Mag-log inDoni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.
“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.” Doni tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan. “Bisa membawaku sampai kota?” “Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.” “Itu sudah cukup.” Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju. Ia tidak membutuhkan banyak hal. Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan mencari orang yang selama ini menjadi tujuan hidupnya. Doni juga tidak ingin terus menjadi beban bagi Bagas dan Dimas. Selama berada di desa, kedua pria itu sudah cukup banyak membantunya. Mereka bahkan tidak pernah bertanya terlalu jauh mengenai asal-usulnya meskipun jelas ada sesuatu yang Doni sembunyikan. Karena itu, ketika Bagas memberitahukan bahwa dirinya memiliki kenalan yang bisa membawanya ke kota, Doni langsung menyetujui. Baginya, semakin cepat meninggalkan desa itu, semakin cepat pula ia bisa memulai rencananya. Beberapa hari kemudian, setelah kondisinya membaik, Doni akhirnya meninggalkan desa tersebut. Ia tidak membawa banyak barang. Hanya pakaian sederhana yang diberikan Bagas dan sedikit uang hasil bantuan para nelayan. Sebelum pergi, Doni sempat menatap desa itu dari dalam perahu. Ia menyimpan wajah-wajah orang yang telah menolongnya dalam ingatan, meskipun sebagian dirinya masih merasa bersalah karena menyembunyikan identitas dan masalah yang dibawanya. “Terima kasih,” ucapnya kepada Bagas. “Jaga dirimu di kota.” Doni mengangguk. Perahu perlahan menjauh dari bibir pantai. Semakin lama desa nelayan itu semakin mengecil dari pandangannya. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang perlahan bercampur dengan rasa cemas di dalam dada. Doni menggenggam ujung pakaiannya. Ia tahu, begitu tiba di kota, ia tidak akan bisa kembali bersembunyi dengan mudah. Namun, ia juga tahu bahwa hidupnya tidak akan berubah jika terus berdiam diri. Ia harus kembali menghadapi masa lalu. Doni kemudian mengalihkan perhatian ke arah kota yang mulai terlihat di kejauhan. Ia tahu perjalanan sebenarnya baru saja dimulai. --- Beberapa hari kemudian … Doni akhirnya tiba di kota. Ia tidak langsung mencari Adrian. Satu hal yang paling penting adalah mencari pekerjaan dan tempat untuk bertahan hidup. Ia harus memiliki alasan yang masuk akal untuk berada di kota, sekaligus menghindari perhatian orang-orang yang mungkin mengenal wajahnya. Dengan pakaian sederhana dan kondisi seadanya, Doni berjalan menyusuri jalanan kota sambil mencari informasi pekerjaan. Setiap kali melihat seragam penjaga atau mendengar suara langkah kaki dari belakang, tubuhnya menegang. Ia sering menoleh diam-diam, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Setahun berada di penjara membuat Doni terbiasa mencurigai setiap keadaan. Namun, ia tidak boleh terus hidup dalam ketakutan. Ia harus terlihat seperti orang biasa. Hingga akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga melalui seseorang yang dikenalnya dari kenalan Bagas. Pekerjaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Membersihkan rumah, membantu keperluan penghuni, mengantar barang, atau melakukan pekerjaan lain sesuai perintah. Bahkan Doni tidak keberatan jika harus melakukan pekerjaan berat sekalipun. Selama bisa mendapatkan tempat tinggal, makanan, dan kesempatan untuk berada dekat dengan orang yang dicarinya, pekerjaan apa pun akan ia jalani. Namun, Doni sama sekali tidak menyangka bahwa pekerjaan sederhana itu justru akan membawanya semakin dekat dengan orang yang selama ini ingin ditemuinya. Rumah itu ternyata milik Adrian. Doni berdiri beberapa saat di depan gerbang besar tersebut. Tatapannya berubah ketika mendengar nama pemilik rumah. Adrian. Nama yang selama satu tahun terakhir terus berada di dalam ingatannya. Untuk sesaat, suara di sekitar terasa menghilang. Doni hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin cepat. Rasa takut menyusup ke dalam pikirannya, disusul kemarahan yang selama ini ia tekan. Tangannya mengepal perlahan. Ia masih mengingat bagaimana hidupnya berubah setelah keputusan pengadilan itu. Kebebasannya direnggut. Keluarganya kehilangan dirinya. Dan selama satu tahun, ia harus bertahan hidup di tempat yang penuh kekerasan. Semua itu membuat Doni ingin langsung menemui Adrian dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Doni segera mengendurkan tangannya. Ia tidak boleh bertindak gegabah. Jika kehilangan kendali sekarang, semua usahanya untuk melarikan diri akan berakhir sia-sia. Adrian mungkin memiliki kekuasaan, uang, dan orang-orang yang siap melindunginya. Sementara Doni hanya memiliki kecurigaan dan tekad yang belum didukung bukti. Kalau dirinya ingin mengetahui kebenaran di balik kasus yang membuatnya dipenjara, ia harus masuk lebih jauh. Ia harus mengumpulkan bukti. Karena itulah Doni memilih menahan emosinya. Ia akan menjadi pekerja biasa. Tidak lebih. Setidaknya sampai dirinya menemukan sesuatu yang bisa membuktikan kecurigaannya. “Mulai hari ini kamu bekerja di sini.” Doni mengangguk kepada orang yang membawanya. “Baik.” Ia kemudian melangkahkan kaki melewati gerbang rumah tersebut. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju tempat yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan hidupnya. Namun, wajah Doni tetap terlihat tenang. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa dirinya memiliki tujuan lain. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu bahwa kedatangannya ke rumah ini bukan sekadar untuk mencari pekerjaan. Doni menarik napas panjang. Untuk sementara, ia harus melupakan statusnya sebagai buronan dan hanya menjadi seorang pekerja yang datang dari desa. Bahkan jika ada yang bertanya mengenai kehidupannya, ia hanya akan mengatakan bahwa dirinya adalah teman Bagas yang datang menggantikannya bekerja. Semuanya harus terlihat sederhana. Tidak mencurigakan. Tidak boleh ada kesalahan. Sebab, satu kesalahan kecil saja bisa membuat identitasnya terbongkar. Doni kemudian mengikuti orang yang membawanya menuju bagian belakang rumah. Ia belum mengetahui seperti apa kehidupan di dalam rumah tersebut. Ia juga belum mengetahui siapa saja orang yang akan ditemuinya. Yang Doni tahu hanya satu. Di tempat inilah kemungkinan besar dirinya bisa menemukan jawaban yang selama ini dicari. Dan jika memang Adrian menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan kasusnya, Doni akan mencari tahu semuanya sedikit demi sedikit. Padahal, tanpa disadarinya, rumah besar itu bukan hanya akan mempertemukannya kembali dengan masa lalu. Doni terus berjalan memasuki rumah tersebut, tanpa mengetahui bahwa langkahnya kali ini akan mengubah seluruh rencana yang sudah ia susun. Ia hanya tahu bahwa dirinya harus tetap tenang. Menyamar sebagai pekerja lalu mengamati dan mencari kesempatan.Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan
Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an
Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m
Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan
Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m
Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo







