Mag-log in
Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan.
Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbongkar dalam sekejap. --- Dua bulan sebelumnya … Seorang buronan baru saja berhasil kabur dari penjara, meski sangat sulit keluar dari sana. Tapi selama setahun penuh rencana kabur yang direncanakan akhirnya berhasil. Di hari berikutnya, Doni akhirnya membuka mata. Saat baru saja bangun, ia melihat sebuah ruangan sederhana dengan dinding bambu dan beberapa celah kecil di permukaannya. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Napasnya tertahan, sementara ingatan tentang jeruji besi, suara langkah para penjaga, dan malam pelariannya kembali berkelebat di kepalanya. Ia sempat mengira dirinya telah tertangkap dan dibawa ke tempat lain. Setiap suara kecil terasa seperti ancaman. Di sekelilingnya terdapat banyak box berwarna putih, sedangkan beberapa ikan yang sudah dikeringkan tergantung di langit-langit. “Di mana ini?” Suaranya terdengar serak. Doni segera bangkit, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Rasa nyeri menjalar dari luka-lukanya, membuat pandangannya berkunang-kunang. Ia menahan napas sambil memeriksa ruangan itu, mencari pintu keluar, jendela, atau tanda-tanda bahwa seseorang sedang mengawasinya. Salah satu box putih yang berada tidak jauh darinya ternyata berisikan ikan segar yang baru ditangkap dan ditumpuk bersama es batu agar tetap terjaga kesegarannya. Bau amis memenuhi ruangan tersebut. Bau itu membuat perutnya mual, tetapi juga menyadarkannya bahwa ia mungkin berada jauh dari kota. Jauh dari penjara. Jauh dari orang-orang yang selama ini memburunya. Namun, Doni tahu bahwa tempat asing tidak selalu berarti aman. Bisa saja orang-orang yang menolongnya memiliki maksud lain. Tidak lama kemudian seorang pria masuk dan langsung terkejut melihat Doni sudah sadar. “Eh, kamu sudah sadar? Sebentar, aku panggil—” Baru saja pria itu hendak keluar, Doni segera menahannya. Refleks, tangannya meraih lengan pria tersebut. Jantungnya berdegup keras. Ia tidak tahu siapa yang akan dipanggil, dan ia tidak sanggup membayangkan jika orang itu ternyata membawa kabar kepada pihak berwenang. “Tunggu sebentar!” Pria itu menoleh dengan wajah bingung. Doni segera melepaskan pegangannya, tetapi matanya tetap waspada. “Maaf menahanmu, tapi bisakah kamu merahasiakan keberadaanku di sini kepada siapapun?” Raut wajah Doni terlihat memelas. Kondisinya juga masih pucat dengan beberapa luka yang baru saja mereka obati. Di balik permohonannya, ada ketakutan yang sulit ia sembunyikan. Jika keberadaannya diketahui, semua pengorbanan selama pelarian akan sia-sia. Ia akan kembali ke balik jeruji besi sebelum sempat mencari tahu siapa yang telah menghancurkan hidupnya. Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi ada satu orang temanku yang sudah mengetahui keberadaanmu. Kemarin kami berdua yang membawamu ke sini.” Doni terdiam. Ia masih belum sepenuhnya mempercayai keadaan di tempat ini. Tatapannya berpindah dari wajah pria itu ke pintu ruangan. Ia ingin percaya, tetapi pengalaman selama satu tahun terakhir telah mengajarinya bahwa kepercayaan bisa menjadi kelemahan. Namun, untuk sementara dirinya tidak memiliki pilihan lain. Pria itu kemudian duduk di bale-bale bambu tempat Doni berbaring. “Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kalau aku Bagas.” Doni sempat ragu menyebutkan nama aslinya. Nama itu terasa seperti sesuatu yang harus ia lindungi. Namun, Bagas adalah salah satu orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. “Aku Doni.” “Kalau begitu, Doni, sekarang kondisimu bagaimana?” “Sudah lebih baik.” “Syukurlah. Kami sebenarnya ingin membawamu ke rumah sakit, tapi jaraknya terlalu jauh. Kami juga tidak punya cukup uang untuk biaya pengobatan.” Doni hanya mengangguk. Ia menundukkan wajah agar Bagas tidak melihat keraguan yang masih tersisa di matanya. Setiap kebaikan yang diterimanya terasa menenangkan, tetapi sekaligus membuatnya takut. Ia tidak ingin terlalu bergantung kepada siapa pun. Jika keadaan berubah, ia harus tetap mampu melanjutkan pelariannya seorang diri. Dari percakapan singkat itu, ia mulai mengetahui bahwa dirinya berada di sebuah desa nelayan yang cukup jauh dari kota. Tempat seperti ini justru membuatnya sedikit tenang. Tidak ada yang mengenalnya. Bahkan tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang tahanan yang baru saja melarikan diri. Tetapi Doni juga sadar bahwa ia tidak bisa bersembunyi terlalu lama. Setiap hari yang ia habiskan di desa itu membuat jarak antara dirinya dan tujuan semakin terasa jauh. Ia takut orang-orang dari penjara akan menemukan jejaknya, tetapi ia lebih takut jika hidupnya berakhir sebagai buronan tanpa pernah mengetahui kebenaran. Tujuannya bukan sekadar keluar dari penjara. Ia ingin menemukan orang yang telah membuat dirinya dijebloskan ke sana. Selama satu tahun berada di balik jeruji besi, Doni terus memikirkan kejadian yang menghancurkan hidupnya. Rasa marah dan tidak berdaya sering kali membuatnya sulit tidur. Berkali-kali ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa semua orang begitu mudah mempercayai bukti yang menuduhnya, sementara tidak seorang pun mau mendengarkan penjelasannya. Ia masih mengingat dengan jelas wajah pria yang menjadi hakim dalam kasusnya. Adrian. Nama itu terus melekat di kepalanya. Setiap kali mengingatnya, dada Doni terasa sesak. Ia tidak tahu apakah Adrian benar-benar terlibat atau hanya bagian dari permainan yang lebih besar. Namun, kecurigaan itu telah menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan ketika berada di penjara. Doni yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan kasus tersebut. Bukti yang digunakan untuk menghukumnya terlalu mudah diarahkan kepadanya, sementara orang yang sebenarnya terlibat justru masih bebas di luar sana. Karena itu, Doni tidak berniat menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan bersembunyi. “Apa ada cara bagiku untuk pergi dari desa ini?” Bagas menatapnya dan sempat terdiam sesaat lalu bertanya, “Kamu mau pergi sekarang?” “Tidak sekarang. Setelah kondisiku cukup kuat.” Doni berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hati ia merasa gelisah. Ia takut kesempatan untuk pergi tidak akan datang lagi. Ia juga takut jika terlalu lama tinggal, seseorang akan mulai mencurigai identitasnya. Bagas kembali terdiam sejenak melihat kondisi Doni, membuatnya kasihan. “Kalau begitu, mungkin aku bisa membantumu.”Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan
Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an
Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m
Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan
Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m
Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo







