Share

Bab 3

Author: Lailiela
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-19 15:29:14

Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi.

Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan.

Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya.

Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo.

Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi.

“Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati.

Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.

Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya.

Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya.

Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yang datang ke kota untuk mencari pekerjaan.

Ia menarik napas panjang.

Untuk sementara, ia harus melupakan segala sesuatu tentang penjara.

Yang ada hanyalah seorang pekerja bernama Doni yang datang untuk mencari pekerjaan.

Mobil terus melaju meninggalkan halte.

Doni menatap keluar jendela sambil mengamati suasana kota yang perlahan berubah menjadi kawasan yang lebih mewah.

Gedung-gedung tinggi mulai berkurang.

Jalanan pun terlihat semakin sepi.

Rumah-rumah besar dengan pagar tinggi mulai berdiri di sepanjang jalan.

Doni menyadari bahwa dirinya sedang dibawa menuju kawasan tempat orang-orang kaya tinggal.

Ia tidak pernah membayangkan akan bekerja di tempat seperti itu.

Beberapa saat kemudian, mobil akhirnya memasuki sebuah kawasan dengan gerbang besar.

Doni mengangkat pandangan.

Di balik pagar tersebut berdiri sebuah rumah yang ukurannya jauh berbeda dari rumah-rumah yang pernah dilihatnya.

“Ini rumah Tuan Adrian,” kata Aryo.

Doni hanya mengangguk.

“Begitu.”

Mobil kemudian berbelok menuju bagian samping rumah.

Doni tidak turun melalui pintu utama.

Aryo membawanya masuk melalui pintu belakang yang lebih sering digunakan oleh para pekerja.

Begitu memasuki rumah, Doni langsung terdiam.

Lantai marmer yang mengilap terbentang luas di hadapannya.

Perabotan mahal tertata rapi di berbagai sudut ruangan.

Bahkan lampu-lampu yang tergantung di langit-langit membuat ruangan tersebut terlihat begitu mewah.

Doni hanya bisa mengamati semuanya dalam diam.

Ia harus berhati-hati agar tidak terlihat terlalu kagum.

Setelah melewati beberapa ruangan, mereka akhirnya sampai di area belakang rumah yang dipenuhi kamar untuk para pekerja.

Aryo berhenti di depan salah satu pintu.

“Ayo, ini kamarmu.”

Doni menoleh.

“Malam ini kamu mandi dulu. Nanti Pak Dewo akan datang ke sini.”

“Oke. Kalau begitu aku akan segera bersiap.”

“Di dalam sudah ada pakaian khusus pekerja. Kamu pakai itu.”

Aryo kemudian berbalik dan meninggalkan Doni.

Doni segera masuk ke kamar.

Ruangan itu memang tidak terlalu besar, tetapi jauh lebih layak dibandingkan tempat tidur yang pernah ia gunakan selama berada di penjara.

Sebuah kasur, lemari kecil, meja, dan kamar mandi sederhana tersedia di dalamnya.

Doni meletakkan tasnya di atas kasur.

Ia kemudian melihat pakaian kerja yang sudah disiapkan.

Untuk beberapa saat, Doni hanya berdiri di sana. Semua ini terasa seperti sebuah kehidupan baru.

Namun, ia tahu dirinya tidak boleh terlena.

Tujuannya datang ke tempat ini bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan.

Ia harus menemukan jawaban.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang sudah disediakan, Doni berdiri di depan cermin.

Wajahnya terlihat jauh lebih segar.

Ia merapikan rambutnya, kemudian menghela napas panjang.

“Mulai sekarang, aku harus berhati-hati.”

Tok.

Tok.

Tok!

Suara ketukan dari luar membuat Doni langsung menoleh.

Ia teringat perkataan Aryo bahwa Dewo akan datang menemuinya.

Doni segera membuka pintu.

Benar saja, seorang pria berusia hampir lima puluh tahun berdiri tepat di depan kamar.

Doni langsung mengenalinya dari cerita Bagas.

“Selamat malam, Pak.”

“Ehm, kamu Doni, teman Bagas?”

