LOGINAda yang salah dengan taman mawar putih ini.
Bukan karena kelopaknya yang terlalu pucat, melainkan karena hawa dingin tidak wajar yang tiba-tiba merayap naik, membekukan tengkukku.
Seseorang sedang mengawasiku dari balik kabut labirin mawar.
"Memetik duri hanya akan membuat jemarimu yang rapuh terluka, Alana."
Sebuah suara sedingin es memecah kesunyian dari arah belakang.
Aroma peppermint tajam bercampur embun beku langsung menyerbu indra penciumanku tanpa ampun. Tubuhku menegang seketika.
Julian melangkah keluar dari balik bayangan pohon cemara raksasa. Kemeja hitamnya terkancing rapi tanpa cela, matanya berkilat emas mati—tanpa emosi, namun penuh perhitungan.
"Pergi, Julian," desisku, melangkah mundur hingga punggungku membentur semak mawar berduri yang tajam.
"Ini wilayahku. Kau tidak punya hak untuk mengusirku," sahutnya tenang, melangkah maju untuk mengikis jarak di antara kami.
"Kau membiarkan ayahmu mencengkeram rahangku di Aula Besar kemarin pagi!" cecarku, menatapnya dengan kemarahan yang membara.
"Itu pengujian wajib," balas Julian datar, memutar cincin perak di jarinya dengan santai. "Dan kau lolos dengan sangat manis."
"Aku bukan binatang percobaan untuk kawanan terkutukmu!"
"Sayangnya, kau memang begitu sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di sini."
Aku mengepalkan tangan di balik lipatan gaun katun putihku. Rasa sakit di punggungku mendadak sirna, dikalahkan oleh adrenalin yang memuncak.
"Jangan mendekat," ancamku, menatap langsung mata emasnya. "Aku bisa membunuhmu jika kau berani menyentuhku lagi."
Julian menatap kepalan tanganku, lalu beralih kembali ke mataku dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan.
"Dengan pisau buah kecil yang kau selipkan di bawah bantal sutra hitammu?" bisik Julian tanpa beban.
Langkahku terkunci seketika. Napas yang baru saja ingin kuhirup mendadak tersendat di tenggorokan.
Duniaku runtuh dalam satu detik.
Dia tahu.
Pikiran itu menghantamku dengan brutal, meremukkan sisa-sisa harapan terakhirku untuk bertahan hidup. Itu berarti Julian telah menyusup ke kamarku saat aku tidak berdaya.
Pria berdarah dingin ini telah berdiri di atas tubuhku yang tertidur, menggeledah ranjangku, memandangi wajah rapuhku, dan merampas satu-satunya privasi yang kupunya. Di tempat ini, aku sepenuhnya telanjang dan tidak memiliki tempat bersembunyi.
"Kau... menyusup ke kamarku," desisku dengan suara bergetar karena murka sekaligus rasa ngeri yang mendalam.
"Aku hanya memeriksa kelayakan tempat tidurmu," sahutnya, melangkah maju satu langkah lagi hingga embusan napas mint-nya menyapu wajahku. "Dan mainan kecil itu terlalu murah untuk seorang Omega Murni."
"Kalian semua monster gila!" air mataku hampir pecah, namun aku menahannya dengan segenap harga diri yang tersisa. "Kalian merancang pelarianku hanya untuk menjadikanku budak pemuas nafsu di tempat ini!"
Julian menatapku, matanya berkilat dipenuhi kepuasan sadis yang membekukan darahku.
"Pelarian?" Julian tertawa rendah, sebuah suara maskulin yang terdengar seperti lonceng kematian.
"Alana, kau pikir bagaimana seorang Omega lemah tanpa kawanan sepertimu bisa membobol penjara bawah tanah Raja Buangan yang dijaga ratusan prajurit tangguh?"
Aku membeku. Kepalaku berputar cepat, menyusun kepingan memori malam pelarianku yang terasa terlalu mulus.
"Aku yang membukakan gerbang selmu dari jauh," bisik Julian, memiringkan kepalanya dengan tatapan tanpa belas kasihan. "Aku juga yang menuntun para pemburu itu agar menggiring langkah kakimu tepat ke perbatasan Bloodmoon."
Rasa sakit yang luar biasa menjalar di dadaku. Pelarian berdarah-darah yang kupikir adalah perjuangan hidup dan matiku demi kebebasan... ternyata hanyalah skenario fiksi yang ditulis oleh pria iblis di depanku ini.
"Kenapa... kenapa kau melakukan ini padaku?!" jeritku frustrasi, mencengkeram kerah kemeja hitamnya dengan tangan bergetar.
Julian tidak menjauhkan tubuhnya. Dia justru membungkuk, menangkup rahangku dengan jemarinya yang sedingin es maut.
Seketika, feromon peppermint-nya meledak di udara taman, memaksa insting biologis Omega-ku untuk patuh. Tubuh otonomku kembali berkhianat. Perut bagian bawahku berdenyut hangat, dan cairan hangat mulai merembes basah di celana dalamku, menuntut sentuhannya yang kejam.
Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah, menolak mengeluarkan desahan memalukan yang sudah berada di ujung lidah.
Julian menatap bibirku yang gemetar, wajahnya kini hanya berjarak satu sentimeter dari wajahku.
"Karena tubuh Omega Murnimu adalah satu-satunya pemicu untuk membangkitkan primal beast milik ayahku, Alana," bisik Julian tepat di telingaku, suaranya terdengar seperti janji eksekusi yang manis.
"Malam ini adalah malam bulan purnama merah, saat di mana gairah binatang buas mencapai puncaknya."
Dia mempererat cengkeramannya pada rahangku, memaksaku menatap mata emasnya yang menyala penuh dominasi absolut yang mengerikan.
"Dan malam ini, Xavier tidak akan lagi menggunakan Titah Alpha untuk membuatmu berlutut..."
Bunyi deru napas berat Xavier beradu dengan keheningan aula tengah yang dingin. Di bawah tangga altar, Bastian masih terbaring lemas dengan kening yang menempel di atas marmer basah.Keduanya telah kehilangan seluruh kekuatan akibat kepungan feromon Level tiga milikku. Aku melangkah turun satu anak tangga, membuat ujung jubah sutra putihku menyapu helai rambut perak Xavier.Xavier mendongak perlahan dengan tatapan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi kabut birahi. "Alana... aku mohon... biarkan aku masuk... rasanya sangat sakit..." rintih Xavier dengan suara bergetar hebat.Aku menyunggingkan senyum tipis melihat penguasa tertinggi wilayah barat itu gemetar di bawah kakiku. "Kemarin kau mengancam akan menyeretku kembali ke menara terdalam, Xavier," sahutku dengan nada dingin."Mengapa sekarang kau justru merangkak di bawah kakiku seperti ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban.Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku salah... persetubuh
Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mendadak bergema dari arah pintu masuk aula tengah.Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja datang mengacaukan malam penaklukanku.Geraman Alpha Tertinggi Xavier yang sangat keras langsung mengguncang pilar-pilar batu di aula tengah yang sunyi."Bastian! Apa yang sedang kau lakukan di atas lantai dingin itu?!" bentak Xavier dengan suara menggelegar dipenuhi amarah murni.Bastian yang masih memeluk pergelangan kaki polosku tampak tersentak lemah tanpa melepaskan pegangan tangannya.Napasnya terdengar sangat memburu dengan keringat dingin yang terus membasahi perban di rahang tegasnya.Aku berbalik secara perlahan, menatap Xavier yang kini melangkah lebar mendekati tempat kami berdiri di atas tangga altar."Angkat tubuhmu sekarang juga, Bastian!" perintah Xavier lagi sembari mencengkeram bahu kokoh putranya dengan sangat kasar."Dia tidak akan bergerak ke mana pun tanpa izin dariku, Xavier," sahutku dengan nada suara
Langkah kakiku terdengar sangat pelan saat aku berjalan menyusuri koridor dingin aula tengah yang sunyi. Malam semakin larut, namun udara malam istana Bloodmoon sama sekali tidak bisa membekukan bara kemenangan yang baru saja kunyalakan di menara timur.Aku menghentikan langkahku tepat di depan patung serigala perak raksasa yang berdiri kokoh menghadap altar utama. Mataku menatap lekat pada pahatan dingin itu dengan senyuman tipis yang perlahan terukir di bibirku.Kini aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak lagi berdiri di istana terkutuk ini sebagai mangsa yang ketakutan. Rahimku adalah takhta kekuasaan paling berharga yang diperebutkan oleh tiga monster teritorial, dan aku akan menggunakannya untuk membuat mereka merangkak di bawah kakiku.Suara langkah kaki yang sangat berat dan terseret-seret mendadak terdengar memecah keheningan malam dari arah koridor luar. Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik langkah berantakan yang bergema tidak stabil di lantai marmer itu
Langkahku terhenti tepat di depan pintu perpustakaan kayu yang masih terkunci rapat dari dalam. Aku tidak berbalik untuk melihat Julian, tetapi aku tahu pria itu sedang menatap punggungku dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokannya."Kau tidak bisa pergi begitu saja, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang bergetar menahan gairah fisik yang menyiksa tubuhnya. "Pemeriksaan medis ini belum selesai, dan kau harus memberikan sampel darahmu sore ini."Aku tersenyum tipis mendengarnya, lalu berbalik perlahan untuk menatap wajah tampannya yang kini tampak sangat kacau. "Apakah kau masih berpikir bahwa kau memiliki otoritas untuk memerintahku di dalam menara ini, Julian?"Julian mencengkeram pinggiran meja kerjanya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih bersih. "Aku adalah arsitek yang merancang seluruh sistem kesehatan dan kelangsungan hidup rahimmu di istana ini.""Sistem kesehatan?" tanyaku dengan nada meremehkan yang sangat jelas terdengar di ruangan sepi ini. "Atau s
Pintu perpustakaan menara timur berdentang kaku saat Julian menguncinya dari dalam. Suara anak kunci yang berputar tiga kali bergema di seluruh penjuru ruangan yang sunyi ini.Aku tidak berbalik untuk melihat pintu itu dan tetap berdiri tenang di tengah ruangan penuh rak buku tua. Pandanganku langsung tertuju pada Julian yang sedang berdiri tegak di balik meja kerjanya yang luas.Pria itu memegang tumpukan berkas berisi lembar analisis medis kehamilanku dengan ekspresi sedatar es. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, mencoba menekan mental Omegaku secara perlahan."Duduklah, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang sangat tenang dan tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu mendiskusikan grafik perkembangan janin di dalam rahimmu yang mengalami lonjakan tidak wajar sore ini."Aku tersenyum tipis, mulai melangkah mendekatinya dengan gerakan kaki yang sangat lambat dan santai. Aku tidak menuju ke arah kursi kosong di depan mejanya, melainkan terus berjalan memutari meja k
Langkah kakiku terdengar pelan di sepanjang koridor sayap timur yang sunyi. Udara dingin istana menusuk kulitku, tetapi dadaku terasa jauh lebih hangat setelah konfrontasi dengan Xavier tadi pagi.Aku baru saja melewati persimpangan pilar batu besar ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalanku. Aku menghentikan langkah dan mendongak perlahan untuk melihat siapa yang berani menghentikanku.Bastian berdiri di sana dengan tubuh raksasanya yang tampak sedikit berguncang lemah. Rahang tegasnya masih dibalut perban putih bersih sisa pertarungan brutalnya dengan Xavier kemarin malam di depan ruang dewan.Aroma kulit hangat miliknya yang biasa terasa sangat dominan kini tercium sangat asam. Bau feromonnya dipenuhi oleh kepedihan dan rasa bersalah yang teramat sangat menyengat hidungku.Dia menatapku dengan mata emasnya yang terlihat sangat suram dan redup. Kedua tangannya yang besar tergantung gemetar di sisi tubuhnya seolah dia tidak tahu harus berbuat apa di hadapanku.Alana, tolong he
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







