تسجيل الدخولRaynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.
Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’ “Turunkan tanganmu!” Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya. “Jangan memaksaku, kalau tidak, akan dilenyapkan kamu.” Emma menggeleng dengan cepat. Ia mundur dua langkah, ekspresi Raynard jauh lebih menyeramkan saat ini. Oliver sendiri justru mematung di belakangnya. “Antar dia ke kamarnya, kunci pintunya dari luar,” perintah Raynard, lalu pergi begitu saja. “Eh, Raynard! Tunggu!” teriak Emma yang tak digubris sama sekali “Ayo, Nona Emma Azure. Kita ke kamar Anda!” Oliver menarik siku Emma yang masih menatap punggung Raynard yang kian menjauh. Namun, saat menyadari nama lengkapnya disebut dengan jelas, ia menoleh skiptis, “bagaimana kamu tahu namaku?” Oliver memutar kedua bola matanya, “gak ada yang gak aku tahu. Ayo! Sebelum Tuan Muda mengamuk.” Emma berkacak pinggang di dalam kamar. Ia nyaris gila melihat pemandangan di luar kamar, lewat jendela. Air terjun dan beberapa tanaman air yang terasa asing. “Ini aku hidup di dunia dongeng atau bagaimana? Sulit dipercaya.” Emma duduk di sofa dekat kamar. Ingatan tentang ancaman Raynard membuatnya kembali menegang. “Aku harus cari cara, supaya siluman Rubah itu tidak memakanku hidup-hidup.” Di dalam kamar itu terdapat kaca besar di meja rias. Emma bangkit dari tempat duduk. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin. “Aku tahu harus gimana!” Suara ketukan pintu membuat Emma berjengit. Gadis itu refleks mengubah ekspresi wajahnya. Pintu pun dibuka dari luar, Oliver datang membawakan nampan berisikan makanan. “Nona, makan siang Anda.” Oliver meletakkan nampan kayu itu di atas meja. Makanan dari beberapa sayuran dan olahan ikan. Harum aroma makanan itu nyaris membuat liur Emma menetes. “Aku tidak mau! Aku mau pulang!” tolak Emma dengan nada angkuh, dagunya terangkat ke atas. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Suara perut Emma justru menghianati. Gemuruhnya membuat Oliver nyaris tersendak tawa. “Jangan buat Tuan Muda semakin mengamuk, Nona. Lekas makan dan setelah ini saya antarkan ke ruang Tuan Muda, Beliau menunggu Anda di sana.” Oliver berbalik badan, hendak pergi. Tetapi ia kembali menoleh ketika kakinya sudah di ambang pintu. “Mau kabur bagaimana pun juga, Anda tidak akan bisa.” Oliver meringis, lalu pergi begitu saja. “Arrrg menyebalkan! Padahal, masih ada yang ingin aku tanyakan sama Manusia Rubah itu. ” Tak ingin overthinking menguras energi, Emma memilih untuk menyantap makanannya, sambil mencari akal, supaya dia bisa bernegosiasi dengan Raynard. Usai menghabiskan makanannya, Emma melangkah menuju ke pintu, bersamaan dengan Oliver yang tampak tergesa. “Mengagetkanku saja!” sembur Emma dengan mengurut dadanya. Mata Oliver langsung menatap meja kamar, tempat di mana tadi ia meletakkan makanan untuk Emma. Ia menyeringai. “Banyak juga makannya.” Mata Emma mendelik, tak suka dengan tatapan mengejek Oliver. “Lekas bawa aku ke ruang Raynard!” Tak menunggu jawaban Oliver, Emma memilih untuk mendahului Oliver, meski ia tak tahu, di mana kamar Raynard berada. “Belok kiri.” Emma mengikuti ucapan Oliver. Ia berbelok ke kiri, sebuah lorong dengan berderet bunga anggrek berwarna ungu. Aroma sedapnya mampu membuat kepala Emma sedikit tenang. Gadis itu tak hentinya kagum dengan pemandangan hunian ini. Rapi, terawat dan sejuk. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ia sampai pada sebuah ruangan, pintu jati ukiran dengan gambar kepala rubah di atasnya. Mulut Emma ternganga. Oliver mengetuk dua kali pintu itu, lalu mengayun kenopnya perlahan. Pintu itu dibuka lebar. Sosok Raynard sedang duduk dengan buku di pangkuan. “Tuan,” panggil Oliver dengan tenang. Raynard menurunkan kakinya yang bersila di lantai, mengangkat sedikit kepalanya, lalu kembali fokus dengan bacaannya. “Pergilah, biarkan kami bicara,” perintah Raynard tanpa menoleh sedikitpun. “Tuan, tapi–” Raynard memicingkan mata, wajah dinginnya sampai membuat Oliver menelan ludah dengan cepat. Emma hanya memperhatikan interaksi keduanya. Perlahan, Oliver mundur, lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan tergesa. “Huft!” Emma memuntahkan napasnya. Ia berjalan mendekati Raynard yang kembali berkutat dengan buku kuno bersampul hitam. Ia sedikit melongok, bahasa sandi yang sama sekali tak ia pahami hanya bisa membuatnya menggaruk kepala. “Raynard, bisakah aku minta kompensasi? Sebelum membunuhku, apa bisa aku meminta satu hal?” Emma memilin ujung kausnya, sebisa mungkin, ia mengatakannya dengan hati-hati, tak ingin sedikitpun membuat Raynard tersinggung. Salah sedikit, rencananya akan gagal total. Alih-alih menjawab, Raynard justru menatap datar Emma, hingga gadis itu salah tingkah sampai berkeringat. “Yang di film-film, bukankah kalau akan membunuh seseorang, si penjahat akan mengabulkan satu permohonan, kan?” “Si penjahat?” “Maksudku ….” Emma menampar bibirnya sendiri karena salah bicara. “Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya … kamu jangan–” “Katakan apa permohonanmu?” Seperti