登入Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.
Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.
Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar.
"Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanita paruh baya dengan panik.
Dua pelayan muda di belakangnya gemetar memegang baskom perunggu berisi air hangat.
"Keluar," desis Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku.
"Tapi, Tuan, luka di punggungnya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi—"
"Kau tuli?" potong Bastian tajam.
"Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" bentak Bastian lagi.
Para pelayan itu memucat mendengar ancaman putera mahkota Kawanan Bloodmoon.
Mereka meletakkan baskom dengan tangan gemetar, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.
Pintu kamar yang rusak ditutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami berdua.
Bastian meletakkan tubuhku di atas kasur beludru hitam dengan perlahan.
Kulit punggungku yang robek bergesekan dengan kain sutra seprai, memicu rasa perih yang menusuk saraf.
Aku menahan napas dan menggigit bibir, menolak merintih kesakitan di depannya.
"Jangan banyak bergerak, Alana," ucap Bastian dingin.
Dia mengambil gunting perak tajam dari atas laci kayu di samping ranjang.
Sisa gaun malamku yang hancur digunting dengan cepat oleh tangan besarnya.
Kain berdarah itu terlepas, memperlihatkan seluruh punggungku yang terlentang tanpa pakaian.
Udara dingin langsung menyentuh kulit telanjangku yang berlumuran darah kering.
Bastian mengambil selembar kain kasa bersih dan membasahinya di dalam baskom.
"Ini akan terasa sangat perih," bisiknya tepat di sebelah telingaku.
Dia menekan kain basah itu langsung ke luka cambukan besi yang terbuka lebar.
Aku mencengkeram bantal sutra hitam kuat-kuat, membiarkan kuku-kukuku menusuk kainnya.
Air mata mengalir melewati pipiku, namun aku memilih diam dan mengatupkan rahang.
"Kau tidak berteriak memohon pertolongan seperti dulu," gumam Bastian sembari terus menyeka darah segar.
"Apakah Raja Buangan sudah mengajarkanmu cara menahan rasa sakit ini?" tanyanya mendesak.
Aku memutar kepalaku sedikit, menatap mata emasnya dengan pandangan sinis yang menantang.
"Aku hanya tidak ingin membuang tenagaku untuk memohon kepada monster sepertimu," desisku tajam.
Sudut bibir Bastian tertarik sebelah mendengar jawabanku yang dingin.
Dia menyukai perlawanan yang kutunjukkan di tengah rasa sakit fisik ini.
Dia mengambil kasa baru, menggosok sisa-sisa karat besi dari cambukan di kulitku dengan gerakan tegas.
Setiap sentuhannya terasa kasar, membuat seluruh tubuhku gemetar di bawah kendali cengkeraman tangannya.
Bastian meletakkan kain kassa yang sudah memerah ke dalam baskom.
Dia membuka laci meja kecil dan mengambil alat suntik perak berisi cairan hijau tua.
"Apa yang akan kau lakukan dengan jarum logam itu?" tanyaku dingin.
"Serum penyembuh instan milik Kawanan Bloodmoon," jawab Bastian singkat.
"Aku tidak butuh ramuan obat apa pun dari kawanan pembunuh ini," desisku sambil mencoba menggeser tubuh.
Bastian mencengkeram bahuku dengan satu tangan besar, mengunci gerakanku ke kasur beludru.
"Serum ini akan memaksa kulitmu menutup dalam waktu beberapa jam saja," ucapnya tanpa memberi ruang bantahan.
"Kau membutuhkan kekuatan fisik ini jika ingin tetap berjalan tegak besok pagi," tambahnya dingin.
Dia menusukkan jarum perak itu tepat di bawah otot bahuku yang tidak terluka parah.
Cairan dingin mengalir cepat ke pembuluh darahku, menyebarkan rasa terbakar di ujung saraf.
Punggungku berdenyut kencang saat luka cambuk itu mulai merapat secara paksa akibat pengaruh serum biologis.
Setelah meletakkan suntikan kosong, gerakan tangan Bastian perlahan mulai berubah kasar.
