Share

Bab 117

Author: Anisnca
last update Last Updated: 2026-02-23 18:35:55

Nada suaranya terdengar datar. Terlalu datar untuk sekadar pertanyaan biasa.

Reis tidak langsung menjawab. Ia justru memutar gelas anggurnya perlahan, cairan merah di dalamnya berputar mengikuti gerakan tangannya. Setelah beberapa detik, ia meletakkan gelas itu dengan sengaja pelan, nyaris berlebihan lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai.

“Oh?”

Senyyum tipis terbit di sudut bibirnya. Senyum yang Lorenne kenal betul senyum yang selalu muncul setiap kali ia mencium kegelisahan sekecil apa pun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 118

    Ana tampak ragu. “Tapi biasanya Anda—”“Aku tidak selemah itu,” potong Lorenne pelan, meski suaranya tidak keras. “Lagipula, hari ini ada beberapa hal yang perlu kuurus.”Ia berdiri, merapikan lengan bajunya.Namun saat ia melangkah, rasa tidak nyaman di perutnya kembali muncul nyeri samar yang membuatnya berhenti sejenak, meski hanya sepersekian detik.Ana jelas menyadarinya.“Yang Mulia…”Lorenne tersenyum kecil, berusaha menenangkan pelayannya. “Jangan membuat wajah seperti itu. Aku benar-benar tidak apa-apa.”Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia tahu tubuhnya mulai menuntut perhatian. Dan entah mengapa, pagi itu terasa sedikit lebih rapuh dari biasanya. Di luar kamar, istana sudah ramai dengan aktivitas. Tak seorang pun tahu bahwa di balik ketenangan wajah sang Ratu, ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dan sesuatu yang mungkin akan segera berubah.Aula pertemuan siang itu dipenuhi suara laporan dan gesekan gulungan peta.Lorenne berdiri di ujung meja panjang, jari-jarinya me

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 117

    Nada suaranya terdengar datar. Terlalu datar untuk sekadar pertanyaan biasa.Reis tidak langsung menjawab. Ia justru memutar gelas anggurnya perlahan, cairan merah di dalamnya berputar mengikuti gerakan tangannya. Setelah beberapa detik, ia meletakkan gelas itu dengan sengaja pelan, nyaris berlebihan lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai.“Oh?”Senyyum tipis terbit di sudut bibirnya. Senyum yang Lorenne kenal betul senyum yang selalu muncul setiap kali ia mencium kegelisahan sekecil apa pun darinya.“Apakah istriku sekarang sudah terbiasa tidur bersamaku?”Pertanyaan itu meluncur ringan, seolah tidak memiliki bobot. Namun udara di antara mereka terasa berubah.Lorenne membeku sepersekian detik.Dulu, mungkin wajahnya akan langsung memerah. Dulu, ia mungkin akan mengalihkan pandangan atau mencari alasan untuk pergi. Tapi sekarang tidak. Ia sudah terlalu sering menghadapi nada menggoda itu, terlalu sering berada dalam jarak sedekat ini.Tatapannya justru menajam.“Anda terlalu percay

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 116

    Pintu ruang pertemuan tertutup pelan setelah sosok Lorenne menghilang di ujung lorong.Suara langkah para pejabat satu per satu menjauh, menyisakan keheningan yang terasa berat di dalam ruangan itu.Helena masih berdiri di tempatnya.Tangannya belum juga melepaskan gulungan laporan di atas meja. Kertasnya sudah sedikit kusut karena terlalu lama diremas tanpa sadar.Ia tidak langsung berbicara.Namun udara di sekitarnya berubah.Ward, yang berdiri tak jauh darinya, menunduk lebih dalam. Ia sudah cukup lama mendampingi Helena untuk mengenali tanda-tanda itu ketika amarah tidak lagi berupa ledakan, melainkan mengendap pelan seperti bara.“Dia benar-benar melakukannya,” gumam Helena akhirnya.“Yang Mulia…” Ward mencoba, tetapi kalimatnya menggantung.Helena tertawa kecil. Bukan tawa yang ringan.“Di hadapan semua orang,” lanjutnya, “dia berbicara seolah aku membiarkan lumbung kosong. Seolah aku tidak tahu apa yang kulakukan selama ini.”Beberapa pejabat yang masih berada di ruangan itu sa

