เข้าสู่ระบบKayla masuk ke dapur dan melemparkan senyum ramahnya pada bi Inah yang terlihat sedang sibuk memasak seorang diri. Kayla kemudian mendekati art baik hati itu.
“Eh, non kok pagi-pagi udah ke dapur?” tanya bi Indah.
“Aku mau bantuin bibi masak.” Jawab Kayla.
“Nggak usah non biar bibi aja yang masak sendiri, lagian juga sudah terbiasa kok. Lebih baik non di kamar saja ya dan nanti akan bibi panggil jika sudah siap.”
Walau sempat mendapatkan larangan namun Kayla tetap memaksa membantu bi Inah memasak sampai dengan selesai. Tidak berselang lama Tamara datang ke meja makan bersama dengan suaminya, William. Sepasang suami istri itu langsung duduk disana.
“Mam, Alex mana kok belum kelihatan?” tanya William pada sang istri.
“Mungkin masih di kamarnya. Sebentar biar momi panggilkan dulu,” Tamara baru saja akan berdiri tapi Alex keburu datang yang membuatnya kembali duduk, “Nah, ini anak kita yah. Sini sayang kita sarapan dulu.”
Kayla datang dari arah dapur sambil membawa sendok yang lupa belum disiapkan. Setelah menyerahkan sendok itu pada kedua mertua dan suaminya, Kayla pun ikut duduk tepat di samping Alex.
Jelas saja hal tersebut membuat Tamara dan William merasa sangat terkejut, sampai-sampai mereka berdua langsung berdiri.
“Heh! Apa-apaan kamu malah duduk disitu!” bentak Tamara yang langsung mendekati Kayla dan menarik kasar tubuh menantunya itu hingga sampai tersungkur ke atas lantai.
Alex hanya acuh tak peduli dengan apa yang maminya lakukan, ia memilih fokus menikmati sarapannya.
“Mam aku juga mau sarapan.” Bela Kayla, dirinya merasa berhak lantaran bagaimanapun ia adalah istri Alex.
“Apa…, mau sarapan? Haha…! Ngaca diri dulu sana,” Tamara tertawa merendahkan, “Kamu gak sadar apa jika kamu itu siapa? Kayla, Kayla, seharusnya kamu itu sadar diri. Orang miskin aja belagu pengen makan satu meja sama kita. Ingat, kamu itu disini hanya numpang hidup, dan di mataku kamu juga cuman seorang pembantu sama seperti bi Inah. Jadi gak usah mentang-mentang kamu adalah suami anak saya bisa bersikap seenaknya.”
Setelah memberikan omelan Tamara kembali duduk dan mulai melakukan sarapan dengan perasaan dongkol. Hal itu terlihat dari gerakan tangannya yang sangat kasar setiap menyantap nasi.
Tamara meneguk air dalam gelas hingga tandas tak tersisa, lalu tatapannya melihat pada Kayla, “Ngapain kamu masih berdiri disitu, hah? Cepat ambilkan saya air.” Pinta Tamara dengan suara melengking.
Dari dapur bi Inah hanya bisa mengintip sambil menatap Kayla dengan iba, dirinya tidak berani untuk membantu karena takut.
“Udah mam udah kamu jangan teriak-teriak terus ini masih pagi. Kasihan tuh Alex sarapannya malah terganggu.” William mencoba menenangkan istrinya.
Tamara melihat pada Alex sambil menarik nafas panjangnya beberapa kali untuk menetralkan perasaannya.
Kayla segera pergi ke dapur untuk menuruti permintaan mertuanya itu, saat sedang mengisi air ke dalam gelas Kayla dihampiri oleh bi Inah, dan art itu langsung menguatkannya.
“Yang sabar ya non. Memang nyonya Tamara itu sukanya marah-marah.”
“Iya bi, terima kasih. Lagian semua ini salah aku juga kok yang sudah lancang duduk bersama mereka.”
Bi Inah menggeleng, “Kamu tidak salah, memang seharusnya seorang istri ikut sarapan bareng bersama suaminya.”
Kayla hanya tersenyum sebelum kemudian melangkah pergi sambil membawa gelas yang sudah diisi air. Saat akan meletakan gelas itu ke hadapan mertuanya, tiba-tiba saja tangannya disenggol dengan sengaja oleh Tamara hingga membuat air dalam gelas itu tumpah dan mengenai tubuh Tamara.