Jari-jarinya yang panas meluncur turun dari bahu, menelusuri lekuk pinggang hingga berhenti di paha bagian dalam.
Sentuhan kasarnya terasa sangat membakar kulit sensitifku yang telanjang.
"Sentuhanmu terlalu rendah untuk seorang tabib yang merawat luka, Bastian," ucapku sinis.
Bastian mempererat remasannya pada pahaku, mengabaikan perkataanku yang menolak sentuhannya.
"Darahmu berbau manis, Alana," bisik Bastian dengan suara serak yang bergetar rendah.
"Bahkan setelah disiksa oleh Raja Buangan, tubuhmu tahu siapa majikannya," tambahnya mengintimidasi.
Aroma pinus hangat dari tubuhnya mendadak menguat di udara kamar yang tertutup rapat.
Feromon dominannya menekan sistem pertahanan tubuhku secara paksa tanpa bisa kuhindari.
Perut bagian bawahku mulai berdenyut hangat, merespons aroma maskulin yang mengalir dari tubuh kekarnya.
Cairan hangat mulai merembes basah di celana dalamku akibat tekanan feromon yang tidak bisa kukendalikan.
Aku mengatupkan rahangku, membuang muka ke arah jendela kaca yang buram.
"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku sekarang juga," ucapku dengan suara datar yang menantang.
Bastian tertawa rendah, sebuah suara maskulin yang dipenuhi kepuasan dan dominasi liar.
Dia menangkap kedua pergelangan tanganku dan menguncinya di atas kepala dengan satu tangan besarnya.
Bastian membalikkan tubuhku hingga aku telentang di bawah tatapan mata emasnya yang menyala penuh birahi.
"Kau ditakdirkan menjadi milikku sejak awal waktu, Alana," desisnya dengan napas yang memburu cepat.
Wajahnya mendekat ke arahku, bersiap menekan bibirnya ke bibirku yang gemetar.
Aku memalingkan wajahku ke samping dengan cepat, menolak ciuman paksa yang ingin dia lakukan.
Bibirnya mendarat kasar di pipiku, meninggalkan rasa panas yang membakar kulitku yang sensitif.
Bastian menggeram rendah karena penolakanku, namun dia tetap tidak melepaskan kuncian pergelangan tanganku.
Di balik celah pintu kamar yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka, sesosok pria berjas hitam berdiri mengawasi.
Julian berdiri tegak di koridor yang gelap gulita, mengamati setiap detail adegan intim di dalam kamar perawatan.
Kamera mikro di ujung jarinya memancarkan cahaya biru redup yang tidak mencolok di bawah kegelapan malam.
Lensa kamera sekecil lubang jarum itu merekam napas terengah-engahku, tubuhku yang gemetar, hingga bercak basah feromon di seprai.
Julian tidak menunjukkan ekspresi hangat apa pun di wajah tampannya yang dingin saat melihat rekaman biologis tersebut.
Dia memutar cincin perak di jarinya dengan perlahan, mengamati grafik denyut jantungku yang melonjak naik di layar mikro.
"Fase Satu selesai," gumam Julian dengan suara rendah dan datar di tengah keheningan koridor.
"Dia sudah kecanduan feromon kita sejak malam kedatangannya di gerbang istana ini," lanjutnya tanpa emosi.
Julian mematikan layar birunya, lalu melangkah pergi dengan gerakan anggun meninggalkan sayap barat istana.