“Iya, Pak. Saya temannya Bagas.”

Dewo mengamati Doni sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Kalau begitu, ayo ikut saya. Kita harus menemui Tuan Adrian.”

Doni mengikuti Dewo keluar dari kamar.

Sambil berjalan, Dewo mulai menjelaskan beberapa hal.

“Mulai sekarang, kamu harus mengikuti semua aturan di rumah ini.”

“Baik, Pak.”

“Jangan masuk ke ruangan tertentu tanpa izin. Kalau ada yang menyuruhmu melakukan sesuatu, kerjakan dengan baik.”

Doni mengangguk.

“Siap.”

“Dan satu lagi. Kamu akan menjadi pelayan pribadi Nyonya.”

Langkah Doni sempat melambat.

“Pelayan pribadi?”

“Iya. Kamu akan membantu keperluan Nyonya selama berada di rumah. Kadang mengantar jika beliau ingin pergi, membawa barang, atau melakukan pekerjaan lain yang diperintahkan.”

Doni kembali mengangguk.

“Baik.”

Mereka kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.

Doni sesekali melirik ke sekeliling.

Rumah tersebut benar-benar luas.

Namun, semakin jauh mereka berjalan, Doni justru semakin merasa bahwa dirinya harus berhati-hati.

Tempat seperti ini pasti memiliki banyak aturan.

Salah sedikit saja, dirinya bisa dicurigai.

Ketika hampir sampai di lantai dua, Dewo tiba-tiba berhenti.

Doni yang berjalan di belakangnya ikut berhenti.

Ia segera menundukkan pandangan.

Di depan mereka berdiri seorang wanita muda.

Doni hanya bisa melihatnya dari sudut mata.

“Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Dewo dengan sopan.

“Tidak ada. Aku hanya ingin mencari udara segar di taman.”

Suara wanita itu terdengar lembut.

Doni tanpa sadar mengangkat wajahnya sedikit. Untuk sesaat, pandangan mereka hampir bertemu. Wanita itu terlihat sangat cantik.

Doni segera menundukkan pandangannya kembali. Ia tidak ingin terlihat sedang memperhatikannya.

“Nyonya, sebaiknya jangan terlalu lama. Cuaca di luar sedang berangin.”

“Aku sudah memakai cardigan. Aku rasa tidak masalah.”

Wanita itu kemudian berjalan melewati mereka.

Doni tetap diam.

Namun, beberapa langkah kemudian, wanita tersebut tiba-tiba berhenti lalu menoleh ke belakang.

Pandangan matanya mengarah kepada Doni.

Doni bisa merasakan tatapan tersebut meskipun tidak berani menatap balik.

Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali melanjutkan langkahnya.

Doni tidak mengetahui siapa wanita tersebut.

Namun, dari cara Dewo berbicara kepadanya, ia bisa memastikan bahwa wanita itu adalah salah satu penghuni penting di rumah tersebut.

Dewo kemudian kembali berjalan.

“Jangan terlalu banyak memperhatikan majikan,” katanya pelan.

Doni langsung mengangguk.

“Baik, Pak.”

Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar.

Dewo merapikan pakaiannya sebelum mengetuk pintu.

Tok.

Tok.

“Tuan Adrian, saya membawa pekerja baru.”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam.

“Masuk saja.”

Dewo membuka pintu sedangkan Doni mengikuti dari belakang.

Ruangan tersebut ternyata merupakan ruang kerja.

Di balik meja besar, seorang pria berusia sekitar lima puluhan sedang memeriksa beberapa dokumen.

Pria itu perlahan mengangkat wajahnya.

Tatapannya langsung tertuju kepada Doni.

“Jadi, dia pekerja baru?”

“Benar, Tuan.”

Doni berdiri diam untuk sesaat, ia hanya menatap pria tersebut.

Kemudian, tubuhnya terasa kaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ujung jarinya mendadak dingin, sementara denyut nadi di lehernya berdegup begitu keras hingga ia takut suara itu terdengar oleh semua orang di ruangan.