Prang!
“Kayla!” pekik Tamara, “Kurang ajar, kamu sengaja menyiram saya?”
Kedua mata Kayla membola sempurna karena kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Kepalanya segera menggeleng dengan cepat, “Tidak mam, maaf. Tapi tadi mami sendiri yang menyenggol tanganku.” Bela Kayla.
Plak!
“Kurang ajar sekali kamu, sudah sengaja menyiram saya malah menuduh saya lagi. Lihat, pakaian saya jadi basah, dasar tidak berguna!” omel Tamara, “Cepat bersihkan pecahan gelasnya.”
Bi Inah yang sudah sangat kasihan bergegas mendekat, “Nyonya, biar saya yang membersihkan pecahan gelas ini.” Bi Inah segera berjongkok dan menyuruh Kayla untuk pergi saja.
Alex yang merasa terganggu langsung berdiri dan hendak pergi dari sana. Melihat hal itu Tamara langsung mencegatnya.
“Alex, kamu mau kemana?”
“Kantor.”
“Tapi kamu belum menghabiskan sarapanmu.”
“Gak nafsu.”
Melihat itu Tamara semakin kesal pada Kayla dan dia langsung mengambil segelas air milik suaminya lalu menyiramkan nya pada tubuh Kayla.
“Lihat, gara-gara kamu Alex jadi terganggu dan dia tidak mau sarapan. Dasar wanita sialan.” Umpat Tamara.
Kayla hanya terdiam pasrah menerima perlakuan dari mertuanya itu. Sambil menahan tangisnya dirinya pun memutuskan pergi menuju kamarnya. Tiba di dalam kamar Kayla langsung menangis meratapi nasibnya.
Baru juga sehari tinggal di rumah ini Kayla merasa sudah tidak tahan lagi, tapi dirinya tidak bisa kabur begitu saja lantaran takut jika ancaman mami Tamara mengenai rumah peninggalan alm ayahnya.
“Kayla, kenapa nasibmu begitu malang sekali.” Kata Kayla pada dirinya sendiri.
Bi Inah yang merasa khawatir, setelah membereskan pecahan gelas tadi, dia pun berinisiatif mendatangi kamar Kayla sambil membawakan sarapan.
“Non, non!” ucap bi Inah yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
Kayla yang mendengar suara bi Inah segera menghapus sisa tetesan air matanya. Selain itu Kayla juga menghela nafasnya beberapa kali untuk menetralkan perasaannya.
“Aku gak boleh kelihatan habis menangis.” Kayla menatap pantulan wajahnya melalui cermin, untuk memastikan jika tidak ada bekas tanda-tanda sehabis menangis.
“Non, buka dulu non pintunya.”
Setelah melakukan tarikan nafas begitu panjang Kayla pun langsung membuka pintu kamarnya. Buru-buru wajahnya tersenyum agar bi Inah tidak mencurigai nya. Namun sepertinya bi Inah tidak semudah itu dibodohi, hal itu bisa terlihat dari tatapan matanya.
“Non habis nangis ya?”
“Siapa?” tanya Kayla balik sambil pura-pura bingung, “Nggak kok bi, aku gak nangis.”
“Tapi itu kedua mata non merah?”
“Oh, ini tu gara-gara kelilipan! Oh iya, bibi bawa apa itu?” Kayla baru sadar dengan apa yang sedari tadi bi Inah bawa.
Walau tahu Kayla berbohong namun bi Inah tidak lagi mendesaknya dan berpura-pura percaya begitu saja, “Bibi sengaja bawain kamu sarapan.” Jawab bi Inah sambil menyodorkan nampan yang diatasnya berisi sepiring nasi dan segelas air susu.
“Kenapa sampai diantar kesini segala sih bi. Kalau sampai mami dan yang lain tahu bisa gawat. Lagian aku juga belum mau sarapan!” Kayla takut mami Tamara akan kembali marah dan menghinanya seperti tadi.
“Kamu tenang saja karena nyonya dan tuan sudah pada pergi, jadi gak ada yang perlu kamu cemaskan lagi.” Bi Inah memaksa menyerahkan nasi itu pada Kayla.
Walau Kayla kembali menolak dengan alasan tidak mau dikarenakan sudah hilang mood makan nya, namun bi Inah malah semakin memaksa yang membuat Kayla secara terpaksa mau menerimanya.
