Beranda / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 2: Luka yang Disentuh

Share

Chapter 2: Luka yang Disentuh

Penulis: Surjelly
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 22:22:22

Detak jantung Bastian yang bergemuruh di balik kemeja basahnya adalah hal kedua yang paling kutakuti malam ini.

Hal pertamanya? Tubuhku sendiri yang mulai mengkhianatiku, mendambakan kehangatannya di tengah siksaan rasa sakit yang mendera.

"Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan—"

"Keluar," potong Bastian, suaranya sedingin es yang memotong kepanikan para pelayan di kamar perawatan sayap barat.

"Tapi, Tuan, luka di punggungnya—"

"Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" geramnya, membuat para pelayan itu lari tunggang-langgang menyelamatkan nyawa mereka.

Pintu ek tebal berdentum keras saat Bastian menendangnya hingga tertutup rapat. Menyisakan keheningan mencekam yang mendadak dipenuhi oleh aroma pinus miliknya yang pekat.

Dia menghempaskan tubuhku ke atas kasur beludru hitam. Kulit punggungku yang robek bergesekan dengan kain sutra, memicu rasa perih yang membuat mataku berkaca-kaca.

Aku menggigit bibir kuat-kuat, menolak mengeluarkan satu pun jeritan lemah di depannya.

"Kau selalu keras kepala, Alana," bisik Bastian, merunduk di atasku sementara tangannya dengan kasar merobek sisa gaun malamku yang basah.

Udara dingin kamar langsung menusuk kulit telanjangku yang berlumuran darah.

Dia mengambil kain kassa basah, lalu tanpa peringatan menekannya langsung ke atas lukaku yang menganga.

"Aaakh!" Aku memekik, mencengkeram sprai beludru hingga kuku-kukuku hampir patah.

Bastian tidak berhenti. Dia justru menekan luka itu lebih dalam dengan ibu jarinya, menatapku dengan tatapan posesif yang gila.

"Raja Buangan tampaknya sangat menyukaimu hingga meninggalkan bekas seindah ini," bisiknya, suaranya terdengar lembut namun sarat akan ancaman berbahaya.

"Aku melakukan ini demi kebaikanmu, Sayang. Jika bukan aku yang menguncimu di kamar ini, Ayah akan langsung menguliti Omega kecil sepertiku malam ini juga."

"Kepedulianmu... membuatku muak, Bastian," desisku di sela napas yang terengah-engah.

Aku memaksa kepalaku menoleh, menatap langsung mata emasnya yang menyala liar.

"Sentuh aku sesukamu. Tapi feromonmu tidak akan pernah menyamai wibawa Alpha Tertinggi yang baru saja membuatmu berlutut ketakutan di halaman tadi."

Rahang Bastian mengeras seketika. Ego jantannya terluka, tercabik oleh kata-kataku yang tepat sasaran.

Cengkeramannya di bahuku mengencang hingga tulangku berderit.

"Kau pikir Ayahku menginginkan sampah buangan seperti dirimu?" desisnya kasar, napas panasnya menerpa wajahku.

Bastian mengeluarkan sebotol serum penyembuh instan, lalu menusukkan jarum perak itu tanpa belas kasihan ke bahuku. Rasa terbakar yang aneh menjalar cepat, memaksa sel-sel serigalaku bekerja paksa menutup luka di punggungku.

Namun rasa terbakar itu tidak sebanding dengan kepanikan yang kurasakan saat tangan panas Bastian mulai meraba turun ke pinggangku, meremas paha bagian dalamku dengan dominasi mutlak.

Aroma pinusnya mendadak meledak di udara, menyerang hormon Omega-ku yang sedang tidak stabil. Perut bagian bawahku berdenyut hangat secara memalukan.

Celana dalamku basah. Tubuh serigalaku meronta, menuntut sentuhan dari jantan dominan yang ada di depanku ini.

"Kau basah untukku, Alana," bisik Bastian penuh kemenangan, menyeringai saat dia mengunci kedua pergelangan tanganku di atas kepala.

Wajah tampannya mendekat, bersiap melumat bibirku yang gemetar. Aku memalingkan wajah dengan sisa kekuatan terakhir, membiarkan ciumannya mendarat kasar di pipiku.

"Bastian. Ayah memanggilmu ke aula utama. Sekarang."