Wajah, tatapan, dan bahkan suara itu Doni jelas mengenalinya.

Bahkan setelah satu tahun berlalu, ia tidak mungkin melupakan wajah orang yang menjadi bagian dari keputusan yang membuat hidupnya hancur.

Adrian Wijaya.

Dunia seolah menyempit menjadi ruangan itu saja. Ingatan tentang jeruji besi, suara pintu sel yang dibanting, dan malam-malam panjang ketika ia bersumpah akan mencari kebenaran berkelebat tanpa ampun di kepalanya.

Jantung Doni berdetak semakin keras.

Untuk sesaat, amarah membuat rahangnya mengeras dan tubuhnya hampir bergerak maju. Ia ingin bertanya, menuntut penjelasan, bahkan mencengkeram kerah pria itu. Namun, kesadaran bahwa Dewo berdiri di sampingnya membuatnya menahan diri.

Jika ia menunjukkan bahwa dirinya mengenal Adrian, semuanya akan berakhir sebelum dimulai.

Adrian bisa memanggil orang-orangnya. Identitas palsunya sebagai keponakan Dewo akan terbongkar.

Ia bisa diusir, ditahan, atau lebih buruk lagi, dibungkam sebelum sempat menemukan bukti apa pun. Bahkan Bagas dan Dewo mungkin ikut terseret jika Adrian mengetahui siapa yang telah membawanya masuk ke rumah ini.

Doni segera kembali menundukkan kepala. Tangannya mengepal di balik pakaian hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 6

    Begitu tiba di depan kamar khusus pelayan, Doni segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana.“Hah … hah …!”Napasnya tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat akibat berlari terburu-buru. Bahkan, telapak tangannya terasa dingin ketika mengingat betapa dekatnya ia dengan Adrian beberapa saat lalu.Sial!Sedikit saja ia terlambat bersembunyi, mungkin sekarang dirinya sudah ketahuan berkeliaran di luar kamar pada malam hari.Doni mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri. Ia lalu mengintip melalui celah pintu untuk memastikan keadaan di luar benar-benar aman.Lorong itu sudah kembali sepi.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bayangan seseorang yang mendekat, dan tidak ada tanda-tanda Adrian kembali ke tempat tadi.Barulah Doni mengembuskan napas panjang.“Untung saja aku berhasil lolos. Kalau sampai Tuan Adrian memergokiku, bisa berabe urusannya.”Ia menggeleng pelan, kemudian mengunci pintu kamarnya. Setelah itu, Doni berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 5

    Setelah memastikan semua pekerja telah kembali ke kamar masing-masing, Dewo menoleh ke sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun yang masih berkeliaran.Barulah setelah semuanya dipastikan aman, Dewo kembali masuk ke kamarnya sendiri.Tepat di tengah malam saat semua orang di rumah sepi, Adrian membawa Aurel jalan menuruni tangga dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang makan.Sementara itu, Doni terbangun karena merasa lapar. Sejak tadi, ia sama sekali belum sempat makan.Suara perutnya yang terus keroncongan membuatnya mau tak mau harus mengendap-endap keluar dari kamar.“Seingatku, tadi tidak ada larangan untuk pergi ke dapur, kan? Jadi, seharusnya tidak masalah.”Sesampainya di dapur yang sepi, Doni memeriksa makanan yang masih tersisa. Setelah menemukan beberapa hidangan yang bisa dimakan, ia segera mengambilnya dan duduk di lantai untuk menyantap makanan tersebut.Namun, baru saja selesai makan dan meletakkan piring kotornya di wastafel, tiba-tiba terdengar suara an

