登入Detak jantung Bastian yang bergemuruh di balik kemeja basahnya adalah hal kedua yang paling kutakuti malam ini.
Hal pertamanya? Tubuhku sendiri yang mulai mengkhianatiku, mendambakan kehangatannya di tengah siksaan rasa sakit yang mendera.
"Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan—"
"Keluar," potong Bastian, suaranya sedingin es yang memotong kepanikan para pelayan di kamar perawatan sayap barat.
"Tapi, Tuan, luka di punggungnya—"
"Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" geramnya, membuat para pelayan itu lari tunggang-langgang menyelamatkan nyawa mereka.
Pintu ek tebal berdentum keras saat Bastian menendangnya hingga tertutup rapat. Menyisakan keheningan mencekam yang mendadak dipenuhi oleh aroma pinus miliknya yang pekat.
Dia menghempaskan tubuhku ke atas kasur beludru hitam. Kulit punggungku yang robek bergesekan dengan kain sutra, memicu rasa perih yang membuat mataku berkaca-kaca.
Aku menggigit bibir kuat-kuat, menolak mengeluarkan satu pun jeritan lemah di depannya.
"Kau selalu keras kepala, Alana," bisik Bastian, merunduk di atasku sementara tangannya dengan kasar merobek sisa gaun malamku yang basah.
Udara dingin kamar langsung menusuk kulit telanjangku yang berlumuran darah.
Dia mengambil kain kassa basah, lalu tanpa peringatan menekannya langsung ke atas lukaku yang menganga.
"Aaakh!" Aku memekik, mencengkeram sprai beludru hingga kuku-kukuku hampir patah.
Bastian tidak berhenti. Dia justru menekan luka itu lebih dalam dengan ibu jarinya, menatapku dengan tatapan posesif yang gila.
"Raja Buangan tampaknya sangat menyukaimu hingga meninggalkan bekas seindah ini," bisiknya, suaranya terdengar lembut namun sarat akan ancaman berbahaya.
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu, Sayang. Jika bukan aku yang menguncimu di kamar ini, Ayah akan langsung menguliti Omega kecil sepertiku malam ini juga."
"Kepedulianmu... membuatku muak, Bastian," desisku di sela napas yang terengah-engah.
Aku memaksa kepalaku menoleh, menatap langsung mata emasnya yang menyala liar.
"Sentuh aku sesukamu. Tapi feromonmu tidak akan pernah menyamai wibawa Alpha Tertinggi yang baru saja membuatmu berlutut ketakutan di halaman tadi."
Rahang Bastian mengeras seketika. Ego jantannya terluka, tercabik oleh kata-kataku yang tepat sasaran.
Cengkeramannya di bahuku mengencang hingga tulangku berderit.
"Kau pikir Ayahku menginginkan sampah buangan seperti dirimu?" desisnya kasar, napas panasnya menerpa wajahku.
Bastian mengeluarkan sebotol serum penyembuh instan, lalu menusukkan jarum perak itu tanpa belas kasihan ke bahuku. Rasa terbakar yang aneh menjalar cepat, memaksa sel-sel serigalaku bekerja paksa menutup luka di punggungku.
Namun rasa terbakar itu tidak sebanding dengan kepanikan yang kurasakan saat tangan panas Bastian mulai meraba turun ke pinggangku, meremas paha bagian dalamku dengan dominasi mutlak.
Aroma pinusnya mendadak meledak di udara, menyerang hormon Omega-ku yang sedang tidak stabil. Perut bagian bawahku berdenyut hangat secara memalukan.
Celana dalamku basah. Tubuh serigalaku meronta, menuntut sentuhan dari jantan dominan yang ada di depanku ini.
"Kau basah untukku, Alana," bisik Bastian penuh kemenangan, menyeringai saat dia mengunci kedua pergelangan tanganku di atas kepala.
Wajah tampannya mendekat, bersiap melumat bibirku yang gemetar. Aku memalingkan wajah dengan sisa kekuatan terakhir, membiarkan ciumannya mendarat kasar di pipiku.
