Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 6: Taman yang Berbahaya

Share

Chapter 6: Taman yang Berbahaya

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-06-08 22:25:28

Ada yang salah dengan taman mawar putih ini.

Bukan karena kelopaknya yang terlalu pucat, melainkan karena hawa dingin tidak wajar yang tiba-tiba merayap naik, membekukan tengkukku.

Seseorang sedang mengawasiku dari balik kabut labirin mawar.

"Memetik duri hanya akan membuat jemarimu yang rapuh terluka, Alana."

Sebuah suara sedingin es memecah kesunyian dari arah belakang.

Aroma peppermint tajam bercampur embun beku langsung menyerbu indra penciumanku tanpa ampun. Tubuhku menegang seketika.

Julian melangkah keluar dari balik bayangan pohon cemara raksasa. Kemeja hitamnya terkancing rapi tanpa cela, matanya berkilat emas mati—tanpa emosi, namun penuh perhitungan.

"Pergi, Julian," desisku, melangkah mundur hingga punggungku membentur semak mawar berduri yang tajam.

"Ini wilayahku. Kau tidak punya hak untuk mengusirku," sahutnya tenang, melangkah maju untuk mengikis jarak di antara kami.

"Kau membiarkan ayahmu mencengkeram rahangku di Aula Besar kemarin pagi!" cecarku, menatapnya dengan kemarahan yang membara.

"Itu pengujian wajib," balas Julian datar, memutar cincin perak di jarinya dengan santai. "Dan kau lolos dengan sangat manis."

"Aku bukan binatang percobaan untuk kawanan terkutukmu!"

"Sayangnya, kau memang begitu sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di sini."

Aku mengepalkan tangan di balik lipatan gaun katun putihku. Rasa sakit di punggungku mendadak sirna, dikalahkan oleh adrenalin yang memuncak.

"Jangan mendekat," ancamku, menatap langsung mata emasnya. "Aku bisa membunuhmu jika kau berani menyentuhku lagi."

Julian menatap kepalan tanganku, lalu beralih kembali ke mataku dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan.

"Dengan pisau buah kecil yang kau selipkan di bawah bantal sutra hitammu?" bisik Julian tanpa beban.

Langkahku terkunci seketika. Napas yang baru saja ingin kuhirup mendadak tersendat di tenggorokan.

Duniaku runtuh dalam satu detik.

Dia tahu.

Pikiran itu menghantamku dengan brutal, meremukkan sisa-sisa harapan terakhirku untuk bertahan hidup. Itu berarti Julian telah menyusup ke kamarku saat aku tidak berdaya.

Pria berdarah dingin ini telah berdiri di atas tubuhku yang tertidur, menggeledah ranjangku, memandangi wajah rapuhku, dan merampas satu-satunya privasi yang kupunya. Di tempat ini, aku sepenuhnya telanjang dan tidak memiliki tempat bersembunyi.

"Kau... menyusup ke kamarku," desisku dengan suara bergetar karena murka sekaligus rasa ngeri yang mendalam.

"Aku hanya memeriksa kelayakan tempat tidurmu," sahutnya, melangkah maju satu langkah lagi hingga embusan napas mint-nya menyapu wajahku. "Dan mainan kecil itu terlalu murah untuk seorang Omega Murni."

"Kalian semua monster gila!" air mataku hampir pecah, namun aku menahannya dengan segenap harga diri yang tersisa. "Kalian merancang pelarianku hanya untuk menjadikanku budak pemuas nafsu di tempat ini!"

Julian menatapku, matanya berkilat dipenuhi kepuasan sadis yang membekukan darahku.

"Pelarian?" Julian tertawa rendah, sebuah suara maskulin yang terdengar seperti lonceng kematian.

"Alana, kau pikir bagaimana seorang Omega lemah tanpa kawanan sepertimu bisa membobol penjara bawah tanah Raja Buangan yang dijaga ratusan prajurit tangguh?"

Aku membeku. Kepalaku berputar cepat, menyusun kepingan memori malam pelarianku yang terasa terlalu mulus.

"Aku yang membukakan gerbang selmu dari jauh," bisik Julian, memiringkan kepalanya dengan tatapan tanpa belas kasihan. "Aku juga yang menuntun para pemburu itu agar menggiring langkah kakimu tepat ke perbatasan Bloodmoon."

Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadaku. Pelarian berdarah-darah yang kupikir adalah perjuangan hidup dan matiku demi kebebasan... ternyata hanyalah skenario fiksi yang ditulis oleh pria iblis di depanku ini.

"Kenapa... kenapa kau melakukan ini padaku?!" jeritku frustrasi, mencengkeram kerah kemeja hitamnya dengan tangan bergetar.

Julian tidak menjauhkan tubuhnya. Dia justru membungkuk, menangkup rahangku dengan jemarinya yang sedingin es maut.

Seketika, feromon peppermint-nya meledak di udara taman, memaksa insting biologis Omega-ku untuk patuh. Tubuh otonomku kembali berkhianat. Perut bagian bawahku berdenyut hangat, dan cairan hangat mulai merembes basah di celana dalamku, menuntut sentuhannya yang kejam.

Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah, menolak mengeluarkan desahan memalukan yang sudah berada di ujung lidah.

Julian menatap bibirku yang gemetar, wajahnya kini hanya berjarak satu sentimeter dari wajahku.

"Karena tubuh Omega Murnimu adalah satu-satunya pemicu untuk membangkitkan primal beast milik ayahku, Alana," bisik Julian tepat di telingaku, suaranya terdengar seperti janji eksekusi yang manis.

"Malam ini adalah malam bulan purnama merah, saat di mana gairah binatang buas mencapai puncaknya."

Dia mempererat cengkeramannya pada rahangku, memaksaku menatap mata emasnya yang menyala penuh dominasi absolut yang mengerikan.

"Dan malam ini, Xavier tidak akan lagi menggunakan Titah Alpha untuk membuatmu berlutut..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 92: MASTERMIND YANG MENGAMATI

    Julian berdiri tegak di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman luar Menara Timur.Salju tipis mulai turun perlahan, menghiasi permukaan tanah yang membeku dengan lapisan putih tipis.Aroma peppermint yang dingin menguar pekat dari tubuhnya, memenuhi seluruh sudut ruang kerja yang sepi itu.Di belakangnya, seorang pengawal tepercaya dari faksi bayangan berdiri diam dengan kepala menunduk sangat dalam.Julian membolak-balik lembaran dokumen strategi militer di atas meja kayu ek miliknya dengan gerakan jari yang sangat teratur.Jari-jarinya yang panjang tiba-tiba berhenti pada selembar kertas kulit tipis yang terselip di sela buku anatomi miliknya."Apakah kau sudah memastikan keaslian dari surat ini?" tanya Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas tersebut."Sudah, Lord Julian. Pelayan bernama Sienna itu menulisnya sendiri sebelum dia menemui Lady Freya pagi ini," jawab pengawal itu dengan suara yang sangat rendah.Julian tersenyum tipis, sebuah ekspre

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 91: KEMBAR YANG TERBELAH

    Langkah kaki yang sangat berat bergema di sepanjang koridor batu bawah tanah yang membeku.Aku tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa sosok yang sedang berjalan mendekat ke arah selku.Aroma kulit hangat yang biasanya menenangkan kini tercium sangat asam di udara.Bau itu dipenuhi oleh kepedihan mendalam dan rasa dikhianati yang sangat pekat dari sang Alpha.Bastian berdiri di balik jeruji besi dengan napas yang memburu tidak teratur.Wajahnya yang biasanya tampan kini terlihat sangat hancur dan dipenuhi oleh amarah yang membakar.Rahang tegasnya bergetar hebat saat matanya yang berwarna emas menatapku yang meringkuk tak berdaya.Dia mencengkeram besi-besi dingin itu hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar."Apakah kau mendengarku, Alana?! Jawab aku sekarang juga!" teriak Bastian dengan suara serak yang memecah kesunyian malam di penjara ini.Suaranya yang menggelegar terdengar sangat tersiksa, menahan gelombang emosi yang siap meledak kapan saja."Jangan bersembunyi di bal

