Share

Buka pintunya!

Penulis: Rafasya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-10 07:38:51

Zavier sedang duduk di kursi kayu dekat meja dapur, rambutnya masih sedikit basah setelah ia membersihkan diri. Aroma sabun mandi bercampur wangi kopi dari teko di atas meja. Tangannya mengusap pelan sisa embun di gelas air yang ia pegang, namun pikirannya tak sepenuhnya berada di dapur. Bayangan tatapan Eliza di halaman latihan tadi masih melekat di benaknya, menimbulkan perasaan yang sulit ia kendalikan.

Tak lama, langkah kaki tergesa terdengar dari lorong. Kepala pelayan, Rosa, muncul di ambang pintu.

“Zavier,” panggilnya tegas. “Nyonya Eliza memintamu ke kamarnya sekarang.”

Zavier sempat mengerutkan kening, namun ia hanya mengangguk dan segera berdiri. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kamar sang nyonya. Pintu itu sedikit terbuka, namun sebelum ia sempat mengetuk, Eliza sendiri sudah muncul di baliknya.

Tanpa basa-basi, Eliza meraih tangan Zavier dan menariknya masuk. Pintu ditutup rapat, kuncinya diputar dengan cepat.

“Ada apa, Nyonya? Kenapa memanggil saya?” tanya Zavier, sua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
waw gawat ni zavier ketahuan gk ea
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   Tidak ada tempat untuk pengkhianat!

    Ruby berlari kecil melewati lorong panjang rumah keluarga Willson. Napasnya memburu, keringat mulai membasahi pelipisnya. Setibanya di dapur yang remang-remang, ia buru-buru meletakkan tempat makan di atas meja kayu besar. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan posisi piring, seolah ada beban besar yang menekan dadanya. "Tenang, Ruby ... jangan sampai ada yang curiga," bisiknya pada diri sendiri. Namun, baru saja ia menghela napas lega, sebuah tepukan ringan di bahunya membuat tubuhnya langsung melonjak kaget. Puk! “Astaga!” Ruby hampir menjerit, lalu cepat menoleh. Matanya membulat melihat Rosa berdiri di belakangnya dengan tatapan heran. “Astaga Rosa, kamu mengagetkan aku saja.” Rosa menyipitkan mata, bibirnya melengkung tipis seolah mencurigai sesuatu. “Kenapa kamu tegang sekali? Ada apa?” Ruby buru-buru menggeleng, berusaha menutupi rasa paniknya. “N-nggak … nggak ada apa-apa. Aku hanya … kaget saja.” Rosa menatapnya sejenak, sebelum kemudian menyampaikan pesannya dengan n

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   99 cambukan

    “Bawa cambuk besi itu kemari!” perintah Mark.Eliza yang semula menunduk, seketika mendongak.Salah satu pengawal mengangguk dan keluar sebentar, lalu kembali dengan membawa sebuah cambuk panjang. Cambuk itu bukan cambuk biasa—terbuat dari kulit hitam tebal dengan ujung-ujung rantai kecil dari besi, yang berkilat dingin di bawah cahaya lampu minyak. Setiap ujung rantai itu memiliki kaitan kecil, tajam, yang bisa merobek kulit hanya dengan sekali sabetan.Zavier membuka matanya, menatap benda itu. Hatinya bergetar, tubuhnya yang lemas tiba-tiba seakan disuntik ketakutan. Ia tahu, sekali saja benda itu mendarat di tubuhnya, dagingnya akan terkoyak. Namun ia tidak berteriak, tidak memohon, hanya menatap lurus ke arah Eliza.“El … kau lihat itu?” Mark berbisik di telinga istrinya, namun cukup keras untuk membuat Zavier mendengar. “Cambuk besi. Setiap sabetannya akan meninggalkan luka seumur hidup. Aku akan pastikan bajingan itu merasakan penderitaan yang tak pernah ia bayangkan.”Eliza me

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   Katakan pada ibu, aku sangat mencintainya.

