Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 10: Posesif yang Menghancurkan

Share

Chapter 10: Posesif yang Menghancurkan

Author: Surjelly
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-21 08:24:06

Bunyi retakan tulang itu... dan darah segar yang memercik langsung ke ujung gaun katun putihku.

Aku ingin muntah.

Rasa muak dan ngeri merayap di dadaku, mencekikku dengan kesadaran yang teramat pahit—pria tua itu sekarat karena aku. Karena secercah senyum ramah yang dia berikan padaku siang ini.

"Bastian, hentikan! Jangan lakukan itu!" teriakku, suaranya parau menahan tangis.

Bastian tidak peduli. Dia mencengkeram kerah baju pelayan paruh baya itu dengan satu tangannya yang besar, membiarkan tu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 113: RATU YANG SADAR

    Aku tidak dilahirkan untuk mati sebagai alat penetas yang patuh.Aku menolak menjadi wadah kosong yang hanya menerima benih keji mereka.Meskipun semalam Xavier sempat kolaps bersimbah darah hitam akibat terkurasnya energi titah miliknya, pagi ini dia sudah dipaksa bangkit oleh serum penstabil saraf milik Julian. Namun, sisa-sisa kelumpuhan itu masih membayang di wajah kasarnya.Pintu kamar tidur terbuka pelan, memperlihatkan Xavier yang melangkah masuk membawa nampan berisi makanan hangat.Aroma gurih daging panggang segar menguap, mencoba menyamarkan bau darah yang masih tersisa di sudut bibirnya.Aku berdiri di dekat jendela, membiarkan jubah sutra tidurku bergesekan pelan dengan marmer yang dingin."Bagaimana keadaanmu pagi ini setelah ketegangan malam pembantaian dewan kemarin, Alana?" tanya Xavier dengan suara baritonnya yang berat.Aku tidak memalingkan wajahku, tetap menatap lurus ke arah halaman luar istana yang membeku oleh salju."Aku merasa sangat baik, Xavier," sahutku de

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 112: LABORATORIUM YANG MENGERIKAN

    Suasana kamar tidur utama sangat sunyi malam ini setelah badai feromon sore tadi mereda. Aku bangkit dari ranjang beludru tanpa menimbulkan suara sedikit pun."Aku harus menyelesaikan ini sekarang," bisikku lirih pada kegelapan kamar. "Kunci perak ini harus menemukan jawabannya malam ini," lanjutku sembari meraba saku gaunku.Aku melangkah perlahan menuju permadani dinding besar yang tergantung di dekat lemari kayu jati. Di balik kain tebal itu, pintu rahasia yang tersembunyi selama ini menungguku.Aku mengeluarkan kunci kuno perak berukir lambang serigala Bloodmoon yang kuambil dari laci Xavier dulu. Kunci itu masuk dengan pas ke didera lubang pintu kayu yang dingin."Klik," suara mekanisme besi yang terbuka terdengar sangat keras di telingaku. "Tolong beri aku petunjuk," ucapku lirih sembari mendorong pintu itu perlahan.Sebuah tangga batu melingkar yang sangat gelap dan curam terbentang di hadapanku. Aku menyalakan lampu minyak kecil yang kuambil dari meja rias sebelum melangkah tu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 111: RAJA YANG TERKEJUT

    Kabut emas beraroma madu manis yang pekat perlahan-lahan mulai menipis di udara Aula Tengah.Aku menarik napas dalam-dalam, secara sadar menutup kembali gerbang feromon Level tiga di kelenjar leherku pagi ini.Meskipun aromanya telah menyusut, keheningan yang mencekam masih membekukan marmer aula yang dingin.Ketiga Alpha perkasa itu masih terkapar tidak berdaya dengan napas yang memburu sangat kacau di lantai.Bastian meremas dadanya yang bidang dengan kedua tangannya yang kotor oleh sisa pertempuran perbatasan.Matanya yang semula menyala merah murni kini tampak berkaca-kaca karena menahan gairah paksa yang menyiksa saraf otaknya."Aroma ini... mengapa tubuhku tidak bisa menolak pengaruhmu, Alana?" tanya Bastian dengan suara parau yang sangat lirih.Dia mencoba menggerakkan kaki kekarnya untuk berdiri, namun lututnya mendadak lemas kembali hingga dia terjatuh."Lututku tidak bisa bergerak... sistem sarafku terasa lumpuh sepenuhnya..." rintih Bastian sambil mengepalkan tangan di atas