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 90: TANGAN YANG MENANGKAP

    Rantai besi bergemerincing keras, menyeret kakiku di atas lantai koridor yang beralih dari marmer halus menjadi batu kasar yang membekukan.Two guards grabbed my shoulders without any mercy.Mereka mendorongku hingga aku terjerembap di atas sebuah kursi besi dingin di tengah ruangan bawah tanah yang luas.Sebelum aku sempat menegakkan tubuh, rantai perak langsung melilit pergelangan tanganku dengan sangat kencang.Aku mendongak dengan napas terengah-engah dan tatapan yang mulai kabur akibat rasa takut yang luar biasa.Di depanku, di atas panggung batu yang lebih tinggi, duduk para tetua dewan istana dengan jubah hitam mereka.Elder Kael berdiri di tengah panggung, menatapku dengan mata hazel yang dipenuhi kebencian ideologis yang sangat pekat.Kehadirannya memancarkan aura penindasan yang begitu kuat hingga membuat dadaku terasa sangat sesak."Berdirilah dengan tegak, penyusup!" bentak salah satu pengawal sambil menjambak rambutku agar aku mendongak menatap para tetua.Aku meringis ke

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 89: SAHABAT YANG MENJUAL

    Aku percaya kehangatan tangan Sienna yang mengusap pundakku adalah ketulusan.Aku tidak menyadari bahwa jemarinya sedang menghitung seberapa didera pisau pengkhianatan ini bisa menusuk rahimku.Pagi itu terasa begitu tenang di didera kamar tidurku di sayap barat istana.Sienna berdiri di belakangku, menyisir rambut hitam panjangku dengan sangat lembut."Rambutmu sangat indah, Alana," kata Sienna dengan suara pelan."Sayang sekali jika rambut seindah ini harus terlihat kusut."Aku tersenyum tipis menatap pantulan wajah kami di cermin besar.Kehadiran Sienna di kamar ini adalah satu-satunya hiburan bagiku setelah badai penyerangan Valerius berlalu."Terima kasih, Sienna," jawabku sambil memegang tangannya yang hangat."Hanya kau yang peduli padaku di istana yang dingin ini."Sienna menghentikan gerakan sisirnya sejenak, lalu mengusap bahuku dengan lembut.Matanya yang bulat menatapku dengan tatapan cemas."Aku selalu mencemaskan keselamatanmu, Alana," bisik Sienna di dekat telingaku."T

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 88: BEKAS GIGITAN YANG MISTERIUS

    Langkah kakiku terasa sangat kaku saat aku mencoba turun dari ranjang beludru hitam. Rasa perih di punggung dan paha bagian dalamku masih tersisa, membuatku harus berpegangan pada tiang ranjang kayu agar tidak terjatuh.Aku melirik ke arah pintu kamar tidurku yang kini sudah tidak terkunci lagi. Keheningan siang ini terasa sangat asing setelah badai perang dan kepulan asap peppermint yang menyesakkan malam kemarin.Xavier dan kedua putranya pasti sedang sibuk mengurus sisa-sisa kerusakan istana di halaman luar. Ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bergerak mencari tahu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh keluarga kotor ini dariku.Aku melangkah kaku melewati koridor sayap barat istana yang tampak sangat berantakan akibat guncangan ledakan sebelumnya. Tujuanku adalah ruang perpustakaan pribadi sayap barat yang sudah lama terbengkalai dan jarang dilewati oleh para pengawal.Pintu kayu perpustakaan yang berdebu itu berderit perlahan saat aku mendorongnya didera sisa tenag

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 87: PESAN YANG MENGANCAM

    Bau peppermint yang sangat tajam menyengat hidungku, menembus celah-celah pintu brankas besi sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku bisa mendengar suara batuk parau yang tertahan dari balik dinding baja tebal di luar sana."Gas pertahanan kita sudah bekerja, Julian," bisik Xavier didera suara yang terdengar sangat berat dan kelelahan. "Berapa sisa waktu kita sebelum racun itu menguap sepenuhnya?"Julian berdiri tegak di dekat pintu kontrol, melirik indikator tekanan udara yang mulai berkedip hijau. "Dua puluh menit, Ayah," jawab Julian didera nada suaranya yang tetap tenang tanpa emosi. "Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat paman Valerius dan sisa pasukannya mundur ke arah luar gua."Mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru menjauh dari luar pintu besi, aku mengembuskan napas panjang yang terasa sangat bergetar. Tubuhku masih terbaring kaku di atas meja besi yang terasa sedingin es.Cairan hangat sisa penyatuan paksa mereka masih terasa merembes perlahan di sepanjang paha

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status