ログインAku tahu berjalan masuk ke Aula Besar pagi ini sama saja dengan mengantarkan leherku sendiri ke pisau jagal.
Namun, aku menolak untuk terlihat seperti domba pasrah yang siap disembelih di hadapan kawanan pembunuh ini.
"Jalan lebih cepat, Omega!" gertak pengawal di sebelah kananku, mencengkeram bahuku begitu keras hingga luka di punggungku kembali berdenyut perih.
"Lepaskan tangan kotormu," desisku tanpa mengalihkan pandangan dari pintu ganda kayu ek hitam di depan kami.
Pintu besar setinggi lima meter itu terbuka dengan dentum berat yang menggema, merobek keheningan koridor istana.
Di dalam Aula Besar, puluhan pasang mata serigala langsung tertuju padaku. Tatapan mereka lapar dan menakar, seolah aku hanyalah sepotong daging segar yang dilemparkan ke tengah kandang pemangsa.
Bastian berdiri di dekat takhta batu, matanya berkilat emas liar penuh amarah yang tertahan. Tangannya mengepal erat, siap mencabik siapa saja yang berani menatap tubuh setengah telanjangku terlalu lama.
Sementara di sampingnya, Julian berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. Dia memutar cincin peraknya dengan gerakan lambat, menatapku seolah aku hanyalah pion catur yang baru saja masuk ke dalam perangkapnya.
Kehadiran mereka berdua tenggelam seketika begitu kabut tak kasat mata dari aura sang Alpha Tertinggi menguasai ruangan.
Udara di aula mendadak berubah menjadi sangat tebal, seolah oksigen di sekitarku lenyap dalam sekejap. Paru-paruku menyempit, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.
Xavier Bloodmoon duduk di atas takhta batu itu dengan keagungan yang mematikan.
Rambut peraknya berkilau dingin. Tubuh raksasanya yang setinggi hampir dua meter memancarkan tekanan absolut yang membuat beberapa serigala muda di barisan depan langsung menundukkan kepala mereka karena tidak kuat menahan intimidasi.
"Lepaskan dia," suara berat Xavier memecah keheningan bagai guntur.
Dua pengawal itu mendorongku kasar. Aku jatuh tersungkur di atas lantai marmer hitam yang sedingin es.
"Berlututlah di hadapanku, Omega!" Titah Alpha-nya menggelegar, menghantam bahuku dengan kekuatan gaib yang luar biasa berat.
Lututku bergetar hebat. Gravitasi di sekitar ruangan seolah melonjak berkali-kali lipat, memaksaku untuk menunduk dan menyembah kakinya di atas lantai marmer.
Namun, kenangan kelam dari penjara bawah tanah Kastil Bayang mendadak melintas di kepalaku.
Dulu, di depan Raja Buangan, aku pernah berlutut.
Aku memohon, menangis hingga lututku berdarah di atas lantai batu sel yang dingin demi belas kasihan. Dan apa yang kudapatkan? Hanya cambukan perak yang jauh lebih kejam.
Berlutut tidak pernah menyelamatkanku. Itu hanya akan menghancurkan sisa-sisa harga diri yang kupertahankan dengan nyawaku.
Aku mencengkeram marmer dingin dengan ujung jariku. Mengatupkan rahang rapat-rapat, aku memaksa kepalaku mendongak.
Aku menolak untuk tunduk. Aku menatap langsung ke dalam sepasang mata merah darah Xavier yang berkilat dingin di ujung aula.
Sudut bibir Xavier berkedut samar. Dia tidak meledak marah; ketenangannya justru jauh lebih mengerikan dari kemarahan apa pun.
Dalam satu kedipan mata, dia sudah berpindah tempat. Kecepatan sang Alpha Tertinggi benar-benar berada di luar nalar manusia.
Sebelum aku sempat menghindar, tangan besarnya yang kasar sudah mencengkeram rahangku dengan kekuatan baja.
"Akh!" Aku tersedak saat dia menarik kepalaku ke atas dengan kasar, memamerkan urat leherku yang terluka di bawah tatapan tajamnya.
"Lepas..." bisikku, mencoba meronta, namun cengkeraman jarinya sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun.
Ibu jarinya yang kapalan menekan tepat di atas kelenjar aromaku di samping leher yang sensitif.
Seketika, seluruh sistem pertahanan biologisku runtuh.
Aroma kayu bakar bercampur darah kering yang mengalir dari tubuh Xavier menyerang indra penciumanku tanpa ampun. Tubuh Omega-ku mendadak berteriak histeris, mengenali dominasi purba yang begitu pekat dan kuat.
Rasa panas yang memabukkan menjalar dari titik sentuhannya, turun ke dada, hingga meledak di perut bagian bawahku.
Celana dalamku basah. Tubuhku yang hancur justru mendambakan remasan tangannya yang kasar. Aku menggigit bibir kuat-kuat, menolak mengeluarkan desahan memalukan yang sudah berada di ujung tenggorokan.