mendapat persetujuan, wajah Emma berubah cerah. Gadis itu langsung duduk di sebelah Raynard tanpa permisi. Sampai tak menyadari tatapan tajam Raynard. “Aku membangun bisnis keluargaku susah payah, ibu dan saudari tirilku berulang kali ingin melenyapkanku dan mengambil semua yang kupunya, termasuk perjodohanku dengan putra pewaris salah satu pengusaha ternama. Aku hanya ingin membalas dendam.” Emma mengatakannya dengan gamblang, setidaknya dengan permintaannya ini, akan memperpanjang umurnya. “Kamu tahu, esensi kehidupanku sudah kamu telan. Aku tidak bisa membiarkan kamu berbuat ceroboh.” Emma meraih tangan Raynard dengan cepat. Menunjukkan wajah memelas andalannya. “Kalau begitu, bantulah aku, supaya aku bisa berbalas dendam. Kumohon ….” Raynard memalingkan wajahnya yang dingin. Emma semakin menunjukkan sikap beraninya dengan mengguncang pelan lengannya. “Kumohon … berikan aku kesempatan hidup. Aku hanya ingin merebut apa yang menjadi hakku. Menjadi pemilik Azure Grup dan menerima pinangan Lee George.” Raynard menghela napas panjang. Lalu berkata dengan tegas, “aku mungkin bisa membantumu membalas dendam pada keluarga tirimu itu, tetapi aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan pewaris Georgetown Company. Lagian, jatah umurmu hanya sampai usia 24 tahun saja. Tepat saat kamu ulang tahun.” Mata Emma mendelik. Ia tak menyangka, kalau Raynard tahu tentang perusahaan besar itu. Ia langsung membungkam mulutnya. “Ke-kenapa? Lagian … kenapa kamu bisa tahu tentang sisa umurku? Lagian, ulang tahunku tinggal sebulan lagi.”Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas senyuman. Ia memberikan anggukan kecil dan berkata, “buka pintunya, Pak.”“Ta-tapi, Nona. Di dalam … di dalam sedang ada acara besar. Nona Iris–”“Pemilik rumah dan seluruh aset masih atas namaku. Kamu m mbantah?” Sembur Emma dengan berkacak pinggang. Matanya mendelik, lebar. Sampai, satpam itu menggigil ketakutan.“Tahan, Nona” bisik Oliver.“Habisnya, sih. Ngeyel!”Pintu gerbang itu buka, tak ada yang protes lagi, semua takut akan ancaman Emma.Baru setelah gerbang itu dibuka, Emma berjalan cepat menuju pintu utama, sambil menghubungi Frans.“Aku di jalan Emma, kamu masuk saja dulu.”“Baik, Om. Jangan lama-lama.” Emma memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan, lalu melanjutkan jalannya. Begi
Aroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!”Oliver nyaris menjatuhkan wajan tipis itu,ia mengurut dada perlahan. Tak bisa memarahi Emma, takut diamuk sang tuan muda. “Nona ngagetin aja.”Mata Emma menyisir ke penjuru dapur. Biasanya, sang tuan muda tak akan jauh-jauh dari Oliver. ‘Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Raynard kemarin?’ batin Emma mulai penasaran.Semakin dilarang, Emma justru semakin penasaran. Mengapa Raynard tak boleh didekati saat bulan purnama?“Nona, Anda lapar? Saya akan menyi–”“Di mana Raynard?” potong Emma mulai mengambil garpu, ia menusuk daging ikan panggang buatan Oliver, lalu meniupnya pelan dan memasukkannya ke dalam mulut.“Nona, jangan ganggu Tuan Muda. Beliau ada di kamarnya. Saya mau mengantarkan sarapan untuk T
Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan membiarkannya celaka, mengingat sesuatu yang berharga milik pria itu ada padanya.“Ya sudah, iya. Aku tahu,” jawab Emma lesu, kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas.“Sekarang, hiduplah dengan baik dan sehat, jangan sampai merusak segalanya,” pinta Raynard dengan suara yang lebih lembut. Emma hanya menjawab dengan anggukan.Ingatan tentang penghianatan Iris membuatnya kembali muncul, rasa panas menggerus dadanya. Emma bertekad, akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada sepasang ibu dan anak itu.“Pergilah ke kamarmu, besok, tepat saat bulan purnama, jangan pernah muncul di hadapanku,” ujar Raynard.Mata Emma menyalak lebar. Jiwa keponya meronta. “Kenapa?”“Jangan banyak bica
Raynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’“Turunkan tanganmu!” Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya.“Jangan memaksaku, kalau tidak, akan dilenyapkan kamu.”Emma menggeleng dengan cepat. Ia mundur dua langkah, ekspresi Raynard jauh lebih menyeramkan saat ini. Oliver sendiri justru mematung di belakangnya.“Antar dia ke kamarnya, kunci pintunya dari luar,” perintah Raynard, lalu pergi begitu saja.“Eh, Raynard! Tunggu!” teriak Emma yang tak digubris sama sekali “Ayo, Nona Emma Azure. Kita ke kamar Anda!” Oliver menarik siku Emma yang masih menatap punggung Raynard yang kian menjauh.Namun, saat menyadari nama lengkapnya disebut dengan jelas, ia menoleh skiptis, “bagaimana kamu tahu namaku?”Oliver memutar kedua bola matanya, “gak ada yang gak aku tahu. Ayo! Sebelum Tuan Muda mengamuk.”Emma berkacak pin
Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu.Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.”Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya.“Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!”Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu.“Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berker