    “Zavier!!!”Ruby menatap nanar ke arah keponakannya yang masih terikat dengan rantai besi di kedua tangan, tubuhnya menggantung lemas di dinding lembab ruang bawah tanah itu. Cahaya temaram dari lampu minyak membuat wajah Zavier terlihat penuh luka, lebam, dan darah kering. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan berat, dan matanya setengah terbuka, hampir kehilangan cahaya hidup.Tanpa pikir panjang, Ruby segera menutup pintu ruang bawah tanah itu dengan cepat, lalu berlari mendekat. “Astaga, Zavier … apa yang mereka lakukan padamu …” suaranya pecah.Zavier mengangkat wajahnya dengan susah payah. Saat menyadari sosok di depannya, ia tertegun, lalu berusaha berbicara meski suaranya serak. “Bi-Bibi … kenapa kau kemari? Ini terlalu berisiko … untukmu.”Ruby menggeleng keras, air matanya menetes jatuh membasahi pipi. “Aku tidak peduli, Nak. Aku tidak bisa diam melihatmu begini. Kau pasti lapar dan haus, kan? Ini …” Ruby membuka keranjang kecil yang dibawanya. Di dalamnya ada

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   Siapa di sana?

    Pagi hari.Suasana di mansion keluarga Willson terasa berbeda. Biasanya lorong-lorong dipenuhi suara tawa kecil para pelayan saat bergegas menjalankan tugas, namun kali ini, hanya ada bisikan-bisikan samar yang penuh ketegangan. “Kau dengar tidak semalam?” ucap seorang pelayan wanita.“Apa?“Pelayan wanita itu hendak bicara, tapi dia tK sengaja melihat seorang anak buah Mark yang melintas.“Ssttt, nanti saja ada orang. Nanti aku ceritakan.”Setiap orang berjalan dengan wajah muram, mata mereka saling melirik, seakan membawa rahasia besar yang tak sanggup diucapkan lantang.Kabar itu menyebar cepat—bahwa Zavier, pelayan muda yang selama ini dikenal ramah, sopan, dan rajin, telah berani menodai sang Nyonya, Eliza Willson. Desas-desus itu terdengar pertama kali dari mulut penjaga yang malam sebelumnya mendapat perintah langsung dari Mark untuk mengosongkan sekitar kamar utama. Cerita berkembang liar, ditambahi bumbu dari mulut ke mulut hingga menjadi gosip besar.“Benarkah Zavier … bera

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   Penyiksaan

    Mark berdiri tegak, wajahnya penuh bara amarah. Rahangnya mengeras, tatapan tajamnya tak pernah lepas dari Zavier yang masih terkapar di lantai, babak belur. Suaranya menggelegar, dingin namun penuh dendam.“Bawa dia,” ujarnya lantang, menunjuk Zavier dengan telunjuknya. “Masukkan dia ke dalam ruang bawah tanah. Jangan ada yang memberi makan atau minum. Tapi sebelum itu … pukuli dia sampai tak bisa bangun!”Perintah itu bagaikan vonis mati. Dua anak buah Mark, pria bertubuh kekar dengan wajah tanpa ekspresi, langsung maju. Mereka menunduk sedikit memberi hormat sebelum meraih tubuh Zavier dengan kasar.Eliza sontak terbelalak. Tubuhnya gemetar, matanya membesar. “Mark, jangan! Itu terlalu kejam!” serunya dengan suara panik, air mata masih mengalir di pipinya. Namun, teriakan itu hanya disambut tatapan dingin sang suami.“Diam, Eliza,” ucap Mark ketus. “Aku tak akan membiarkan bajingan itu lolos setelah berani menodai keluargaku. Jika kau masih membelanya, aku justru akan semakin curig

  • Terjerat Hasrat Nyonya Muda   Dusta

    Zavier sontak terlonjak turun dari ranjang, tubuhnya kaku panik. Selimut yang menutupi mereka segera diraih Eliza dengan tangan gemetar, dia menutup tubuhnya rapat-rapat, wajahnya pucat pasi. Napasnya tersengal seolah baru saja tertangkap basah melakukan dosa terbesar dalam hidupnya.Sementara itu, Mark melangkah maju dengan tatapan menyala penuh amarah. Setiap langkahnya terdengar berat, menghantam lantai kamar bagaikan dentuman yang menyeramkan. Matanya menajam, penuh kebencian, seolah siap merobek siapa pun yang ada di hadapannya.Zavier terburu-buru meraih kemeja yang tadi tergeletak di lantai, tangannya gemetar berusaha mengenakannya. Namun sebelum sempat ia memasang satu kancing pun—BUGHH!Tinju Mark mendarat telak di wajahnya. Pukulan keras itu membuat kepala Zavier terhuyung ke samping, tubuhnya jatuh terjerembap ke lantai. Darah segar langsung merembes dari sudut bibirnya.“BAJINGAN KAU! Beraninya menyentuh istriku!” teriak Mark, suaranya menggema penuh amarah. Wajahnya mera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status