keras. "Lepaskan dia sekarang."
Kedua pengawal itu mendorong tubuhku kasar hingga aku terjatuh di atas lantai marmer hitam yang sedingin es.
Aku menopang tubuhku dengan telapak tangan gemetar, berjuang sekuat tenaga untuk menahan lututku yang lemas.
Xavier bangkit berdiri dari takhta batu, memperlihatkan tinggi tubuh raksasanya yang mencapai 195 sentimeter dengan dada bidang.
Aura dominannya mendadak meledak di dalam aula, membuat seluruh udara di sekitar kami terasa sangat tebal dan menyesakkan.
"Berlututlah di hadapanku, Omega!" perintah Xavier dengan Titah Alpha yang bergetar penuh kuasa absolut.
Tekanan fisik yang dahsyat langsung menghantam bahuku, memaksa tubuhku jatuh bertumpu pada marmer dingin.
Namun, dengan sisa tiga puluh persen kekuatan penolakanku, aku menolak keras untuk menundukkan kepala di hadapannya.
Aku mendongak paksa, menatap lurus ke dalam sepasang mata merah darah milik Xavier yang menyala gelap penuh dominasi.
Xavier tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas perlawananku.
Diamnya yang membekukan terasa jauh lebih meneror dibanding kalimat ancaman paling kejam sekalipun.
Dia melangkah turun dengan perlahan, lalu bergerak secepat kilat mendekati tempatku bersimpuh.
Sebelum aku sempat berkedip, tangan besarnya yang kasar telah mencengkeram rahang dan leherku dengan cengkeraman baja yang kuat.
Dia menarik kepalaku ke atas dengan kasar, memaksa urat leherku tertarik kencang dan terekspos sepenuhnya di bawah tatapannya.
"Lepaskan tangan kotormu," desisku dingin dengan sisa kekuatan yang ada, menolak untuk memohon belas kasihan.
Ibu jari Xavier yang besar menekan tepat di atas kelenjar feromonku yang berdenyut kencang di samping leherku yang sensitif.
Napas panasnya yang beraroma kayu bakar mengalir deras di bibirku, menyapu permukaan kulit wajahku yang memucat.
Sentuhan kasarnya terasa sangat membakar kulit leherku, menekan urat nadi yang mengalirkan darah hangat dengan sangat kencang.
Denyut jantungku melonjak drastis saat kulit jari dinginnya menekan kelenjar sensitif itu semakin kuat tanpa ada kelembutan sedikit pun.
"Ayah, cukup! Luka cambukannya bisa robek kembali jika kau terus menekannya!" seru Bastian dari dekat takhta batu.
"Sekali lagi kau membuka mulutmu, aku akan merobek lehermu di depan seluruh anggota kawanan!" bentak Xavier dingin tanpa menoleh.
Julian melangkah maju beberapa langkah, melirik jam tangan peraknya dengan ketenangan yang sempurna tanpa ekspresi.
"Ayah, dia dikirim langsung dari wilayah Raja Buangan. Kita membutuhkan informasi darinya sebelum memutuskan untuk membunuhnya," ucap Julian datar.
Xavier mengabaikan perkataan Julian, perhatiannya sepenuhnya tersedot oleh aroma vanila manisku yang menguar semakin pekat akibat ketakutan biologisku.
Insting Alpha Puncak miliknya yang telah mati belasan tahun kini bangkit sepenuhnya mendambakan Omega di bawah kekuasaannya.
"Kau membawa bau bahaya yang sangat pekat, Omega," bisik Xavier dengan suara berat yang serak dan bergetar penuh kuasa.
"Bau yang akan menghancurkan seluruh isi kawananku jika aku membiarkanmu hidup lebih lama lagi di tempat ini."
"Kalau begitu, bunuh saja aku sekarang, Xavier Bloodmoon," tantangku dengan napas yang memburu tepat di depan wajahnya yang terlalu dekat.
Xavier tidak menjawab tantanganku, melainkan mempererat cengkeramannya pada kelenjar feromon di samping leher kiriku.
Ujung jarinya menekan urat nadi sensitif itu dengan presisi kasar, memicu denyutan panas yang menjalar cepat ke perut bagian bawahku.
Reaksi otonom tubuhku meledak seketika, mengabaikan segala bentuk penolakan mental yang kucoba pertahankan di hadapan sang pemimpin kawanan.
Cairan hangat mulai merembes basah di celana dalamku akibat tekanan feromon Alpha miliknya yang terlalu mendominasi sistem saraf biologisku.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan desahan memalukan yang hampir saja lolos dari tenggorokanku yang terasa kering.
Xavier menyadari getaran hebat di tubuhku, dan sepasang mata merah darahnya berkilat dipenuhi gairah instingtif yang sangat gelap.
"Tubuh kotormu ini merindukan cengkeramanku, bukan?" bisik Xavier dengan nada sangat rendah tepat di depan telingaku.
Aku terengah-engah dalam perpaduan rasa sakit dan kenikmatan biologis yang mengalir deras ke seluruh pembuluh darahku saat ini.
Sialan, tubuhku menginginkan cengkeraman ini.
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencengkeram dadaku, berjuang mencari pasokan udara di dalam kegelapan kamar sayap barat yang sunyi.Tiba-tiba, rasa panas menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku.Aroma vanila yang teramat manis menguar deras dari kulitku, memenuhi seluruh ruangan.Aku baru saja melepaskan feromon Level satu secara tidak sengaja akibat kepanikan yang luar biasa.Efek pelepasan biologis pasif ini langsung merusak lingkungan fisik di sekitarku secara nyata.Sekuntum mawar putih di dalam vas kaca samping ranjang mendadak layu, kelopak-kelopaknya mengering dan gugur dalam hitungan detik.Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras di atas lantai marmer.Bunyi tubuh pelayan wanita menyusul, ambr
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut kasar setiap kali aku bergerak bebas.Aku mengulurkan tangan, menyentuh sekuntum mawar putih yang dingin.Pikiranku kembali melayang pada kejadian mengerikan di perpustakaan istana kemarin sore.Cengkeraman kasar Bastian pada leher belakangku dan kilasan trauma penjara bawah tanah masih membekas kuat.Aku menarik napas sedalam mungkin, berusaha menenangkan detak jantungku yang terus berdegup kencang."Kelopak mawar tidak akan bisa menyembuhkan ketakutan di dalam matamu, Alana." Sebuah suara dingin memecah keheningan dari arah belakang.Aku tersentak hebat hingga merobek kelopak mawar putih yang kupegang.Aroma peppermint segar dan es yang sangat tajam langsung menyerbu indra penciumanku tanpa
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres Anda," kata pelayan itu tergesa-gesa.Pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka saat pelayan itu melangkah kembali ke koridor luar.Aku memanfaatkan kesempatan singkat itu dengan cepat.Di atas nampan perak, sebuah pisau logam kecil berkilau tajam di bawah cahaya lilin.Dengan jari gemetar, aku menyambar pisau itu dan menyembunyikannya di dalam lipatan lengan gaun katun putihku.Logam dingin itu langsung menyentuh kulit lenganku, menyembunyikan ancaman di balik kain longgar.Pelayan itu kembali membawa handuk, meletakkannya di samping baskom, lalu membungkuk sopan sebelum keluar.Begitu suara kunci pintu berputar dari luar, aku mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat tenggorokan.Aku mel
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu," desisku dingin dengan pandangan yang menantang mereka."Diam dan jangan membuat Alpha Tertinggi menunggu lebih lama lagi!" bentak pengawal bertubuh raksasa di sebelah kiriku.Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menolak keras untuk menunjukkan rasa sakit atau air mata di depan para penjaga ini.Kami melangkah melewati koridor panjang menuju pintu ganda Aula Besar yang dilapisi emas hitam kuno.Saat pintu kayu itu terbuka lebar, aroma kayu bakar bercampur bau darah kering langsung menyergap indra penciumanku.Itu adalah aroma feromon dominan milik Xavier Bloodmoon, sang Alpha Tertinggi yang memimpin Kawanan Bloodmoon.Puluhan pasang mata serigala di dalam ruangan besar itu langsung tertuju pa
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin milik Raja Buangan terasa baru saja mengurungku beberapa detik lalu.Aku menarik napas panjang, menolak untuk menyerah pada rasa takut.Luka cambuk di punggungku berdenyut kencang saat aku mencoba menegakkan tubuh.Rasa perih menusuk langsung ke saraf terdalamku.Aku mengatupkan rahang, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirku.Cairan hangat berbau besi merembes perlahan dari celah perban yang membungkus punggungku.Pengaruh serum penyembuh instan tadi siang terasa mulai memudar, menyisakan denyutan kasar di kulitku yang robek.Aku bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututku erat-erat di dalam kegelapan kamar perawatan sayap barat.Pintu kamar perawatan sayap barat hancur terdorong
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanita paruh baya dengan panik.Dua pelayan muda di belakangnya gemetar memegang baskom perunggu berisi air hangat."Keluar," desis Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku."Tapi, Tuan, luka di punggungnya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi—""Kau tuli?" potong Bastian tajam."Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" bentak Bastian lagi.Para pelayan itu memucat mendengar ancaman putera mahkota Kawanan Bloodmoon.Mereka meletakkan baskom dengan tangan gemetar, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.Pintu kamar yang rusak ditutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami berdua.Bastian meletakkan tubuhku di atas kasur beludru h