“Ya sudah kita makan bareng di dapur ayo? Aku tahu kok pasti bibi juga belum makan.”
Mendengar itu bi Inah tertawa, “Kamu tau aja. Ayo.”
Selesai sarapan bersama, Kayla membantu pekerjaan bi Inah mulai dari membereskan dapur sampai melakukan pekerjaan lain yang sering bi Inah kerjakan setiap hati.
“Non, sebaiknya non Kayla istirahat aja sana, biar ini bibi saja yang lanjutin.” Bi Inah merasa kasihan melihat Kayla yang tampak terlihat mulai kelelahan. Sekarang mereka berdua sedang ngepel lantai.
“Nggak papa kok bi, aku masih kuat kok. Aku mau bantuin bibi sampai semua pekerjaan selesai.” Tolak Kayla secara halus.
Karena kelelahan Kayla sampai tidak sadar jika kini dirinya malah ketiduran di atas sofa. Bi Inah yang tidak tega jika harus sampai membangunkan majikannya itu dia pun memilih untuk membiarkannya lantaran menurutnya nyonya besar biasanya akan pulang nanti siang menjelang sore.
“Sepertinya biarkan saja non Kayla tidur dulu disini,” gumam bi Inah, “Kasihan sekali nasibmu itu non. Lagian kenapa juga kamu bisa menikah dan menjadi menantu di keluarga ini?” Bi Inah masih belum mengetahui mengenai alasan Kayla dan Alex bisa sampai menikah.
Setelah menyelimuti tubuh Kayla menggunakan selimut miliknya bi Inah pun kembali ke dapur.
“Bi, kenapa semua orang seperti sangat membenciku, padahal selama ini aku tidak pernah melakukan perbuatan salah pada mereka. Apa karena aku terlahir dari keluarga miskin hingga mereka bisa berbuat seenaknya?”“Non, tidak semua orang bersikap seperti itu. Mungkin jika mengenai keluarga nyonya bibi masih bisa menjelaskan kenapa mereka seperti itu, tapi jika soal ibu non sendiri bibi tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Tapi walau begitu bibi yakin pasti sebenarnya ibu non itu sangat sayang sama non,”Bi Inah sebenarnya merasa prihatin dengan nasib salah satu majikannya ini. Andai ia bisa menolong pastinya dirinya tidak akan tinggal diam seperti ini melihat nasib yang diderita oleh Kayla.“Tapi aku gak yakin ibu sayang sama aku bi.” Kayla masih ingat jelas bagaimana sikap ibunya itu dari dulu yang selalu berbuat kasar terhadapnya.Bi Inah hanya tersenyum, walau sebenarnya ia merasa jika sikap Astri itu seperti sikap seorang ibu tiri, namun dirinya tidak berani untuk mengutarakan pendapat
“Lain kali saja ya, tan, soalnya aku lagi buru-buru sekali. Aku janji pasti akan mampir ke rumah tante kok!” tolak Olivia secara halus.“Yeah, jadi kamu gak bisa mampir ke rumah? sayang sekali… Tapi gak papa deh, asalkan kamu janji akan main ke rumah, akan tante tunggu loh. Soalnya banyak hal yang ingin tante tanyakan sama kamu,” Tamara tampak kecewa dengan penolakan itu namun dia masih tetap tersenyum.“Iya, tan, aku pasti akan mampir kok soalnya aku juga ingin bertemu dengan Alex!” jawab Olivia sambil terkekeh kecil, “Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya tan,”Setelah itu Olivia melangkah pergi meninggalkan toko itu. Kayla yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, sedikit merasa iri dengan sikap ibu mertuanya yang sangat berbeda jauh. Jika kepadanya mertuanya ini pasti akan bersikap kasar dan seolah tidak punya belas kasih, tapi berbeda pada wanita tadi yang sikapnya terlihat lemah lembut.Hal itu terbukti saat raut wajahnya kini langsung berubah masam setelah melihat k
“Kayla, nanti setelah ini kamu ikut saya!” ujar Tamara saat Kayla sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.“Iya mam.” Jawab Kayla tanpa berani bertanya lagi karena takut jika nanti dirinya malah akan dimarahi.Setelah suami dan mertuanya laki-lakinya berangkat ke kantor, mami Tamara segera menyuruh dirinya untuk bersiap-siap. Kayla segera menuruti keinginan mertuanya itu, sambil mengganti pakaian di dalam benaknya ia bertanya-tanya kemana mami nya itu akan mengajaknya pergi.Kayla yang memang tidak terbiasa berdandan berlebih, ia hanya memakai make up seadanya seperti bedak dan lipstik saja. Namun walau begitu Kayla tampak terlihat cantik dan itu dipuji oleh bi Inah yang kebetulan berpapasan di anak tangga.“Ah bibi terlalu berlebihan, aku gak cantik kok.” Balas Kayla yang sebenarnya ia merasa senang dengan pujian itu.“Bibi heran sama tuan Alex kok dia gak melihat kamu ya, padahal kamu itu cantik loh. Tapi bibi yakin lama kelamaan juga pasti tuan Alex akan terbuka juga matanya d
“Bagus! Darimana saja kamu keluyuran sampai lupa pulang, sudah berasa jadi nyonya sekarang?”Baru juga Kayla tiba di rumah ia langsung disambut omelan dari mami mertuanya.“Aku tidak berasa jadi nyonya mam, aku juga keluar hanya sebentar ketemu temanku aja kok.” Jawab Kayla, mencoba menjelaskan.Tamara memutar matanya dengan malas, “Alasan, bilang aja kamu itu ingin jalan-jalan sambil memamerkan jika kamu adalah menantu saya pada semua orang diluar sana biar mereka pada tahu dan menganggap jika kamu itu orang hebat, iya kan?”“Aku tidak begitu mam. Jangankan memamerkan pada semua orang, temanku sendiri saja tidak aku beritahu.”“Baguslah, memang kamu itu tidak cocok menjadi menantu saya. Kamu hanya beruntung saja karena ibumu memiliki hutang hingga kamu bisa menikah dan tinggal di rumah saya ini. Orang miskin sepertimu itu tidak akan pernah bisa menjadi menantu saya untuk selamanya, ingat itu.”Kayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sambil melangkah pergi menuju kamarnya Kayla me
“Kayla bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali kita gak pernah ketemu,” tanya wanita bernama Serlin sambil memeluk Kayla dengan begitu erat.“Kabar aku baik, kabar kamu sendiri gimana? Iya yah, terakhir kita ketemu itu saat lulus sekolah aja.” Balas Kayla.Wanita bernama Serlin itu tersenyum dan langsung mengajak Kayla untuk duduk. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah taman, duduk di kursi besi yang ukurannya pas saja untuk mereka berdua tempati.“Kayla, aku kangen banget tau selama ini sama kamu. Di seberang aku selalu mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor kamu tapi susah karena semua teman-teman sekolah kita katanya gak ada satupun yang mempunyai nomor kamu.”Kayla terkekeh mendengar pengakuan Serlin. Memang sudah setahun ke belakang dirinya mengganti ponsel beserta nomornya sehingga wajar saja teman-teman sekolahnya tidak ada satupun yang memiliki nomornya.“Tapi kemarin kamu bisa menghubungiku itu dapat nomornya dari mana?” tanya Kayla yang teringat jika kemarin ada n
Pagi ini Kayla seperti biasa membantu bi Inah menyiapkan sarapan, dan setelah itu dirinya pergi menuju kamar Alex untuk membangunkannya.Tok! Tok! Tok!Beberapa kali Kayla mengetuk pintu kamar itu, “Mas, bangun. Sarapan dulu.”Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka. Alex menatap Kayla tajam lantaran merasa kesal tidurnya harus terganggu. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu langsung menundukan kepala.“Mas, sarapan dulu. Mami dan ayah juga sudah menunggu di meja makan!”Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex langsung menutup pintu kamarnya dengan lumayan kencang.Brak!Kayla sampai dibuat tercekat dan langsung mengelus-elus dadanya yang kini sudah berdebar beberapa kali lipat, “Apa aku salah?” ucapnya pada dirinya sendiri.Baru saja berbalik badan untuk melangkah pergi, kedua telinganya samar-samar Kayla mendengar suara rincik air. Kayla langsung menebak jika suaminya pasti kini sedang mandi.“Seharusnya sebagai istri aku harus menyiapkan semua keperluan suamiku. Apa sekaran







