共有

Bab. 2

作者: Layli Dinata
last update 公開日: 2026-05-20 13:45:12

Raynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.

Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’

“Turunkan tanganmu!” 

Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya.

“Jangan memaksaku, kalau tidak, akan dilenyapkan kamu.”

Emma menggeleng dengan cepat. Ia mundur dua langkah, ekspresi Raynard jauh lebih menyeramkan saat ini. Oliver sendiri justru mematung di belakangnya.

“Antar dia ke kamarnya, kunci pintunya dari luar,” perintah Raynard, lalu pergi begitu saja.

“Eh, Raynard! Tunggu!” teriak Emma yang tak digubris sama sekali 

“Ayo, Nona Emma Azure. Kita ke kamar Anda!” Oliver menarik siku Emma yang masih menatap punggung Raynard yang kian menjauh.

Namun, saat menyadari nama lengkapnya disebut dengan jelas, ia menoleh skiptis, “bagaimana kamu tahu namaku?”

Oliver memutar kedua bola matanya, “gak ada yang gak aku tahu. Ayo! Sebelum Tuan Muda mengamuk.”

Emma berkacak pinggang di dalam kamar. Ia nyaris gila melihat pemandangan di luar kamar, lewat jendela. Air terjun dan beberapa tanaman air yang terasa asing.

“Ini aku hidup di dunia dongeng atau bagaimana? Sulit dipercaya.” Emma duduk di sofa dekat kamar. Ingatan tentang ancaman Raynard membuatnya kembali menegang. “Aku harus cari cara, supaya siluman Rubah itu tidak memakanku hidup-hidup.”

Di dalam kamar itu terdapat kaca besar di meja rias. Emma bangkit dari tempat duduk. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin.

“Aku tahu harus gimana!”

Suara ketukan pintu membuat Emma berjengit. Gadis itu refleks mengubah ekspresi wajahnya. Pintu pun dibuka dari luar, Oliver datang  membawakan nampan berisikan makanan.

“Nona, makan siang Anda.” Oliver meletakkan nampan kayu itu di atas meja. 

Makanan dari beberapa sayuran dan olahan ikan. Harum aroma makanan itu nyaris membuat liur Emma menetes.

“Aku tidak mau! Aku mau pulang!” tolak Emma dengan nada angkuh, dagunya terangkat ke atas.

Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Suara perut Emma justru menghianati.  Gemuruhnya membuat Oliver nyaris tersendak tawa.

“Jangan buat Tuan Muda semakin mengamuk, Nona. Lekas makan dan setelah ini saya antarkan ke ruang  Tuan Muda, Beliau menunggu Anda di sana.”

Oliver berbalik badan, hendak pergi. Tetapi ia kembali menoleh ketika kakinya sudah di ambang pintu. “Mau kabur bagaimana pun juga, Anda tidak akan bisa.” Oliver meringis, lalu pergi begitu saja.

“Arrrg menyebalkan! Padahal, masih ada yang ingin aku tanyakan sama Manusia Rubah itu. ”

Tak ingin overthinking menguras energi, Emma memilih untuk menyantap makanannya, sambil mencari akal, supaya dia bisa bernegosiasi dengan Raynard.

Usai menghabiskan makanannya, Emma melangkah menuju ke pintu, bersamaan dengan Oliver yang tampak tergesa. 

“Mengagetkanku saja!” sembur Emma dengan mengurut dadanya.

Mata Oliver langsung menatap meja kamar, tempat di mana tadi ia meletakkan makanan untuk Emma. Ia menyeringai. “Banyak juga makannya.”

Mata Emma mendelik, tak suka dengan tatapan mengejek Oliver. “Lekas bawa aku ke ruang Raynard!”

Tak menunggu jawaban Oliver, Emma memilih untuk mendahului Oliver, meski ia tak tahu, di mana kamar Raynard berada.

“Belok kiri.”

Emma mengikuti ucapan Oliver. Ia berbelok ke kiri, sebuah lorong dengan berderet bunga anggrek berwarna ungu. Aroma sedapnya mampu membuat kepala Emma sedikit tenang.

Gadis itu tak hentinya kagum dengan pemandangan hunian ini. Rapi, terawat dan sejuk. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Ia sampai pada sebuah ruangan, pintu jati ukiran dengan gambar kepala rubah di atasnya. Mulut Emma ternganga.

Oliver mengetuk dua kali pintu itu, lalu mengayun kenopnya perlahan. Pintu itu dibuka lebar. Sosok Raynard sedang duduk dengan buku di pangkuan.

“Tuan,” panggil Oliver dengan tenang.

Raynard menurunkan kakinya yang bersila di lantai, mengangkat sedikit kepalanya, lalu kembali fokus dengan bacaannya.

“Pergilah, biarkan kami bicara,” perintah Raynard tanpa menoleh sedikitpun.

“Tuan, tapi–”

Raynard memicingkan mata, wajah dinginnya sampai membuat Oliver menelan ludah dengan cepat. Emma hanya memperhatikan interaksi keduanya. Perlahan, Oliver mundur, lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan tergesa.

“Huft!” Emma memuntahkan napasnya. Ia berjalan mendekati Raynard yang kembali berkutat dengan buku kuno bersampul hitam. Ia sedikit melongok, bahasa sandi yang sama sekali tak ia pahami hanya bisa membuatnya menggaruk kepala.

“Raynard, bisakah aku minta kompensasi? Sebelum membunuhku, apa bisa aku meminta satu hal?” Emma memilin ujung kausnya, sebisa mungkin, ia mengatakannya dengan hati-hati, tak ingin sedikitpun membuat Raynard tersinggung. Salah sedikit, rencananya akan gagal total.

Alih-alih menjawab, Raynard justru menatap datar Emma, hingga gadis itu salah tingkah sampai berkeringat.

“Yang di film-film, bukankah kalau akan membunuh seseorang, si penjahat akan mengabulkan satu permohonan, kan?”

“Si penjahat?”

“Maksudku ….” Emma menampar bibirnya sendiri karena salah bicara. “Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya … kamu jangan–”

“Katakan apa permohonanmu?”

Seperti mendapat persetujuan, wajah Emma berubah cerah. Gadis itu langsung duduk di sebelah Raynard tanpa permisi. Sampai tak menyadari tatapan tajam Raynard.

“Aku membangun bisnis keluargaku susah payah, ibu dan saudari tirilku berulang kali ingin melenyapkanku dan mengambil semua yang kupunya, termasuk perjodohanku dengan putra pewaris salah satu pengusaha ternama. Aku hanya ingin membalas dendam.” Emma mengatakannya dengan gamblang, setidaknya dengan permintaannya ini, akan memperpanjang umurnya.

“Kamu tahu, esensi kehidupanku sudah kamu telan. Aku tidak bisa membiarkan kamu berbuat ceroboh.”

Emma meraih tangan Raynard dengan cepat. Menunjukkan wajah memelas andalannya. “Kalau begitu, bantulah aku, supaya aku bisa berbalas dendam. Kumohon ….”

Raynard memalingkan wajahnya yang dingin. Emma semakin menunjukkan sikap beraninya dengan mengguncang pelan lengannya.

“Kumohon … berikan aku kesempatan hidup. Aku hanya ingin merebut apa yang menjadi hakku. Menjadi pemilik Azure Grup dan menerima pinangan Lee George.”

Raynard menghela napas panjang. Lalu berkata dengan tegas, “aku mungkin bisa membantumu membalas dendam pada keluarga tirimu itu, tetapi aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan pewaris Georgetown Company. Lagian, jatah umurmu hanya sampai usia 24 tahun saja. Tepat saat kamu ulang tahun.”

Mata Emma mendelik. Ia tak menyangka, kalau Raynard tahu tentang perusahaan besar itu. Ia langsung membungkam mulutnya.

“Ke-kenapa? Lagian … kenapa kamu bisa tahu tentang sisa umurku? Lagian, ulang tahunku tinggal sebulan lagi.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 44 Panggilan Hati

    Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 43 Serangan

    Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 42 Apa Sungguhan?

    Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 41 Mencoba Terbiasa

    Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 40 Incaran

    Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut

    Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 7

    “Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 6

    “Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 3

    Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 1

    Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu ters

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status