"Bastian. Ayah memanggilmu ke aula utama. Sekarang."
Sebuah suara datar memotong ketegangan di antara kami.
Julian berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Di tangannya, dia memegang sebuah botol kaca kecil berisi cairan merah pekat yang berkilau misterius di bawah cahaya lilin.
Bastian menggeram frustrasi, melepaskan cengkeramannya dari tubuhku dengan kasar sebelum bangkit berdiri. "Awasi dia, Julian. Jangan biarkan siapapun masuk."
Bastian melangkah pergi dengan emosi yang meluap-luap, meninggalkan keheningan baru yang tak kalah menyesakkan.
Julian tidak mengejar kakaknya. Dia justru melangkah mendekati ranjang tempatku berbaring tanpa daya.
Dengan gerakan anggun, Julian meletakkan botol kaca misterius itu di atas meja kecil di samping kasurku, tepat di sebelah sisa darah cambukanku yang menetes.
Dia membungkuk, mengabaikan fakta bahwa aku setengah telanjang di depannya. Ujung jarinya yang dingin menyentuh daguku, memaksaku menatap mata gelapnya yang tidak menyiratkan emosi apa pun.
"Nikmati malam pertamamu yang tenang, Alana," bisik Julian, suaranya terdengar seperti ramalan kematian yang manis.
"Karena racun yang sesungguhnya bukanlah cambukan perak di punggungmu, melainkan..."
Suara deburan keras marmer yang hancur kembali memekakkan telingaku malam ini. Tubuh raksasa Xavier menghantam pilar batu altar dengan kekuatan murni Supreme Alpha."Kau sudah tua, Ayah! Sadarlah bahwa taring perakmu tidak bisa menahanku lagi!" teriak Bastian dengan taring emas yang memanjang sepenuhnya. Bastian menerjang maju kembali, mengabaikan rahang kirinya yang baru saja robek dan mengucurkan darah segar."Tutup mulutmu yang lancang itu, Bastian! Supreme Alpha paruh baya ini masih bisa mematahkan lehermu dalam sekali ayunan!" balas Xavier dengan geraman berat. Supreme Alpha itu memutar tubuhnya menghindari terkaman liar putranya dengan gerakan lincah."Jangan lupakan keberadaanku di sini, saudaraku. Sains membuktikan gen kita yang paling siap untuk Alana!" teriak Julian dari kegelapan sisi pilar. Julian melompat dengan belati perak tajam di bawah temaram obor aula pertemuan yang redup.Aku mencengkeram perut bawahku yang rata saat rasa nyeri tiba-tiba meremas rahimku dengan sang
Raungan liar Bastian mengguncang fondasi aula pertemuan malam ini. Suara itu memantul di antara pilar-pilar batu tinggi, menciptakan gema yang memekakkan telinga.Di bawah tatapan dingin patung serigala perak raksasa di altar utama, Bastian menerjang maju tanpa ragu. Cakar emasnya yang tajam mengarah lurus ke dada bidang Xavier yang tidak terlindungi jubah."Mundur, Bastian!" teriak Xavier dengan suara berat yang bergemuruh penuh dominasi. Alpha Tertinggi paruh baya itu tidak bergeser satu inci pun dari posisinya berdiri.Dengan kecepatan monster yang luar biasa, Xavier mengayunkan lengan besarnya untuk menangkis terkaman putranya. Benturan keras antara dua kekuatan fisik murni itu memercikkan suara debukan yang sangat mengerikan.Xavier menghindari cakar Bastian, lalu mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Bastian. Suara retakan tulang terdengar sangat renyah bersamaan dengan tubuh Bastian yang terlempar menghantam lantai marmer."Akh!" geram Bastian sembari memuntahkan
Gigi sisir kayu yang tajam menggaruk kulit kepalaku dengan ritme yang lambat. Di depan cermin rias perunggu yang buram, aku menatap pantulan wajahku yang pucat.Mataku bergerak turun ke arah bahu kanan yang masih menyisakan keropeng samar bekas gigitan Xavier tempo hari. Namun, leherku masih terlihat sangat polos dan mulus tanpa ada tanda permanen dari siapa pun.Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian dewan dan kematian Valerius di perbatasan utara. Pagi hari ini, batas waktu masa damai satu bulan yang kami sepakati resmi berakhir sepenuhnya.Aku mengembuskan napas panjang, merasakan ketegangan yang mendadak merayap ke dalam seluruh isi kamar tidur utama. Aroma udara di sekelilingku terasa sangat sesak dan panas secara tidak wajar sejak fajar menyingsing."Kau menyisir rambutmu terlalu lama, Alana," suara berat Bastian memecah keheningan dari arah belakang. Bastian melangkah mendekat, membiarkan dadanya yang bidang hampir menyentuh punggung jubah sutra abu-abu yang kukenakan.Aku
Bau tajam herbal antiseptik menusuk hidungku begitu kelopak mataku terbuka perlahan. Cahaya temaram dari lampu minyak yang tergantung di tiang tenda medis membuat kepalaku terasa sedikit pening.Aku berusaha menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal tebal di ranjang darurat ini. Gerakan kecil itu langsung mengirimkan rasa perih dari pergelangan tanganku yang terluka.Luka lecet merah keunguan bekas gesekan rantai brankas baja kemarin tampak sangat jelas. Kulitku yang pucat kini dihiasi bekas memar yang masih terasa berdenyut nyeri.Sesosok pria berambut hitam legam tampak berlutut dengan lutut langsung menyentuh lantai tanah yang dingin. Julian menundukkan wajahnya sangat dalam, menempelkan keningnya tepat di atas lutut gaun abu-abu yang kukenakan.Bahu kokohnya bergetar hebat tanpa suara, memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Sepasang tangannya yang biasanya dingin kini terasa hangat saat meraba perlahan bekas luka rantai di pergelangan tanganku.Aku merasakan beberapa tet
Suara raungan Xavier menggelegar, membuat pilar-pilar pinus di seluruh hutan utara bergetar hebat. Pepohonan seolah merunduk di bawah tekanan kemarahan Supreme Alpha yang kembali bangkit dengan kekuatan penuh."Bagaimana mungkin lukamu bisa sembuh seketika?" teriak Valerius dengan wajah pucat karena terkejut. Dia mundur selangkah, mencengkeram kapak perak besarnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar."Darahmu akan membasahi salju ini, Valerius!" balas Xavier dengan suara berat yang bergemuruh. Tubuh raksasanya menerjang maju bagai kilat, meninggalkan pusaran salju dingin di belakang langkahnya.Valerius mencoba mengayunkan kapak perak besarnya secara vertikal untuk membelah kepala Xavier. Namun, Xavier bergerak dengan kecepatan monster yang jauh melampaui gerakan sebelumnya.Dia menghindari tebasan maut itu dengan gesit, membiarkan mata kapak hanya memotong angin kosong. Sebelum Valerius sempat menarik senjatanya kembali, cakar besar Xavier sudah menghantam pergelangan tangannya.K
Aku berlari terengah-engah keluar dari mulut gua yang mulai runtuh akibat guncangan ledakan. Langkah kakiku terasa sangat lemas dan terseok-seok di atas timbunan salju utara yang dingin."Bawa Alana pergi dari sini sekarang juga, Bastian!" teriak Xavier dengan suara menggelegar. Tubuh raksasanya langsung melompat menerobos badai salju untuk menghadang puluhan musuh."Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Alana!" balas Bastian dengan taring emas yang mulai memanjang. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menarikku ke balik pohon pinus raksasa."Tetap di belakangku, Alana, jangan pernah menunjukkan dirimu!" perintah Bastian dengan napas memburu. Matanya yang menyala emas terus mengawasi sekeliling dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi."Tapi mereka membawa terlalu banyak senjata perak, Bastian!" seru ku dengan suara yang bergetar hebat. Aku meremas perut bawahku yang mendadak kembali berdenyut sangat kencang dan menyiksa."Jangan cemas, Omega, kami tidak akan membia
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