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 115

    Lorenne tidak langsung kembali ke Istana Ratu. Ia menuju sayap barat Istana Utama ruang pertemuan tempat para pejabat berkumpul membicarakan persoalan lumbung.Begitu pintu besar itu dibuka, suara perdebatan langsung menyambutnya.“Jumlah gandum yang tercatat tidak sesuai dengan laporan pengiriman!”“Kereta dari wilayah selatan terlambat hampir dua minggu!”“Jika musim tanam berikutnya gagal, wilayah barat bisa mengalami kelaparan!”Semua suara itu berhenti seketika saat mereka menyadari kehadirannya. Para pejabat bangkit dan membungkuk.“Yang Mulia.”Lorenne melangkah masuk dengan tenang. Pandangannya menyapu meja panjang yang dipenuhi gulungan laporan, peta distribusi, dan catatan perhitungan.Dan di ujung meja duduk Ibu Suri. Wanita itu masih mengenakan pakaian resmi kebesaran, wajahnya anggun namun tegas. Selama bertahun-tahun, urusan lumbung memang berada di bawah pengawasannya.Secara tradisi, itu adalah tanggung jawabnya. Namun belakangan, terlalu banyak masalah muncul. Pasokan

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 114

    Reis membeku.Kalimat itu jelas bukan tentang politik.Itu bukan tentang paviliun, bukan tentang dewan, bukan tentang tekanan para bangsawan.Itu tentang luka yang belum sepenuhnya sembuh.Ia bergerak cepat sebelum Lorenne benar-benar menjauh dan menangkap pergelangan tangannya. Tidak kasar. Tidak memaksa. Hanya cukup untuk menghentikannya.“Jangan samakan aku dengan siapa pun dari masa lalumu.”Suaranya lebih rendah sekarang. Tidak lagi seperti Kaisar yang memberi perintah melainkan seorang pria yang tidak ingin disalahpahami.Lorenne berhenti dan ia tidak berusaha melepaskan tangannya.“Aku tidak menyamakan,” katanya lembut, hampir tenang. “Aku hanya belajar.”Reis menatapnya lama. “Belajar untuk apa? Memilihkan selir untuk suamimu sendiri?”Nada suaranya berubah tipis. Ada sesuatu di sana bukan marah. Lebih seperti… tidak percaya.Lorenne mengangkat bahu kecil. “Jika itu takdir kekaisaran, seseorang harus memastikan standar tetap terjaga.”“Standar?” alis Reis terangkat.“Tentu. Wa

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 113

    Lorenne berkata pada dirinya sendiri bahwa ia tidak perlu memikirkannya.Reis tidak mengatakan apa pun. Tidak ada keputusan, dan tidak ada perintah membuka paviliun selir.Jika Kaisar diam, maka semuanya masih aman. Seharusnya begitu, namun tetap saja ia memikirkannya. Diam seorang pria pernah menghancurkannya dulu.Calix juga seperti itu. Tidak pernah mengaku mencintai Roseane dan tidak pernah mengatakan ingin menggantikan Lorenne. Ia hanya tidak membantah, tidak menolak dan tidak menghentikan semuanya.Dan dari diam itu, Lorenne belajar bahwa pengkhianatan tidak selalu dimulai dari kata-kata.Kadang ia dimulai dari pembiaran. Ia pernah berpikir menjadi “yang pertama” sudah cukup. Bahwa gelar dan posisi bisa menenangkan hati.Ternyata tidak.Menjadi yang pertama atau kedua sama saja jika hati seseorang sudah terbagi. Rasa sakitnya tetap sama. Sekarang, ketika nama-nama putri bangsawan mulai dibicarakan sebagai calon selir, sesuatu di dadanya terasa tidak nyaman.Jika paviliun itu dibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status