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencengkeram dadaku, berjuang mencari pasokan udara di dalam kegelapan kamar sayap barat yang sunyi.Tiba-tiba, rasa panas menjalar hebat dari kelenjar di samping leherku.Aroma vanila yang teramat manis menguar deras dari kulitku, memenuhi seluruh ruangan.Aku baru saja melepaskan feromon Level satu secara tidak sengaja akibat kepanikan yang luar biasa.Efek pelepasan biologis pasif ini langsung merusak lingkungan fisik di sekitarku secara nyata.Sekuntum mawar putih di dalam vas kaca samping ranjang mendadak layu, kelopak-kelopaknya mengering dan gugur dalam hitungan detik.Di luar koridor, suara nampan logam jatuh berdentang keras di atas lantai marmer.Bunyi tubuh pelayan wanita menyusul, ambr
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut kasar setiap kali aku bergerak bebas.Aku mengulurkan tangan, menyentuh sekuntum mawar putih yang dingin.Pikiranku kembali melayang pada kejadian mengerikan di perpustakaan istana kemarin sore.Cengkeraman kasar Bastian pada leher belakangku dan kilasan trauma penjara bawah tanah masih membekas kuat.Aku menarik napas sedalam mungkin, berusaha menenangkan detak jantungku yang terus berdegup kencang."Kelopak mawar tidak akan bisa menyembuhkan ketakutan di dalam matamu, Alana." Sebuah suara dingin memecah keheningan dari arah belakang.Aku tersentak hebat hingga merobek kelopak mawar putih yang kupegang.Aroma peppermint segar dan es yang sangat tajam langsung menyerbu indra penciumanku tanpa
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres Anda," kata pelayan itu tergesa-gesa.Pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka saat pelayan itu melangkah kembali ke koridor luar.Aku memanfaatkan kesempatan singkat itu dengan cepat.Di atas nampan perak, sebuah pisau logam kecil berkilau tajam di bawah cahaya lilin.Dengan jari gemetar, aku menyambar pisau itu dan menyembunyikannya di dalam lipatan lengan gaun katun putihku.Logam dingin itu langsung menyentuh kulit lenganku, menyembunyikan ancaman di balik kain longgar.Pelayan itu kembali membawa handuk, meletakkannya di samping baskom, lalu membungkuk sopan sebelum keluar.Begitu suara kunci pintu berputar dari luar, aku mengembuskan napas panjang yang terasa menyumbat tenggorokan.Aku mel
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu," desisku dingin dengan pandangan yang menantang mereka."Diam dan jangan membuat Alpha Tertinggi menunggu lebih lama lagi!" bentak pengawal bertubuh raksasa di sebelah kiriku.Aku mengatupkan rahang rapat-rapat, menolak keras untuk menunjukkan rasa sakit atau air mata di depan para penjaga ini.Kami melangkah melewati koridor panjang menuju pintu ganda Aula Besar yang dilapisi emas hitam kuno.Saat pintu kayu itu terbuka lebar, aroma kayu bakar bercampur bau darah kering langsung menyergap indra penciumanku.Itu adalah aroma feromon dominan milik Xavier Bloodmoon, sang Alpha Tertinggi yang memimpin Kawanan Bloodmoon.Puluhan pasang mata serigala di dalam ruangan besar itu langsung tertuju pa
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin milik Raja Buangan terasa baru saja mengurungku beberapa detik lalu.Aku menarik napas panjang, menolak untuk menyerah pada rasa takut.Luka cambuk di punggungku berdenyut kencang saat aku mencoba menegakkan tubuh.Rasa perih menusuk langsung ke saraf terdalamku.Aku mengatupkan rahang, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirku.Cairan hangat berbau besi merembes perlahan dari celah perban yang membungkus punggungku.Pengaruh serum penyembuh instan tadi siang terasa mulai memudar, menyisakan denyutan kasar di kulitku yang robek.Aku bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututku erat-erat di dalam kegelapan kamar perawatan sayap barat.Pintu kamar perawatan sayap barat hancur terdorong
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanita paruh baya dengan panik.Dua pelayan muda di belakangnya gemetar memegang baskom perunggu berisi air hangat."Keluar," desis Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku."Tapi, Tuan, luka di punggungnya harus segera dibersihkan agar tidak infeksi—""Kau tuli?" potong Bastian tajam."Tinggalkan baskom itu dan pergi sebelum aku merobek tenggorokanmu!" bentak Bastian lagi.Para pelayan itu memucat mendengar ancaman putera mahkota Kawanan Bloodmoon.Mereka meletakkan baskom dengan tangan gemetar, lalu berlari tergesa-gesa keluar dari kamar.Pintu kamar yang rusak ditutup rapat, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami berdua.Bastian meletakkan tubuhku di atas kasur beludru h