"Ayah, hentikan! Dia bisa mati!" seru Bastian, melangkah maju dengan mata emas yang menyala penuh insting protektif yang liar.
Xavier bahkan tidak menoleh. Feromon Alpha-nya meledak kembali, membungkam gerak Bastian seketika hingga putra sulungnya itu terpaksa mundur. "Mundur, Bastian. Atau aku sendiri yang akan mematahkan lehermu."
Julian hanya melirik dari kejauhan, matanya yang dingin merekam reaksi biologis tubuhku dengan presisi yang menakutkan.
Xavier mencondongkan wajahnya yang tampan namun kejam. Jarak kami begitu dekat hingga napas panasnya yang beraroma kayu bakar membakar bibirku yang gemetar.
Matanya yang merah darah berkilat penuh gairah berburu yang dingin.
"Aroma vanila yang manis... bercampur bau busuk dari wilayah Raja Buangan," bisik Xavier, suaranya begitu rendah hingga menggetarkan tulang belakangku.
"Kau pikir kau bisa mengelabui kawananku dengan tubuh rapuh ini, Alana?"
Aku terengah-engah, menatapnya dengan sisa keberanianku yang terakhir. "Jika kau begitu takut padaku... bunuh saja aku sekarang, Xavier."
Xavier menyeringai dingin. Ibu jarinya menekan lebih dalam pada kelenjar aromaku, memaksaku memejamkan mata menahan denyutan gairah biologis yang menyiksa.
"Membunuhmu adalah hal yang terlalu mudah, Omega," bisik Xavier, bibirnya menyapu daun telingaku dengan ancaman yang membuat napasku tercekat seketika.
"Mulai detik ini, kau bukan lagi buronan yang berlari mencari perlindungan..."
Dia mempererat cengkeramannya, mengunci tatapanku yang mulai sayu karena pengaruh feromonnya yang memabukkan.
"Kau adalah mangsaku."
Suara deburan keras marmer yang hancur kembali memekakkan telingaku malam ini. Tubuh raksasa Xavier menghantam pilar batu altar dengan kekuatan murni Supreme Alpha."Kau sudah tua, Ayah! Sadarlah bahwa taring perakmu tidak bisa menahanku lagi!" teriak Bastian dengan taring emas yang memanjang sepenuhnya. Bastian menerjang maju kembali, mengabaikan rahang kirinya yang baru saja robek dan mengucurkan darah segar."Tutup mulutmu yang lancang itu, Bastian! Supreme Alpha paruh baya ini masih bisa mematahkan lehermu dalam sekali ayunan!" balas Xavier dengan geraman berat. Supreme Alpha itu memutar tubuhnya menghindari terkaman liar putranya dengan gerakan lincah."Jangan lupakan keberadaanku di sini, saudaraku. Sains membuktikan gen kita yang paling siap untuk Alana!" teriak Julian dari kegelapan sisi pilar. Julian melompat dengan belati perak tajam di bawah temaram obor aula pertemuan yang redup.Aku mencengkeram perut bawahku yang rata saat rasa nyeri tiba-tiba meremas rahimku dengan sang
Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah."Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.Dengan kecepatan monster yang luar biasa, Xavier mengayunkan lengan besarnya untuk menangkis terkaman putranya. Benturan keras antara dua kekuatan fisik murni itu memercikkan suara debukan yang sangat mengerikan.Xavier menghindari cakar Bastian, lalu mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Bastian. Suara retakan tulang terdengar sangat renyah bersamaan dengan tubuh Bastian yang terlempar menghantam lantai marmer."Akh!" geram Bastian sembari memuntahkan
Gigi sisir kayu yang tajam menggaruk kulit kepalaku dengan ritme yang lambat. Di depan cermin rias perunggu yang buram, aku menatap pantulan wajahku yang pucat.Mataku bergerak turun ke arah bahu kanan yang masih menyisakan keropeng samar bekas gigitan Xavier tempo hari. Namun, leherku masih terlihat sangat polos dan mulus tanpa ada tanda permanen dari siapa pun.Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian dewan dan kematian Valerius di perbatasan utara. Pagi hari ini, batas waktu masa damai satu bulan yang kami sepakati resmi berakhir sepenuhnya.Aku mengembuskan napas panjang, merasakan ketegangan yang mendadak merayap ke dalam seluruh isi kamar tidur utama. Aroma udara di sekelilingku terasa sangat sesak dan panas secara tidak wajar sejak fajar menyingsing."Kau menyisir rambutmu terlalu lama, Alana," suara berat Bastian memecah keheningan dari arah belakang. Bastian melangkah mendekat, membiarkan dadanya yang bidang hampir menyentuh punggung jubah sutra abu-abu yang kukenakan.Aku
Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet
Suara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K
Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin







