FAZER LOGINSuara itu milik seorang wanita muda. Lembut, tenang, dan anehnya tidak terdengar mengancam seperti orang-orang lain yang pernah datang ke tempat itu sebelumnya.Namun Roseane tetap menegang.Tubuhnya refleks bergerak mundur hingga punggungnya membentur dinding batu yang dingin. Jemarinya gemetar kecil saat dirinya berusaha melihat wajah wanita tersebut di tengah gelap yang hampir sepenuhnya menelan ruangan sempit itu.“Katakan… apa yang akan kau lakukan padaku?”Suaranya terdengar serak dan nyaris putus. Ketakutan yang terlalu lama dipendam membuat bahkan nada bicaranya terdengar rapuh.Wanita muda itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Roseane beberapa saat sebelum perlahan kembali mengulurkan tangannya.“Bagaimanapun juga…” suaranya terdengar pelan di tengah keheningan lembap ruangan itu, “Anda harus melihat matahari.”Roseane langsung diam. Kalimat sederhana itu terasa begitu asing di telinganya sampai dirinya tidak mampu segera memahaminya.Melihat matahari, sudah berapa la
Helena benar-benar berada dalam suasana hati yang buruk sekarang.Sejak kembali ke Kastil Luther, tubuhnya terasa jauh lebih tidak nyaman dibanding biasanya. Kepalanya berdenyut samar, sementara rasa lelah aneh yang tidak mampu dijelaskan perlahan memenuhi seluruh tubuhnya.Dan yang paling membuat dirinya kesal ia terus memikirkan teh itu.Teh yang biasa diminumnya di istana.Teh dengan aroma lembut dan rasa ringan yang entah bagaimana selalu membuat tubuhnya terasa jauh lebih tenang setiap kali meminumnya.Awalnya Helena mengira dirinya hanya terlalu terbiasa dengan sajian istana. Namun sekarang, setelah mencoba berbagai teh yang disiapkan di kastil Luther sejak pagi tadi, dirinya mulai sadar bahwa tidak ada satu pun yang terasa sama.Tidak ada, bahkan teh terbaik yang dimiliki keluarga Luther pun tetap terasa berbeda di lidahnya.Kurang lembut dan kurang ringan, entah mengapa meninggalkan rasa tidak nyaman setelah diminum.Helena duduk diam di kursinya sambil menahan rasa kesal yang
Lorrene mendengus kecil samar, meskipun senyum tipis masih tertahan di bibirnya. Dirinya sendiri tidak benar-benar mengerti mengapa percakapan seperti ini terasa begitu aneh.Di luar ruangan ini, seluruh istana sedang berada dalam kekacauan. Para bangsawan ditahan di aula utama, para pengawal memenuhi setiap lorong istana, dan ketakutan perlahan menyebar ke seluruh penjuru kekaisaran.Namun di tengah semua itu, Reis masih mampu berdiri setenang ini.Tidak terlihat marah dan tidak terlihat tergesa-gesa.Seolah seluruh kekacauan yang sedang terjadi hanyalah bagian dari permainan panjang yang sudah berada di bawah kendalinya sejak awal.Dan mungkin memang seperti itu. Lorrene perlahan mengalihkan pandangannya ke arah jendela ruangan. Seluruh istana sedang tegang, namun anehnya ruangan ini justru terasa terlalu tenang.Tatapan Lorrene perlahan kembali bergerak ke arah Reis yang kini berhenti beberapa langkah di depannya. Lelaki itu menatapnya tanpa tergesa-gesa, seolah sedang mencoba mem
Setelah meninggalkan aula, Reis membawa Lorrene menuju salah satu ruangan di sisi dalam istana. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup tertutup untuk memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar pembicaraan mereka.Begitu pintu tertutup, suasana akhirnya terasa sedikit lebih tenang. Namun ketegangan yang tadi memenuhi aula seolah masih tertinggal di udara.Lorrene berdiri beberapa langkah dari pintu sambil memperhatikan Reis yang berjalan menuju jendela ruangan. Lelaki itu membuka sarung tangan hitamnya perlahan sebelum meletakkannya di atas meja tanpa tergesa-gesa.Ekspresinya masih sama seperti sebelumnya, begitu tenang, dingin dan sulit ditebak. Itulah yang membuat Lorrene semakin sulit memahami isi pikirannya.Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Hanya suara api kecil dari perapian ruangan yang terdengar samar di tengah keheningan.Lorrene akhirnya menghela napas pelan.“Mereka bisa memberontak jika Anda memperlakukan mereka seperti ini.”Tatapan Reis tetap tert
Reis akhirnya bangkit dari kursinya.Gerakan sederhana itu langsung membuat seluruh aula kembali menegang tanpa sadar. Beberapa bangsawan refleks meluruskan punggung mereka, sementara yang lain buru-buru menundukkan kepala begitu Kaisar mulai melangkah turun dari singgasananya.Suara langkah kaki Reis menggema pelan di lantai marmer aula yang sunyi.Tidak cepat dan tidak lambat.Namun entah mengapa, setiap langkah lelaki itu terasa begitu menekan hingga membuat suasana di dalam ruangan semakin sesak.Tatapan gelapnya perlahan menyapu seluruh aula sekali lagi. Tidak ada kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya, tetapi justru itulah yang membuat banyak orang semakin takut.Karena semua orang tahu Reis jauh lebih berbahaya saat dirinya terlihat setenang ini.“Mulai sekarang…” suara lelaki itu terdengar rendah dan dingin, memecah keheningan yang sedari tadi menggantung di dalam aula, “…satu per satu dari kalian akan mengetahui apa yang akan kalian terima karena berani membuat situasi sek
Seketika suasana aula berubah kacau.Beberapa bangsawan langsung berdiri dari kursi mereka dengan wajah panik. Suara protes mulai terdengar dari berbagai sisi ruangan, namun semuanya langsung terpotong saat pintu besar aula ditutup keras oleh para pengawal.BRAK!Suara dentuman itu menggema ke seluruh ruangan.Para prajurit kekaisaran bergerak cepat ke setiap sisi aula. Pintu-pintu lain segera dikunci, sementara jendela besar satu per satu mulai ditutup rapat.Suara besi dan kayu bergesekan memenuhi ruangan. Dan semakin banyak jalan keluar yang tertutup semakin besar kepanikan yang mulai menyebar.Beberapa bangsawan tampak mulai benar-benar ketakutan sekarang. Bahkan Count Valgard terlihat menegang samar, sementara Calix berdiri sedikit di depan kursinya seperti refleks melindungi sesuatu yang bahkan tidak ada di sana.Dalam hitungan menit, aula besar itu berubah menjadi ruangan tertutup sepenuhnya. Tidak ada jalan keluar dan tidak ada celah, saat itulah suasana benar-benar berubah me
Gwen menunduk dalam. “Dan hidup saya kini milik Anda, Yang Mulia.”Terakhir, Lorrene menatap wanita keempat yang berdiri sedikit terpisah.“Belona Jarvad.”Putri kepala pengawal istana. Tubuhnya tegap, sikapnya lebih mirip prajurit daripada wanita istana. Mata Belona jernih, lurus, tanpa permainan
Keheningan masih menyelimuti kamar itu setelah penjelasan Sienna mengenai racun yang berada di tubuh Lorrene.Udara terasa berat.Lampu tidur di sudut ruangan bergetar pelan, membuat bayangan panjang di dinding bergerak perlahan.Reis berdiri tegak di dekat tempat tidur. Wajahnya kembali tenang sep
Reis terdiam beberapa saat setelah mendengar penjelasan Lorrene.Tatapannya masih tertuju pada wajah wanita itu, seolah mencoba memahami seluruh cerita yang baru saja ia dengar. Di dalam kamar itu hanya terdengar suara api lampu minyak yang sesekali berderak kecil.Akhirnya Reis menghela napas panj
Kini Lorrene perlahan memalingkan kepalanya.Tatapannya jatuh pada sosok yang berdiri di belakangnya.Lampu redup di dalam bilik membuat bayangan wajah pria itu terlihat samar, namun sorot matanya jelas tajam, penuh pengamatan.Lorrene menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa.Lalu ia kembal