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 4

    Bukan sekarang, ia belum memiliki bukti. Doni juga belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi secara menyeluruh meskipun Adrian salah satu dari orang yang menjebaknya. Dan yang paling penting, Adrian sama sekali belum boleh mengetahui bahwa tahanan yang pernah ia kenal kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Doni memaksa otot wajahnya tetap tenang, meskipun tengkuknya mulai berkeringat. Ia menarik napas perlahan, menelan amarah yang terasa pahit, lalu memasang ekspresi seorang pekerja yang baru pertama kali bertemu majikannya. “Perkenalkan, nama saya Doni, Tuan,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Adrian masih menatapnya. Tatapan itu membuat punggung Doni menegang. Ia tidak tahu apakah pria tersebut hanya sedang menilai pekerja baru atau mulai mencurigai sesuatu. Setiap detik terasa seperti ujian. Satu kesalahan kecil dalam nada bicara, satu tatapan yang terlalu lama, atau satu reaksi yang tidak terkendali bisa menghancurkan penyamarannya. Doni m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 3

    Doni sebenarnya masih belum memahami seluruh cerita yang sedang terjadi. Sejak awal, ia hanya diberitahu bahwa pekerjaan tersebut merupakan kesempatan untuk membantu Bagas untuk sementara waktu. Bagas juga sudah mengatakan bahwa pamannya akan mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun, ada satu hal yang cukup membuat Doni waspada, yaitu identitas yang harus digunakannya. Ia tidak boleh mengatakan bahwa dirinya bukan keponakan Dewo. Jika sampai ada orang yang mengetahui keadaan sebenarnya, masalah besar bisa saja terjadi. “Jadi, selama bekerja di sana, aku harus mengaku sebagai keponakan Pak Dewo,” gumam Doni dalam hati. Ia tidak tahu alasan sebenarnya mengapa Dewo sampai harus mencari pengganti Bagas. Namun, Doni tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Justru, keadaan itu bisa menjadi keuntungan baginya. Dengan identitas palsu tersebut, tidak akan ada orang yang mencari tahu terlalu jauh mengenai masa lalunya. Doni hanya perlu bersikap seperti seorang pemuda desa yan

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 2

    Doni mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, secercah harapan muncul di dalam dirinya. Harapan itu sangat kecil, ia berusaha bertaruh pada nasibnya kali ini jadi cukup untuk membuatnya kembali berani melangkah.“Aku punya kenalan yang sesekali membawa hasil laut ke kota. Kalau kamu memang ingin pergi, mungkin kamu bisa ikut bersama mereka.”Doni tidak langsung menjawab.Ia menundukkan kepala sambil memikirkan kemungkinan tersebut. Perjalanan itu mungkin berbahaya. Ia bisa saja dikenali di kota, atau bahkan ditolak oleh orang-orang yang membawanya. Namun, kesempatan seperti itu tidak boleh dilewatkan.“Bisa membawaku sampai kota?”“Bisa. Tapi setelah itu kamu harus mencari jalan sendiri.”“Itu sudah cukup.”Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri, Doni merasa memiliki arah. Ketakutan masih membayangi setiap langkahnya, tetapi kini ia memiliki alasan untuk terus maju.Ia tidak membutuhkan banyak hal.Yang ia perlukan hanyalah kesempatan untuk kembali ke kota dan m

  • Menjadi Pengawal Istri Musuhku   Bab 1

    Hubungan terlarang antara seorang majikan dan pekerjanya baru saja dimulai. Keduanya berada dalam situasi yang mendebarkan, berusaha menahan diri agar tidak sampai ketahuan. Dengan napas tersengal, pemuda itu perlahan melepaskan ciumannya dari Aurel. Namun, wanita itu justru masih enggan melepaskan pelukannya. “Uhm … jangan terburu-buru, Nyonya. Bagaimana kalau Tuan Adrian sampai mendengar?” bisik Doni. “Aku tidak peduli. Aku sudah tidak sanggup menahannya lagi,” balas Aurel dengan suara pelan. Aurel kemudian menarik tangan pemuda itu dan membawanya masuk ke ruang ganti yang masih berada di dalam kamar besarnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Doni. Sementara itu, di atas ranjang yang hanya beberapa langkah dari mereka, seorang pria masih tertidur lelap. Dia tidak lain adalah Adrian, suami Aurel. Menyadari betapa dekatnya mereka dengan bahaya, Doni hanya bisa menahan napas. Sedikit saja suara mereka terdengar, rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status