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 110: FEROMON YANG MENGONTROL

    Geraman teritorial Bastian mengguncang pilar batu aula tengah istana Bloodmoon sore ini.Suaranya terdengar sangat parau, beradu dengan gema langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer."Aku tidak peduli dengan rotasi konyol yang kau buat, Julian!" teriak Bastian dengan urat leher yang menonjol tegang."Aku hampir mati di perbatasan utara demi mempertahankan istana ini, dan malam ini Alana adalah milikku!" lanjut Bastian ketus.Julian berdiri tegak di depan patung serigala perak raksasa dengan ekspresi wajah yang sangat dingin.Dia membolak-balik lembaran grafik medis barunya tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun pada kemarahan saudaranya."Secara biologis, tubuh Alana membutuhkan waktu istirahat minimal tiga puluh enam jam sebelum menerima benih berikutnya," sahut Julian tenang."Jika kau memaksakan kehendak kasarmu sekarang, dinding rahimnya bisa mengalami pendarahan hebat akibat tekanan sel," tambah Julian sedatar es.Bastian melesat maju dan mencengkeram kerah jubah abu-abu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 109: GETARAN YANG KECIL

    "Berbaringlah, Alana," perintah Julian dengan nada suara yang sangat klinis."Aku tidak mau," sahutku sambil mencoba bangkit dari kasur beludru hitam yang hangat.Julian menahan bahuku dengan satu tangan dinginnya yang sangat kuat bagai jepitan besi."Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," kata Julian datar tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah pucatnya. "Ini adalah pemeriksaan wajib untuk memverifikasi perkembangan janin di didera rahimmu.""Tubuhku bukan laboratorium pribadimu untuk kau periksa sesukamu, Julian," desisku menahan geram.Julian menatapku tanpa ekspresi emosi yang berarti, mata emasnya tampak sedatar es."Secara hukum pack, tubuhmu adalah milik kami sepenuhnya sejak malam tadi," sahut Julian sangat tenang. "And saat ini, kepentingan ilmiah di rahimmu jauh lebih penting daripada harga dirimu.""Xavier tidak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti binatang percobaan!" ancamku mencoba mencari perlindungan.Julian tersenyum dingin, suara tawa klinis sosiopat miliknya

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 108: REGENERASI YANG MENCURIGAKAN

    Kamar tidur utama terasa sangat sunyi pagi ini. Aroma kayu bakar, peppermint, dan sisa pertempuran tadi malam masih menggantung tipis di udara yang hangat.Aku mencoba menggerakkan tubuhku yang terasa sangat lemas di atas ranjang beludru hitam. Xavier, Bastian, dan Julian sudah tidak ada lagi di kamar ini sejak fajar menyingsing.Mereka pasti sedang berada di aula luar untuk membersihkan sisa-sisa politik setelah pembantaian dewan kemarin. Kekuasaan mutlak kini kembali ke tangan Xavier sepenuhnya setelah pertumpahan darah tersebut.Aku bangkit perlahan dengan sisa tenaga yang kumiliki. Kakiku gemetar hebat saat menyentuh lantai marmer yang dingin dan membeku didera bawah ranjang.Dengan langkah kaku, aku berjalan tertatih-tatih menuju cermin rias kayu mahoni besar di sudut ruangan. Aku menarik napas panjang sebelum menurunkan gaun tidur sutra putihku hingga sebatas pinggang.Mataku melebar menatap pantulan diriku seutuhnya di balik kaca yang jernih dan berdebu tipis. Rasa tidak percay

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 2: Luka yang Disentuh

    Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status