Sebuah suara datar memotong ketegangan di antara kami.

Julian berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Di tangannya, dia memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan merah pekat yang berkilau misterius di bawah cahaya lilin.

Bastian menggeram frustrasi, melepaskan cengkeramannya dari tubuhku dengan kasar sebelum bangkit berdiri. "Awasi dia, Julian. Jangan biarkan siapapun masuk."

Bastian melangkah pergi dengan emosi yang meluap-luap, meninggalkan keheningan baru yang tak kalah menyesakkan.

Julian tidak mengejar kakaknya. Dia justru melangkah mendekati ranjang tempatku berbaring tanpa daya.

Dengan gerakan anggun, Julian meletakkan botol kaca misterius itu di atas meja kecil di samping kasurku, tepat di sebelah sisa darah cambukanku yang menetes.

Dia membungkuk, mengabaikan fakta bahwa aku setengah telanjang di depannya. Ujung jarinya yang dingin menyentuh daguku, memaksaku menatap mata gelapnya yang tidak menyiratkan emosi apa pun.

"Nikmati malam pertamamu yang tenang, Alana," bisik Julian, suaranya terdengar seperti ramalan kematian yang manis.

"Karena racun yang sesungguhnya bukanlah cambukan perak di punggungmu, melainkan..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 71: HARI KETUJUH: PENGUNCIAN BENIH BERGANTIAN

    Cahaya fajar yang pucat menembus celah dinding kabin. Kulitku sudah tidak bisa membedakan antara suhu beku di luar atau hawa panas di dalam ruangan. Seluruh persendianku kebas setelah enam hari berturut-turut menerima gempuran fisik mereka.Aku berbaring terlentang di tengah ranjang kulit beruang. Lenganku tidak memiliki sisa tenaga untuk bergeser satu sentimeter pun. Napasku berembus pendek, sementara mataku menatap langit-langit kabin kayu yang mulai buram."Siklus gairah biologisnya akan mereda malam ini," sebuah suara datar terdengar dari ujung ranjang.Aku melirik perlahan. Xavier berdiri mengikat rambut peraknya yang acak-acakan. Alpha Tertinggi itu menatap lurus ke arah selangkanganku yang membengkak merah dengan tatapan penuh otoritas."Kita harus memberikan segel penguncian terakhir sebelum dinding rahimnya menutup sepenuhnya," lanjut Xavier merayap naik ke atas kasur."Apakah kita harus melakukannya secara beruntun tanpa jeda, Ayah?" tanya Bastian dari arah perapian batu.Ba

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 70: HARI KEENAM: MAAF YANG DIBAYAR

    Udara malam di dalam kabin kayu terasa jauh lebih tenang dari malam-malam sebelumnya. Badai salju di luar sana mulai mereda, menyisakan keheningan yang terasa mengisolasi saraf pendengaranku.Aku berbaring miring di atas ranjang kulit beruang hitam. Mataku menatap nyala api perapian yang menari-nari redup memecah kegelapan. Tubuhku masih lemas, namun akal sehatku sudah jauh lebih jernih malam ini.Sebuah bayangan raksasa bergerak mendekati sisi ranjang dengan langkah tanpa suara. Aku menoleh perlahan. Bastian berdiri di sana dengan pupil mata keemasan yang terlihat suram.Pria yang biasanya dipenuhi amarah teritorial itu kini tampak dipenuhi keraguan. Dia tidak mengenakan kemeja, hanya celana panjang hitam yang membungkus kaki kokohnya.Bastian berlutut di tepi ranjang. Dia perlahan merangkak mendekatiku tanpa melepaskan pandangannya dari wajahku yang pucat."Kau belum tidur, Alana?" tanya Bastian. Suaranya sangat rendah, terdengar seperti geraman serak di tenggorokan."Bagaimana aku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 69: HARI KELIMA: LUKA YANG DISEMBUHKAN

    Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh persendianku saat kelopak mataku terbuka perlahan. Sisa-sisa kegilaan Penyatuan Tiga Alpha kemarin masih berdenyut nyata di setiap jengkal kulitku yang memar.Aku mencoba menggeser lenganku, namun ototku terasa kaku dan mati rasa. Di sudut ruangan, uap hangat mengepul tinggi dari sebuah bak mandi kayu besar yang telah terisi penuh."Jangan bergerak terlalu banyak, Alana," sebuah suara berat bergema lembut memecah kesunyian.Xavier berdiri di sisi ranjang dengan sehelai kain bersih di tangannya. Alpha Tertinggi itu tidak memancarkan dominasi yang menekan, melainkan keheningan yang suram dan menenangkan."Tubuhku... sangat sakit, Xavier," rintihku dengan suara parau yang hampir tak terdengar."Aku tahu," sahut Xavier membungkuk. Dia mengangkat tubuh mungilku dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati.Aku tidak memiliki sisa agensi untuk menolak saat dia membawaku mendekati bak mandi kayu itu. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, di

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 68: HARI KEEMPAT: TIGA YANG MENJADI SATU

    Uap panas di dalam kabin kecil ini mencekik rongga tenggorokanku. Aroma vanila tubuhku yang meledak liar beradu dengan feromon kasturi pekat milik tiga pria yang mengepung ranjang.Aku mencoba meremas seprai kulit beruang di bawah punggungku. Namun, sisa tenagaku sudah habis terkuras.Tubuhku terus bergetar tanpa henti. Demam masa subur mendidih di dalam darahku seiring datangnya hari keempat siklus maut ini.Julian berdiri di sisi kiriku. Cengkeraman tangannya yang sedingin es mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas ranjang hingga aku tidak bisa meronta."Suhu tubuhnya sudah melewati batas aman untuk proses pematangan sel telur," ucap Julian. Suaranya bergetar hebat didera gairah biologis. "Dia bisa mati jika kita bertindak ceroboh.""Persetan dengan analisismu, Julian!" bentak Bastian. Dia merangkak naik dari ujung ranjang dengan pupil mata yang menyempit liar."Saraf serigalaku terus mendidih sejak kemarin. Aku harus memasukinya sekarang juga!" lanjut Bastian menarik paksa paha

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 67: HARI KETIGA: DINGIN YANG MENGONTROL

    Hari ketiga siklus masa subur membakar tubuhku dengan cara yang jauh lebih menyiksa dari hukuman fisik. Sisa cairan Bastian semalam masih berdenyut di selangkanganku, namun rasa kosong di dalam rahimku menuntut lebih banyak benih.Aku mengerang pelan saat sepasang tangan yang sedingin es mengangkat tubuhku dari ranjang. Julian membawaku tanpa suara mendekati perapian batu di sudut kabin.Kayu pinus di dalam perapian berderak panas. Hawa hangatnya langsung menyengat kulit telanjangku yang dibanjiri keringat. Julian mendudukkanku di atas lantai kayu tepat di depan jilatan api."Suhu tubuhmu menyentuh angka tiga puluh sembilan derajat celcius, Alana," ucap Julian dengan nada suara sedatar es."Julian... tolong, kepalaku berputar sangat kencang," rintihku. Aku menyandarkan dahi basahku ke dadanya yang terasa menyejukkan kulitku."Aku tahu. Aku di sini untuk mengontrol gairah biologismu yang tidak stabil," balas Julian pelan.Julian berlutut di belakangku. Dia menarik pinggulku hingga pung

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 66: HARI KEDUA: BRUTAL YANG MEMOHON

    Rasa penuh yang tersisa di dalam rahimku memaksaku terbangun dengan rintihan pelan. Cairan hangat sisa penguncian benih semalam terasa lengket di selangkanganku.Aku menggeser tubuhku yang kaku. Suara gemerincing rantai besi di pergelangan kakiku langsung memecah kesunyian kabin kayu ini.Otot-ototku terasa sangat lemas dan kebas akibat gempuran tanpa henti Xavier kemarin."Kau akhirnya membuka matamu, jalang kecilku," sapa sebuah suara serak dari kegelapan pagi yang menggigit.Bastian berdiri tepat di tepi ranjang. Tubuh raksasanya yang telanjang memancarkan hawa panas yang kentara.Dadanya naik turun dengan kasar, menyebarkan aroma kulit hangat yang sangat tajam di udara kabin yang pengap."Bastian... tolong, biarkan aku menarik napas sebentar," bisikku lemas dengan tenggorokan yang terasa kering."Bernapas? Siklus gairahmu sedang berada di puncaknya, Alana," sahut Bastian merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan memburu."Ayah sudah selesai menyegelmu kemarin. Kini giliranku unt

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status